
Joshua duduk tenang di balik jeruji besi sambil menyandarkan punggungnya di tembok dan kedua lutut tertekuk di depan dada. Sementara Mawar sibuk berjalan mengitari ruang sempit ini tanpa henti.
"Duduklah! Kau bisulan?" cetus Joshua yang jengah melihat Mawar yang tidak bisa diam sejak tadi.
Mawar menoleh ke arah Joshua dan menatapnya nyalang. "Kita harus keluar dari sini bagaimana pun caranya! Tidak ada waktu untuk bersantai!"
"Apa berjalan mondar-mandir sejak tadi, dapat membuat kita keluar dari sini?" tanya Joshua dengan satu alis terangkat.
Mawar menggeleng pelan. "Tidak," jawabnya lemah dengan bahu melorot.
Mawar pun berjalan gontai, mendekat ke arah Joshua dan duduk di samping pria tersebut. Memeluk kedua lututnya dan menopangkan dagu di atasnya.
Joshua menghembuskan napasnya pelan. Ia berusaha berpikir bagaimana caranya keluar dari sini. Tapi, sekeras apapun ia berpikir, tidak ada ide yang memungkinkan untuk kabur dari sini.
Cara satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah kabur saat mereka resmi dipidana dan dalam proses pemindahan ke penjara utama. Namun, hal tersebut memiliki kemungkinan keberhasilan sangat kecil, karena pasti proses penjagaannya sangat ketat.
Seorang petugas lewat di depan sel mereka. Mawar segera beranjak berdiri. Kemudian ia nampak berbincang dengan petugas tersebut. Joshua tidak tahu apa yang ia dan petugas itu bicarakan, tapi satu hal yang Joshua dapat simpulkan; bahwa Mawar berhasil membuat Si Petugas marah. Karena obrolan mereka berakhir dengan muka Mawar yang diludahi oleh Si Petugas yang wajahnya sudah memerah marah.
Mawar berbalik selepas petugas tersebut pergi dengan langkah lebar-lebar. Dengan tampang jijik ia berusaha membersihkan liur di wajahnya dengan telapak tangannya, lalu mengusapnya di gaunnya yang sudah compang-camping.
"Ini menjijikan," keluh Mawar dengan tampang tak kalah kesal dengan Si Petugas yang tadi meninggalkannya.
"Apa yang kau bicarakan dengan petugas itu hingga membuatnya marah?" tanya Joshua penasaran.
"Aku berusaha menyuapnya," sahut Mawar santai.
"Jelas saja ia marah. Kau menghina harga dirinya," komentar Joshua.
"Aku tidak menghinannya. Aku hanya menawarkan kesepakatan saling menguntungkan." Mawar masih berusaha membela diri. Sementara Joshua sudah tak menanggapinya lagi.
Keheningan melingkupi suasana di sekitar Joshua dan Mawar untuk sementara. Hingga Joshua akhirnya buka suara terlebih dahulu, "Ngomong-ngomong, Mawar. Ada yang ingin kutanyakan."
Mawar menolehkan kepalanya ke arah Joshua yang duduk di sampingnya. Kedua tangan Mawar masih memeluk kedua lutut. "Apa?"
"Mengapa ayahmu tidak memberikan uang lebih banyak untuk berlian itu? Jika kau membawa uang lebih banyak, pasti kita bisa mendapatkannya tanpa perlu terkurung di sini. Dan juga... mengapa ia tidak mengirim tim lebih banyak dari pada hanya kita berdua?" Joshua menyampaikan unek-unek yang menganggu pikirannya sejak tadi.
"Aku tidak pernah berkata bahwa ayahku yang memberikan tugas ini," jawab Mawar.
Joshua diam untuk beberapa detik. Berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan Mawar. "Maksudmu?"
"Ini merupakan misi atas dasar keinginanku sendiri untuk mentapatkan the cullinan. Bukan tugas dari ayahku. Aku menggunakan uang pribadiku sendiri untuk ini. Jika ia tahu, ia pasti tidak akan mengijinkannya," terang Mawar panjang lebar, "ah... aku harusnya menuruti perkataan ayahku saja. Jika iya kita pasti tidak akan—"
"Apa?!" bentak Joshua yang sekarang sudah berdiri. "Jadi ini bukan merupakan tugas dari ayahmu?"
Mawar menganggukkan kepalanya. Menatap penuh tanya ke arah Joshua yang terlihat sangat kesal.
Joshua mengusap wajahnya kasar. "Lihatlah kekacauan yang kau buat, Mawar! Jika aku tahu tugas ini bukan dari ayahmu, maka aku tidak akan pernah mau bergabung!"
"Kau tidak bertanya," gumam Mawar pelan. Ia tak pernah melihat Joshua semarah ini sebelumnya.
Joshua tertawa sinis. "Tidak bertanya? Kau harusnya memberi tahuku! Sekarang, karena ulahmu kita harus terjebak di penjara di negara asing! Dan apa yang kita dapatkan? Tidak ada! Omong kosong dengan berlian milliaran dollar! Kita hampir mati karena mencurinya, tapi sekarang kita bahkan tak bisa menyentuhnya!" ucapnya meledak-ledak.
Ledakan emosi Joshua yang tidak pernah Mawar lihat sebelumnya, membuat nyali Mawar menciut seketika untuk membatah. Karena memang semua ini salahnya hingga membuat mereka berdua terjebak di penjara. Ia harusnya membuat rencana lebih matang lagi, dan membayar lebih banyak orang.
"Maaf," ucapnya pelan mengakui kesalahannya.
Joshua membuang napasnya pelan. "Sudahlah," ia kembali duduk di samping Mawar. Menyandarkan punggungnya dan memjamkan matanya lelah.
"Jadi, apa kau punya rencana untuk keluar dari sini?" tanya Joshua tanpa membuka matanya sedikit pun.
Mawar mengangkat kedua bahunya. "Jika beruntung, Arkan dan yang lainnya bisa menyelamatkan kita. Tapi, aku tidak tahu kapan tepatnya mereka dapat menyelamatkan kita. Karena kita hanya memiliki sedikit tim."
Mawar menolehkan kepalanya ke arah Joshua. "Apa kau punya ide?"
"Tidur saja."
"Apa kalian berniat tinggal di sini?" tanya sebuah suara wanita dengan bahasa Indonesia.
Hal itu, membuat Joshua dan Mawar membuka mata mereka seketika.
Joshua menyipitkan matanya ke arah petugas yang sekarang membuka pintu sel mereka. "Sheila?"
Sheila mengangkat topinya sehingga wajahnya terlihat jelas. "Hai. Maaf lama. Sistem keamanan di sini susah sekali ditembus, karena minimnya otak Si Bodoh Arkan."
Sheila memutar kedua bola matanya. "Baiklah... baiklah. Aku akan berhenti mengatai kau bodoh," ucapnya kepada orang yang terhubung dengannya di ear peace.
"Sudah kuduga kau pasti datang!" Mawar tersenyum lebar.
Pintu dibuka oleh Sheila dan Mawar serta Joshua segera keluar dari sel tersebut.
Joshua mengedarkan pandangannya karena heran dengan suasana hening di sekitarnya. Ternyata, petugas-petugas yang berada di sekitar sel sudah berhasil dilumpuhkan.
"Apa kau membunuh mereka?" tanya Joshua kepada Sheila.
Sheila menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya membuat mereka pingsan." Ia menyodorkan dua ear peace untuk Joshua dan Mawar.
"Apa semua sudah terhubung?" tanya Arkan.
"Ya," sahut mereka serempak.
"Baiklah. Tidak perlu basa-basi. Waktu kita tidak banyak. Ayo kita kabur dari sini. Matinya CCTV di sana tidak akan bertahan lama. Kalian harus segera pergi." Arkan mulai memberikan intruksi, "pergilah ke pintu sebelah timur."
Tanpa banyak bicara Joshua, Mawar dan Sheila segera pergi ke arah pintu yang Arkan maksudkan. Sheila yang berada paling depan segera membuka pintu tersebut menggunakan kunci yang berhasil ia curi tadi dari salah satu petugas yang berhasil ia lumpuhkan.
Pintu terbuka. Akan tetapi, Sheila hanya diam di ambang pintu tanpa melangkahkan kakinya masuk.
Joshua mendekat ke arah Sheila dan berdiri di sampingnya. Dan pemandangan di hadapannya membuatnya mendesah lelah. "Ya Tuhan! Apalagi sekarang?!"
"Ada apa? Kenapa kalian diam? Apa yang—" Mawar menghentikan kalimatnya seketika saat menatap ke arah beberapa polisi yang menatap penuh tanya ke arah mereka.
"Astaga! Maafkan aku. Bukan pintu sebelah timur. Tapi pintu sebelah selatan!" ucap Arkan menyesal.
"Sialan Arkan!" geram Mawar dan Sheila kesal.