THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Episode 13: Singkirkan, Terserah Bagaimana



“Aku harus menarik Tuan Aguero ke pihak kita?” ulang pemuda bermanik keemasan itu setengah berseru, tak percaya dengan apa yang barusan telinganya dengar.


Gadis berambut merah itu mengangguk, menyeruput santai secangkir teh hangat yang wanginya langsung membuat gadis itu terbuai. Angin yang berembus memainkan rambut panjang indahnya. Berhidangkan dua cangkir teh dan beberapa cemilan manis, saat ini Viole dan gadis itu tengah menikmati cemilan ringan di kafe atap, mengambil tempat di samping pagar pembatas.


Manik merah gadis itu menatap tajam ke samping. “Pelankan suaramu,” ucapnya datar.


Viole mengernyit, refleks mengikuti arah pandang Hwaryun. Di arah jam 11, tampak seorang perempuan berambut hitam panjang dan mengenakan gaun ungu selutut, duduk membelakangi mereka. Perempuan itu sedang membaca buku menu sambil sesekali melirik canggung ke belakang, seolah mengamati sesuatu.


Meski hanya sekilas, Viole dapat menebak pasti siapa itu. “Nona Ehwa?” gumamnya.


“Kau kenal?”


Viole mengangguk. “Dia rekan timku.”


“Hmm… tampaknya rekan setimmu pun tidak memercayaimu sepenuhnya, ya,” komentar Hwaryun datar, meletakkan cangkir ke meja kayu bundar di antara mereka.


Viole hanya dapat tersenyum kikuk. “Entahlah. Tapi yang pasti dia temanku, seperti Nona Hwaryun juga,” ucap Viole, menyiratkan agar perempuan itu tidak dibunuh. Meski Hwaryun tidak seringan tangan Jinsung, tapi tetap saja isi pikirannya sulit ditebak.


Hwaryun tidak merespon lebih lanjut, memanggil pelayan lelaki yang sedang melayani pelanggan di meja tepat di depan mereka. “Secangkir teh lagi dan 3 potong kue tart stroberi,” ucap Hwaryun begitu pelayan itu tiba.


“Tapi kue dan biskuit yang sekarang saja belum habis, Nona Hwaryun,” ingat Viole yang sudah cemas duluan.


“Tidak apa. Kalau sisa tinggal dibawa pulang,” ujar witch itu santai. Hwaryun memberi isyarat tangan agar pelayan itu menunduk ke dekatnya. “Perempuan berambut hitam di arah jam 11. Singkirkan, terserah bagaimana,” bisik Hwaryun.


Pelayan lelaki berambut orange itu tertawa renyah, menengakkan punggung. “Anda jahat sekali. Baiklah, pesanan akan segera datang,” ucap pelayan itu sembari setengah membungkuk dan memamerkan deretan giginya.


Pria yang mengenakan kemeja putih di balik setelan hitam itu pun segera menyingkir ke dalam, ke ruangan luas yang berada tepat di tengah atap. Ruangan ini biasanya sebagai cadangan kalau-kalau hujan mendadak turun. Oleh karenanya kursi dan meja yang ada tidak sebanyak di luar.


Meski demikian, tetap saja penuh oleh pelanggan yang ingin menikmati cemilan di atap tanpa terkena terik matahari.


Pria itu mengintip dari jendela terdekat, menilik kira-kira perempuan mana yang dimaksud Hwaryun tadi. Tanpa sengaja sudut mata kuningnya menangkap rekan kerja yang kebetulan melintas. “Hei, Miranda!” serunya sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.


Wanita tinggi berambut cokelat disanggul itu menoleh, mengambil beberapa langkah menuju rekan kerja yang memanggil. “Ada apa?”


“Kau lihat perempuan berambut hitam itu? Tolong bilang padanya kalau meja itu sudah dipesan dan suruh dia pindah ke bawah. Pokoknya bagaimana pun dia harus mau pergi dari sana,” jelas pria itu sambil menunjuk perempuan yang dimaksud.


Miranda berdecak, spontan meletakkan tangan di pinggang. “Untuk apa? Setahuku meja itu tidak dipesan. Kau jangan main-main ya, Max. Sekarang kafe sedang sepi.”


Pria yang dipanggil Max itu tersenyum. “Tenang saja. Ini permintaan Hwaryun.”


Mendengar nama gadis berambut merah itu disebut, ekspresi Miranda langsung melunak. “Hwaryun? Kenapa tidak bilang daritadi?” Tanpa mengeluh lagi, wanita itu langsung berjalan menuju meja yang tadi ditunjuk Max.


“Silahkan dinikmati, Nona Hwaryun yang manis,” dengan senyum yang memamerkan sederet gigi putihnya, Max meletakkan pesanan tambahan gadis yang mengenakan penutup mata berwarna hitam dengan garis keemasan di pinggir.


Hwaryun yang mendengar ucapan terakhir Max merinding. “Enyahlah.” Kemudian tangannya menarik piring yang berisi kue tart stroberi yang baru dibawa.


“Anda juga ya, Tuan,” kali ini Max menyapa pemuda berambut cokelat itu.


Viole mengangguk kikuk.


Untuk terakhir kalinya pelayan itu menunduk sekilas, kemudian kembali ke dalam.


Sementara itu, netra Viole masih mengikuti sosok pelayan wanita berambut panjang yang tengah ‘berbincang’ dengan rekan timnya itu. Tampak jelas penolakan keturunan dari Keluarga Yeon itu, bahkan perempuan itu tidak ragu-ragu menunjukkan ketidaksukaannya, berteriak hingga perhatian sebagian pengunjung tertuju pada mereka.


Namun sang pelayan tidak peduli, tetap bersikap tak acuh sambil terus mengatakan meja itu sudah dipesan dan memintanya pergi.


“Rekanmu keras kepala juga ya,” komentar Hwaryun lagi. Rasa manis kue tart yang menggerogoti lidahnya itu benar-benar membuat membuat gadis berambut merah itu bahagia, meski ekspresinya tetaplah datar seperti biasa.


Belum sempat Viole membalas, suara kursi yang tergeser lebih dulu menarik perhatian keduanya. Dari tempat duduk, kedua orang itu dapat melihat jelas wajah semerah kepiting rebus dari keturunan Yeon yang melintas. Perempuan itu pun akhirnya menyingkir, sesuai keinginan Hwaryun.


Dalam hati Viole bersyukur. Setidaknya kali ini hanya berakhir dengan pengusiran damai. Tanpa pertumpahan darah.


Miranda tersenyum puas menatap kepergian punggung itu. Dengan cepat segera menaikkan jempol ke arah Hwaryun, yang tentu saja langsung dibalas dengan jempol ke atas juga. Melihat balasan dari Hwaryun yang memuaskan membuat pelayan itu sangat-sangat bahagia. Dengan hati berbunga-bunga kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Kembali ke topik utama, kau harus bisa membuat si anak dari Keluarga Khun itu berada di pihak kita,” ucap Hwaryun yang baru saja beralih ke piring kue berikutnya.


“Tapi… kenapa? Dan bagaimana?” Viole benar-benar tidak punya ide. Memang benar Aguero adalah orang yang hebat, itu tidak perlu diragukan lagi mengingat julukan dan asal-usulnya. Namun tetap saja, tidak mungkin alasannya hanya karena itu kan? FUG sendiri pun bukannya kekurangan orang hebat.


Hwaryun menghela napas, menatap letih pemuda yang lamban itu. “Pertama dia adalah anak Keluarga Agung yang dibuang, berarti kemungkinan besar dia sudah tidak punya lagi kesetiaan pada Jahad maupun keluarganya, terutama kemampuannya itu pasti berguna untuk kita.


“Kedua, kau butuh orang seperti dia—bukan orang-orang lemah itu—dan akan lebih baik kalau kita bisa membuat orang itu setia berada di pihakmu sampai tujuan kita terwujd.


“Ketiga,” manik merah Hwaryun mendadak berubah serius, “kau harus ingat pimpinan tidak akan berbaik hati selamanya. Dia tidak akan lama mengizinkanmu bergabung dengan tim penuh ‘kecacatan’ itu. Jadi bukankah menarik satu kartus as mungkin bisa melindungi mereka?”


Viole mengeratkan kepalan tangan. Ia sudah pernah kehilangan teman-temannya sekali, tentunya ia tidak ingin itu terjadi untuk yang kedua kalinya. Meski terbilang singkat, tapi waktu yang mereka habiskan benar-benar terasa hangat dan bermakna.


Oleh karenanya, kali ini ia tidak akan kabur lagi, ia akan melindungi mereka semua sampai akhir, dan mencari teman-teman lamanya.


“Baiklah, aku akan berusaha,” ucap Viole penuh tekad. Hwaryun dapat melihat jelas keseriusan yang terpancar dari manik keemasan itu. Gadis berambut merah itu tersenyum puas. “Bagus. Sekarang kita nikmati saja makanan ini, harusnya sebentar lagi mereka berdua datang.”