The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 20: Standar Sosial



Mobil mewah Mawar menarik perhatian mahasiswa di kampus Joshua. Membuat Joshua seketika menyesali tindakannya yang meminta Mawar untuk mengantarkannya.


"Turunkan aku di sini saja," pinta Joshua, "terima kasih," katanya sambil membuka sabuk pengamannya dan bergegas turun dari mobil Mawar.


"Siapa yang mengantarmu? Apa kau punya mobil baru? Itu mobil keluaran terbaru dan harganya sangat fantastis," ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di samping Joshua.


Josua menolehkan kepalanya ke arah pria tersebut. Joshua tahu siapa dia. Namanya Bagas. Anak satu jurusan Joshua. Mereka bahkan tidak saling tegur sapa sebelumnya. Mengapa sekarang malah mendadak ramah dengannya?


Plak!


Seseorang memukul pundaknya. "Aku tidak tahu bahwa kau sekaya itu, Jo. Kau menyembunyikan kekayaanmu ya selama ini?" tegur seorang laki-laki yang baru saja muncul dari belakangnya.


Joshua mengalihkan pandangannya dari arah Bagas ke arah pria yang baru saja memukul bahunya. Joshua juga mengenal pria tersebut. Ia tidak tahu pasti siapa namanya. Tapi, seingat Joshua namanya adalah Toni. Anak satu jurusannya juga.


Namun, sama halnya seperti Bagas, Joshua juga tidak akrab dengan Toni sebelumnya. Mereka nyaris tak pernah saling berbicara sebelumnya. Walaupun berada di kelas yang sama.


"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan," kata Joshua singkat.


"Kau tidak perlu menyembunyikannya lagi. Satu angkatan kurasa sudah tahu bahwa kau baru saja turun dari mobil mewah." Seorang gadis tiba-tiba muncul dari arah depannya menunjukkan layar ponselnya di depan wajah Joshua.


Gadis tersebut adalah Ana. Anak satu jurusannya juga yang tidak pernah juga berbicara dengannya sebelumnya. Ada apa dengan orang-orang ini? Aneh sekali. Tiba-tiba saja mengajak berbicara seperti sudah sangat akrab sebelumnya.


Sementara itu, Joshua melihat gambar dirinya yang terpampang di layar ponsel Ana. Ia baru saja masuk akun gosip kampus. Joshua memutar kedua bola matanya. Ayolah.... Kenapa orang-orang ini suka sekali ikut campur dengan urusan orang lain?


"Apa ujian Pak Brama sudah selesai dari tadi?" tanya Joshua mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya. Sudah berakhir sejak dua puluh menit yang lalu." Ana menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas kecilnya. Tas yang kebanyakan digunakan para mahasiswi di kampus Joshua. Tas yang selalu membuat Joshua bertanya-tanya apakah tas sebut cukup memuat barang-barang mereka?


"Jadi Jo—"


"Terima kasih infonya." Joshua segera beranjak pergi sebelum mereka berbicara omong kosong lebih banyak lagi.


Joshua pergi menghampiri dosennya—Pak Brama untuk meminta ujian susulan. Namun sialnya dosennya tersebut tidak mau berurusan dengan Joshua. Ia kekeuh bahwasannya Joshua tidak bisa mendapatkan ujian susulan. Kalau sudah begitu Joshua bisa apa? Mengulang mata kuliah adalah pilihan yang tersisa.


Joshua baru saja keluar dari ruangan dosen. Sejak tadi, pandangan para mahasiswa dan mahasiswi menganggunya. Mereka secara terang-terangan memandang ke arah Joshua. Seperti menilai sesuatu. Hanya karena diantar dengan mobil mewah oleh Mawar, ia seketika menjadi pusat perhatian. Joshua menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Joshua." Terdengar suara gadis yang tidak asing di telinga Joshua.


Joshua mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. Mawar sudah berdiri tak jauh darinya sambil melambaikan tangannya. Seketika semua mata tertuju kepada mereka berdua. Joshua memejamkan matanya sejenak. Tidak sekarang! Sudah cukup ia menjadi pusat perhatian hari ini karena turun dari mobil Mawar. Ia tidak ingin semakin diperhatikan dengan munculnya Mawar secara tiba-tiba seperti ini.


Mawar jelas menarik perhatian semua orang. Karena pakaiannya dengan potongan sederhana yang ia kenakan tersebut sesungguhnya terlihat jelas bahwa mereka merupakan rancangan desainer. Ditambah wajah Mawar yang harus Joshua akui, terlihat cantik daripada rata-rata gadis cantik di kampusnya.


"Ponselmu tertinggal." Mawar menyodorkan ponsel Joshua saat ia sudah berdiri di depan pria itu.


Joshua melihat ke sekitarnya. Raut wajah penasaran tertampil jelas di wajah orang-orang di sini. Karena sekarang, entah mengapa lorong kampusnya sedang ramai oleh para mahasiswa.


Joshua meraih pergelangan tanga Mawar dan menariknya pergi. Ia tidak bisa berlama-lama di sini. Menjadi pusat perhatian adalah hal terakhir yang Joshua inginkan di muka bumi ini.



"Tidak ada ujian susulan. Aku terpaksa mengulang semester depan," terang Joshua. Joshua menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan membuang napasnya pelan. Hari ini sungguh melelahkan. Walaupun belum lama dibuka.


"Berikan aku nama dosenmu beserta gelar lengkapnya," ucap Mawar tiba-tiba.


Joshua melirik ke arah Mawar tanpa menolehkan kepalanya. "Untuk apa?"


"Berikan saja!"


Joshua pun segera memberikan nama lengkap serta gelar dosennya kepada Mawar. Sementara Mawar segera mencatatnya ke dalam ponselnya.


"Apa yang hendak kau lakukan?" tanya Joshua.


Mawar tersenyum miring. "Kau akan tahu nanti."


"Jangan berbuat macam-macam," Joshua memperingatkan.


"Tenang saja. Tidak akan."



Sore harinya, Joshua mendapat pesan dari dosennya—Pak Brama, bahwa ia dapat mengikuti ujian susulan. Pak Brama juga memberikan ucapan terima kasih atas tiket serta akomondasi pulang-pergi dan penginapan, yang Pak Brama peroleh dari Joshua untuk pertandingan moto gp mendatang.


Joshua tidak pernah mengirimkan tiket tersebut. Keluar negri saja ia belum pernah. Bagaimana mungkin ia memberikan banyak hal tersebut untuk dosennya? Itu pasti ulah Mawar. Joshua segera menghubungi Mawar.


"Sudah kuduga kau akan segera menghubungiku," ucap Mawar dari sebrang telepon saat panggilan baru saja tersambung.


"Kau yang mengirimkan hadiah ke dosenku?" tanya Joshua to the poin.


"Ya. Aku mendapatkan info bahwa ia dan anaknya merupakan penggemar garis keras pertandingan moto gp. Jadi, kurasa hadiah tersebut adalah hadiah terbaik yang bisa kuberikan."


"Kau sudah kebanyakan uang, ya?" komentar Joshua.


"Tak perlu sungkan. Itu jumlah yang kecil bagiku."


Joshua tidak dapat mengelak perkataan Mawar. Jumlah segitu baginya bukanlah apa-apa. Bagaimana tidak? Keluarga Mawar merupakan salah satu dari 1% orang terkaya di Indonesia yang menguasai 40% total kekayaan nasional. Mereka tentu juga termasuk golongan dari 10% orang yang mengusai 70% lebih total kekayaan nasional. Angka yang terlalu fantastis jika ingin dikalkulasi dan dijabarkan jumlahnya. Jadi, hadiah yang ia berikan kepada dosen Joshua tentu saja merupakan hal kecil baginya.


"Terima kasih," ujar Joshua tulus.


"Tidak masalah. Aku yang membuatmu terlambat tadi. Jadi, anggap saja itu sebagai ucapan perminta maaf-anku," balas Mawar.


"oh... ya. Ingat besok adalah latihan pertamamu," Mawar mengingatkan. Karena besok memanglah hari pertama latihan Joshua yang akan dibimbing langsung oleh Paman Idhang.