The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 40: Rencana Penyingkiran Gubernur



Semua orang mengernyit tak mengerti ke arah Joshua. "Jadi, apa rencanamu, Nak?" tanya Paman Idhang.


"Sebelum itu, apa ada kelompok lain yang terlibat dengan proyek ini?" Joshua mengedarkan pandangannya ke arah orang-orang yang duduk bersamanya ini.


"Ada. Kelompok prambanan," sahut Markus.


Joshua menjentikkan jarinya. "Bagus. Pertama, kita perlu membuat musuh bersama. Kedua, satukan kekuatan. Ketiga, jatuhkan dia."


"Rencana apa yang kau miliki untuk menjatuhkannya?"


"Sebelum itu, apa kalian bisa mencari tahu soal kematian pria ini?" Joshua menunjukkan foto Arshad. Mahasiswa yang mati di danau kampus Joshua.


Angga mengerutkan dahi. Masih tak mengerti dengan arah pembicaraan Joshua. "Apa hubungan pria ini dengan gubernur?"


Joshua mengetuk foto Arshad. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada hubungannya. Tapi, pria ini punya massa untuk meruntuhkan gubernur. Aku berencana menukar informasi tentang kematian pria ini kepada massa yang ia tinggalkan."


Joshua pun mejelaskan prihal kematian ganjil Arshad. Dan tentang aksi demonstrasi yang hendak dilakukannya sebelum hari di mana ia ditemukan tewas.


"Apa kau berencana membuat propaganda¹ dengan memanfaatkan massa yang sudah tercipta sebelumnya? Itu ide bagus, Nak!" Markus menyeringai senang saat mendengar usulan ide dari Joshua.


Untuk memperpanas suasana mereka bisa menambah peran media. Markus akan memastikan karir politik gubernur akan hancur seketika. Dan ia akan memastikan gubernur tak akan bisa lagi kembali berkarir. Dengan membuat propaganda yang dapat memperburuk citra gubernur, dan menyebabkan tidak akan ada satu pun orang yang percaya lagi kepadanya.


"Baiklah. Aku akan mencari tahu semua info yang kau butuhkan dan akan segera mungkin memberikannya padamu, Jo," ucap Arkan yang sudah siap dengan tugas barunya. Arkan suka melakukan tugas baru, karena membuat otaknya berkerja merupakan hobi yang sangat menyenangkan.


Markus memadamkan putung rokoknya di atas asbak. Seringai perlahan mengembang di wajahnya. Udah ia duga! Joshua memanglah sangat berguna untuknya. Anak ini benar-benar seperti yang ia harapkan.



Joshua mengotak-atik ponselnya dan berusaha menghubungi Sandy. Dugaan Joshua benar. Yang membunuh teman Sandy adalah rektor² kampusnya!


Sebelum kematian pria tersebut, ia dipanggil rektor dan diminta untuk menghentikan rencana aksi demonstrasi kepada gubernur mengenai proyek reklamasi Pulau Benua Timur. Namun Arshad mengabaikan peringatan dari Sang Rektor.


Akibatnya, rektor yang mendapat tekanan dari pihak gubernur pun terpaksa harus membunuh Arshad. Karena Arshad dan aksinya merupakan ancaman bagi pemerintah.


Joshua mendapatkan semua buktinya. Termasuk data mega korupsi yang di lakukan oleh gubernur mengenai proyek tersebut. Tentu saja, bukti yang Joshua bawa merupakan bukti yang sudah dibersihkan.


Kelompok majapahit dan prambanan sudah tak lagi masuk ke dalam daftar kelompok yang terlibat dalam proyek itu. Mereka sudah menarik diri dan menghapuskan keterlibatan mereka.


"Halo, Jo. Ada apa?" Sandy mengangkat panggilan telepon dari Joshua tepat setelah dering ke tiga. Joshua tahu ia tak perlu susah payah menghubungi Sandy.


"Bisa kita ketemu sekarang? Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu. Ini penting. Tentang kematian temanmu." Joshua membuka pintu mobil dan segera masuk ke balik kemudi.


"Aku akan segera pergi ke alamat yang kamu berikan!"


Tak lama kemudian panggilan terputus. Joshua baru saja hendak menyalakan mobilnya saat pintu penumpang di sampingnya terbuka dan Mawar segera masuk ke dalam mobil. Duduk dengan santainya, dan memakai sabuk pengaman tanpa menoleh sedikit pun ke arah Joshua yang menghentikan tindakannya untuk mengamati kehadiran Mawar yang tiba-tiba.


Sadar mesin mobil tak juga menyala, Mawar menolehkan kepalanya ke arah Joshua. "Kita tidak jadi pergi?"


"Aku tidak pernah mengajakmu!"


"Aku bosan. Dan aku ingin ikut denganmu," tegas Mawar.


Joshua membuang napasnya pelan dan segera melajukan mobilnya. Berdebat dengan Mawar hanya akan membuang-buang waktunya saja.



Joshua tiba di sebuah kafe yang sudah ia pesan sewa keseluruhannya untuk beberapa waktu demi privasi. Di dalam, Sandy sudah menunggunya dengan wajah penasaran.


"Aku tidak tahu kalau ternyata kau mau bertemu dengan seorang gadis," komentar Mawar, "apa kalian berkencan."


Joshua membuka pintu dan segera masuk ke dalam dengan Mawar yang masih mengekorinya. "Aku tidak punya waktu untuk berkencan, Mawar."


Sebelum Joshua sempat menarik kursi di hadapan Sandy, Mawar lebih dulu melakukannya dan dudu di atas kursi tersebut. Joshua membuang napasnya pelan dan menarik kursi yang lainnya, yang letaknya di sebelah Mawar. Ia kemudian segera duduk.


"Mawar," Mawar mengulurkan tangannya ke arah Sandy sambil tersenyum simpul.


"Sandy," Sandy menyambut uluran tangan Mawar.


Mawar menepuk tangannya sekali. "Wah... ternyata sekarang kau sudah tidak tinggal di Bikini Bottom lagi ya."


Sandy nampak kebingungan. Alisnya bertaut. Sementara Joshua memutar kedua bola matanya. "Ayolah, Mawar! Ini bukan waktunya bercanda!"


Setelah menyadari apa yang Mawar maksud, Sandy tertawa kaku.


"Leluconmu payah!" sergah Joshua sinis.


"Sandy, aku punya bukti tentang pembunuhan Arshad," Joshua membuka pembicaraan dengan Sandy sebelum Mawar mengintrupsi kembali pembicaraan mereka.


"Bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Sandy penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu. Tapi, sebelum aku memberikan ini kepadamu, satu hal yang perlu kau ketahui. Ini tidak gratis," jawab Joshua.


Sandy mencondongkan tubuhnya ke depan ke arah Joshua. "Apa yang kau minta?"


"Tentang kasus reklamasi. Mengapa kalian menghentikan aksi tersebut?" Joshua bertanya sebelum mengutarakan permintaannya.


"Kami kekurangan bukti. Arshad juga sudah meninggal."


"Jika aku memberikan bukti-bukti mega korupsi pada proyek tersebut, maukah kau melajutkan aksi demonstrasi yang sempat terhenti kemarin?"


Kerutan di dahi Sandy semakin dalam. "Kau punya buktinya? Jika kau punya, tanpa ditukar dengan bukti pembunuhan Arshad pun, aku akan tetap mengajak massa kami untuk melaksanakan kembali demonstrasi yang terhenti itu!"


Joshua pun memberikan seluruh berkas yang ia bawa. Mata Sandy membulat sempurna. Ia tidak menduga bahwa Joshua bisa mendapatkan bukti-bukti sedetail ini.


"Dia pantas untuk dilengserkan," ucap Joshua.


Sandy menganggukkan kepalanya, sambil terus melihat file-file tangannya. "Ini sungguh gila! Aku tidak menduga korupsi yang dilakukan gubernur sebesar ini! Kau benar... dia pantas dilengserkan."


"Kau akan terkejut jika membaca file tentang kematian temanmu," ujar Joshua sambil beranjak berdiri. Ia tidak ada waktu untuk berbasa basi lagi. Ia yakin setelah ini Sandy pasti akan melakukan apa yang harus ia lakukan.



Mobil yang Joshua kemudikan baru saja sampai di markas. Ia baru saja keluar dari mobilnya dan hendak segera pergi menghampiri Markus. Namun seseorang pria paruh baya yang terlihat asing melewatinya. Pria tersebut terlihat lebih tua dari pada Markus atau pun Idhang. Wajahnya pun terlihat lebih licik daripada Markus. Joshua menghentikan langkahnya untuk mengamati orang tersebut sejenak.


"Namanya Adam Nasution. Dia adalah pemimpin kelompok prambanan," bisik Mawar saat melihat arah pandang Joshua dengan sorot mata yang terlihat jelas penasarannya.


Joshua mengangukkan kepalanya mengerti, dan segera masuk ke dalam markas diikuti oleh Mawar yang sejak tadi bersamanya.


Selepas kepergian Joshua dan Mawar, Adam bertanya kepada salah satu pekerja di majapahit yang berada di sekitarnya. "Siapa yang bersama Mawar tadi? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya? Tapi, wajah dan sorot matanya tampak tidak asing."


"Joshua Daniswara. Petarung baru kami," jawab pekerja tersebut.


"Daniswara?"


"Ya. Daniswara. Ia merupakan anak dari Pram Daniswara."


"Tunggu! Pram Daniswara memiliki seorang putra?" tanya Adam dengan wajah sangat terkejut.


.


.


.


.


.


Note: 1. Propaganda\= Rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya.



Rektor\= Istilah yang umumnya digunakan untuk pemimpin perguruan tinggi di Indonesia.



Sumber: Wikipedia