
"Apa yang perlu kukerjakan? Setahuku hari ini aku libur," ucap Joshua tanpa menoleh ke belakang.
Mawar mensejajarkan langkahnya dengan Joshua. "Kau libur hari rabu, dan sekarang sudah pukul 00:30 itu artinya sekarang sudah hari kamis. Hari liburmu sudah berakhir," terang Mawar dengan seringai di wajahnya.
"Biarkan aku setidaknya mandi terlebih dahulu." Joshua membuka pintu belakang mobilnya dan melempar tasnya ke jok belakang mobil.
Mawar mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada yang melarangmu untuk mandi."
Joshua mengitari mobilnya dan masuk ke balik kemudi. Ia baru saja hendak menyalakan mobilnya saat Mawar dengan seenaknya masuk dan langsung melemparkan pantatnya untuk dudul di kursi penumpang di sebelah Joshua.
Joshua menautkan alisnya. "Apa yang kau lakukan?"
Mawar memasang sabuk pengamannya. "Mengikutimu," jawab Mawar acuh, "mengapa kau suka sekali bertanya, sih? Lebih baik sekarang kau jalankan saja mobil ini. Waktu kita tidak banyak."
"Kemana kita pergi?"
"Kau bilang ingin pergi mandi."
"Kau akan mengikutiku pergi ke kost?" tanya Joshua yang masih tidak mengerti dengan Mawar.
Mawar menoleh ke arah Joshua. "Apa tidak boleh?" bukannya menjawab pertanyaan Joshua, Mawar malah balik bertanya kepada Joshua.
"Seharusnya tidak boleh," jawab Joshua ragu.
Mawar megedikkan kedua bahunya. "Well, mari kita mengambil tindakkan yang tidak seharusnya kali ini," balas Mawar tidak peduli, "kita tidak punya waktu. Setelah kau selesai mandi, kita akan segera pergi."
Joshua menurut dan segera melajukan mobilnya. Ia tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan Mawar. Karena Mawar tidak akan memberhentikan perdebatan sampai dengan lawan bicaranya menyerah. Hanya Markus yang sanggup meladeni Mawar dalam hal beedebat.
"Sebenarnya, kita mau pergi ke mana dan menjalankan tugas apa?" tanya Joshua saat mobil sudah melaju di jalanan yang legang.
"Kita akan ke Makau untuk mengambil The Cullinan," jawab Mawar sambil menandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
"Hoam..." Mawar menguap, "bangunkan aku jika sudah sampai."
Padahal, Joshua baru saja hendak bertanya apa itu The Cullinan, tapi ia urungkan saat sudut matanya menangkap Mawar yang nampak sudah jatuh tertidur. Joshua tersenyum tipis melihat Mawar yang mudah sekali jatuh tertidur.
Joshua ragu, apakah ia harus membangunkan Mawar atau meninggalkannya saja di dalam mobil. Di luar sendirian di dalam mobil tidaklah aman untuk seorang gadis, menurut Joshua. Namun, ia merasa tidak tega melihat Mawar yang tertidur pulas.
Akan tetapi, ketika Joshua baru saja memberhentikan mobilnya, ketika mereka baru saja sampai, Mawar langsung membuka kedua matanya.
"Kita sudah sampai?" tanya Mawar sambil mengucek kedua matanya untuk menghilangkan sisa-sisa kantuk.
"Mm-mm," gumam Joshua sambil membuka pintu dan keluar. Mawar mengekorinya seperti biasa.
"Gedung kost-mu tua sekali, dan sepi," komentar Mawar sambil mengamati sekitar.
Joshua mengabaikan Mawar dan segera masuk ke dalam kamarnya. Mawar segera menyusul masuk ke kamar Joshua sebelum pintu kamar Joshua tertutup.
"Tunggu sebentar, aku akan mandi. Tidak akan lama," kata Joshua sambil membuka pintu lemarinya untuk mengambil baju ganti.
"Ini tidak akan berhasil," ujar Mawar yang sudah berdiri di belakang Joshua.
"Hanya ini saja pakaian yang kau punya?" tanya Mawar sambil menerobos ke samping Joshua. Membuat Joshua mau tak mau harus bergeser dari depan lemarinya sendiri.
Joshua tidak ambil pusing dengan tingkah Mawar. Ia sudah terbiasa dengan tingkah dan suasana hati Mawar yang suka berubah-ubah dengan tidak terduga.
Mawar memarkirkan mobil Joshua di parkiran sebuah mall mewah. Lampu-lampu di padam. Semua ruko di dalamnya terlihat sudah tutup dari luar.
"Buat apa kita kemari?" tanya Joshua sambil mengikuti Mawar keluar dari mobil. Hingga akhirnya, mereka tiba di satu-satunya toko yang lampunya masih menyala.
Sebuah butik mewah rancangan desainer terkenal. Dengan harga-harga fantastis yang ditawarkan.
"Kau ingin membeli baju?" tanya Joshua lagi.
"Berhentilah bertanya!" seru Mawar kesal. Karena Joshua sejak tadi tidak berhenti bertanya.
"Carikan pakaian yang pas untuknya. Seperti kriteria yang sudah kupesan tadi," perintah Mawar kepada salah satu pegawai di sana.
"Aku tidak butuh baju," protes Joshua.
Mawar memutar kedua bola matanya. "Ayolah, kita tidak akan mendapatkan The Cullinan dengan pakaianmu yang seperti ini." Mawar mengamati Joshua dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.
Joshua akhirnya mengalah dan membiarkan seorang pegawai wanita mengarahkannya ke ruang ganti yang sudah dipenuhi pakaian yang sudah dipilihkan untuknya. Joshua mengambil satu setel pakaian semi formal lengkap dengan dasinya, secara acak dan memakainya.
Setelah itu ia keluar, dan tidak mendapati Mawar di mana pun. Ia megedarkan pandangannya namun tak juga menemukan Mawar. Akhirnya ia bertanya kepada pegawai butik tersebut dan mendapatkan jawaban bahwasannya Mawar sedang mencoba pakaian di ruang ganti.
Hingga tak lama kemudian, Mawar menghampiri Joshua dengan pakaian yang jauh berbeda. Ia mengenakan gaun berwarna hitam dengan tali spageti. Dengan panjang tiga per empat kakinya dan belahan di samping kaki, yang cukup tinggi hingga mencapai paha bagian atasnya. Ia mengenakan sepatu hak berwarna senada. Rambutnya di sanggul hingga menampakkan leher jenjangnya, dan ia menorehkan lipstick berwarna merah terang sehingga membuat wajahnya semakin terlihat menarik.
"Ayo kita pergi, aku sudah membayar," ucapan Mawar sukses membuat Joshua tersadar dari keterpakuannya.
"Kau tidak takut kedinginan dengan pakaian seminim itu?" komentar Joshua namun diabaikan oleh Mawar. Mereka pun segera pergi dengan Mawar yang mengemudikan mobil menuju bandara.
"Apa ada penerbangan jam segini?" Joshua melihat jam di tangannya yang masih menunjukkan pukul setengah dua dini hari.
"Kita akan naik pesawat pribadi," sahut Mawar sambil melemparkan dompet berisi kartu identitas baru untuk Joshua, "gunakan itu untuk sebagai identitas barumu."
Di dalam dompet tersebut sudah lengkap semua jenis identitas dengan atas nama Sean Hardiwinata. "Aku baru tahu kalau namaku Sean," komentar Joshua saat melihat-lihat identitas barunya.
"Kita tidak bisa menggunanakan identitas asli," ucap Mawar.
"Mengapa?"
"Itu akan berbahaya jika kita tertangkap," jelas Mawar. Joshua hanya mengangguk anggukkan kepalanya mengerti dan menyimpan dompet tersebut ke dalam saku dalam jasnya.
"Sebenarnya, apa itu The Cullinan?" pertanyaan yang sejak tadi hendak ia tanyakan akhirnya terlontar juga.
"Sebuah berlian yang memiliki nilai jual yang sangat mahal, karena sangat langka. Berhasil dicuri dari salah satu bangsawan Inggris, dan kita akan mendapatkannya hari ini." Mawar memarkirkan mobil di parkiran bandara. Dan bergegas masuk ke dalamnya melalui jalur VIP
"Jadi bagaimana rencananya?" tanya Joshua saat mereka tiba di lapangan parkir pesawat.
Mawar menghentikan langkahnya di depan sebuah pesawat yang cukup besar dengan sebuah tangga yang sudah siap mengantarkan mereka ke dalan mulut pintu masuk pesawat. "Rencannya akan kujelaskan di dalam," ucap Mawar sambil berjalan menaiki tangga.