
Berita tentang hasil pemilihan walikota diumumkan hari ini di berbagai stasiun televisi. Hasil pemilihan walikota, kota Merigold ramai menjadi sorotan dan topik pembicaraan karena selain merupakan kota besar, kota Merigold juga merupakan ibu kota tanah air.
Seorang pembawa acara wanita memenuhi layar di hadapan Arkan, Joshua, Wong, Chen dan Sheila yang sedang bersantai sambil menyesap kopi di pagi hari.
“Sudah kuduga kematian calon wakil walikota kemarin mempengaruhi hasil pemilihan,” komentar Arkan saat pasangan calon terpilih sudah diumumkan.
Calon walikota yang merupakan pasangan dari calon wakil walikota yang meninggal, kalah dalam pemilihan. Pemenangnya adalah pasangan calon yang bersaing popularitas dengannya sebelumnya. Semenjak kematian calon wakil walikota, pasangan terpilih yang sekarang terpilih secara drastis memperoleh lonjakkan pendukung baru. Dan calon walikota yang merupakan pasangan dari calon wakil walikota yang meninggal mengalami penurunan pendukung sebab mayoritas pendukungnya memilih dirinya karena berpasangan dengan calon wakil walikota tersebut.
Dunia ini memang kejam. Karena urusan politik-bisnis, nyawa orang lain hanyalah sebuah mainan di antara orang-orang yang memiliki kuasa tinggi. Jika kau tidak mau mati, maka kau harus membunuh lebih cepat dari pada lawanmu.
“Kau tidak meminum kopimu?” tanya Chen kepada Joshua yang cangkir kopinya masih belum bergerak sedikitpun semenjak diberikan. Isinya juga tak berkurang barang hanya setetes.
Joshua menggelengkan kepalanya. “Aku butuh air putih,” gumamnya sambil beranjak mengambil sebotol air putih.
Kepala Joshua masih pusing karena alkohol yang diberikan oleh Mawar semalam. Ia benar-benar tidak cocok dengan minuman keras. Karena segelas saja sudah cukup mengacaukannya.
“Kau mabuk semalam?” tanya Sheila melihat gelagat Joshua. Ia tahu semenjak pesta inisiasi bahwa Joshua buruk dalam meminum alkohol.
Joshua menurunkan botol air mineral dari bibirnya seusai memasukkan beberpa tegak cairan tersebut kemulutnya setelah tenggorokkannya yang kering tak lagi gersang dan terasa lebih segar.
Joshua menganggukkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan Sheila. “Ya,” jawabnya singkat kemudian kembali duduk di tempat semula berkumpul bersama yang lainnya.
“Kami punya obat pengar jika kau mau,” kata Wong.
“Aku mau jika tidak merepotkan,” ucap Joshua sungkan karena belum begitu akrab, baik dengan Wong maupun Chen.
Joshua memang selalu begitu. Tidak bisa terlalu cepat akrab dengan orang yang baru saja ia temui. Joshua sendiri tidak tahu sebabnya. Tapi, begitulah dirinya. Terkadang tidak ada alasan mengapa seseorang memiliki sifat tertentu. Atau mungkin kita saja yang tidak mengetahui alasannya. Namun ada beberapa hal dalam hidup yang tidak perlu kita cari tahu alasannya karena hanya akan membuang waktu.
Wong tersenyum simpul. “Tak perlu sungkan. Sebentar aku akan mengambilkannya untukmu,” ujarnya sambil berjalan menjauh.
Joshua mengedarkan pandanganya. Ia tidak melihat Mawar sejak tadi ia terbangun. Setelah berbincang-bincang dengan Mawar semalam lalu mabuk, ia tak lagi ingat apa yang terjadi selanjutnya. Karena saat terbangun ia sudah mendapati dirinya di atas kasur dengan kepala yang terasa berat.
Drrt….
Drrt….
Suara getar ponsel memcahkan lamunan Joshua. Ia melirik ke arah ponsel di atas meja. Tampak panggilan masuk dengan nomor tanpa nama namun memiliki terdapat foto profil di kontak tersebut. Gambarnya tidak asing. Joshua seperti pernah melihat sebelumnya.
Gambar daun maple dengan bayangan di tengahnya. Ia seperti pernah melihat gambar tersebut entah di mana. Joshua tak dapat mengingatnya. Tapi ia yakin bertul kalau ia pernah melihat gambar itu sebelumnya.
“Wong, ada panggilan masuk di ponselmu,” Chen berteriak memanggil Wong.
Wong datang dengan sebotol obat pengar di tangannya. Ia memberikan obat pengat tersebut kepada Joshua dan segera mengambil ponselnya. Lalu keluar untuk mengangkat panggilan tersebut.
Joshua menegak obat pengar yang tadi diberikan oleh Wong secaraperlahan. Pikirannya berkelana ke mana-mana. berusaha menggali memorinya tentang gambar daun maple dengan bayangan burung yang hendak memangsa maknannya di tengahnya.
“Jo!” Arkan menyenggol lengan Joshua membuat lamunan Joshua buyar seketika.
“Eh… ya?”
“Apa yang kau lamunkan?” tanya Arkan.
Joshua menggelengkan kepalanya. “Tidak ada,” elaknya.
“Mawar di mana ya? Aku tidak melihatnya sejak tadi,” tanya Sheila.
“Itu dia,” kata Chen membuat semua orang mengikuti arah pandangnya.
“Mawar!” panggil Chen sambil melambaikan tangannya ke arah Mawar.
Mawar mengangkat pandangannya. Namun, saat matanya bersibobrok dengan Joshua, ia segera mengalihkan pandangannya. Mawar kemudian secara tiba-tiba berbalik arah.
“Kau mau ke mana? Kemarilah untuk berbincang-bicang dengan kami,” ucap Chen membuat Mawar menghentikan langkahnya.
Pandangan Mawar nampak meliar ke mana-mana. “Tidak. Aku….” Mawar terlihat sedang berpikir sejenak sambil menyapu acak sekitar ruangan dengan matanya, “aku mencari Wong,” katanya cepat lalu buru-buru berbalik pergi tanpa memperdulikan Arkan yang berusaha memberi tahunya bahwa Wong sedang berada di luar karena ada panggilan telepon.
Joshua mengerutkan dahinya. Ia merasa Mawar seperti menghindarinya. Apa ia melakukan sesuatu yang salah semalam?
Joshua bangkit dari duduknya dan segera mencari keberdaan Mawar. Jika ia melakukan hal yang buruk maka ia akan segera meminta maaf. Hingga akhirnya Joshua melihat Mawar sedang berdiri di pinggir pagar kapal sambil memukul-mukul kepalanya pelan. Benar dugaan Joshua bahwa Mawar tidak benar-benar sedang mencari Wong.
“Mawar!” panggil Joshua.
Mawar berjengit kaget. Ia memutar tubuhnya cepat. matanya membola saat melihat Joshua sudah berdiri di belakangnya. Ia mengalihkan pandangannya. Menolak memandang ke arah Joshua. Gerak geriknya tampak kikuk.
“Aku harus pergi,” ucap Mawar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal ia lalu segera berjalan melewati Joshua.
Joshua mencekal tangan Mawar membuat Mawar mau tak mau harus menghentikan langkahnya. Mawar memejamkan matanya lelah.
“Ayolah… bisakah kau membiarkanku pergi saja?” batin Mawar. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Joshua. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan Joshua karena sangat malu.
“Kita harus bicara,” kata Joshua.
“Bicara? Bisakah kita bicara nanti saja?” tolak Mawar sambil berusaha meleapaskan cekalan tangan Joshua.
“Kau menghindariku.”
“Ha… ha… ha,” Mawar sontak menyemburkan tawa sumbangnya, “untuk apa aku menghindarimu?”
“Apa ada sesuatu yang terjadi semalam?” tanya Joshua langsung tanpa berbasa-basi lagi.
Mendengar pertanyaan Joshua membuat pikiran Mawar kembali ke momen semalam. Momen memalukan yang sangat ingin ia lupakan. Semalam saat setelah mereka melakukan adegan panas, dan Mawar mengajak Joshua pergi ke kamar. Joshua malah secara tiba-tiba jatuh tertidur. Hal itu membuat Mawar sangat malu karena sudah bersikap agresif dengan mengajak Joshua pergi ke kamar. Ia merasa benar-benar bodoh.
“Tidak. Tidak ada yang terjadi,” ucap mawar berbohong.
“Kau berbohong.” Joshua masih memegangi lengan Mawar. Sementara Mawar masih terus berusaha melepaskan cekalan tangan Joshua.
Mawar membuang napasnya kasar saat ia tak berhasil juga melepaskan cekalan tangan Joshua. Ia lalu menatap nyalang ke arah Joshua.
“Kalau memang terjadi sesuatu semalam memangnya kenapa? Aku yakin kau juga tidak ingat sedikit pun apa yang terjadi semalam! Jadi berhentilah mencari tahu karena aku sangat malu jika mengingat kejadian semalam! Lepaskan tanganku sekarang juga sebelum aku membunuhmu! Jangan mencariku jika hanya ingin menanyakan prihal kejadian semalam! Aku benar-benar benci mengingat apa yang terjadi semalam. Jika kau masih sayang nyawamu maka berhentilah bertanya atau aku tidak segan-segan membunuhmu!” sembur Maawar dengan berapi-api.
Joshua menegak ludahnya dan melepaskan cekalan tangannya perlahan.
"Aku ingin sendiri sekarang! Jangan mengikutiku!" titah Mawar. Ia lalu segera meninggalkan Joshua dengan langkah lebar-lebar.
Joshua mengusap wajahnya dengan kasar sambil melihat punggung Mawar perlahan menjauhinya.
Sebenarnya apa yang terjadi semalam hingga membuat Mawar menghindarinya? Selain kematian ayahnya, wanita menjadi misteri baru bagi Joshua. Apa yang wanita pikirkan benar-benar sangat sulit dipecahkan.