The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 9: Penyusup?



Joshua baru saja memasuki gedung kostnya. Namun, langkahnya kembali mundur satu langkah dan ia memutar tubuhnya lalu berjalan keluar kostnya kembali. Sesampainya ia di luar gedung kostnya, mobil Mawar sudah tak terlihat lagi. Ia berjalan ke jalanan sempit di depan gedung, dan di sepanjang jalan sudah tak terlihat lagi mobil Mawar sejauh matanya memandang.


Joshua menghembuskan napasnya pelan. Semoga gadis tersebut baik-baik saja. Joshua menatap gedung berlantai dua dengan tembok bercat putih yang sudah menguning dan mengelupas di sebagian sisinya. Tanpa pikir panjang ia segera kembali masuk ke dalam.


Joshua melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga yang lantainya dilapisi keramik tua yang beberapa bagiannya sudah retak. Tidak ada suaura selain suara sol sepatunya yang bersentuhan dengan lantai.


Joshua baru saja tiba di depan kamar kostnya. Kamarnya terletak di lantai dua. Gedung kost yang sudah cukup tua ini hanya sedikit penghuninya. Padahal jumlah kamarnya cukup banyak. Joshua memilih tinggal di sini dengan alasan biaya kamar yang relatif murah dengan fasilitas kamar mandi di dalam.


Saat Joshua hendak membuka pintu kamarnya, ia tersadar bahwa pintu kamarnya terbuka. Joshua mengernyitan dahinya. Ia ingat betul bahwa ia selalu mengunci pintu kamarnya setiap ingin berpergian dan Joshua bukan tipikal orang yang teledor.


Setelah mengalami kejadian-kejadian beberapa jam belakangan, Joshua semakin was-was terhadap sesuatu di sekitarnya. Ia harus berhati-hati karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Joshua membuka pintu kamarnya pelan. Kamarnya terlihat sama. Tidak ada barang yang berubah posisinya sedikit pun. Namun, terdengar suara percikan air mengalir dan dentingan besi atau logam yang saling bersentuhan dari arah kamar mandinya.


Siapa orang yang berada di kamar mandinya? Joshua harus berhati-hati. Pengalaman mengajarkannya agar ia tidak boleh lengah.


Joshua berjalan pelan ke arah sebuah meja kecil di samping kasurnya. Ia membuka pelan lacinya dan mengambil sebuah pisau karter. Siapa tahu saja ia memang membutuhkannya. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi dengan langkah yang ia usahakan tidak menimbulkan bunyi sedikit pun.


Joshua menyentuh gagang pintu dan hendak membuka pintu kamar mandinya. Akan tetapi, belum saja ia sempat menarik gagang pintu di tangannya, pintu sudah terlebih dahulu terbuka. Menyebabkan Joshua dengan sigap segera mundur selangkah, dan menyodorkan pisau karter ke depannya.


Joshua terkejut….


Benar-benar terkejut….


Ia menatap pria di hadapannya dengan alis bertaut. Matanya masih melotot karena terkejut. Pisaunya masih tertodong ke depan. Ke arah seorang paruh baya dengan kumis lurus, yang sekarang berdiri di depannya sambil membawa kotak perkakas di salah satu tangannya.


Pria tersebut adalah pria yang sama dengan pria yang memberinya bayaran saat ia memenangkan pertandingan di UB beberapa hari yang lalu. “Jo? Kau sudah pulang rupanya. Aku menghubungimu sejak semalam. Tapi kau tak menjawab panggilanku."


“Apa yang Pak Bambang lakukan di kamarku?” Joshua balik bertanya setelah sadar dengan keterkejutannya.


“Saluran air di gedung ini rusak dan kebetulan letak sumber kerusakannya ada di kamar mandimu,” jelas Pak Bambang.


Joshua hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


Joshua menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Ia bingung harus menjawab apa. “Ah… itu. Aku sedikit sibuk semalam.”


Pak Bambang menganggukkan kepalanya. Tak berniat bertanya lebih jauh lagi. “Ya. Sudah kalau begitu. Aku sudah selesai dengan pekerjaanku. Maaf karena sudah membuka kamarmu tampa izin. Tapi, ini benar-benar mendesak.”


Joshua tersenyum menenangkan. “Tidak apa-apa, Pak. Justru aku yang harusnya meminta maaf karena sudah sulit dihubungi. Aku hanya terkejut tadi karena kamarku tiba-tiba terbuka makanya aku menodongkan pisau.”


“Baiklah aku pergi dulu.” Pak Bambang menepuk pelan pundak Joshua sebelum beranjak pergi. Namun, saat ia mencapai depan pintu ia berhenti dan berbalik lagi menghadap Joshua.


“Lusa, ada pertandingan dengan taruhan cukup besar. Meskipun tidak sebesar terakhir kali. Kau tidak ingin ikut? Mereka sudah menghubungiku beberapa kali karena tidak melihan namamu masuk dalam daftar.”


“Kurasa tidak. Aku ingin fokus untuk ujian beberapa hari ke depan,” tolak Joshua.


Pak Bambang mengangkat kedua bahunya. “Oke. Akan kuberi tahu pada mereka,” ucapnya sambil tersenyum dan menampilkan deretan giginya yang berwarna kekuningan. "Semoga berhasil dengan ujiannya."


Joshua menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya Pak Bambang keluar dari kamarnya dan pintu kamarnya berdebum tertutup. Joshua segera meletakkan ke tas yang masih tersampir di pundaknya ke lantai. Pisau karter di tangannya ia lemparkan asal ke atas meja. Ia kemudian melemparkan dirinya ke atas kasur.


Pak Bambang merupakan orang yang mengenalkan Joshua pada UB. Klub tinju rahasia yang selama ini menjadi tempatnya mendapatkan tambahan uang untuk biaya kuliah. Saat itu Pak Bambang tidak sengaja melihat Joshua berlatih tinju di kamarnya dan langsung menawarkan Joshua agar bergabung dengan UB. Walau awalnya Joshua tidak langsung bertanding dan hanya menonton saja.


Joshua memang memiliki samsak tinju sendiri di kamarnya yang berhasil ia beli dengan hasil jerih payahnya. Sehingga membantunya berlatih tinju kapan pun ia mau. Baginya berlatih tinju dapat membantunya mengingat momen-momen kebersamaannya dengan ayahnya.


Kegiatan Joshua di UB tentu saja Joshua rahasiakan dari ibunya. Jika ibunya tahu sudah dipastikan ibunya akan menentangnya. Mengingat semenjak kematian ayahnya ibunya selalu melarangnya untuk berlatih tinju lagi.


Mata Joshua terpejam saat sudah puas menatap langit-langit kamarnya. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini sehingga membuat pikirannya kacau. Kegelapan yang dihasilkan karena matanya yang terpejam membuat Joshua perlahan terlelap dalam tidurnya.


Drrtt….


Drrtt….


Suara getaran ponsel yang cukup nyaring membuat Joshua perlahan terbangun dari tidur singkatnya. Matanya masih terasa berat, sehingga saat ia meraba tas di lantai dan mengambill ponsel di dalamnya, ia tak membuka matanya sedikitpun.


Saat ponsel sudah berada di tangan Joshua, getarannya pun sudah berhenti. Joshua membuka matanya perlahan, dan seketika matanya membola tat kala ia membaca pesan singkat yang sekarang memenuhi layar ponselnya.