THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 14: Bekerja



Tidak ada.


Tidak ada.


Tidak ada.


Tidak ada….


Pemuda bersurai biru itu spontan mengempaskan tubuh ke lantai yang dingin tatkala seluruh tenaganya terkuras habis. Gelapnya ruangan membuai rasa kantuk yang mulai menggerogoti kedua manik birunya, tapi masih dapat ia tahan. Bibir kering itu tak henti menghela kesal.


Sosok adik sepupu yang sudah ia anggap sebagai adik kandung—yang juga seayah—mendadak melintas di benaknya. Senyuman yang dulu pernah ia lihat beberapa kali saat masih kecil. Sosok yang dulu begitu akrab, tapi sekarang malah mengarahkan pisau ke arahnya, dengan manik biru menyala penuh nafsu membunuh.


Kini ia benar-benar tidak punya ide. Dengan alat sekaligus senjata berbentuk kubus di depannya itu, ia telah menjelajahi informasi tentang berbagai kelompok di Menara, dari yang paling mencurigakan sampai yang paling jelas identitasnya, rumor kelompok dengan bukti tak berdasar sampai yang paling masuk akal. Namun tak satu pun menyertakan setidaknya petunjuk yang ia cari, berbeda dengan rumor yang diceritakan pria tua sialan itu.


Sempat terbesit bahwa pria tua itu menggunakan nama adik sepupunya sebagai pancingan, tapi…


Aguero mengerutkan dahi, kesal.


…ada kemungkinan—kecil—bahwa itu benar dan itu yang membuatnya kesal! Terutama ketika si tua sialan itu membicarakan tentang Kiseia. Cara bicaranya itu… seolah ia mengetahui sesuatu tentang Kiseia, sesuatu yang sampai akhir tidak ia katakan. Dan lagi, Aguero yakin kalau pria itu menyaksikan kejadian Kiseia menyerang Viole dari suatu tempat, makanya pria itu tidak bertanya lebih lanjut mengenai maksud ‘Kiseia mengkhianati Viole’.


Sudah jadi rahasia umum tidak ada cinta kasih antarpersaudaraan di Keluarga Khun, malah mereka saling bersaing, bersikap dingin, hingga beberapa saling membunuh hanya untuk memuaskan target menjadi lebih kuat tanpa kebencian apa pun. Namun meski tahu Kiseia juga seorang Khun, pria itu memilih menjaga perkatannya tentang Kiseia daripada memilih kata-kata yang tepat untuk menjelekkan gadis itu dan memuji Aguero, yang berarti pria itu pasti tahu sedikit mengenai hubungan mereka.


Dilihat dari cara bicaranya yang berani menjelekkan nona keturunan Yeon itu dan dirinya yang tak lain adalah ‘keturunan langsung’ Keluarga Agung, berarti pria itu tidak memiliki rasa hormat maupun sungkan pada Keluarga Agung.


Tapi pertanyaannya… kenapa?


‘Naif’. Aguero tertawa sinis seolah rekaman suara pria tua sialan yang berkata demikian diputar dalam benaknya. Pilihan kata yang tidak akan pernah dilontarkan orang waras mana pun di Menara kepada anggota Keluarga Khun. Namun orang yang melontarkannya justru seorang dari salah satu Keluarga Agung dan juga seorang FUG. Atau... jangan-jangan memang pria itu tidak waras?


Sekali lagi helaan kesal melucur dari bibir kering itu.


“Kiseia…,” gumam pemuda itu pelan.


Sebelumnya Aguero tidak pernah menghiraukan apalagi mengingatnya, malah mungkin tanpa sadar dirinya berharap tidak akan pernah bertemu dengan gadis berambut sebahu itu. Namun kini dirinya benar-benar penasaran, sebenarnya apa yang terjadi kepada Kiseia setelah dirinya dibuang dari kediaman?


Berbagai macam kemungkinan dan spekulasi rumit terus berputar di kepala cerdik keturunan Khun itu hingga beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus memenuhi ruangan.


***


Tidak puas sudah menghela napas hampir semalaman, kini si pemuda berambut biru itu kembali menghela napas di tengah hiruk pikuk keramaian yang juga ia datangi kemarin. Namun kali ini alasannya jauh lebih melelahkan.


Tidak cukup sampai di sana, si Goseng itu masih saja terang-terangan menunjukkan ketidakenakan hatinya untuk membiarkan Aguero mencuci piring. Padahal yang lebih melelahkan bukanlah mencuci piringnya, melainkan menyangkal setiap perkataan wanita itu sambil tersenyum ‘ramah’.


Kesialan pagi ini tidak berhenti sampai di sana. Ketika melihat dirinya yang hendak keluar, pria bertindik itu malah bersikeras ingin ikut. Alhasil karena tidak mungkin menolak karena dapat membuatnya curiga lebih jauh, mau tidak mau ia mengizinkannya ikut. Beruntung, otaknya ini cukup—ralat, sangat—cerdik hingga membuat tanpa sadar mereka berkeliling sebentar kemudian pulang.


Tentu saja, hanya pria itu. Aguero kembali pergi dan tanpa sadar pria itu malah menjawab ‘baiklah’ tanpa banyak bertanya. Aguero tidak menunggu lama langsung berteleportasi dengan lighthouse-nya begitu pria itu mengunci pintu.


Jika diingat lagi, Aguero merasa seluruh tenaganya sudah terkuras habis hingga membuatnya ingin kembali tidur.


Langkah Aguero terhenti, netranya menyusuri keramaian. Baiklah, sudah cukup mengeluhnya. Sekarang ia harus ‘bekerja’!


Tempat yang kemarin dan kini didatangi si pemuda berambut biru itu adalah area ‘bagian tengah Menara’. Area ini adalah area yang membatasi ‘bagian luar’ dan ‘bagian dalam’ Menara. Di area ini diizinkan untuk berbisnis, karenanya area ini selalu saja ramai kapan pun dikunjungi.


Orang-orang berlalu lalang. Aguero menilik cermat. Di sebuah meja kaca bundar di depan sebuah kedai, terdapat sepasang anak kembar dengan seorang wanita. Wajah kedua anak itu cemong oleh es krim yang sedang mereka makan, bukannya membersihkan, mereka malah tertawa ketika wanita itu membersihkan wajah mereka dengan kain sambil menggerutu.


Tak jauh dari sana terdapat sepasang pemuda yang tampaknya berselisih pendapat. Pemuda yang satu mendorong pemuda lainnya. Dari gerak bibirnya tampaknya mereka saling meneriaki satu sama lain.


Aguero terus menilik, hingga kedua netranya menangkap seorang pria berambut hitam. Pemuda itu tengah di duduk di depan kedai mi sambil sesekali mengamati sekitar. Sebuah pedang panjang dan ramping yang masih tersimpan dalam sarung hitamnya tampak disandarkan pada meja dekat kursi tempat pemuda itu duduk.


Terang-terangan menunjukkan senjata ya. Namun menurut Aguero pedang itu bukanlah apa-apa. Tanpa membuang waktu lagi Aguero segera menghampiri pemuda yang kira-kira usianya sepantaran dirinya.


“Halo, apa kau yang bernama Hatz?”


Pemuda berambut hitam itu segera menoleh ke belakang, mendapati anak Keluarga Khun yang ditunggunya telah tiba. Ia pun segera berdiri dan mengulurkan tangan, yang langsung disambut Aguero. Wajahnya tampak terbiasa dihiasi raut serius, bahkan kini pun senyumnya tampak kikuk.


“Ya, aku Hatz. Kau pasti Khun Aguero Agnes yang dirumorkan kan?”


Aguero memutus jabatan tangan sambil tertawa sinis. “Memang benar aku Khun Aguero Agnes. Tapi kurasa kau tidak perlu menambahkan ‘yang dirumorkan’. Tapi yah, aku tidak keberatan.”


“Baiklah. Silahkan duduk,” pemuda bernama Hatz itu mengarahkan tangan ke kursi di depannya. Aguero mengangguk, duduk di kursi yang diarahkan pemuda itu.


“Apa kau mau pesan?”


Aguero menggeleng. “Tidak perlu. Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan dan berapa yang bisa kau berikan?” tanya Aguero dengan nada dan senyum khas ‘bisnis’nya. Kedua tangannya disatukan menyerupai segitiga di depan dada sambil bersender, menaikkan salah satu kaki ke atas kaki satunya.


Hatz menggeleng, sudut kanan bibirnya terangkat. “Kau memang tidak suka berbasa-basi ya. Baiklah, kalau begitu aku juga tidak akan sungkan.”