The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 5: Tempat Asing



Mata Joshua menyipit menahan silau yang berasal dari cahaya bola lampu yang menggantung di atas langit-langit berwarna putih. Tubuhnya terbaring di atas kasur yang sangat nyaman dan empuk. Ini jelas bukan kamar kostnya.


Setelah beberapa saat, mata Joshua akhirnya mampu beradaptasi dengan ruangan asing yang terang ini. Ia beranjak duduk, namun kepalanya terasa pening sehingga ia harus menunduk dan memegang dahinya sejenak.


Saat rasa pening perlahan hilang, Joshua segera megedarkan pandangannya ke sekitarnya. Ia sekarang berada di sebuah kamar tidur yang berukuran cukup luas. Kamar yang didominasi dengan warna putih. Perabotan yang berada di dalamnya terlihat mahal dan mewah. Mulai dari nakas, lampu tidur, lemari, karpet, bahkan kesetnya pun terlihat sangat berkelas. Entahlah, itu hanya kesimpulan pribadi dari Joshua.


Joshua ingat, sebelum ia tak sadarkan diri, ada seorang gadis yang memaksanya untuk ikut dengannya dengan dalih ayah dari gadis tersebut ingin memperkerjakannya sebagai petarung. Lalu, saat di halaman mini market saat Joshua membawa gadis tersebut keluar nampaknya ada yang memukul belakang kepalanya hingga ia tak sadarkan diri.


Joshua mengernyit. Di mana dia? Apa dia sedang diculik. Tapi, apa memang ada penculikan yang meletakkan tawanannya di kamar mewah seperti ini? Apa ini penculikkan gaya baru? Di mana tawanan akan diberi kenyamanan sebeum akhirnya dihabisi.


Tapi, apa salahnya hingga membuatnya diculik? Ah… benar juga, soal tawaran pekerjaan. Ia pasti diculik karena hal itu.


Ia awalnya menertawakan gadis yang menawarkan pekerjaan kepadanya tersebut. Namun, sekarang ia malah meragukan pendapatnya sendiri. Apa gadis tersebut berbicara tentang kebenaran? Apa kelompok kriminalitas yang biassa disebut sebagai mafia itu benar-benar ada? Jika Joshua menolak tawaran pekerjaan dari mereka apa ia akan dibunuh?


Joshua membuang napasnya berat. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika ia benar-benar diculik maka ia harus segera kabur dari sini.


Joshua bangkit dari duduknya dan turun dari atas kasur. Telapak kakinya menyentuh lantai yang berbalut dengan karpet yang terasa sangat lembut hingga membuatnya takjub sesaat. Benar dugaannya, bahwa karpetnya saja terasa mahal.


Joshua beranjak menuju ke arah pintu dan membukanya. Ia terkejut karena ternyata pintunya tak terkunci. Akan tetapi, ia kembali dikejutkan dengan seorang lelaki yang tiba-tiba menghadang jalannya.


“Lapor. Tawanan sudah sadarkan diri,” kata pria tersebut melalui earpeace yang terpasang di telinganya.


Joshua menoleh ke arah sekitarnya. Ia nampak berhadapan langsung dengan sebuah kolam renang. Di sekitarnya setidaknya terdapat 3 orang penjaga.


Joshua berusaha melewati penjaga yang menghadangnya. Namun, penjaga tersebut malah mendorong tubuh Joshua hingga kakinya melangkah mundur kembali memasuki kamar.


“Diam di dalam jika kau masih ingin hidup!” bentaknya tepat di depan wajah Joshua.


Joshua menarik kerah baju penjaga tersebut hingga membuatnya ikut masuk ke dalam kamar bersama Joshua. Joshua melirik sekilas ke arah sebuah kunci yang masih tergantung sempurna di daun pintu.


Penjaga tersebut merasa kesal atas perlakuan Joshuadan berniat melayangkan tinju yang hampir saja mengenai wajah Joshua jika saja ia tidak segera merunduk.


BUGH!


Joshua melayangkan tinjunya ke arah sang penjaga, namun berhasil ditangkis. Pergelangan tangannya sekarang justru malah di cekal.


Sepertinya penjaga tersebut hendak mengunci lengan Joshua. Namun, Joshua bergerak lebih cepat. Ia memutar lengannya yang dicekal hingga membuat penjaga tersebut melepaskan cekalannya. Kemudian tangan kirinya yang bebas memukul rahang sebelah kanan sang penjaga saat atensinya sedang teralihkan oleh Joshua yang sedang melepaskan cekalannya.


BUGH!


Wajah penjaga tersebut terlempar ke samping saat menerima pukulan dari Joshua. Emosinya semakin menjadi-jadi. “Sialan!” geramnya marah.


Langkahnya lebar-lebar mendekat ke arah Joshua yang justru malah berjalan mundur mendekat ke arah nakas. Tangan Joshua meraih sebuah vas bunga berbentuk ramping berbahan keramik di atas nakas dan melemparkannya ke arah sang penjaga. Tepat ke arah kepalanya. Vas tersebut mengenai lengan pria tersebut yang berusaha melindungi kepalanya.


Joshua tahu bahwasannya sang penjaga akan mampu menangkis lemparannya dengan lengannya. Karena sebenarnya lemparan tersebut hanya Joshua gunakan sebagai pengalihan.


PRANG!


BUGH!


BRAK!


Joshua menggunakan kesempatan tersebut untuk keluar dari kamar ini sebelum sang penjaga bisa bangkit. Ia menutup pintu kamar bersamaan dengan bangkitnya sang penjaga dari lantai dan berteriak marah saat Joshua mengunci pintunya dari luar. Ia menggedor pintu dari dalam yang menimbulkan suara yang menarik atensi dari kedua rekannya yang juga sedang berjaga di sana.


Sadar bahwasannya rekannya sedang diserang, membuat dua orang penjaga lainnya tidak tinggal diam. Joshua buru-buru melempar kunci kamar di tangannya ke arah kolam. Hingga benda kecil tersebut perlahan tenggelam ke dalam air.


Penjaga yang berbadan lebih pendek menyerang Joshua terlebih dahulu. Namun berhasil Joshua hindari. Akan tetapi, ia sekarang malah terpojok di pinggir kolam. Satu langkah mundur dan Joshua bisa saja langsung terjatuh ke kolam.


Pria yang berbadan lebih tinggi menyeringai. “Kau tidak bisa kabur lagi Anak Muda.”


Joshua berusaha berpikir cepat. Dua lawan satu. Dengan ia yang terpojok di pinggir kolam. Ini jelas bukan posisi yang menguntungkan baginya. Apa yng harus dilakukannya?


Penjaga yang berbadan lebih pendek baru saja hendak melayangkan tinju ke arah Joshua namun tinjunya tertahan di udara tat kala terdengar suara tepuk tangan. Penjaga tersebut segera menurunkan tinjunya. Membuat Joshua mengernyit heran.


“Jangan ganggu dia. Dia adalah tamu istimewaku. Tidak ada yang boleh menyentuhnya.”


Kedua penjaga tersebut memutar tubuh mereka menghadap ke arah sumber suara. Sebelum akhirnya membungkuk sambil berseru tegas, “Baik Tuan,” ujar mereka penuh hormat dan kemudian mengangkat kembali tubuh mereka yang tadi membungkuk untuk berdiri tegap dengan sikap siaga.


Joshua mengikuti arah pandang kedua penjaga. Nampak seorang lelaki berbadan cukup berisi dengan wajah yang dipenuhi jenggot tipis yang terhubung dengan kumis di atas bibirnya.


Sorot mata pria tersebut terlihat tegas dan penuh perhitungan sehingga memancarkan aura mendominasi dalam dirinya. Yang tentu saja hal itu tak membuat Joshua terintimidasi. Karena Joshua memang tak takut terhadap siapa pun. Lagi pula apa yang harus ia takutkan di sini? Ia tak bersalah.


Di samping pria tersebut berdiri seorang yang hampir seusia dengan pria berjenggot tipis. Namun rambut pria tersebut kelihatan sudah beruban sebagian. Akan tetapi, uban di kepalanya tidak membuatnya terlihat renta. Tubuhnya justru terlihat sangat bugar dan kuat. Berbeda dengan pria berjenggot, pria ini memiliki sorot mata yang teduh saat menatap Joshua. Setidaknya itulah yang Joshua lihat.


“Siapa kau?” tanya Joshua tanpa basa-basi.


Pria berjenggot malah melemparkan tawanya. “Ha… ha… ha. Aku suka dengan sikapmu Anak Muda. Kau tidak basa-basi sama sekali.” Ia mengusap jenggotnya sebelum kemudian kembali bekata, “aku Markus Rahadyan. Kau mungkin sudah bertemu dengan—”


“Ayah,” suara teriakan seorang gadis memutus kalimat yang dilontarkan oleh Markus. Nampak gadis yang ia temui di mini market sebelum ia pingsan dan sadarkan diri di sini.


Perhatian semua orang tertuju kepada gadis tersebut yang fokusnya mengarah ke arah Markus. Ternyata ayah yang dibicarakan gadis tersebut adalah Markus. Itu artinya Markus jugalah yang hendak menawarkan pekerjaan pada Joshua.


“Ayah aku mencarimu dari tadi!” seru gadis tersebut kepada Markus.


“Kau mungkin sudah bertemu dengan putriku… Mawar,” ucap Markus sambil kembali mengalihkan pandangannya ke arah Joshua. Membuat atensi Mawar yang awalnya fokus terhadap ayahnya menjadi teralihkan kepada Joshua.


“Ah… ternyata dia sudah sadarkan diri,” kata Mawar sambil menatap ke arah Joshua dan menganggukkan kepalanya.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Joshua langsung yang terlihat tidak terpengaruh dengan kehadiran Mawar.


“Tidak perlu buru-buru, Anak Muda. Mari kita bicarakan bisnis. Aku punya beberapa penawaran untukmu,” kata Markus dengan seringai yang belum juga hilang dari wajahnya.