THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 29: Dia Bodoh



Sepasang manik berwarna biru itu menatap tajam ke depan, ke tempat punggung seorang pemuda menghilang dalam kepulan asap beberapa saat yang lalu.


"Dia bodoh." Aguero mengerjap, menoleh ke arah gadis berambut hitam panjang yang duduk bersenderkan pada dinding, terluka. "Kau pasti berpikir seperti itu, iya kan?" lanjut Ehwa dengan sudut bibir yang terangkat lemah. Aguero kembali menatap kepulan asap di depan. "Apa ada kata lain yang dapat mendefinisikan perbuatannya?" Ehwa menggeleng pelan, ia pun sangat setuju dengan pernyataan keturunan Keluarga Khun itu.


"Tapi kusarankan kau mengikutinya ke dalam sana, karena mungkin kebodohan-nya akan membuatmu menemukan sesuatu," ucap Ehwa lagi. Alis kanan Aguero terangkat. "Apa sekarang kau sedang mencoba memancingku agar menolong rekanmu?"


"Yah, tidak juga," beberapa tetes cairan merah mengalir dari bibir Ehwa yang terbatuk. "Aku mengatakannya sebagai seseorang yang menjadi rekan timnya selama beberapa waktu terakhir."


Aguero terdiam, menatap Ehwa yang terlihat lemah dengan kondisi luka yang tidak bisa dibilang ringan. Kemudian kembali menatap ke depan. "Bagaimana kalau setelah mengikutinya ke dalam sana, aku tidak 'menemukan' apa pun seperti perkataanmu?"


Ehwa menggeleng. "Tidak mungkin. Meski mungkin tidak secara langsung, kau akan menyadarinya di masa depan."


***


"Tuan Akraptor! Tuan Horyang!" seru Viole beberapa langkah setelah kakinya berpijak di antara kepulan asap. Manik keemasannya menilik ruangan luas itu, mencari kedua pria yang tak lain adalah rekan timnya.


"Viole!" Viole membelalak tatkala mendengar suara femiliar seorang anak perempuan di sana. "Miseng? Miseng! Apa itu kau?" seru Viole panik, menilik sekitar cepat.


"Vi—" Suara itu terhenti, seolah ada tangan yang menutup paksa bibir anak perempuan itu. "Miseng?" seru Viole sekali lagi. Namun kali ni tak ada jawaban. Panik, gelisah, khawatir campur aduk dalam diri Calon Pembunuh FUG. Dengan segera aliran shinsu berwarna biru terkumpul dalan genggaman pemuda berambut cokelat itu, berniat menghilangkan kepulan asap di sekitar, sebelum kemudian sebuah tangan memegang lengannya yang refleks membuatnya melompat. "Siapa kau?"


Siluet yang berjarak beberapa langkah dari Viole itu tidak menjawab. Beberapa saat kemudian, helaian rambut biru tampak setelah setelah siluet itu melangkah ke arahnya. "Tuan... Aguero?" ucap Viole tak percaya. Pemuda yang tadi berniat menyerah dalam ujian dan menyuruh dirinya membuang kedua rekannya, kini berdiri di sini?


Aguero menghela, "Begitulah." Sepasang iris biru keturunan Khun itu melirik sekitar. "Asap ini, kita bisa memanfaatkannya." Empat senjata kubus berwarna biru melayang di sekitar Aguero begitu genap kalimat itu meluncur dari bibirnya. Jari-jari Aguero langsung menari indah pada permukaan lighthouse dalam hitungan detik, sinar biru dari permukaan lighthouse memantul dalam maniknya.


Namun tiba-tiba, pemuda berambut biru itu mengarahkan keempat lighthouse birunya ke kanan, membentuk segi empat tak beraturan yang sinar lighthouse-nya saling terhubung, membentuk sebuah barrier yang melindungi dirinya dan Viole. Quadruple Barrier.


Ledakan kembali terdengar akibat tubrukan antara barrier ciptaan Aguero dan kekuatan yang menyerang mereka barusan.


"Sudah kubilang, sihirmu tidak akan berguna." Sebuah siluet disertai larikan biru melompat cepat dalam bungkusan angin begitu kalimat itu terdengar, membuat Aguero dan Viole refleks melompat menghindar ke arah berlawanan. Manik Aguero menangkap sesuatu dari tempat siluet itu berasal, refleks melompat lagi begitu ujung sepatunya menyentuh tanah.


Srak. Jaring besar yang terbuat dari sinar merah muda menyala mendarat di tempat Aguero hendak mendarat beberapa detik lalu.


"Sihirmu tidak berguna."


"Kau juga sama saja."


Aguero melirik ke kiri dan kanan, begitu pun Viole yang berjarak dua meter darinya. Kedua pemilik suara itu terdengar bergerak di sekeliling mereka.


"Silver Moray," suara lainnya terdengar beberapa meter dari depan. Slassh!  Serangan shinsu putih akibat sebuah tebasan panjang mengarah cepat ke arah mereka, membuat helaian rambut Viole dan Aguero tersibak ke belakang. Tanpa dapat memikirkan apa pun, Viole refleks mengarahkan telapak tangannya ke depan, menciptakan sebuah bola shinsu disertai 4 bang (ledakan shinsu) di sekitarnya.


Serangan dari bola shinsu seukuran telapak tangan dan 4 bang meluncur cepat ke arah tebasan yang mengarah pada mereka. Tebasan yang bertemu dengan shinsu milik Viole kembali membuat sebuah ledakan terdengar dalam ruangan bundar itu. Namun kekuatan dari pedang yang diberikan langsung oleh sang Kepala Keluarga Arie kepada keturunan yang diakuinya memang tidak dapat diremehkan.


BUM! Tubuh Aguero dan Viole terempas telak ke belakang, membentur dinding merah muda dekat lorong tempat mereka masuk. Viole meringis, melirik ke arah pemuda keturunan Khun yang berjarak 2 meter darinya. Pemuda berambut cokelat itu menggigit bibir. Lagi-lagi, seseorang dalam bahaya karena dirinnya.


Entah kabar baik atau buruk, ledakan barusan menyebabkan asap yang membungkus ruangan berangsur hilang. Kini sepasang manik biru dan keemasan itu dapat melihat jelas siapa saja yang berada dalam ruangan yang sama dengan mereka.


Seorang anak lelaki berambut biru ikal pendek yang berdiri beberapa langkah di depan Aguero. Khun Ran


Seorang anak perempuan berambut putih sebahu yang berdiri beberapa langkah di depan Viole. Arie Anna.


Seorang anak lelaki berambut putih yang menggenggam pedang besi panjang dan buku di tangan satunya, berdiri di tengah ruangan. Arie Vicente.


Kemudian... seorang gadis berambut biru sebahu yang berdiri di ambang lorong gelap jauh di seberang sana, Khun Kiseia. Juga di sebelah gadis itu, berdiri seorang pria bertubuh kekar dengan sepasang iris kemerahan yang menyala, Urek Mazino.


Viole melirik sekitar, mengamati seluruh ruangan bundar itu. Maniknya menangkap Akraptor yang terbaring tidak sadarkan diri dekat dinding di sisi kanan, dan tubuh besar Horyang yang bersender pada dinding di sisi kanan. Namun... maniknya sama sekali tak dapat menemukan sosok anak perempuan yang suaranya ia dengar tadi.


Kemudian perhatian pemuda itu tersita oleh pria kekar yang mengenakan topi putih. Diakah Urek Mazino? batinnya. Viole menegup ludah. Melawan empat keturunan Keluarga Agung ditambah seorang ranker tentu bukanlah pertarungan yang mudah—malah mungkin seperti pertarungan bunuh diri.


Tiba-tiba Urek berjalan memasuki ruangan itu, melewati Vicente, juga Anna dan Ran, hingga langkahnya berhenti tepat di depan Viole. Viole mendongak. Sepasang manik keemasan dan kemerahan itu menatap dalam diam, mengundang keheningan menyelimuti ruangan itu. "Apa benar kau Calon Pembunuh FUG yang akan membunuh Jahad? Kau bahkan tidak bisa mengatasi serangan tiga anak kecil," ucap Urek merendahkan.


"Aku bukan anak kecil!"


"Aku bukan anak kecil!"


"Aku bukan anak kecil!"


Namun untuk kasus ketiga anak itu, alasan kebenaran di balik ucapannya sedikit 'berbeda'. Meski tentu saja, di antara mereka bertiga tetap ada anak-anak yang sesungguhnya, sesuai usia anak-anak. Tidak semua orang yang berada di Menara sudah berusia lebih dari 100 tahun. Sebagai informasi, Khun Aguero Agnes pun baru berusia 23 tahun.


Mendengarnya, Urek tertawa renyah, menatap satu per satu 'anak' yang berdiri di ruangan itu. "Dengan tubuh sekecil dan sependek itu, kalian yakin bukan anak kecil?" Ketiga anak itu terdiam, menatap tajam sang ranker. Namun demi suksesnya misi, masing-masing dari mereka berusaha menahan diri.


Ketiga anak itu berbalik, berjalan menuju Kiseia.


"Nah Calon Pembunuh FUG yang akan membunuh Jahad, mari kita 'bermain' sebentar," ucap Urek dengan tekanan shinsu berwarna putih menyelimuti tubuhnya.


***


Ray Barracuda. "Ray" yang merujuk pada gaya bertarungnya dengan menembak Shinsu pada kecepatan cahaya, dan "Barracuda" adalah nama Belut Berzirah Putih paling agresif dan ganas di dalam Menara. Petarung yang menembak shinsu dengan kecepatan cahaya dan seganas serta seagresif Belut Berzirah Putih, demikian julukan yang disandang oleh seorang Urek Mazino.


BUUMM!!! Ledakan sekali lagi terdengar. Tinju dan shinsu dengan jenis dan warna yang berbeda sekali lagi bertemu. Embusan dan tekanan kuat berkali-kali tercipta. Namun pertarungannya... sama sekali tidak mendekati selesai....


Aguero sama sekali tak berkedip. Meski tidak melebihi maupun mengimbangi, tapi pemuda itu, Jue Viole Grace, dapat bertahan dari serangan ranker peringkat 4 di Menara selama kurang lebih 3 menit. Bagi seorang ranker yang melawan regular kelas E, mungkin 1 detik sudah lebih dari cukup untuk membunuh lawannya. Terutama jika itu adalah Urek Mazino yang digadang-gadang kekuatannya setara dengan ranker peringkat satu yang statusnya tidak aktif itu.


Meski tentu saja, Aguero yakin ranker itu sedang menahan diri, tapi tetap melancarkan serangan terbaik—terlihat dari ekspresinya yang seolah menemukan berlian di antara bongkahan batu. Namun luar biasanya karena sedikit pun si Calon Pembunuh FUG tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah.


BUUUMM!!! Tekanan shinsu luar biasa dapat dirasakan oleh regular mana pun yang berada di dekat ruangan itu, atau mungkin setidaknya berada di dalam tubuh si paus zigena saking dahsyatnya. Urek dapat merasakan semangatnya berapi-api. Maniknya menatap pemuda berambut cokelat yang terengah kelelahan, dengan cairan merah yang mengalir dari dekat ulu hatinya, dan peluh yang membasahi seluruh tubuh.


Urek kembali melompat ke arah Viole, mengarahkan tinju berbungkus shinsu. Viole refleks ikut melayangkan tinju berbungkus shinsu. Ledakan sekali lagi terdengar, begitu pun cairan merah yang semakin bertambah pada kepalan pemuda berambut cokelat itu. Viole terempas ke belakang, tapi masih berdiri kokoh.


"Apa hanya segini kemampuanmu?" Shinsu berwarna kuning keputihan menggelegar dari telapak tangan Urek yang melayang di atas sana, meluncur dalam kecepatan cahaya ke arah Viole. Viole membelalak ketika serangan shinsu itu mengenai tubuhnya, mundur beberapa langkah, masih berdiri meski pijakannya tak sekokoh sebelumnya.


Urek memincingkan netra, mengontrol aliran shinsu di sekitar dengan mengangkat tangan kanan, menimbulkan embusan kencang di sekitar. Viole meringis sambil menatap tajam ke depan, menahan laju darah yang terasa sakit. Kemudian tepat ketika sang ranker hendak melepas tembakan, sebuah seruan yang tiba-tiba membuatnya berhenti.


Tak. Sesuatu berbentuk bulat berwarna hitam mendarat di dekat Urek, membuat perhatian pria kekar itu teralihkan. Pria itu mengambil benda itu, menatap sang pemuda yang tadi berseru menyuruhnya berhenti. Sebuah bom, yang tidak meledak karena tidak adanya tekanan shinsu yang memenuhi syarat meledaknya bom tersebut.


Spontan ketiga laki-laki menatap ke atas, pada Kiseia yang entah sejak kapan sudah kembali berada di ujung lorong atas sana. "Ah, ketahuan ya," ujar gadis itu santai. "Itu adalah bom yang dikembangkan Workshop, aku hanya penasaran akan sehebat apa ledakannya jika menggunakan shinsu yang diciptakan orang terkuat di Menara," ucapnya dengan kedua sudut bibir terangkat.


Ketiga laki-laki itu masih diam. Kiseia menunjukkan bom lain di tangannya, kali ini berwarna kuning. "Ini bom lainnya yang dikembangkan Workshop. Kekuatan bom ini berasal dari ledakan-ledakan kekuatan shinsu dari pertarungan kalian dan akan menghasilkan ledakan 5 kali dari kekuatan yang diserapnya." Manik biru yang menatap ke bawah sedikit memincing. "Jadi, bagaimana kalau kita coba juga?"


Viole membelalak, menoleh cepat ke arah Akraptor dan Horyang yang masih tak sadarkan diri.


"Hei, Anak Keluarga Khun, kau tidak berpikir bommu itu bisa membunuhku kan?" seru Urek yang merasa diremehkan. Bukannya jawaban, gelak Kiseia lebih dulu bergema memenuhi ruangan, "Tentu tidak. Tapi kurasa kekuatannya akan cukup untuk membuat rumor kalau Urek Mazino berniat 'menghancurkan' harta berharga yang tersimpan di sini."


Bukannya takut, Urek malah terbahak. "Lalu? 10 Kepala Keluarga Agung saja bukan tandinganku."


"Memang benar, tapi asal kau tahu, 'luka' dari sebuah rumor dapat lebih fatal dari serangan fisik. Apalagi kalau Calon Pembunuh FUG itu terbunuh di sini, kau akan membuat kedua organisasi besar, Wolhaiksong dan FUG bermusuhan," jawab Kiseia. "Dampaknya tidak akan baik untukmu selaku wakil ketua dari Wolhaiksong, kan, Urek Mazino?"


Kali ini Urek terdiam, berpikir sejenak—hal yang bukan terlalu keahliannya.


"Itu benar." Viole dan Urek refleks menoleh ke asal suara, pada sang pemuda berambut biru yang berdiri dan berjalan ke arah mereka. "Pengaruh FUG memang masih berada di bawah Wolhaiksong, tapi bukan berarti akan mudah jika membuat masalah dengan mereka."


Urek tampak terdiam lagi, menatap bom yang ada di tangannya beberapa saat. "Jadi menurutmu, Anak Keluarga Khun lainnya, apa yang harus kulakukan?"


Aguero tersenyum miring. "Kau akan membantu Viole melarikan kedua regular yang terluka, biar aku yang menghadapi Kiseia."


Crkk. Bom di tangan Urek hancur berkeping-keping oleh tekanan shinsu 'ringan' nan sepanas mentari dengan kecepatan cahaya yang tercipta dari telapak tangannya. "Apa kau meremehkanku, Anak dari Keluarga Khun?"


Aguero menggeleng. "Aku tidak mungkin meragukan kekuatan ranker peringkat 4. Tapi untuk sekarang, kuharap kau bersedia membantu kami. Aku punya sedikit 'masalah keluarga' dengan adikku."


Urek mengerjap, kembali tampak berpikir, hingga kemudian mengangguk karena kepalanya pusing. "Baiklah, untuk menghargai usaha yang Calon Pembunuh FUG ini berikan dalam bertarung melawanku, kali ini, aku bersedia membantu kalian. Tapi dengan syarat, biar aku sendiri yang membawa kedua regular itu."