The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 10: Kehadiran yang Tidak Terduga



"Ibu?" kata Joshua sambil membuka pintu kamar kostnya.


Seorang wanita paruh baya nampak tesrsenyum dan segera masuk ke dalam kamar anaknya tersebut. Wajahnya teduh dan rambutnya sudah mulai memutih sebagian. Namun tubuhnya masih terlihat tegak.


Joshua benar-benar terkejut tadi saat melihat pesan dari ibunya yang mengatakan bahwa ingin mengunjunginya dan sudah sampai di kota. Dengan tergesa-gesa Joshua segera membereskan peralatan tinjunyayang berceceran. Serta mencabut samsak yang tergantung dengan paksa. Semuanya ia sembunyikan di bawah kolong ranjang tempat tidurnya.


Untung saja usahanya berhasil selesai tepat waktu. Ibunya mengetuk pintu bersamaan dengan kamar yang baru saja beres.


Ini pertama kalinya Asih datang ke kota mengunjungi Joshua selama 4 tahun belakangan. Karena Asih melarang keras Joshua menggeluti tinju, jadi Joshua tak ingin membuat ibunya itu kecewa dan terpaksa menyembunyikan segalanya dari ibunya.


Beruntung sebelum datang mengunjungi Joshua, Asih sempat menghubungi anaknya tersebut terlebih dahulu. Jika tidak, mungkin saja sekarang Joshua sudah berhasil membuat ibunya kecewa karena kedapatan tetap melakukan tinju. Apalagi, jika ibunya tahu kalau ia bergabung dengan UB, bisa-bisa Joshua diseret pulang saat ini juga.


Joshua masih tak mengerti dengan alasan ibunya melarangnya melakukan tinju. Ibunya tidak pernah memberikan alasan dan hanya melarangnya.


Joshua bukan anak yang penurut. Tapi, ia merupakan anak yang penyayang. Jadi, ia putuskan melakukan hobinya dengan tidak diketahui oleh ibunya.


"Kamu kok kelihatan terkejut ngelihat ibu," ujar Asih sambil melangkah memasuki kamar anaknya tersebut.


"Ibu kenapa tumben sekali datang kemari," komentar Joshua sambil memgekori ibunya.


Ibu Joshua mengangkat kedua bahuya acuh sambil melihat-lihat kamar Joshua. "Apa salahnya Ibu menjenguk anak Ibu sendiri?"


"Tidak ada salahnya. Hanya saja ini terlalu mendadak."


Asih tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Joshua. "Apa kau baik-baik saja?"


"Aku?" Joshua menujuk dirinya sendiri dengan dahinya yang sudah berkerut. Pertanyaan ibunya benar-benar di luar dugaannya. "Seperti yang Ibu lihat, aku sangat baik-baik saja."


Asih membuang napasnya pelan. "Beberapa hari ini Ibu punya firasat buruk terhadapmu. Makanya ibu datang kemari untuk menjengukmu. Kau juga sudah mulai jarang pulang ke rumah di akhir pekan."


"Ah, Ibu tidak perlu khawatir. Di sini aku baik-baik saja. Tugas kuliahku menumpuk, jadi akhir-akhir ini tidak bisa pulang," Joshua berusaha menenangkan ibunya.



"Kau masih melakukan tinju?"


Joshua baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati Ibunya sudah memegang sarung tinju miliknya yang tadi ia sembunyikan di bawah kasur. Sudut maya Joshua menangkap sebuah sapu yang berada tak jauh dari Ibunya. Sepertinya ibunya tadi hendak membersihkan kamarnya dan malah mendapatkan apa yang berusaha Joshua tutupi selama ini.


Joshua menghembuskan napasnya pelan, dan menganggukkan kepala.


"Sejak kapan?" tanya ibunya lagi, yang terlihat sangat marah.


"Aku tidak pernah berhenti sejak dulu, Bu," aku Joshua.


Asih melempar sarung tangan tinju di tangannya ke lantai, dan menatap nyalang ke arah anaknya yang sekarang sudah menunduk dalam karena merasa bersalah sudah membohonginya.


"Kau bisa berakhir seperti ayahmu jika kau tidak mendengarkan Ibu!"


Joshua mengangkat kepalanya dan menatap ke arah ibunya. "Berakhir seperti Ayah? Memangnya apa yang terjadi dengan Ayah sebenarnya? Ibu bilang Ayah memang bunuh diri. Tapi, Ibu juga tahh bukan jika selama ini semua itu hanya kebohongan semata?"


Asih membuang wajahnya ke samping. Ia tak sengaja membahas tentang suaminya karena marah. Harusnya ia tidak melakukan hal tersebut agar anaknya tetap menganggap kematian Pram sebagai kematian akibat bunuh diri.


"Sudahlah. Dengarkan saja Ibu, dan berhentilah bertinju. Tidak ada hal baik yang akan kamu dapatkan dari berkelahi."


"Siapa yang membunuh Ayah?" tanya Joshua tanpa menghiraukan kalimat yang baru saja dilontarkan ibunya.


"Ayahmu bunuh diri." Lagi-lagi kalimat yang sama Joshua terima. Joshua sudah muak. Ia bukan anak kecil lagi.


"Apa Ayah dulunya terlibat dengan kelompok mafia di kota ini?"


Wajah Asih nampak menegang. Pertanyaan anaknya sungguh mengejutkan. Bagaimana Joshua tahu hal tersebut?


Melihat respon dan ekspresi ibunya, cukup memberi jawaban untuk Joshua. Wajah Joshua tiba-tiba melembut. Ia tidak ingin bertengkar lebih jauh dengan ibunya.


"Aku hanya menebak Bu. Karena Ibu pernah melarangku brgabung dengan kelompok mafia sebelum aku pergi ke kota ini." Joshua menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada orang aneh yang mengajakku bergabung degan kelompok seperti itu. Sejujurnya kelompok mafia seperti itu hanya terdengar seperti dongeng bagiku."


Asih tertawa hambar. "Kau benar, Nak. Itu hanya dongeng. Jadi, jangan pernah mempercayai keberadaanya dan mencari tahu sesuatu yang tidak ada."


Joshua menganggukkan kepalanya. "Aku hanya berlatih tinju karena itu mengingatkanku pada Ayah, Bu," jelas Joshua kepada ibunya. Ia tidak ingin ibunya khawatir padanya.


Asih mendesah pelan. "Baiklah. Kau sudah besar. Tidak pantas rasanya jika ibu terus melarangmu melakukan ini-itu."



Ibu Joshua sudah pulang, dan Joshua baru saja mengantarkan ibunya ke stasiun kereta. Setelah mengantarkan ibunya, Joshua segera bergegas kembali pulang ke kostnya.


Siang sudah berganti malam. Jalanan menuju pemberhentian bus cukup sepi, jadi ketika ada seseorang yang mengikutinya, Joshua akan langsung sadar.


Joshua sebenarnya sudah sadar bahwa ia diikuti sejak ia berada di stasiun. Namun, ia abaikan karena hingga sekarang pun tidak ada bukti bahwa ia diikuti.


Setiap Joshua menoleh ke belakang, tidak ada orang di belakangnya. Tapi, ia sangat yakin bahwa ia diikuti sejak tadi.


Tak hanya suara langkah kaki pelan, tapi juga bayangan yang sesekali nampak secara samar akibat sorotan lampu jalan.


Hingga sudut mata Joshua menangkap sebuah gang sempit tak jauh dari tempatnya berada sekarang. Joshua segera menderapkan kakinya ke arah gang tersebut untuk bersembunyi.


Gang tersebut sangat gelap dan tak ada lampu sama sekali. Di salah satu sudutnya terdapat sebuah tempat sampah besar yang sampahnya sudah meluap ke mana-mana.


Joshua segera bersembunyi di sisi tong sampah tersebut. Ia menutup hidungnya dengan kedua jari untuk menagan bau yang menguar dari dalam tong sampah di samping tubuhnya ini. Bahkan samar-samar ia mencium bau kencing di sekitar sini.


Joshua mengintip dari balik tong sampah saat terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Sepasang sepatu memang berjalan ke arahnya, namun Joshua tidak dapat melihat jelas pemiliknya karena gelap.


Firasat Joshua benar. Sejak tadi ia memang diikuti.


Drrt....


Drrt....


Ponsel Joshua bergetar di saku celananya. Suara ponselnya terdengar cukup nyaring di tengah gang yang sunyi dan gelap. Joshua mengigit bibir bawahnya karena kesal. Mengapa ponsel siaoqn ini harus berbunyi sekarang?


Tidak hanya Joshua yang terkejut. Orang yang mengikuti Joshua pun ikut terkejut. Keberadan Joshua sudah tidak dapat di sembunyikan lagi karena dering ponselnya. Ia segera berdiri dan memilih tak bersembunyi lagi.


Akan tatapi, saat Joshua menolehkan kepalanya, orang yang tadi mengikutinya sudah berlari pergi. Joshua mengerutkan dahinya. Mengapa ia diikuti jika tidak untuk dicelakai? Mengapa orang tersebut lari saat Joshua melihatnya?


Drrrt....


Ponsel Joshua kembali bergetar. Joshua mengeluarkannya dari saku celananya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Ternyata Mawar yang menghubunginya. Joshua segera mengangkatnya.


"Aku sudah mendapatkan waktu yang tepat untuk pertarunganmu—"


"Dugaanmu salah. Bukan kau yang diikuti tadi siang tapi aku. Karena sekarang aku baru saja diikuti lagi," sela Joshua terhadap perkataan Mawar.


"Benarkah? Bagaimana bisa? Apa kau berhasil mendapatkan identitas orang yang mengikutimu?" tanya Mawar terdengar terkejut.


"Bagaimana dengan nomor plat mobilnya? Apakah kau berhasil menemukan pemiliknya?


"Tidak. Itu nomor plat mobil palsu."