
"Kalian pakailah ini agar kita bisa terus berhubungan," Mawar membagikan ear peace yang ia peroleh dari Arkan kepada Joshua dan Sheila.
Mobil yang membawa mereka berhenti di depan lobi sebuah hotel mewah bernama Galaxy Macau. Pelatarannya saja sangat luas. Gedung yang didominasi dengan warna putih dan emas ini memberikan nuansa mewah dan berkelas.
Joshua turun terlebih dahulu. Lalu, Mawar menyusul kemudian dengan membawa tas kecil berwarna hitam dan sebuah botol minuman berwarna kuning. Sepertinya itu adalah minuman rasa jeruk.
"Sampai jumpa." Mawar melambaikan tangan kepada Sheila dan Arkan sebelum pintu mobil melaju meninggalkan mereka berdua.
"Mereka akan kemana?" tanya Joshua penasaran.
Mawar merangkulkan tangannya di lengan Joshua sambil menolehkan kepalannya ke sekitar. Tampak mencari-cari sesuatu. "Berjaga," jawabnya singkat tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Sementara Joshua, matanya menangkap ke arah pintu masuk. Terlihat orang-orang masuk menggunakan sebuah kartu undangan berwarna emas dengan amplop berwarna merah.
Mereka semua terlihat berkelas dengan pakaian ratusan ribu dollar yang membalut tubuh mereka. Joshua bersyukur Mawar sempat membelikannya baju mahal tadi. Kalau tidak ia akan terlihat seperti pengemis sekarang.
"Apa kita mendapat undangan seperti mereka?" tanya Joshua ragu.
"Tidak. Kita tidak punya," jawab Mawar santai.
Joshua membulatkan matanya terkejut. "Tidak?" serunya.
Mawar meletakkan jari telunjuknya di atas bibirnya. "Sstttt...." Dengan alis yang masih bertaut ia menurunkan jari telunjuknya dan berbisik pelan kepada Josua, "jangan menarik perhatian!"
"Bagaimana kita masuk ke dalam jika kita tidak punya kartu undangan! Kau tidak akan mengajakku untuk menyusup, bukan?" Joshua berbisik dengan suara yang tak kalah pelan dengan suara Mawar.
"Aku tidak punya yang asli. Tapi, aku punya yang palsu," ungkap Mawar.
"Apa kita bisa masuk ke dalam dengan kartu undangan palsu?" Joshua masih ragu.
"Tentu saja tidak! Mereka menyeleksi tamu undangan dengan sangat ketat. Mereka pasti akan langsung tahu jika kita menggunakan undangan palsu karena setiap kartu undangan memiliki kode tertentu yang diatur secara acak," terang Mawar.
"Aku masih tidak mengerti! Lalu untuk apa kartu undangan palsu yang kau bawa itu?"
"Untuk kutukar dengan yang asli. Karena itulah aku butuh ini." Mawar mengangkat botol minuman di tangannya. Ia masih sibuk mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan berhenti saat ia melihat seorang pria gempal berwajah India baru saja keluar dari mobilnya bersama pasangannya.
Pria tersebut memasukkan kartu undangan ke dalam saku jas bagian dalamnya.
"Tunggu di sini!" perintah Mawar sambil membawa botol minumannya. Membuka tutupnya sambil berjalan ke arah pria India. Lalu menegaknya pelan.
Kemudian dia dengan sengaja menabrak pria India tersebut. Hingga membuat minumannya tumpah ke jas pria tersebut. Tidak banyak. Tapi cukup membuat pria tersebut marah.
"I'm sorry," ucap Mawar dengan raut wajah menyesal yang terlihat sangat natural.
"Bagaimana ini? Aku benar-benar tidak sengaja," kata Mawar lagi masih dengan menggunakan bahasa Inggris. Ia terlihat gelagapan dan berusaha membantu membersihkan bercak di jas pria tersebut sambil membantu pria itu membuka jasnya yang kotor.
"Kau ini tidak punya mata atau bagaimana?" gerutu Si Pria India dengan menggunakan bahasa Inggris, namun aksen Indianya masih terdengar kental.
"Kau harus memberi ganti rugi!" bentak wanita bergaun merah yang merupakan pasangan dari pria India ini dengan angkuh. Dagunya terangkat dan matanya menatap nyalang Mawar dari atas. Kedua tangannya ia letakkan di pinggangnya, menghasilkan pose berkacak pinggang.
Nampaknya gadis tersebut berdarah campuran India-Eropa. Bahasa Inggrisnya lancar dan tak terdengar aksen India sama sekali.
"Baiklah," jawab Mawar. Ia mengembalikan jas di tangannya kepada pemiliknya. "Aku akan memberikan ganti rugi," katanya penuh sesal.
Mawar kemudian mengeluarkan dompetnya dan memberikan cek senilai dua juta dollar kepada pria tersebut. Tentu saja itu membuatnya puas. Karena jelas yang dua juta dollar lebih mahal dari pada harga jasnya sendiri. Mawar dapat mengira itu hanya dengan melihatnya saja.
Setelah memberikan ganti rugi, Mawar segera berbalik pergi, dan berjalan ke arah Joshua yang masih diam di tempat menuruti perkataannya. Hal itu membuat Mawar tersenyum lebar.
Ia membuang botol minuman yang sudah tidak berguna di tangannya ke dalam tong sampah, dan segera menghampiri Joshua.
"Ayo!" ajak Mawar kepada Joshua sambil merangkul tangan Joshua dan mengajaknya berjalan menuju pintu masuk.
"Kau sudah mendapatkan kartu undangannya?" Joshua bertanya sambil berbisik di telinga Mawar.
"Tentu saja! Aku menukarnya saat membersihkan baju pria tadi. Ia dan pasangannya tidak sadar itu, karena terlalu marah padaku," Mawar mengeluarkan selembar kartu undangan dengan seringai puas di wajahnya.
Satu kartu undangan dapat digunakan untuk satu pasangan masuk ke dalam tempat acara. Mawar dan Joshua berdiri di barisan paling akhir. Dan maju perlahan seiring dengan masuknya pasangan demi pasangan ke dalam gedung.
Hingga tiba giliran mereka berdua. Joshua menyerahkan kartu undangan kepada penjaga pintu untuk diperiksa. Ia menahan napasnya dengan refleks.
"Santai saja. Itu kartu asli. Tegakkan punggungmu," bisik Mawar pelan.
"Silahkan masuk, Sir," sambut petugas yang memeriksa kartu undangan Joshua dengan sangat ramah sambil mengembalikan kartu undangan tersebut ke tangan Joshua.
Joshua dan Mawar pun segera masuk ke dalam gedung dengan Mawar yang masih menggandeng lengan Joshua sejak tadi. Akan tetapi, Mawar menghentikan langkahnya. Membuat Joshua melakukan hal yang serupa juga.
Joshua mengernyitkan dahinya tak mengerti mengapa Mawar tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Baru saja Joshua hendak melontarkan pertanyaan, Mawar terlebih dahulu berkata, "Tunggu sebentar. Aku ingin melihat sesuatu," pintanya sambil memutar tubuhnya dan menatap ke arah pintu masuk.
Dari arah pintu masuk dapat terlihat Si Pria India berjalan ke arah pintu masuk. Ia tak lagi mengenakan jasnya. Dan hanya mengenakan kemejanya saja. Pasangannya masih setia menggandeng lengannya dengan manja.
Pria tersebut dengan percaya diri menyerahkan kartu undangan di tangannya. Petugas mengambilnya dan segera memeriksanya. Kemudian, terjadilah perdebatan yang alot di antara mereka.
Para petugas bersikeras bahwa kartu undangan itu palsu sedangkan Si Pria India bersikeras bahwa kartu undangan miliknya asli. Para petugas tidak mengijinkan pria tersebut masuk. Hal yang membuat pria itu semakin tersulut emosi. Pasangannya pun ikut marah dan membentak para petugas.
Hingga akhirnya bagian keamanan datang dan membawa pria tersebut menjauh dari pintu masuk. Mengusirnya dan memastikannya tidak mendekat lagi ke pintu masuk gedung.
Sementara itu, orang-orang yang tadi mengantri masuk di belakang Si Pria India, sekarang sudah berbisik-bisik mencemooh pria tersebut karena sudah berani memalsukan kartu undangan.
Mawar tersenyum miring, "Ayo masuk ke dalam. Pertunjukkan sudah usai," ucapnya dengan sangat bersemangat sambil kembali merangkulkan tangannya di lengan Joshua.