
[Tiga bulan kemudian]
Jadwal kegiatan harian Joshua berubah sejak beberapa bulan yang lalu. Waktu yang biasa ia gunakan untuk berkerja part time, kini ia gunakan untuk berlatih secara intensif di markas majapahit. Ia juga sudah jarang pergi ke kampus karena sudah tidak ada mata kuliah yang perlu ia ambil dan hanya tinggal menyelesaikan skripsinya.
Idhang yang melatihnya. Mulai dari berbagai macam teknik bela diri profesional hingga latihan menggunakan senjata. Mulai dari senjata tajam hingga senjata api.
Untuk latihan berkendara, karena Joshua sudah mahir mengendarai motor, maka ia tinggal dilatih menggunakan mobil.
Joshua belajar sangat cepat beberapa bulan ini. Hal-hal yang baru saja diajarkan akan dengan mudah langsung ia terima.
Dengan kacamata dan penutup telinga, Joshua berdiri jauh di depan sasaran tembak berbentuk lingkaran dengan garis berwarna hitam dan titik tengah berwarna merah.
Lingkaran tersebut dibagi menjadi 7 layer. Layer terluar yaitu layer pertama dan kedua berwarna putih. Lalu layer ketiga sampai keenam berwarna hitam. Kemudian, layer ketujuh berwarna putih. Lalu di dalam layer ketujuh terdapat lingkaran paling tengah berwarna merah.
Di tengah tanah lapang dengan rerumputan hijau yang terawat dengan rapi, Joshua mengangkat pistol semi otomatis kaliber 9 mm¹ ke depan. Ia menyipitkan satu matanya dan membidik menggunakan satu matanya yang dominan. Kemudian, ia menarik pelatuk dengan jari telunjuknya.
DOR!
DOR!
DOR!
Peluru dimuntahkan dari pistol digenggaman tangan Joshua. Selongsong² peluru berterbangan di udara dan berakhir jatuh di tanah.
Setelah pelurunya habis, Joshua segera mengeluarkan magazine³ yang sudah kosong dan menggantinya dengan yang sudah terisi dengan peluru. Kemudian ia kembali membidik target yang sudah dipenuhi lubang tersebut dan menarik pelatuknya.
DOR!
DOR!
DOR!
Suara tembakan memenuhi tempat yang cukup hening ini. Joshua hanya ditemani oleh suara angin yang sesekali berhembus. Joshua memang berlatih sendirian sejak tadi karena Paman Idhang yang sedang memiliki urusan.
Baru saja, Joshua hendak menganti magazine keduanya yang sudah kosong denhan magazine terbaru, sudut matanya menangkap seorang pria yang berjalan menghampirinya. Joshua meletakkan kembali magazine berisi peluru ke atas meja di samping pistol yang sudah tak berisi magazine.
Joshua menurunkan penutup telinganya dan membiarkannya tergantung di leher. Kemudian ia melepaskan kacamata pengaman dari wajahnya dan meletakkannya ke atas meja.
"Kau berlatih terlalu keras, Jo. Bersantailah sesekali," tegur pria tersebut sambil menepuk pundak Joshua.
Pria dengan rambut ikal berwarna hitam dan menggunakan kalung dari tali berwarna hitam dengan bandul berbentuk lingkaran ini, bernama Angga. Dia lebih tua 7 tahun dari pada Joshua. Akan tetapi mereka sudah cukup akrab dan sesekali saling mengobrol.
Selama beberapa bulan terakhir, selain kemampuan dan kegiatan Joshua yang berubah tak seperti biasanya, kehidupan sosialnya juga berubah. Ia sekarang banyak bergaul dengan anggota majapahit.
Dari luar, mungkin mereka terlihat dingin, padahal mereka sebenarnya seperti manusia pada umumnya yang hangat dan memiliki selera humor.
"Itu karena aku bosan," sahut Joshua, "aku tidak mendapatkan tugas apapun sejak bergabung. Dan itu membuatku bosan setengah mati."
"Mungkin ini saatnya kau mendapatkan misi. Karena aku ke sini untuk memberi tahumu bahwa Tuan Markus memintamu menemuinya di ruangannya."
"Dari mana kau tahu bahwa aku akan mendapatkan misi?" tanya Joshua tak yakin. Sambil membereskan barang-barang latihan tembaknya.
Angga mengangkat kedua bahunya. "Hanya firasatku saja. Jika memang benar...." Angga menyentuh pundak Joshua, "well, semoga berhasil."
Setelah Angga pergi meninggalkannya, Joshua segera pergi ke ruangan Markus. Dari luar pintu ruangan Markus, Joshua dapat mendengarkan perdebatan antara Markus dan juga Mawar.
Beberapa bulan berada di sini, membuat Joshua cukup terbiasa mendengar perdebatan antara anak dan ayah tersebut.
Joshua mengetuk pintu ruangan Markus kemudian langsung menarik gagangnya dan mendororongnya ke depan hingga pintu tersehut terbuka lebar. Setelah ia masuk ke dalam, pintu di belakangnua segera ia tutup kembali.
"Ada apa Paman memanggilku?" tanya Joshua kepada Markus. Joshua memanggil Markus dengan sebutan Paman, karena memang Markuslah yang memintanya sendiri.
Saat itu Markus berkata padanya bahwa Joshua sudah seperti anaknya sendiri. Karena ia merupakan anak kandunh dari anak buah sekaligis teman terbaik Markus.
Joshua menghampiri Markus yang duduk di balik mejanya. Kemudian ia segera menarik kursi di hadapan Markus dan duduk di atasnya. Di sampingnya, nampak Mawar duduk tanpa bersuara.
"Kau sudah cukup lama berlatih. Dan kurasa inilah saatnya kau mulai mendapatkan tugas pertama," ucap Markus kepada Joshua.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Joshua kepada Markus. Ia rasa, ia sudah siap dengan misi apapun yang akan ia dapatkan.
Markus membuka laci di mejanya dan mengeluarian selembar foto dari sana. Kemudian meletakkan foto tersebut di atas meja di hadapan Joshua denga posisi terbalik.
Joshua membalik foto di hadapannya tersebut. Ia penasaran dengan gambar yang ada di baliknya. Matanya membelalak saat melihat foto pria paruh baya yang tercetak di sana.
"Calon walikota?" tanya Joshua sambil mengangkat pandangannya lurus ke arah Markus.
"Ya. Bunuh dia." Salah satu sudut bibir Markus naik ke atas. Jemarinya bertaut di atas meja. Tidak ada ekspresi yang menunjukkan bahwa ini hanyalah sebuah lelucon.
Membunuh calon walikota? Ini gila! Ditambah, pria dalam foto ini merupakan calon kuat pada pemilihan walikota tahun ini. Mendekatinya saja tidak pernah terbayangkan oleh Joshua. Dan sekarang, ia diminta untuk membunuhnya? Joshua seketika kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu harus beraksi seperti apa. Karena membunuh orang penting bukanlah hal yang pernah sekali pun terlintas di pikirannya jika membayangkan seperti apa tugas pertama yang akan ia dapatkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note: 1. Ilustrasi pistol semi otomatis kaliber 9mm:
Selongsong peluru atau patrun adalah benda yang merupakan wadah yang membungkus proyektil peluru dan terdiri dari propelan (biasanya bubuk mesiu), rim, dan primer. [Sumber: Wikipedia]
Ilustrasi selongsong peluru:
Magazine atau magazen atau magasin adalah alat penyimpanan dan pengisian amunisi yang menyatu atau dipasang pada senjata api.
Ilustrasi magazine pada pistol semi otomatis laras pendek: