The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 11: Tenggelam dalam Pikiran



Panggilan telepon dari mawar baru saja terputus. Joshua memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Ia kemudian berjalan keluar dari gang gelap dan sempit nan bau tersebut.


Josua menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Memutar kepalanya ke penuru arah. Mengamati sekitarnya. Memastikan bahwa tak ada bahaya yang mengancamnya di sekitarnya.


Setelah yakin bahwa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, Joshua bergegas untuk pulang. Ia segera berjalan menuju pemberhentian bus terdekat.


Baru saja ia sampai di pemberhentian bus, sebuah bus berhenti di depannya. Bus dengan rute ke arah daerah sekitar kostnya. Joshua segera naik ke dalamnya dan mengambil tempat duduk di dekat jendela.


Joshua melemparkan pandanvannya ke arah luar jendela. Matanya menatap ke arah gambaran-gambaran pinggir kota yang cepat berganti seiring laju bus membawanya. Namun, Joshua tak memperhatikan itu semua sama sekali. Karena pikirannya sekarang sudah melayang jauh dari raganya.


Joshua memikirkan orang yang mengikutinya tadi. Orang yang Joshua pikir adalah seorang pria, dilihat dari perawakannya. Joshua belum dapat menebak motif pria tersebut mengikutinya.


Ini aneh. Pria tersebut tidak mencelakainya begitu Joshua menangkap basah dirinya. Tak hanya itu, ia juga malah lari dan menghilang setelah tertangkap basah.


Seingat Joshua, ia tidak memiliki musuh. Dan juga hidupnya tidaklah semenarik itu hingga ada seorang penguntit yang ingin mencari tahu kehidupannya. Joshua bukan selebriti, pejabat maupun orang-orang penting lainnya. Ia hanya mahasiswa biasa dan pekerja part time mini market.


Joshua menghembuskan napasnya lelah. Ia kemudian mengusap wajahnya kasar. Merasa kesal dan lelah karena harus terlibat dengan kejadian-kejadian tak terduga secara beruntun belakangan ini. Hidupnya yang tenang layaknya air di kolam harus beriak tiba-tiba seperti ada seseorang yang sengaja melemparkan batu ke dalamnya.


Joshua tiba-tiba teringat akan ibunya. Setelah mengetahui bahwa ia benar-benar diikuti sejak tadi, membuat Joshua khawatir terhadap ibunya. Joshua segera mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya.


Untuk beberapa detik yang terasa lama, Asih tak juga mengangkat ponselnya. Membuat Joshua cukup cemas. Hingga akhirnya pada dering ke lima akhirnya panggilan dari Joshua terhubung juga.


"Halo, Bu?" Samar-samar Joshua dapat mendengar suara suasana di dalam kereta api.


"Iya, Nak. Ada apa? Apa ada barang Ibu yang tertinggal di sana?" sahut Asih.


Joshua menyandarkan kepalanya di kaca bus. "Apa ibu baik-baik saja?"


"Tentu saja. Ada apa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Belum saja satu jam kita berpisah," tanya Asih curiga.


"Jika ada sesuatu yang buruk. Segera hubungi aku ya Bu. Terutama jika ada yang mengikuti Ibu."


"Kenapa? Apa ada sesuatu terjadi kepadamu? Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaanmu kepada Ibu tadi sore?"


Joshua hanya dapat berdo'a semoga ibunya baik-baik saja. Mengingat orang yang mengikutinya tidak berniat mencelakainya, sepertinya kalau pun ibunya juga diikuti seperti dirinya, nampaknya ia tidak perlu terlalu khawatir.


Namun entah mengapa firasat Joshua mengatakan bahwa hanya dirinya lah yang diikuti. Tidak dengan ibunya. Karena Joshua memperhatikan sekitar saat ibunya hendak masuk ke stasiun, sampai kereta berjalan pergi, tidak ada yang mencurigakan sama sekali.


Joshua selalu percaya pada instingnya. Karena hingga sekarang instingnya jarang menghianatinya.


Bus berhenti di tempat tujuan Joshua bersamaan dengan panggilan telepon antara Joshua dan ibunya baru saja terputus. Joshua segera turun dan pergi menuju kostnya.



Joshua membaringkan tubuhnya di atas kasur tipisnya. Matanya menatap ke arah langit-langit kamarnya. Sementara pikirannya berlarian ke arah percakapannya dengan ibunya tadi sore.


Pembicaraan mereka tadi sore membawa kesimpulan pada Joshua bahwa memang ada yang disembunyikan dari kematian ayahnya. Dan juga reaksi ibunya mengatakan bahwa perkataan Markus tentang ayahnya yang merupakan mantan anggota mafia benar adanya.


Joshua tidak dapat tinggal diam. Ia membuang napas kasar sambil memejamkan matanya. Ia harus mencari tahu kebenaran dari kematian ayahnya. Dan ia terpaksa harus melanggar janjinya kepada ibunya.


Joshua tidak pernah melanggar janji yang ia buat. Namun, jika imbalannya adalah sebuah kebenaran maka ia harap akan mendapatkan jawaban yang setimpal akan pengorbanannya.



[Beberapa hari kemudian]


Malam yang gelap membuat keindahan pantai tersamarkan. Hanya suara deru ombak dan bau lautan yang dibawa oleh angin kencang yang dapat menegaskan bahwa Joshua sekarang berada di pinggir pantai.


Kumpulan lelaki berdiri di sekitarnya. Hanya ada satu orang gadis yang duduk di atas sebuah batang pohon kelapa yang tumbang, yaitu Mawar. Ia mengenakan jaket dan mendekapkan kedua tangannya di depan dada. Menatap serius ke arah depan. Ke arah Joshua yang sekarang berhadapan dengan 4 orang pria. Beberapa hari lalu Mawar menghubungi Joshua dan memberitahukan tentang tawaran pertarungan hari ini, yang tanpa pikir panjang langsung disetujui oleh Joshua.


Lima tong besar berisi kayu yang terbakar menjadi penerang di antara mereka. Api yang menyala cukup besar cukup untuk menghalau gelapnya malam. Dan mempermudah pengelihatan para penonton atau pun petarung malam ini.


Joshua merenggangkan tubuhnya sebelum perkelahian dimulai. Malam ini, akan menjadi malam yang melelahkan.