![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
"Aku bosan," ucap anak berambut putih sebahu yang berada dalam lilitan tali tambang emas. Sejak kedua pemuda tadi pergi karena mendengar ledakan, Aguero 'menugaskan' Prince untuk mengawasi sang keturunan Arie, dan selama itu pula mereka bermain tebak-tebakan.
Ya, tebak-tebakan. Atas permintaan Arie David yang bosan.
"Ayo, kita jalan-jalan!" seru David tiba-tiba. Tanpa merasa perlu mendapat persetujuan dari pemuda berambut ungu gelap yang duduk di depannya, David berdiri dan mulai melangkah ke sembarang arah.
"H-hei!" seru Prince ragu, berdiri.
David menghela, berhenti, menoleh sekilas ke belakang. "Tenang saja, aku bersedia diikat tali bodoh ini," ucap David santai, kemudian kembali berjalan. Anak itu mengabaikan larik-larik petir dari tali tambang yang mengikat dan menyengat tubuhnya, seolah sengatan yang sebegitu menyakitkan bagi Khun Ran bukanlah apa-apa baginya.
Meski sang master tidak ada, tapi Tali Tambang Arlene tetap setia pada perintah dan keinginan sang tuan. Sayangnya, orang yang tali itu ikat saat ini bukanlah seorang wave controller maupun pengguna shinsu dengan tangan kosong—Khun Ran misalnya—, terutama berasal dari salah satu keturunan 10 Keluarga Agung yang memiliki ketahanan tubuh yang tinggi.
Meski merasa ini salah, tapi melihat punggung yang menjauh itu Prince segera berlari mengejar. Kini dua pasang langkah terdengar memenuhi langit-langit lorong, berjalan dalam kegelapan yang ditemani sinar ungu dua lighthouse dan sebuah pocket.
Sepasang manik ungu gelap itu melirik dengan sudut mata. "Kalian.., kenapa ingin menggagalkan Viole?"
Mendengar pertanyaan itu, David menoleh sekilas, menatap ketegangan yang sangat kentara di wajah pemuda itu. Bibir anak itu terbuka hendak mengatakan sesuatu, sebelum kemudian sebuah pedang terhunus tepat ke bawah dagunya. Langkah David dan Prince refleks berhenti.
"Kami menemukanmu," ucap pemuda bertopeng yang mengarahkan pedang. Beberapa detik kemudian, tiga orang bertopeng lainnya tiba dari belakang pemuda bertopeng itu.
Alis kanan David terangkat, melirik Prince yang mematung dengan sudut mata. "Bagaimana kalau kita bermain, yang membunuh mereka lebih banyak adalah pemenangnya," ucapnya.
Refleks Prince terlonjak, menoleh. "Y-ya?"
Kecewa dengan reaksi Prince, David mendecih. "Kau pengecut rupanya."
Prince yang merasa tersinggung langsung mengerutkan kening. Namun belum sempat membalas, tiba-tiba orang bertopeng yang menghunus pedang mulai menyerang David. Anak keturunan Arie itu melompat mundur, menghindar dari tebasan demi tebasan yang mengincar dirinya begitu ujung sepatunya mendarat.
Sraakk.
Manik hitam di balik topeng itu membelalak. Ketika pedang kebanggaannya hendak diarahkan menembus dada musuh yang telah dicari timnya sejak lama, pedang tersebut malah tersangkut di antara sela lilitan tali setebal baja. Sudut kanan David terangkat, manik keperakannya tampak menatap merendahkan ketika poninya tersibak seiring gerakan melompat ke belakang.
Memanfaatkan kesempatan, tangan kiri anak berambut putih itu berhasil keluar ketika lilitannya sedikit longgar. Dengan cepat tangan yang telah bebas mengambil kendali pedang yang tersangkut, menghunusnya ke arah pemilik aslinya dalam jarak beberapa langkah.
"Kalau kau tidak mau bertarung, bantu aku dengan lighthouse milikmu. Kalau itu, kau bisa kan?" Usai berkata demikian, anak keturunan Arie itu langsung mengarahkan serangan ke orang bertopeng lainnya yang berniat menyerang lehernya dengan sebuah tendangan. Orang bertopeng itu mundur beberapa langkah akibat serangan itu, tapi tidak sampai terjatuh.
Prince mengerjap beberapa kali. Sama sekali tak mengerti ia terlibat dalam situasi macam apa.
Berikutnya, giliran ketiga rekan orang bertopeng itu yang menyerang. Salah satu orang bertopeng menyerang David dengan tendangan, David menangkisnya dengan pedang di tangan. Tendangan yang kuat hingga membuat David berharap tangan kanannya saja yang bebas, bukan kiri.
David menambah kekuatan yang ia salurkan dalam pedang, sukses membuat orang bertopeng itu melompat mundur.
Begitu kakinya mendarat, dalam satu lompatan anak keturunan Arie itu langsung berada tepat di depannya, menebas pedang ke arah leher. Beberapa centi sebelum pedang itu mengenai leher, sebuah senjata berbentuk cambuk hijau sukses melilit dan menghentikan pergerakannya. David mendecih. Pemilik cambuk ini kuat, jika saja tangan yang kini memegang pedang adalah tangan kanan, kekuatan macam ini tak akan mampu menghentikannya.
"Kali ini kau selamat berkat aku," ucap sang pemilik cambuk segera setelah rekan yang ditolongnya melompat ke sebelahnya. "Hanya kebetulan," balasnya agak kesal. Namun kekesalan itu cukup untuk membuat senyum sinis terukir di balik topeng pemilik cambuk.
Manik keperakan milik David melirik ke belakang sekilas tatkala terdengar pergerakan cepat di sana. Selangkah, dua langkah, hingga ketika jaraknya dengan orang itu tersisa tiga langkah, suara itu berhenti.
"Reel Inventory Interlocking Technique!" ucap Prince mengarang nama serangan ligthouse baru miliknya. Kedua ligthouse ungu milik Prince berada di kiri dan kanan orang bertopeng yang hendak menyerang David dari belakang, kemudian keduanya terhubung dan membentuk seutas tali yang mengikat orang itu.
SWOOSSHH!!!
Ringisan terdengar seiring cipratan darah samar-samar tampak dari beberapa orang bertopeng yang terpental ke belakang hingga tersungkur. David berbalik begitu kembali mendengar suara langkah cepat yang mengarah padanya, tali yang diciptakan ligthouse pemuda berambut gelap itu pasti sudah terputus.
Sepasang manik keperakan itu menutup, ujung jemari yang menggengam pedang bergerak naik dan turun sesuai ketukan dalam tempo di pendengaran. Begitu sepasang manik yang sama terbuka, David mengambil sebuah lompatan tinggi. Tinju yang tadinya hendak ditujukan pada dada anak Keluarga Arie itu berakhir di udara kosong, bahkan langkah si pelayang tinju bertopeng itu sedikit oleng tatkala sang target tiba-tiba bergerak dalam hitungan sepersekian detik.
Sepasang manik di balik topeng hitam bergerak cepat ke sana kemari, sebelum kemudian tubuhnya yang lebih dulu refleks berlari sejauh mungkin ke arah rekannya yang masih tersungkur—tepatnya ingin istirahat dulu—hingga tenaganya habis dan berlutut sambil terengah. Ketiga pasang manik di balik topeng itu menatapnya datar.
David yang telah mendarat dan kehilangan sepersekian detik untuk menikam orang bertopeng dari belakang itu berdecak. Kecepatan orang itu dalam menyelamatkan diri dari bahaya sungguh luar biasa. Kemudian berbalik, menatap Prince yang berusaha terlihat berani. Namun tampak jelas ketakutan dan kebingungan yang gagal disembunyikan oleh wajah itu.
"Inilah yang namanya memperkuat serangan dengan shinsu," ucap David datar. Sedangkan Prince hanya mengerjap.
DUUAARR!!!!
Sebuah ledakan dahsyat memekakan telinga membuat semua menoleh, bergema dari lorong ke lorong, bahkan para orang bertopeng itu langsung berdiri. Kali ini bukan hanya suara, melainkan tubuh makhluk tempat mereka berdiri bergetar dan bergerak ke sana-kemari tak beraturan. Pijakan kelima orang di dalam lorong itu menjadi goyah, kecuali David sang keturunan Keluarga Agung. Prince sampai terjatuh karenanya.
"Waktuku sudah habis," ucap David tiba-tiba. Sepasang manik keperakan itu terarah pada salah seorang bertopeng yang kembali hendak menyerangnya dengan tinju biasa, David menghindar sekilas. Kemudian melirik Prince untuk terakhir kalinya. "Sayang sekali, kurasa kita harus berpisah di sini."
Entah bagaimana, ketika Prince membuka mata di detik berikutnya, tali tambang keemasan itu sudah tergeletak di tanah, tanpa ada Arie David yang dalam lilitannya. Juga pedang panjang yang tadi anak itu gunakan tergeletak di samping relikui emas itu.
"Sial!" salah satu orang bertopeng yang barusan mencoba mengambil kesempatan menyerang David berseru kesal. Merasa tidak ada kepentingan, orang bertopeng itu mengambil pedang yang tergeletak, mengembalikannya pada rekannya. Kemudian keempat orang itu pun pergi begitu saja, sama sekali tak menghiraukan Prince yang termangu, berusaha mencerna apa yang barusan terjadi.
Namun lamunan pemuda itu tak lama. Sebuah embusan kencang dari belakang lagi-lagi membuatnya mau tak mau berbalik. Seorang pria kekar bertopi putih, bermanik merah, bertindik, dan tidak mengenakan atasan tiba-tiba muncul di depannya segera setelah embusan itu menghilang. Juga yang paling penting dan menarik perhatiannya... pria kekar itu menggotong Akraptor dan Horyang bersamaan, dengan tangan kosong!!! Terutama, mereka berdua terluka parah, terlihat dari seberapa banyak darah yang menyelimuti mereka.
Belum habis keterkejutan Prince, beberapa detik kemudian seorang pemuda berambut cokelat tiba, melompat dari papan bundar yang terbuat dari shinsu biru yang dipadatkan pemuda itu. Juga, sambil membawa Ehwa dalam dekapannya.
"Prince, kau melihat Wangnan dan Goseng?" tanya Viole dengan napas terengah seolah sedang dikejar sesuatu. Prince menggeleng patah-patah.
Tanpa mengatakan apa pun, Viole mengalungkan lengan Ehwa yang tak sadarkan diri ke leher Prince, kemudian menyerahkan gadis itu tanpa persetujuan maupun penolakan dari sang light bearer. "Prince, tolong jaga Nona Ehwa," ucapnya tanpa menoleh, kemudian kembali melompat ke papan shinsu dan pergi ke arahnya datang tadi.
Prince kembali mengerjap beberapa kali, menatap punggung tinggi Viole yang dengan cepat menghilang dari pandangan, kemudian pada gadis berambut hitam yang tak sadarkan diri. Beberapa tetes darah mengalir dari beberapa bagian tubuh, meski beberapa kelihatan sudah sedikit kering.
"Kau rekan pemuda itu juga?" tanya Urek tiba-tiba, membuat Prince menoleh cepat, mengangguk. "Ah, ya. Ngomong-ngomong Tuan," Prince menunjuk keningnya sendiri, "kau terluka."
Sontak perkataan Prince membuat Urek membeku di tempat, mengernyit, kemudian terbahak. Tubuhnya bergerak naik dan turun karena tertawa, membuat tubuh kedua pria yang terluka itu bergerak-gerak. Prince membelalak panik karenanya. Namun dengan segera tawa itu bungkam tatkala Urek merasakan sesuatu mengalir di wajah, di antara kedua mata.
***
Papan shinsu biru itu bergerak secepat mungkin menuruti keinginan sang pengendali. Kerutan bertingkat terbentuk di dahi Viole, menatap lurus ke depan. Rambut cokelat pendeknya tersibak terkena embusan. Sepasang manik keemasan itu membesar ketika menangkap cahaya terang dari ujung lorong yang ditujunya. Cahaya itu mengenai sesuatu yang tergeletak beberapa meter di depan Viole.
Tap. Pemuda itu melompat, membiarkan papan shinsu terus bergerak dan akhirnya menghilang dengan sendirinya. "Tuan Aguero, anda baik-baik saja?" tanya Viole, berjongkok di sebelah tubuh Aguero.
Pemuda berambut biru yang terbaring itu tak menjawab, kedua maniknya setia tertutup, membuat Viole meremang. Viole mendongak. Dinding sisi kiri ruangan bundar tempatnya berada tadi, hancur total. Dari lubang itulah cahaya terang ini berasal, menampakkan pemandangan laut di luar sana. Juga... mungkin 'luka' yang menyebabkan makhluk ini sempat bergerak tak beraturan tadi.
"Dengan otak bodohmu, kau beruntung aku di sini." Viole menoleh cepat, menatap Aguero yang telah sadar dan mengukir senyum. Sejak tadi, pemuda keturunan Khun itu hanya memejam karena lelah. Namun melihat tingkah Viole, pemuda itu tergelitik untuk sedikit mengerjainya.
Kedua sudut bibir Viole terangkat. Setetes cairan bening mengalir dari sudut mata. "Ya, saya benar-benar beruntung, Tuan Aguero," ucap Viole dengan senyum tulus mengembang di wajah.