
Markus pergi dari hadapan Joshua, Mawar dan Arkan seusai memuji kerja ketiganya. Joshua dan Arkan tidak begitu memikirkan tugas mereka lagi, karena jika calon wakil walikota sudah mati sebelum mereka membunuhnya, mereka bisa apa? Tidak mungkin bukan membangkitkan orang mati dan membunuhnya lagi?
Dan Juga, sebenarnya Joshua agak bernapas lega karena ada yang mendahului mereka membunuh calon wakil walikota. Karena ia yang belum pernah membunuh orang sama sekali tentu memiliki konflik batin tersendiri yang manusiawi dan pasti dimiliki oleh orang-orang pada umumnya. Mengambil nyawa seseorang bukanlah hal yang sepele. Sebab nyawa adalah hal yang sangat berharga bagi sebagian orang. Yang tentu saja tidak bagi orang-orang ini.
Berbeda dengan Mawar. Ia merasa tidak puas jika misinya tidak berhasil. Apalagi apabila ia tidak mengetahui siapa orang yang berhasil mendahuluinya. Mawar punya ambisi. Ia selalu ingin segalanya berjalan sempurna tanpa pengecualian.
"Siapa yang membunuh calon wakil walikota, Yah?" tanya Mawar kepada Markus sambil merentangkan kedua tangannya dan menghadang langkah ayahnya tersebut.
"Pamanmu," jawab Markus. Membuat Joshua dan Arkan yang baru saja hendak beranjak pergi malah terdiam dan menoleh ke arah Markus dan Mawar. Memilih untuk menyimak percakapan antara ayah dan anak tersebut.
Mawar menurunkan kedua tangannya yang terlentang setelah menerima jawaban dari Markus. Ia tak terkejut sama sekali. Hal itu merupakan hal biasa karena pamannya juga terlibat dalam dunia hitam ini. Lebih tepatnya seluruh keluarganya sejak kakeknya, sudah terlibat dengan dunia ini.
Mawar baru saja membuka mulutnya namun Markus sudah terlebih dahulu menyela, "Kau pasti ingin bertanya alasannya," potongnya, membuat Mawar menutup kembali mulutnya yang sudah terlanjur menganga, "dia punya alasan yang sama dengan kita. Dan apabila setelah ini kau ingin bertanya lagi, bagaimana Ayah bisa tahu. Itu karena aku tadi mengubunginya karena aku tahu kita berdua punya masalah yang sama dengan calon wakil walikota. Sehingga orang pertama yang kucurigai sebagai pembunuh calon wakil walikota setelah mendengar berita kematiannya, adalah pamanmu," terang Markus panjang lebar.
Setelah mengobati tubuhnya yang terluka karena bertarung, Joshua hendak kembali ke kostnya karena malam sudah cukup larut. Dan ia perlu pergi ke kampus besok untuk melakukan bimbingan skripsi.
Joshua tidak pindah dan tinggal di markas, karena ia masih merahasiakan bergabungnya ia dengan majapahit kepada ibunya. Sebab ibunya sering berkunjung secara tiba-tiba. Tidak mungkin bukan ia memberikan alamat markas majapahit jika ibunya hendak mengunjunginya? Bisa-bisa ia akan langsung mengetahui kebohongannya. Ia juga tidak bisa pindah ke tempat tinggal yang mahal, walau gajinya mencukupi karena hal itu juga akan membuat ibunya curiga tentang bagaimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk tinggal di tempat mahal. Oleh sebab itu, hal yang paling aman yang bisa ia lakukan adalah berlagak hidup normal dengan tetap tinggal di kamar kostnya.
Joshua mengambil tasnya dan hendak beranjak pergi dari ruangan Dokter Andi. "Terima kasih, Dok, atas bantuannya," ucap Joshua tulus.
Andi melambaikan tangannya di depan wajah. "Tidak masalah. Sudah pekerjaanku untuk mengobati pasien yang terluka."
"Jo!" panggilan seorang pria membuat Joshua mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Ya, Paman?" sahut Joshua saat melihat Idhang beridiri di depan pintunya. Sambil memegang sebuah amplop besar berwarna coklat.
"Bisa bicara sebentar?"
Joshua menganggukkan kepalanya dan segera pergi mengikuti Idhang ke ruangannya.
"Duduklah dulu," ucap Idhang mempersilahkan Joshua duduk dulu di atas sofa ruangannya. Amplop coklat yang sejak tadi ia bawa, ia letakkan di atas meja pendek yang terletak di depan sofa.
Ruangan Idhang cukup besar karena ia merupakan orang yang memiliki posisi yang lumayan tinggi di organisasi ini. Bisa dibilang, Idhang merupakan tangan kanan Markus.
Idhang meletakkan dua cangkir kopi hitam yang beru saja ia seduh, di atas meja. Kemudian ia segera duduk di atas sofa tepat di hadapan Joshua. Idhang merogoh saku dalam jaketnya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Kemudian mengambil satu batang dan ia selipkan di antara kedua bibirnya.
"Rokok?" tawar Idhang sambil meyodorkan bungkusan rokok ke depan Joshua.
Joshua menggelengkan kepalanya. Ia tidak merokok. Meskipun begitu, ia tidak memiliki masalah terhadap orang yang merokok.
Idhang menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian memasukkan kembali bungkusan rokoknya. Ia mengeluarkan korek api, menyalakannya dan membakar ujung rokoknya hingga mengeluarkan asap.
"Aku mendapatkan foto-foto di TKP¹ kematian ayahmu. Tidak mudah mendapatkan ini. Aku perlu menyuap sana-sini," kata Idhang membuka pembicaraan sambil menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Joshua.
Joshua yang sedang menyesap kopinya, segera menurunkan cangkir di tangannya dan segera meraih amplop coklat yang disodorkan oleh Idhang.
"Namun, meski aku melihat foto-foto itu secara berulang-ulang, aku tetap tak menemukan petunjuk apapun," Idhang menambahkan, kemudian ia menghisap rokoknya kembali.
Joshua segera mengeluarkan foto-foto di dalamnya. Dan melihatnya lamat-lamat. Di sana terdapat foto ayahnya yang baru saja ditemukan setelah nyawanya hilang.
Gambaran yang membuat Joshua meringis karena merasa ngilu. Mungkin ia tidak akan seperti ini jika foto di tangannya adalah foto orang lain. Tapi, ini adalah ayahnya! Mayat ayahnya yang kulitnya sudah berubah pucat, karena darah yang seharusnya mengalir tubuhnya berhamburan di sekujur tubuhnya dan tanah!
Joshua melihat-lihat foto-foto yang lain. Foto mayat ayahnya dari berbagai sisi. Lalu dilanjutkan dengan foto-foto lokasi kejadian yang sudah diberi garis polisi berwarna kuning.
Joshua setuju dengan penyataan Idhang. Tidak ada petujuk yang dapat mengarahkan mereka pada pelaku pembunuhan ayahnya yang dapat ia lihat dari lembaran-lembaran foto di tangannya itu.
"Hasil forensik?" tanya Joshua sambil mengangkay pandangannya dari foto-foto yang sekarang sudah berhambur di atas meja.
Idhang menghembuskan napas yang dipenuhi asap rokok dari mulutnya. "Belum ada berkas forensik yang dapat kutemukan. Berdasarkan info yang kuperoleh dari informan yang kudapatkan, ia bilang bahwa tidak ada tes forensik pada mayat ayahmu sebelum kasus diputuskan bahwa kasus tersebut adalah kasus bunuh diri," ungkap Idhang dengan wajah muram.
Joshua hanya diam. Dia tidak tahu harus berkata apa dan bersikap bagaimana.
Idhang mematikan ujung rokoknya di atas asbak dan mengangkat pandangannya ke arah Joshua dengan tatapan serius namun lembut layaknya seorang ayah kepada anak laki-lakinya. "Tapi tenang saja, aku masih akan terus menyelidiki dan mencari tahu tentang alasan kematian ayahmu. Aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawabannya."
Idhang menghembuskan napasnya pelan lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Pandangan matanya menerawang jauh. "Pram sudah seperti saudaraku sendiri. Aku akan mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan jawaban atas kematiannya."
Joshua menganggukkan kepalanya mengerti. Ia membereskan foto-foto yang berhamburan di atas meja dan memasukkannya kembali ke atas amplop coklat. "Terima kasih, Paman," kata Joshua tulus sebelum berpamitan pergi dari ruangan Idhang.
.
.
.
.
.
.
Note: 1. TKP\= Tempat kejadian perkara