THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 1: Khun Aguero Agnes



"R-rupanya kau... memang seperti... yang... dirumor—" jantung pria berambut hitam yang terkapar itu lebih dulu berhenti sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya. Dengan luka sayat besar di dada, darah segar yang mengalir dari belakang kepala, ditambah kaki yang bahkan hampir tidak berbentuk lagi. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan betapa mengenaskannya kondisi pria ceking tak bernyawa itu.


Srak. Pisau kecil yang menancap di dada pria itu ditarik, menyebabkan cairan merah pekat memercik, bergabung dengan genangan cairan merah lainnya yang menempel di dinding dan lantai. Tanpa gentar sepasang iris biru menatap sekeliling, mengagumi indahnya hiasan cairan merah amis yang menghiasi abstrak lorong gelap itu. Kemudian ke depan, ke 3 manusia tak bernyawa yang dulu sempat ia panggil "tim", terkapar di sepanjang lorong.


Dan ya, itu semua adalah ulahnya. Lebih tepatnya mungkin ‘pembelaan diri’ karena orang-orang bodoh itu tiba-tiba mengajaknya kemari dan menyerang dari belakang. Dengan santai pemuda itu menyeka cairan merah pekat yang menempel di pipi, meregangkan tubuh seolah baru saja berolahraga ringan.


"Hiih!" Sudut mata pemuda itu spontan mengarah ke belakang. Ah, pria kekar itu hampir saja terlupakan. Sungguh manusia menyebalkan, harusnya dia langsung muncul sejak tadi.


Tidak perlu menunggu lama, kaki pemuda itu segera melompat ke belakang. Tap. Pisau kecil di tangannya menembus ketebalan dada keras itu. Bola mata pria kekar itu seolah hendak keluar dari tempatnya, menahan sakit yang menjalar di dada.


Belum sempat pria kekar itu melancarkan serangan, pemuda itu kembali beraksi. Srak. Pisau itu ia ayunkan bak pedang seorang kesatria, meninggalkan jejak panjang di dada sampai perut pria itu.


"Buagh." Muntahan darah keluar dari mulut pria itu. Namun itu belum cukup. Kakinya masih kokoh.


"Kau...." Dengan seluruh tenaga yang tersisa, dengan cepat pria itu mengambil tombak yang biasa ia ikat di punggung. Pemuda berambut biru itu melompat mundur beberapa langkah.


Napas pria itu memburu cepat. Darah segar terus mengalir dari luka yang diukir pisau kecil pemuda itu. Ia dapat mendengar suara detakan jantungnya yang semakin cepat. Jari-jari penuh kapalan itu mengeratkan pegangan pada tombak. Dengan segala kekuatan yang tersisa pria berambut cokelat itu berseru, berlari seraya bersiap mengayunkan tombak untuk kali terakhir. Jika ini hari terakhirnya, maka pemuda itu juga harus ikut bersamanya, pikir pria itu.


Sudut kanan bibir pemuda berambut biru itu diam-diam terangkat. Pemuda itu menunduk, bahkan sedikit pun kakinya tak bersiap menghindar. Bodoh, batin pemuda itu.


Klang! Mata pria itu membola. Tombaknya... berhasil ditangkis oleh tas persegi yang sejak tadi dibawa pemuda itu. Meski dari luar terlihat seperti tas kulit biasa, tapi saat ini… tas itu benar-benar terasa sama kuatnya dengan perisai dari baja. Tawa—pasrah—tergelak dari bibir pria itu. Jadi inilah sebabnya pemuda itu tidak pernah berpisah dari tas kesayangannya.


Tidak membuang banyak waktu, pemuda itu segera melompat dan menikam dada pria itu hingga membentur dinding satunya. Muntahan darah kembali keluar dari mulutnya, mengenai pakaiannya dan lengan pemuda itu.


Kepala pria itu berkunang. Pandangannya yang memantulkan bayangan manik biru menyala itu memburam. Sudut bibirnya terangkat lemah, terdengar gumaman kecil yang tidak terlalu jelas. Kakinya mulai kehilangan kekuatan dan perlahan jantungnya pun... berhenti berdetak. Brak.


Pemuda berambut biru itu menghela, menarik kembali pisaunya, kemudian membersihkan lengan yang terkena sedikit percikan darah. "Karena kau sudah mati, baiklah aku ampuni kau," ucap pemuda itu. Iris birunya menatap pria tak bernyawa itu dingin, sedikit pun rasa bersalah tak terbesit dalam tatapannya.


Ya, dialah si Light Bearer Maut yang dibicarakan semua orang di Menara, Khun Aguero Agnes. Salah satu keturunan Khun dari cabang Agnes yang dibuang dari kediaman, atau tepatnya mengalami ‘penghapusan keluarga’.


Aguero menatap dua mayat wanita yang terkapar beberapa meter darinya. "Jika saja kalian tidak merencanakan hal bodoh, mungkin aku akan bersikap lunak," ujarnya seolah tubuh-tubuh tak bernyawa itu dapat mendengar. Sepertinya beberapa menit lalu, ketiga orang ini berencana untuk mengkhinatinya duluan sebelum dirinya yang dirumorkan pengkhianat ini melakukannya, dan si pria kekar itu hanyalah orang sial yang kebetulan satu tim dengan mereka.


Pemuda dari Keluarga Khun itu kembali menghela. Yah, dirinya tidak akan mengatakan kalau ia setia, hanya saja ia tidak merasa akan berhkianat dalam waktu dekat. Selain itu jika tidak ada yang penting juga ia tidak akan membunuh keempat orang ini.


“Merepotkan,” Light Bearer Maut itu bermonolog. Suaranya bergema kecil di sepanjang lorong gelap dengan satu penghuni bernyawa.


Aguero mengambil sapu tangan putih dari tas persegi yang ia gantungkan di lengan sejak tadi, membersihkan pisau kecil berlumuran darah. Sepasang bola mata biru itu menatap pisau itu lekat-lekat.


"Kira-kira sudah berapa orang ya?" gumamnya. Tentu maksud Aguero tak lain adalah 'kira-kira sudah berapa orang yang kubunuh dengan pisau ini ya?'.


Kedua sudut bibir Aguero tertarik. Menarik.


Segera saja Aguero memasukkan sapu tangan itu ke tas, sedangkan pisau yang kini sudah bersih ia genggam erat dan sembunyikan di balik punggung. Hati-hati Aguero melangkah menuju cahaya di belokan sana.


Satu langkah.


Dua langkah.


Tiga langkah.


Suara gaduh masih terdengar. Sepertinya pertarungan hebat sedang berlangsung di sana. Jika Aguero tidak salah, setidaknya ada empat orang yang terlibat.


Lima langkah.


Enam langkah.


Tujuh langkah.


Kini terdengar suara seorang wanita yang meninggi dan pemuda yang beradu mulut. Namun Aguero tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Masih terlalu jauh.


Delapan langkah.


Sembilan langkah.


Sepuluh langkah.


Aguero berhenti. Bukan, ia belum sampai. Ia masih setengah jalan. Namun suara ini... entah kenapa terasa familiar.


"Tidak... mungkin… kan…." Jantung Aguero berdegup cepat. Pupilnya bergetar dan peluh dingin mulai menjalar di seluruh tubuh. Kenangan-kenangan lama yang hampir pemuda itu lupa, satu per satu mulai terangkat ke permukaan, berputar cepat dalam benaknya. Sesuatu dalam dirinya terasa bergejolak, mendorong paksa sepasang kaki beralaskan sepatu kulit itu untuk melangkah cepat. Aguero dapat merasakan napasnya memburu seiring langkah yang ia ambil.


Tidak peduli jika dirinya menimbulkan suara langkah yang besar.


Tidak peduli jika empat orang itu mendengarnya.


Tidak peduli jika pun tiba-tiba mayat yang ia pijaki kembali bernyawa dan menarik kakinya atau balas dendam.


Itu tidak penting.... Ada sesuatu yang harus ia pastikan.