THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 19: Aku Ingin Membunuhnya dan Kau Juga Ingin Membunuhnya



"Sial! Sial! Sial!" satu rutukan yang sama terus bergema dalam ruangan sempit, bergumam layaknya besok semesta akan hancur. Tinju lemah berisi luapan amarah berkali-kali menghantam lantai, membiarkan perih memanas di balik perban yang menutupi bahu hingga perut, duduk bersender pada dinding. Sepasang manik biru sang pemilik tinju kembali mengkilat kesal. Masih terukir jelas dalam ingatannya 'penghinaan' yang ia dapat beberapa jam lalu.


"Kau sudah sadar?" Ran menoleh pada seorang gadis yang baru masuk melewati pintu kayu, membawakan camilan yang dibungkus dalam plastik kemasan. "Ambil ini," ucapnya sambil melempar bungkusan plastik itu.


Ran menangkap camilan itu dengan satu tangan, menatap tajam Kiseia yang kini dengan santainya berjongkok sambil menumpu dagu dengan kedua tangan, tepat di depannya. "Kau sendiri kenapa diam saja? Bukannya tadi kau datang untuk membantuku, ya?" tanya anak itu sambil melahap camilan yang baru dibukanya di akhir.


Kiseia tertawa singkat, beralih duduk bersender di sebelah Ran. "Mau bagaimana lagi? Kakakku itu terlalu kuat sampai..."


"Jangan bercanda," potong Ran menahan amarah—masih dengan nada datar seperti biasa, "aku tahu kau hanya pura-pura. Malah aku terkejut dia tidak menyadarinya."


Gadis berambut biru itu menutup mata, menggeleng. "Aku yakin dia tahu. Sayangnya, dia terlalu pengecut. Baik bagaimana pun, dialah yang paling mengenal kemampuanku." Sepasang manik biru itu terbuka, menerawang jauh ke masa lalu. Kenangan samar bagaimana dirinya bertahan dalam neraka kediaman Khun berputar cepat dalam benaknya.


Ran tertawa sinis, menunjuk gadis yang lebih tua beberapa tahun darinya dengan camilan di tangan. "Berarti kau mengakui kalau tadi kau hanya pura-pura pingsan kan?"


Kiseia tersentak. Gadis berambut biru itu hanya dapat tersenyum sambil menjulurkan lidah. "Begitulah."


Melihat sebegitu tanpa merasa berdosanya gadis itu mengaku, hawa membunuh menguar pekat dari anak yang berusaha menahan kedua kepalan tangannya yang bergetar, membuat tekanan di dalam ruangan itu memberat dan sesak. Kiseia yang menyadari betapa buruknya suasana hati Ran buru-buru menepuk kepala adik seayahnya itu. "Jangan marah. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di pikiran 'pembunuh' itu. Tapi pikirkan saja, dengan membuatmu dan orang itu 'terikat', maka peluang kita bertemu lagi dengannya di masa depan semakin besar. Iya kan?"


Bukannya tenang, Kiseia dapat merasakan hawa gelap yang menguar dari Ran semakin menjadi, semakin membuat bulu kuduknya meremang. Sepasang manik biru itu menyala di balik helaian poni, menatap Kiseia layaknya predator kelaparan. "Jadi... kau memanfaatkanku?"


Lagi-lagi Kiseia sukses dibuat buru-buru menggeleng oleh anak lelaki itu. "Bukan, bukan. Aku tidak bermaksud begitu, jangan salah paham. Kau juga ingin melawannya kan Ran, Khun Aguero Agnes. Kau tidak mungkin membiarkan orang yang mengalahkanmu pergi begitu saja kan?"


Hawa pekat itu memudar sejenak. Ran menunduk, mencerna kalimat Kiseia barusan dalam-dalam. "Itu memang benar...."


"Nah, kalau begitu tidak ada masalah. Aku ingin membunuhnya dan kau juga ingin membunuhnya," gadis keturunan Khun itu kembali menepuk kepala berambut biru itu. "Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkannya membuatmu melakukan macam-macam," ucap gadis itu penuh penekanan.


Ran melirik gadis di sebelahnya. Sepasang iris itu dapat menangkap jelas kesungguhan yang dipancarkan kakak seayahnya. Tapi bukan itu niatku..., batinnya.


Ran menghela, lanjut memakan cemilan berbentuk bintang hijau dari kemasan plastik. "Baiklah," ucap anak lelaki itu akhirnya. "Ngomong-ngomong, tadi dia bicara sesuatu tentang 'anak dari Keluarga Arie'. Apa dia sudah tahu tentang kelompok kita?"


Kiseia kembali dibuat tertawa singkat, menggeleng. "Kurasa dia tahu tentang hal lain."


***


Brak. Kiseia menyeret keduanya hingga terjatuh ke tumpukan kardus di bagian dalam kedai. "Selagi aku masih bicara baik-baik, sebaiknya kalian jelaskan!" bentaknya sekali lagi. Linangan air mata yang sejak tadi berusaha ditahan pun tanpa menunggu lama mengalir di pipi kedua wanita itu.


"K-kami... juga t-tidak mengerti.., N-nona...," ucap salah satu wanita itu sambil terisak. "Kami... s-s-sudah memisahkan Verish dari makanan me-merek la-lain.... Kami juga-ga yakin su-sudah menyimpannya ra-rapat-rapat di sini.... T-tapi..."


"Tapi apa?! Bicara yang jelas!" Tatkala kesabarannya sudah di ambang batas melihat kegagapan wanita itu, Kiseia melempar salah satu kardus berisi minuman kotak ke arah mereka, membuat isinya berantakan dan mengenai kedua pelayan itu.


"Tapi... orang itu yang mencurinya, Nona!" Ketakukan, kini wanita satunya yang menjawab lantang.


Kiseia mengernyit. "'Orang itu'?"


Kiseia perlahan melangkah mendekat. Langkah sepatunya bak gong yang dikumandangkan di telinga mereka, sangat jelas dan bergema. Jari yang sedikit kasar itu menyentuh pipi yang basah oleh air mata, membuat wanita berkepang itu menggigit bibir. Kedua wanita itu dapat merasakan jantung mereka berdegup cepat hingga seolah hendak melompat dari tempatnya. "Katakan, siapa 'orang itu' yang kalian maksud?" tanya gadis keturunan Khun itu penuh penekanan.


Kedua wanita itu saling melempar pandangan. "Begini, Nona. Setelah tuan muda dari Keluarga Arie pergi, ada dua laki-laki yang ingin membeli Verish. Kami sudah bilang merek itu hanya dijual pada orang-orang tertentu. Awalnya mereka tampak percaya saja dan langsung pergi. Tapi ketika kami mengecek ke dalam, rupanya sisa persediaan Verish kami kurang satu dan meski hanya sepersekian detik, saya sempat melihat lighthouse biru melayang keluar," jelas wanita berambut lurus itu setengah berteriak dengan mata terpejam.


Kedua wanita itu memejam erat, sudah pasrah dengan apa pun yang hendak Kiseia lakukan pada mereka. Namun jangankan memukul, suara gadis itu bahkan tidak terdengar untuk beberapa menit. Ragu-ragu salah satu dari mereka membuka mata, hanya untuk mendapati gadis itu menggertakan gigi dengan mata membulat sempurna.


"'Lighthouse biru', kau bilang?" tanya Kiseia dengan nada tinggi di akhir. Berbagai amarah dengan beragam alasan melebur menjadi satu dalam dirinya. Pertama, siapa laki-laki yang berani mencuri makanan yang hanya dijual pada kelompoknya? Kedua, kenapa dua wanita ini bodoh sekali menjawab jujur? Tidak bisakah mereka bilang merek itu tidak diproduksi lagi atau semacamnya? Ketiga, 'lighthouse biru'..., lighthouse yang mengingatkannya pada seseorang.


Kedua wanita itu kembali tersentak, bibir mereka bergetar menahan takut. "T-t-tapi... setelah diingat saya sempat melihat Tuan Muda Ran bersama orang itu! Rambut dan matanya juga berwarna biru, mungkin saja dia kakak Tuan Muda Ran kan?" ucap wanita berkepang itu melantur. Saat ini pikirannya hanya penuh dengan keinginan untuk tetap hidup.


Sayangnya wanita itu tidak menyadari, kalimat yang ia anggap sebagai 'pereda amarah' sesungguhnya sama seperti bensin yang dituangkan dalam lautan api yang membara.


"Di mana kalian melihat Ran?"


Tubuh kedua wanita itu semakin bergetar tatkala suara penuh penekanan itu terdengar, dengan manik biru kosong seolah bersedia membunuh siapa saja yang bayangannya terpantul di sana.


"D-di meja seberang sana! Tapi tadi kami lihat mereka sudah pergi!" jawab keduanya hampir bersamaan.


Tanpa banyak bicara, Kiseia pergi meninggalkan kedai itu. Dipenuhi amarah yang memuncak, gadis itu melangkah cepat menuju tempat tinggalnya, tidak peduli menabrak orang-orang yang lewat di dekatnya. Jika ada yang protes, gadis berambut biru itu cukup menoleh pada orang itu dan seketika orang yang mengira dirinya ditabrak oleh 'bedebah mana' pun akan ciut dan melarikan diri.


"Vicente!" seru gadis itu begitu melihat seorang anak lelaki berambut putih tengah berbaring di sofa ruang tengah.


Anak lelaki yang tengah melahap jajanan itu menoleh. Meski heran melihat gadis berambut biru itu tampak gelisah bak dikejar sesuatu, anak itu tetap bersikap tenang. "Ada apa, Kiseia?"


"Kau melihat Ran?" tanya Kiseia cepat, mengelap peluh yang mengalir di pelipis.


Anak dari Keluarga Arie itu mengangguk, mendudukan tubuh. Bola mata keperakan itu menatap dalam manik biru yang membulat sempurna. "Aku tadi pergi bersamanya sebentar, tapi dia bilang ada urusan jadi aku pulang dulu. Apa terjadi sesuatu padanya?" jawab Vicente sopan.


Kiseia menggeleng, duduk di sofa hitam seberang anak itu. "Tidak, bukan apa-apa. Kau tahu ke mana dia pergi?"


Vicente berpikir sejenak. "Maaf, aku kurang tahu. Dia hanya bilang ada urusan lalu pergi."


Terdengar helaan meluncur dari bibir gadis itu. "Baiklah, terima kasih." Kiseia menunduk, menumpu kedua tangan pada kening. Ayo berpikir. Mengenal anak itu selama bertahun-tahun, kira-kira ke mana Ran akan pergi jika mengatakan 'ada urusan'?


Manik biru itu memejam. Terbentuk kerutan di dahi tatkala gadis itu benar-benar berpikir keras. Jika Ran benar-benar menemui orang yang ada di pikirannya, maka...


Gadis itu tersentak, membelalak.


...Ran akan mengajaknya bertarung! Dan satu-satunya tempat kesukaan Ran untuk dijadikan arena bertarung di area 'bagian tengah Menara' lantai ini adalah...


"Lorong itu!" ucap Kiseia tiba-tiba.