
"Sudah kubilang, aku tidak berkelahi dengan perempuan. Jadi lupakan saja," kata Joshua sembari melambaikan tangannya di depan wajah.
Mawar mengangkat kedua bahunya acuh. "Dalam perjanjian kita, aku mengatakan bahwa kau harus melawan lima orang. Dan aku tidak pernah mengatakan bahwa kelimanya adalah laki-laki."
Joshua membuang napasnya pelan dan menatap serius ke arah Mawar yang sekarang sudag melioat kedua tangannya di depan dada. Mata Joshua pun secara otomatis menangkap tato berbentuk bunga mawar tepat di bawah tulang selangka Mawar.
Alis Joshua bertaut. Tato di tubuh Mawar nampak tak asing baginya. Ia berusaha berpikir keras. Di mana ia melihat tato tersebut sebelumnya.
Merasa diperhatikan, membuat wajah Mawar memerah. Ia menutupi tubuh bagian depannya dengan kedua tangannya sambil berseru, "Apa yang kau lihat dasar Cabul!"
Mawar melayangkan tinjunya karena kesal ke arah kepala Joshua. Namun, reflek tubuh Joshua cukup cepat. Ia mundur kebelakang dan kepalanya menunduk menghindar.
Kerumunan pria yang menonton mereka, kembali membuat keributan dengan teriakan, siulan, dan seruan. Ada yang melompat bangkit dari duduknya. Ada yang melempar tinjunya ke udara. Intinya mereka sangat senang mendapatkan pertunjukkan baru.
Baru saja ia mengangkat kepalanya kembali, Mawar yang memajukan langkahnya, sudah melayangkan tinjunya lagi. Joshua memundurkan langkahnya lagi dan merunduk kembali berusaha menghidar.
"Aku tidak bermaksud memandangi tubuhmu. Hanya saja tato—" Joshua berusaha menjelaskan.
Akan tetapi, Mawar tak memberikannya kesempatan dan malah terus menerus menyerang Joshua.
"Tak perlu beralasan! Kau jelas tadi memandangi tubuhku cukup lama! Kau pikir aku tidak tahu apa yang ada di pikiran para pria sepertimu!"
Kali ini tak hanya pukulan yang dilayangkan Mawar tapi juga tendangan secara beruntun, yang hanya ditangkis oleh Joshua tanpa membalasnya.
"Sudah kubilang itu karena tato," kata Joshua sambil meletakkan kedua tangannya di depan wajah untuk menghalau pukulan beruntun yang diberikan Mawar.
BUGH!
Saat Joshua lengah, dan hanya memperhatikan pukulan dari Mawar sambil berusaha menjelaskan kesalah pahaman, Mawar memberikan tendangannya ke arah perut Joshua hingga pria tersebut terlempar mundur.
"Berhentilah bicara dan lawan saja aku, Banci!" seru Mawar kesal karena sejak tadi Joshua tidak juga balik melawannya.
"Ayolah," Joshua memutar kedua bola matanya, "tadi Cabul sekarang Banci. Setelah ini kau akan memberikan julukan apalagi untukku?"
"Itu karena kau terlalu banyak bicara. Padahal kau hanya tinggal melawanku saja dan menyelesaikan pertarungan ini." Mawar melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah Joshua yang terus berjalan mundur tanpa niat melawan.
Joshua terus memundurkan langkahnya hingga ia mencapai tong yang berisi kayu yang terlahap oleh api yang menyala hingga melewati puncak tong.Ia mengitari tong hingga sampai di baliknya. Dan menatap Mawar dari balik kobaran api di depannya.
"Sudah kubilang, aku tidak berkelahi dengan perempuan."
Mawar mendekat ke arah tong, sementara Joshua mengitari sisi lain tong. Menjauh dari Mawar. "Sudah kubilang juga. Aku bukan perempuan biasa."
"Tapi tetap saja..." kata Joshua tertahan. Ia menarik napasnya lalu membuangnya cepat. Ia akhirnya melangkah mendekat ke arah Mawar.
"Begini saja—" Belum sempat Joshua menyelesaikan kalimatnya, Mawar sudah kembalu menyerang.
Ia melayangkan tinjunya. Yang kali ini justru ditangkap oleh Joshua. Joshua mengunci lengan Mawar di belakang tubuhnya. Dan satu tangan yang lain mengunci leher Mawar. Membuat gadis tersebut tak bisa bergerak.
"Dengarkan aku dulu. Aku punya penawaran untukmu, jadi kita tidak perlu bertarung dan membuang tenaga," ucap Joshua di samping wajah Mawar.
Dengan tangannya yang bebas, Mawar memukul-mukul lengan Joshua yang mengunci lehernya. "Lepaskan aku dulu, lalu kita bicara."
Joshua melepaskan cekalannya dan mendorong pelan tubuh Mawar ke depan. Namun, tanpa di duga Mawar malah jatuh tersungkur.
"Padahal aku hanya mendorongmu pelan." Joshua merundukkan badannya mendekat ke arah Mawar yang masih belum bergeming dan bersuara.
"Kau baik-baik saja?" tanya Joshua sekali lagi untuk memastikan.
Joshua semakin merunduk ke bawah untuk memastikan ke adaan Mawar. Baru saja ia hendak mengulurkan tangannya, Mawar terlebih dahulu berbalik dan melemparkan segenggam pasir dari tangannya ke wajah Joshua. Hingga sebagian pasir tersebut mengenai mata Joshua.
"Argh..." geram Joshua sambil berusaha membersihkan matanya yang perih akibat pasir yang mengenainya.
"Tidak ada pembicaraan lagi. Dan mari selesaikan ini," ujar Mawar yang sudah bangkit dan menendang kepala Joshua yang masih dalam posisi setengah berjongkok.
BRAK!
Tubuh pria yang tadinya masih sibuk dengan matanya yang perih tersebut akhirnya harus bergabung dengan hamparan pasir pantai.
Teriakan, sorakan, dan seruan dari para penonton kembali terdengar di telinga Joshua. Namun, ia abaikan.
Tendangan Mawar yang kuat cukup membuat Joshua kembali mengaduh kesakitan. Sementara itu ketika tubuhnya sudah terhempas ke tanah, ia masih berusaha membersihkan matanya yang masih terasa perih.
Hingga akhirnya saat perih di matanya cukup berkurang, ia merentangkan punggungnya di atas pasir. Kepalanya menghadap ke langit malam yang cerah dengan taburan bintang.
"Aku menyerah," Joshua mengumumkan. Membuat suara teriakan kembali menggema semakin riuh.
Saat sibuk menatap langit, wajah Mawar muncuk di atasnya dengan seringai puas yang menghiasinya.
"Kau curang," ucap Joshua pelan.
Mawar mengedikkan kedua bahunya. "Aku tidak pernah bilang kalau kita harus bertarung dengan tangan kosong."
Mawar mengulurkan tangannya ke arah Joshua. Joshua meraihnya dan segera bangkit. Ia kemudian membersihkan tubuhnya yang sudah dipenuhi dengan pasir pantai.
"Jadi, karena kau kalah. Maka sesuai perjanjian, kau harus bergabung dengan kami."
"Padahal baik menang atau pun kalah, aku tetap berniat bergabung dengan kalian," kata Joshua acuh tanpa mengangkat pandangannya ke arah Mawar, serta sambil terus membersihkan tubuhnya yang terbalut pasir.
"Apa?" ucap Mawar terkejut, "kau harusnya bilang sejak awal! Jadi kita tidak perlu melakukan pertarungan bodoh ini!" serunya kesal.
Joshua mengangkat pandangannya, dan menatap Mawar sambil berkacak pinggang. "Kau yang tidak mau mendengarkan penawaranku dan malah terus menyerangku. Kenapa malah menyalahkanku?" ucapnya karena merasa tak terima disalahkan.
"Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya berkata bahwa kau harusnya bilang sejak awal. Semenjak kau akan mulai bertanding. Jadi, aku tidak perlu khawatir kau tidak akan bergabung dengan kami!" seru Mawar sambil balas berkacak pinggang.
"Ah... ya sudah," Mawar mengangkat satu tangannya, "ikut saja ke markas sekarang. Banyak yang harus dibicarakan dan diurus," ucapnya sambil berbalik pergi. Berjalan mendahului Joshua.
Joshua mengangkat kedua bahunya acuh. Kemudian mengekor di belakang Mawar. Sementara itu, gerombolan pria baik yang menontin mau pun yang bertarung, sudah bubar sejak tadi karena pertarungan sudah usai dan tak ada hiburan lagi untuk mereka.
Saat Joshua mengambil jaketnya yang tersampir di batang pohon kelapa yang tumbang, matanya menangkap jaket yang tergeletak asal di atas hamparan pasir di dekatnya. Joshua memakai jaketnya dengan cepat.
Seingat Joshua itu jaket di atas pasir itu adalah milik Mawar. Ia ingat tadi gadis tersebut menggunakan jaket yang sama persis dengan jaket ini. Jadi Joshua segera mengambilnya sebelum akhirnya kembali menyusul Mawar yang sudah berjalan cukup jauh di depannya.
Saat langkah mereka sudah sejajar, Joshua segera menyampirkan jaket tersebut ke bahu Mawar yang terekspos karena hanya menggunakan tank top.
Hal itu membuat Mawar menolehkan kepalanya menatap ke arah Joshua yang sekarang sudah fokus menghadap ke depan.
"Dingin dan angin pantai cukup kencang. Kau bisa terserang flu," ucap Joshua singkat.