![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Srashh!
“Kalian istirahat saja sana, biar aku yang cuci sisanya.” Perempuan berambut cokelat yang diikat dengan kacamata itu berkata, kedua sibuk berkutat dengan tumpukan piring kotor beserta teman-temannya yang tinggal sedikit, menoleh pada dua pemuda yang membantunya.
“Ini bukan masalah besar. Lagipula sudah sepatutnya aku yang hanya menumpang ini membantu pekerjaan rumah,” balas pemuda yang berambut biru santai sambil tetap mengerjakan pekerjaannya.
“Aduh, tidak apa-apa. Kau kan tamu kami, lagipula ini tinggal sedikit,” balas perempuan itu merasa tidak enak.
Aguero tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku harus mengerjakan sampai tuntas apa yang aku mulai,” jawabnya.
Di balik senyumannya, samar terdapat kerutan kesal di pelipis Aguero. Diamlah. Kau pikir aku melakukannya karena mau? Sebaiknya kau diam dan bekerja saja, jangan buat aku kesal.
Tanpa mengetahui isi hati Aguero yang sebenarnya, Goseng tertawa kecil, kemudian akhirnya mengatakan pada Aguero untuk melakukan saja apa yang dia mau lakukan. “Bagaimana denganmu, Viole? Kau bilang mau pergi setelah makan siang?” tanya Goseng lagi.
Tetesan air dari piring yang baru dicucinya mengalir di sepanjang lengan seiring gerakan menata piring bergabung dengan piring bersih lainnya. Kemudian beralih pada piring kotor lainnya yang sudah disabuni oleh Aguero dan Viole.
“Aku akan pergi setelah ini selesai,” jawab Viole datar. Pemuda itu sedikit pun tidak mengalihkan pandangan dari gelas beling di tangannya yang penuh busa, meletakannya bergabung dengan peralatan makan yang sudah disabuni, kemudian beralih ke tumpukan sendok dan garpu.
“Kau mau pergi ke mana?” tanya Aguero senatural mungkin.
Tangan Viole yang sedang menyabuni sendok berhenti sejenak, tapi padangannya tetap tidak beralih. “Ke suatu tempat.”
Aguero mengangguk, meletakkan piring terakhir yang perlu ia kerjakan. Kemudian membilas tangannya yang penuh sabun dengan air kran yang dibiarkan menyalan. “Apa aku boleh ikut? Kebetulan aku sedang bosan.”
Viole meletakkan tumpukan garpu dan sendok ke atas tumpukkan piring yang telah disabuni. “Bukannya kau sedang terluka?”
“Terluka dan bosan itu dua hal yang berbeda. Lagipula luka di bahuku karena kejadian kemarin tidak terlalu parah. Aku harap kau tidak keberatan jika aku ikut denganmu,” jawab Aguero sambil mengeringkan tangan dengan kain yang digantung di samping kulkas.
Kata-kata ‘menusuk’ Aguero tak perlu waktu lama untuk mempengaruhi Viole. Viole segera mencuci tangannya, kemudian mengangguk. “Baiklah. Kita pergi 5 menit lagi,” ucapnya kemudian angkat kaki dari ruangan.
“Tentu. Terima kasih Viole,” balas Aguero sebelum punggung Viole menghilang dari pandangan.
“Sisanya biar aku saja yang cuci. Anda istirahat saja, Goseng,” ucap Aguero.
Apa? Goseng yang sedang merapikan tumpukan piring basah yang sedikit miring terhenti, refleks beralih ke pemuda di sebelahnya yang tersenyum. Senyum yang semakin membuat ketampanannya bersinar hingga membuat kacamata Goseng seolah hendak retak. “Tidak, tidak apa-apa. Biar aku saja. Anda kan sebentar lagi akan pergi dengan Viole.”
“Justru karena itu aku harus mencucinya. Sudah aku bilang kan, aku harus menyelesaikan apa yang aku mulai, apa pun itu tanpa pengecualian. Jadi serahkan saja sisanya padaku,” balas Aguero. Tanpa mendengar lebih lanjut pemuda berambut biru itu segera mengambil alih pekerjaan Goseng, membilas tumpukan peralatan makan penuh sabun.
Goseng yang melihatnya kehabisan kata-kata, hanya dapat menghela napas pasrah. “Duh, padahal anda kan sudah mencuci tangan,” ucap Goseng yang kini mengelap mengeringkan tangannya dengan kain polos berwarna kuning yang biasa diletakkan di samping tempat cuci piring.
“Tidak apa-apa. Anggap saja rasa terima kasihku atas masakanmu tadi. Pasti lelah kan memasak seenak itu? Jadi sekarang istirahat saja,biar aku yang mengurus sisanya,” sekali lagi Aguero berusaha menyamarkan kekesalannya dengan jawaban lembut yang disertai senyuman. Tangannya bahkan serasa mati rasa karena sejak tadi terus berkutat dengan air dan sabun. Mencuci peralatan makan delapan orang memang tidak mudah.
Goseng yang lemah terhadap pujian sedikit tersipu, kedua sudut bibirnya terangkat. “Baiklah kalau begitu. Semangat ya!” ucap Goseng akhirnya mengalah, melangkah menuju pintu dapur.
“Tentu,” jawah Aguero tidak kalah ramah. Nada kesal nan terpaksa memang selalu berhasil disamarkan dengan senyuman ramah. Aguero akhirnya dapat bernapas lega setelah perempuan berkacamata itu angkat kaki.
Nah, harusnya sebentar lagi dia muncul….
“Anak dari Keluarga Khun,” terdengar suara berat dari dekat pintu.
Aguero menyeringai. Tanpa berbalik pun ia dapat menduga siapa yang berbicara. “Kau lebih lambat dari perkiraanku..., Akraptor,” ucap Aguero sambil terus mencuci piring, sedikit pun kepala dengan rambut biru itu tidak berniat berbalik, untuk sekarang.
Tap.
Tap.
“Benarkah? Sebuah kehormatan ditunggu oleh anak dari salah Keluarga Agung, Khun Aguero Agnes, atau harus kupanggil ‘Light Bearer Maut’?” ucap Akraptor dengan nada ‘menjengkelkan’ di akhir.
Tangan Aguero berhenti sejenak. Melirik Akraptor dengan sudut mata. Bahkan wajahnya saja sekarang lebih dari menyebalkan bagi Aguero. Namun Aguero berusaha meredam semua itu, kembali membilas sendok dan garpu yang tinggal sedikit. “Jadi, apa yang kau mau?”
“Oh? Kupikir kau sudah tahu karena kau menungguku,” balas Akrapotor tidak kalah menjengkelkan dari sebelumnya.
“Entahlah. Aku memang tahu kau akan menemuiku dan secara garis besar apa yang kau mau bilang….” Aguero meletakkan sepasang sendok dan garpu basah bergabung dengan teman-temannya di rak piring.
“Lalu untuk apa kau bertanya lagi?”
“Yah, kalau aku tidak bertanya bukannya kau yang akan kasihan karena sudah susah-susah datang menemuiku?” Jawaban yang dilontarkan Aguero itu membuat Akraptor tersentak, sedangkan yang melontarkan santai mengeringkan tangannya dengan kain kuning yang tadi digunakan Goseng.
“Sepertinya sifat menyebalkan Keluarga Khun itu memang turun-temurun ya.”
“Daritadi kau berbicara seolah mengenal Keluarga Khun saja.”
“Kenapa? Itu membuatmu marah?”
“Menurutmu?”
Sepasang netra biru dan cokelat itu saling bertatapan dalam diam, percikan persaingan tampak sangat kentara seolah dapat mengeluarkan laser.
Setelah beberapa saat, akhirnya Akraptor menghela napas pasrah. Langkahnya beralih ke kursi terdekat di meja makan. “Katakan, apa tujuanmu ke sini?”
Pertanyaan itu membuat sudut kanan bibir Aguero lagi-lagi terangkat. Hmm? Rupanya ada juga orang menarik di tim payah ini, batinnya.
Menanggapi hal yang “menarik” ini pun membuat Aguero berbalik seratus delapan puluh derajat, kini matanya menatap serius lawan bicaranya. “Aku tidak tahu apa maksudmu. Kemarin aku terluka ketika bertarung dengan adik sepupuku—yah kau pasti sudah tahu sih. Viole merasa bertanggung jawab karena aku terluka karena ulahnya. Jadi dia menawariku untuk ke tempatnya dan aku terima.”
Suara gelak terdengar di telinga Aguero, gelak sinis yang seolah berkata ‘kau pikir aku percaya?’. Mendengarnya membuat mata biru khas Keluarga Khun itu seolah menyala bak insting predator ketika melihat mangsanya.
“Kau pikir aku percaya?”
“Entahlah. Aku tidak memintamu untuk percaya, aku hanya menjawab pertanyaanmu.”
Sekali lagi helaan napas terdengar dari pria yang lumayan berumur itu. “Ketahuilah, Viole dan yang lainnya mungkin terlena dengan ‘sandiwaramu’. Tapi tidak denganku. Aku pasti akan tahu apa tujuanmu kemari,” tiba-tiba suara berat yang biasa terdengar santai itu berubah menjadi mencekam, seolah siap menerkam lawan bicaranya kapan saja.
Alih-alih takut, Aguero justru tersenyum, seolah mangsanya sendiri yang menawarkan diri. “Baiklah. Lakukan sesukamu saja, tapi…”
Netra Akraptor refleks menyipit. Mau apa lagi anak dari Keluarga Khun ini?
“… untuk sekarang silahkan kerjakan bagianmu. Lap sana piring-piring itu,” ucap Aguero sambil menunjuk tumpukan peralatan makan basah di dekat tempat cuci piring, lagi-lagi senyum ramah andalannya kembali ia ukir di wajah.
Sudah jadi peraturan tak tertulis di sini setiap selesai makan peralatan makan langsung dicuci dan dikembalikan ke tempatnya. Namun untuk makan bersama seperti sarapan, tentu tidak hanya dilakukan satu orang karena total orang di sini sekarang sembilan orang, jadi bisa dibagi tugasnya.
Pria berambut putih catam itu mengerjap beberapa kali, menghela napas untuk kesekian kali. Entah kapan hidupnya bisa tenang.