
Joshua sudah melihat-lihat ulang foto-foto TKP ayahnya. Namun, sekali lagi ia tetap tidak menemukan petunjuk sedikit pun di sana. Ternyata mencari petunjuk tidaklah sesederhana yang ia pikirkan.
Jadi, di sinilah ia berdiri sekarang. Di atas ring tinju. Hendak beradu pukul demi membebaskan penatnya. Sorak-sorai penonton memenuhi ruangan saat Joshua memasuki arena.
Joshua pergi ke UB malam ini, karena ia tidak memiliki jadwal berlatih di majapahit. Ia juga tidak memiliki tugas khusus malam ini. Jadi, dari pada ia hanya berdiam diri di kamar kostnya dan pikirannya semakin ke mana-mana, lebih baik ia pergi ke sini saja untuk menenangkan pikirannya.
Lawan Joshua bernama panggung Dan. Joshua tidak tahu nama asli pria di hadapannya ini. Sama seperti lawan-lawan Joshua yang lainnya. Joshua tidak peduli. Ia hanya ingin menyegarkan pikirannya.
Dan membuang ludahnya. Ia menyeringai ke arah Joshua. Joshua tahu, pria di hadapannya ini tidak begitu kuat. Hanya saja terlalu banyak bergaya.
Joshua bisa tahu saat beberapa kali menonton pertarungan Dan saat ia tidak sedang bertarung dan hanya ingin bertarung saja.
Hanya dalam beberapa menit pertarungan, Joshua sudah berhasil memojokkan Dan hingga terlepar ke pembatas ring. Joshua memukuli Dan tanpa ampun hingga membuat pria tersebut tak sempat membalas pukulan-pukulan Joshua.
Hingga tak lama kemudian, tubuh Dan merosot ke lantai, dan ia dinyatakan K.O. Joshua menang. Ia mengulurkan tangannya ke arah Dan untuk membantunya bangkit berdiri.
Dan meraih telapak tangan Joshua. "Kau seperti ingin membunuhku malam ini," komentar Dan sembari bangkit dibantu dengan tarikkan tangan Joshua.
Joshua hanya tersenyum tipis mendengar komentar Dan. Baginya pertarungan ini sangat mudah. Ia ingin pertarungan yang lebih sulit dan menantang. Jadi, ia memutuskan untuk bertarung lagi.
Kali ini Joshua akan melawan Emil. Pria dengan rabut gimbal dan kulit kecoklatan ini terlihat tangguh. Joshua belum pernah bertanding dengan Emil. Maupun menonton pertandingan pria tersebut. Sehingga Joshua tidak tahu gaya bertarung Emil seperti apa.
Emil berhasil memukul pipi Joshua. Membuat Joshua meringis karena pukulannya yang cukup kuat. Pertarungan kali ini jauh lebih menarik dari pada sebelumnya.
Joshua balas memukul pipi sebelah kiri Emil hingga membuat wajah Emil terlempar ke samping. Hal itu membuat Emil menyeringai. Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas.
Emil berniat menonjok wajah Joshua kembali namun satu tangan Joshua berhasil menghalanginya. Sehingga bukannya wajah Joshua yang terkena pukulannya, tapi malah tangan Joshua yang terkena pukulan tersebut.
Joshua sedikit merendahkan tubuh kemudian melayangkan tinjunya ke arah rahang bagian bawah Emil.
Gerakan Joshua yang gesit seperti biasa membuat lawannya tak dapat menangkis serangannya ataupun menghindar. Wajah Emil terlihat kesal. Ia segera maju mendekat ke arah Joshua dan melemparkan serangan bertubi-tubi. Joshua meletakkan kedua tangannya di depan wajah untuk menghindari serangan dari Emil.
Joshua sengaja tidak banyak melawan serangan-serangan Emil dan hanya menangkis atau menghindar. Karena ia ingin menghabiskan energi Emil.
Setelah energi Emil mulai menurun, Joshua segera melakukan serangan-serangan balasan yang membuat Emil kewalahan sehingga tak mampu membalas serangan Joshua.
BRAK!
Serangan-serangan dari Joshua sukses membuat Emil terkapar di lantai arena. Para penonton berdiri sambil bersorak sorai. Berteriak dan bersiul. Menikmati pertunjukkan yang baru saja berlangsung. Beberapa melemparkan tinjunya ke udara karena merasa puas.
Berbeda dengan para penonton yang merasa puas dengan pertunjukkan yang baru saja berakhir, Joshua sendiri merasa belum puas. Ia ingin bertarung lagi. Dua pertarungan tadi belum cukup untuknya.
Jadi, Joshua memutuskan untuk meminta satu pertarungan lagi. Siapapun yang ingin melawannya akan ia terima kali ini. Hal itu tentu saja membuat semua penonton berseru-seru penuh semangat saat melihat pertandingan Joshua selanjutnya.
Lawan Joshua selanjutnya cukup tangguh. Namun tidak cukup kuat untuk menghabisi Joshua. Ia terlalu berambisi menghabisi Joshua sehingga malah membuatnya lengah karena terburu-buru dan membuatnya mengabaikan peluang.
Joshua berhasil menghabisinya hanya dalam hitungan beberapa menit. Jauh lebih cepat dari pada saat ia mengalahkan lawannya yang pertama.
Para penonton kembali berseru-seru senang. Kali ini suara teriakkan di dalam gedung jauh lebih nyaring dan menggema dari pada sebelumnya. Menang dalam tiga kali pertarungan secara berturut-turut merupakan hal yang mengagumkan.
Joshua turun dari ring sambil melepaskan sarung tinjunya. Malam ini cukup sampai di sini saja. Melawan tiga orang dalam ring tinju sudah cukup untuk mengalihkan pikirannya sejenak.
Joshua pergi ke loker miliknya. Tubuhnya sudah di penuhi keringat. Jadi ia perlu untuk mengganti kaosnya.
Joshua menarik ke atas kaos yang sudah basah dipenuhi keringat. Melepasnya melalui kepala. Sehingga tubuh bagian atasnya terekspos sempurna. Menampakkan tubuh bagian atasnya yang atletis, dan mengkilat dipenuhi dengan keringat.
Joshua mengambil handuk kecil dari tasnya untuk mengelap tubuhnya. Ia butuh mandi. Jadi, Joshua rasa, ia harus segera pulang untuk membersihkan diri. Mandi setelah badan terasa lelah akan membuatnya lebih mudah untuk tertidur.
"Lain kali kita harus bertanding. Aku menikmati pertunjukkan yang kau sajikan tadi," suara perempuan yang tidak asing di telinga Joshua mengejutkannya.
Joshua memutar tubuhnya dan mendapati Mawar yang sudah berdiri di belakangnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Merasa diperhatikan membuat Joshua yang sadar sedang tidak menggunakan baju, dengan refleks menutupi tubuh bagian atasnya dengan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ini area pria!" kata Joshua terkejut. Karena ada wanita yang tiba-tiba masuk ke areanya. Untung saja ia hanya membuka kaosnya. Tidak seluruh pakaiannya.
"Aku ke sini untuk menemuimu. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan," jelas Mawar santai. Nampak tidak terganggu sedikit pun dengan pemandanngan di hadapannya.
Joshua kembali membalikkan badannya dan segera memakai baju kaosnya. Sementara Mawar yang semula berada di belakannya berpindah ke sampingnya dan menyandarkan punggung di loker tertutup yang letaknya di samping loker milik Joshua.
"Bagaimana kau bisa menemukanku?" tanya Joshua tanpa menoleh ke arah Mawar karena sedang sibuk memakai kaosnya.
Mawar memperhatikan kuku-kuku di tangan kanannya yang terawat dengan baik. "Kebetulan aku memang sedang menonton pertandingan di sini."
"Bagaimana kau mengetahui tentang klub ini?" tanya Joshua sambil menutup pintu lokernya dan menyampirkan tasnya di pundak.
"Tentu saja aku tahu, klub ini milik pamankku."
"Jadi, apa yang kau inginkan dariku? Sehingga mengikutiku sampai ruang ganti?" Joshua berjalan melewati Mawar.
Mawar mengekori Joshua yang berjalan mendahuluinya. "Kau harus ikut denganku. Ada hal yang harus kita kerjakan malam ini!" ucap Mawar bersemangat.