The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 28: Terbang ke Makau



Joshua dan Mawar masuk ke dalam pesawat. Saat mereka sudah melewati mulut pintu, perlahan tangga pesawat yang baru saja mereka lewati terangkat ke atas dan menutup mulut pintu yang awalnya terbuka tadi.


Joshua sempat terperangah dengan kemewahan isi dalam pesawat. Pesawat dengan interior yang terlihat sangat berkelas. Jauh berbeda dengan pesawat komersial pada umumnya.


Terdapat bar khusus menyambut Joshua saat pertama kali masuk. Sebuah tempat duduk seperti sofa yang berbentuk letter u dengan sebuah meja di tengahnya. Di sebrangnya terdapat sebuah televisi tipis.


Tak jauh dari sana, terdapat sebuah meja berbentuk lingkaran lengkap dengan kursi-kursi di sekitarnya.



Tak lama setelah Mawar duduk di depan televisi, Arkan dan Sheila muncul dari balik pintu dan duduk di sekitar Mawar.


Arkan seperti biasa dengan tampang tengilnya, menggunakan hoodie dan celana training yang salah satu bagiannya tergulung asal ke atas. Lolipop di mulutnya tak pernah ketinggalan. Ia bilang, ia tidak dapat berpikir tanpa gula setiap harinya.


Sheila, salah satu petarung perempuan berambut pendek. Umurnya lebih tua dua tahun dari Mawar yang seumuran dengan Joshua. Menggunakan jaket kulit berwarna hitam dengan tanktop di dalamnya, dan celana jins panjang ketat berwarna hitam juga. Tak lupa sepatu boot ber bertumit rendah namun penuh gaya berwarna senada.


"Kau lama sekali! Kita sudah sampai di sini sejak tadi," protes Arkan.


"Aku menunggunya mandi terlebih dahulu dan mencarikannya pakaian," Mawar menunjuk ke arah Joshua sambil memeluk saru bantal di atas kursi.


Joshua mengabaikan perdebatan antara Arkan dan Mawar. Ia duduk tak jauh dari mereka bertiga.


"Jadi, apa rencananya?" Joshua menatap lurus ke arah Mawar.


Mawar mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada rencana. Rencananya hanya kita datang ke pelelangan dan menawar berlian tersebut dengan harga tinggi."


"Lalu mereka berdua?" tanya Joshua sambil menunjuk bergantian antara Arkan dan Sheila.


"Kami hanya rencana cadangan jika tidak berhasil mendapatkan berlian tersebut," jawab Sheila sambil menyesap minumannya yang tadi ia ambil di bar pesawat.


Mawar melambaikan tangannya di depan wajah. "Aku yakin akan berhasil mendapatkannya. Karena aku sudah menyiapkan uang yang sangat banyak untuk ini. Jadi kita tidak perlu membahas rencana cadangan," sahutnya.


"Lalu, mengapa harus pergi denganku? Kurasa kau bisa pergi sendiri. Aku tidak pernah pergi ke pelelangan," komentar Joshua.


"Aku harus hadir berpasangan agar tidak mencurigakan, dan aku tidak mau pergi dengan Arkan." Mawar memiringkan badannya ke arah Joshua dan berbisik cukup nyaring di telinga Joshua, "badannya terlalu bau karena jarang mandi."


"Siapa bilang aku jarang mandi? Aku cukup sering mandi! Hanya saja aku terlalu malas berganti pakaian!" protes Arkan sambil menegakkan tubuhnya menatap kesal ke arah Mawar, "jika kau terus mengejekku, aku tidak akan mau membantumu."


Mawar melempar bantal ke arah Arkan. "Aku hanya bercanda, Dude."


"Dan Sheila?" tanya Joshua.


"Dia?" Mawar menunjuk ke arah Sheila lalu tertawa. "Dia tidak akan pernah mau menghadiri acara semacam ini," ucapnya di sela-sela tawanya.


"Sudahlah. Berhenti bertanya. Aku mau tidur," kata Mawar sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan memejamkan mata.


"Kau bisa tidur di kamar tidur pesawat," komentar Arkan.


"Tidak mau. Tidur di atas kasur akan membuat kusut gaunku," sahut Mawar tanpa membuka mata.


"Apa The Cullinan memang seberharga itu?" tanya Joshua.


Mawar menggerak-gerakkan tangannya. "Jawab pertanyaannya, Shel. Aku lelah menjawab semua pertanyaannya sejak tadi," sahutnya masih tanpa membuka mata.


Mawar menganggukkan kepalanya masih dengan mata terpejam. "Akan kunaikkan dua kali lipat."


"Yes!" pekik Sheila girang sambil mengepalkan tangannya. Ia tersenyum puas dan segera menjelaskan prihal berlian tersebut kepada Joshua.


The Cullinan 1 yang merupakan barang incaran mereka merupakan sebuah berlian langka yang berasal dari potongan berlian terbesar di dunia. Berlian senilai 530 karat tersebut berwarna bening dan memiliki 74 irisan.


Berlian yang berasal dari tambang di Afrika tersebut, hanya dimiliki oleh para bangsawan kelas atas Inggris.


Sheila menunjukkan gambar The Cullinan kepada Joshua. Ia mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya.



Joshua mengangguk mengerti. Ia tidak mengerti soal berlian. Namun benda dalam foto yang dipengang Sheila, terlihat sangat berkelas dan mahal. Wajar saja jika banyak yang mengincar barang tersebut.



Pesawat baru saja mendarat. Mawar sudah bangun sejak tadi dan sedang sibuk di kamar tidur. Entah apa yang ia lakukan.


Tak lama kemudian ia keluar dengan sebuah koper di tangannya. Dan membuka koper tersebut di atas meja.


Joshua terkejut karena koper itu berisi berbagai jenis senjata. Mawar mengeluarkan tiga pistol laras pendek dan memberikannya kepada Joshua.


"Kupikir kita hanya akan menawar barang. Aku baru tahu kalau menawar barang perlu persenjataan," ujar Joshua yang masih belum mengambil pistol yang diletakkan oleh Mawar di atas meja tepat di hadapannya.


Mawar menggedikkan kedua bahunya. "Hanya untuk berjaga-jaga. Simpan saja. Aku tidak dapat menyimpan senjata di gaunku."


Mawar mengambil pisau lipat tipis di dalam koper. "Benda ini cukup kecil untuk diselipkan di bh-ku." Mawar lalu menyelipkan pisau lipat tersebut di bh-nya. Membuat Joshua dan Arkan seketika memejamkan matanya.


"Kau tidak punya malu ya!" gerutu Arkan.


"Aku hanya menyelipkan pisau lipat. Bukan membuka bh-ku di depanmu," balas Mawar santai.


"Hahaha..." Sheila tertawa terbahak-bahak.


Sementara Joshua hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Mawar yang selalu spontan dan tak terduga.


Joshua mengambil tiga pistol di atas meja. Satu ia selipkan di belakang pinggangnya. Dan dua lainnya ia letakkan di kantong yang terletak di sisi dalam jasnya.


"Bagaimana dengan mobil?" tanya Mawar kepada Arkan.


"Wong sudah menyiapkan mobil untuk kita lengkap dengan supirnya. Seharusnya ia sudah ada di luar pesawat kita sekarang," jawab Arkan sambil berjalan lebih dulu menuju pintu keluar pesawat diikuti oleh Sheila lalu Mawar dan terakhir Joshua.


Pintu pesawat terbuka dan membentuk tangga untuk mereka berempat lewati. Angin pagi berhembus kencang mengenai tubuh mereka yang berjalan turun melewati tangga pesawat.


Di dekat pesawat, seperti yang sudah dikatakan oleh Arkan sebelumnya, sebuah mobil limosin berwarna hitam sudah menunggu mereka. Di sampingnya berdiri seorang pria berbadan tegap. Berwajah Asia Timur kental. Ia mengenakan kacamata hitam.


Pria tersebut tersenyum ke arah keempat tamunya, lalu membukakan pintu mobil untuk mereka berempat. "Selamat datang di Makau, Tuan-Tuan dan Nona-Nona," katanya dengan bahasa inggris yang sangat fasih.