
Dahi Joshua semakin berkerut. “Majapahit?”
Apa itu nama organisasi yang Markus pimpin? Sebuah kelompok Mafia yang pernah dibicarakan oleh Mawar ketika ia gencar menawarkan pekerjaan kepada Joshua?
“Kurasa kau sudah mendengarnya dari Mawar.” Markus menyesap kopi di cangkir kecil di depannya. Ia kembali meletakkan cangkir tersebut usai menyesapnya. “Kami ingin kau menjadi salah satu petarung kami.”
“Aku tidak mau," kata Joshua tanpa keraguan sama sekali. Hal itu cukup membuat Markus dan Idhang semakin terkesan. Joshua memiliki karakter yang sama dengan Pram.
“Kau tidak mau mengetahui alasan kematian ayahmu?”
Joshua terdiam sejenak. Hatinya goyah. Tidak. Joshua sangat ingin mengetahui alasan kematian ayahnya. Namun, ia tak bisa melanggar janji dengan ibunya.
“Kau ragu,” muncul seringai puas di wajah Markus.
“Aku tidak ingin berkerja dengan seseorang yang menjalankan bisnis tidak jelas.”
Kalimat yang dilotarkan oleh Joshua tentu saja berhasil membuat Markus melemparkan tawanya ke udara. Joshua meirik ke arah Mawar lalu Idhang. Mereka berdua nampak tersenyum geli.
“Bisnis kami sangat jelas. Hanya saja memang dianggap ilegal. Kami mempunyai beberapa bisnis komersial juga walau pun itu bukan bisnis utama kami dan penghasilan yang di dapatkan tidaklah seberapa diri bisnis ilegal kami.”
“Aku tidak ingin terlibat dengan bisnis ilegal,” tegas Joshua.
“Kenapa?” tanya Idhang.
Joshua mengangkat kedua bahunya. “Itu melanggar hukum. Aku tidak ingin terlibat dengan polisi.”
Markus kembali terkekeh. “Ayolah, Anak Muda. Jangan terlalu naif. Kau pikir kenapa tidak ada satupun orang biasa yang pernah menyebut nama kami, dan mengapa kalian tidak pernah mendapatkan berita tentang kami yang tertangkap karena bisnis ilegal? Itu karena kami lebih besar dan kuat daripada para pemerintahan di negara ini.”
“Aku tetap tidak mau,” tegas Joshua. Baginya janji kepada ibunya lebih penting. Ia tak mau melanggarnya. Joshua harus berusaha mengiklaskan kepergian ayahnya seperti yang selama ini ibunya minta darinya.
Joshua pergi. Kali ini tak berbalik lagi. Jika ia lebih lama berada di sini, ia takut keputusannya akan goyah. Anak buah Markus awalnya menghalau langkah Joshua. Akan tetapi, Markus memberikan isyarat kepada para anak buahnya untuk membiarkan Joshua pergi.
Sekeluarnya Joshua dari tempat kediaman Markus, ia langsung di hadapkan dengan tempat yang sama sekali asing baginya. Ia berada di jalan setapak dengan pantai yang terlihat tak jauh dari tempatnya berjalan. Jangankan angkutan umum, sejak tadi ia belum juga menemukan satu saja kendaraan yang melewatinya. Permukiman warga juga bisa dihitung jari. Kalau pun ada rumah warga yang ia lewati, tidak ada penghuninya di dalamnya.
Joshua lelah. Ia menyesal tidak menerima makanan dari Markus tadi. Ia tidak tahu harus berjalan sejauh apa lagi hingga menemukan jalan besar.
Tidak ada ponsel. Karena ia yakin ponselnya masih tertinggal di tasnya yang ia letakkan di mini market tempat ia berkerja part time.
Mawar nampak mencondongkan badannya ke arah pintu mobil yang berhadapan langsung dengan Joshua. “Masuk saja. Tak perlu keras kepala. Aku akan mengantarmu pulang.”
Joshua awalnya menatap penuh curiga ke arah Mawar. Membuat Mawar membuang napasnya kasar. “Masuk saja! Kau paranoid sekali! Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu.”
“Bagaimana aku bisa yakin padamu sedangkan semalam saja kau berhasil membuatku pingsan dan membawaku ke tempat antah brantah ini.”
“Aku bersumpah tidak akan melakukan hal buruk.” Mawar kembali mencondongkan wajahnya dan menutup pintu mobilnya. “Ya, sudah. Jika kau tidak mau kuantarkan. Pulang saja sendiri. kau masih harus menempuh jarak empat kilometer sampai dengan jalan raya.”
Joshua akhirnya menyerah. Untuk kali ini ia harus menyingkirkan egonya dan berhenti bersikap keras kepala. Ia membuka pintu mobil Mawar dan segera duduk di kursi penumpang.
Mawar melemparkan sebuah kantung kertas ke pangkuan Joshua. Joshua membukanya dan nampak roti yang masih hangat. Joshua hanya memandangi roti tersebut sambi menaikkan satu alisnya. Hal itu membuat Mawar kembali kesal.
Mawar mengulurkan tangannya ke arah kantung kertas di pangkuan Joshua dan merobek salah satu roti di sana dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Lalu menelannya cepat.
“Lihat… tidak terjadi apapun bukan? Aku tidak meracuninya ataupun memasukkan obat bius. Makan saja. Kau belum makan semenjak aku membawamu kemri. Sekarang hari sudah siang. Aku masih punya perasaan sebagai manusia,” kata Mawar sambil melajukan mobilnya tanpa menoleh ke arah Joshua.
Joshua menganggukkan kepalanya dan segera melahap roti di pangkuannya. Ia lapar dan harga diri tidak dapat menyelamatkannya dari rasa lapar.
“Aku sudah menolak taawaran ayahmu. Jadi, kurasa kita tidak memiliki urusan lagi. Melihat kau memiliki inisiatif megantarkanku pulang, pasti kau punya tujuan lain,” kata Joshua usai menghabiskan rotinya, ”katakan… apa yang kau inginkan?”
Mawar tersenyum miring. Membuatnya terlihat seperti ayahnya. “Sudah kuduga, kau tidak berbasa-basi. Aku suka itu,” katanya sambil sedikit menoleh ke arah Joshua, “tentu saja aku membantumu dengan tujuan tertentu. Aku akan langsung ke intinya… aku ingin kau menerima penawaranku kali ini.”
“Penawaran apa lagi? Apa aku punya pilihan untuk menolak?”
Mawar mengangkat kedua bahunya. “Well, tentu saja kau tidak punya pilihan untuk menolak. Karena aku berhasil melacak keberadaan ibumu. Jika kau menolak tawaranku, aku tidak yakin apa yang akan terjadi padanya.”
Joshua menggertakkan giginya. Ia tidak suka ibunya dibawa-bawa dalam masalah ini.
Melihat reaksi Joshua membuat Mawar menyeringai. Bingo! Ternyata cukup mudah mempengaruhi Joshua.
“Apa yang kau tawarkan? Aku akan menerimanya seperti kemauanmu. Tapi, jika sampai kalian menyentuh ibuku seujung rambutnya saja… aku tidak akan segan-segan menghabisi kalian satu persatu,” geram Joshua.
Mawar tersenyum senang karena ancamannya berhasil mempengaruhi Joshua. Padahal, itu hanyalah sebuah ancaman. Ia tidak benar-benar akan melakukan sesuatu kepada ibu Joshua. “Ini menarik. Kau pasti akan suka dengan penawaran yang kuberikan.”
“Katakan saja langsung! Tak perlu berbasa-basi.”