![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Tok. Tok. Tok.
Hening. Sedikit pun sang penghuni kamar tak berniat menjawab, santai tetap memejam di tempat tidur.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pada pintu kayu yang sama kembali terdengar. Namun lagi-lagi sang penghuni kamar masih memejam tanpa menggubrisnya.
Tok. Tok. Tok.
Pada percobaan ketiga, manik biru itu terbuka. Sebuah dengusan meluncur dari bibir keringnya. Aguero beranjak duduk, menatap pintu kayu yang terus berbunyi. "Silahkan masuk," ucapnya berusaha seramah mungkin.
Seorang anak perempuan berambut cokelat mengintip dari sela pintu yang terbuka.
"Ada apa, Miseng?" tanya Aguero sambil tersenyum 'ramah'.
Anak perempuan itu tampak ragu, tapi sedetik kemudian kerutan di dahinya menandakan anak itu memantapkan hati, melangkah masuk ke kamar yang ditempati pemuda itu.
"Cokelat?" Alis kanan Aguero terangkat begitu Miseng menunjukkan benda yang ia sembunyikan di balik punggung. Miseng mengangguk, meletakkan sebatang cokelat ke dalam genggaman Aguero. "Untuk yang tadi," ucapnya pelan, kemudian segera berlari keluar ruangan.
Aguero menatap cokelat di tangan begitu pintu tertutup, lanjut berbaring. "Bodoh," manik biru itu memejam, "padahal itu hanya tipuan."
Pikiran Aguero kembali ke beberapa jam yang lalu, ketika semua anggota kelompok lemah ini berkumpul di ruang tengah, menatap tajam ke arahnya yang baru menutup pintu depan, terutama Akraptor yang melontarkan tatapan paling tajam. Pria bertindik itu langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke hadapan Aguero, menunjukkan telapak tangan lebarnya.
Aguero mengernyit. "Kau... mau tos?" tanyanya—pura-pura—ragu.
Melihat keturunan Khun itu berlagak tak tahu apa-apa, Akraptor mendecih. Tampak jelas kekesalan di wajah lumayan berumur itu. "Viole!" panggil pria itu tanpa berbalik.
Pandangan Aguero tertuju jauh ke belakang, pada satu per satu manusia hidup yang berada di ruangan itu. Suasana tak mengenakan sangat kentara menyelimuti ruangan, terutama dari raut wajah mereka. Manik biru itu beralih pada pemuda berambut cokelat yang berjalan ke arahnya.
Aguero mengerjap, sama sekali tak dapat membaca ekspresi yang terpatri di wajah datar itu. Kemarin wajah itu terlihat polos seperti anak kecil, tapi sekarang keras layaknya patung. Viole mengarahkan telapak tangannya ke samping telapak tangan Akraptor, memancarkan shinsu biru dari sana.
Oh? Sudut kanan bibir Aguero diam-diam terangkat. Mereka sudah mengentahuinya?
Shinsu biru itu terus menguar dari telapak tangan Viole. Pemuda itu kemudian berbalik, membungkus seluruh ruangan itu dengan shinsu. Sontak ruangan bercat putih itu tak lagi tampak seperti ruang tamu, bahkan tak tampak seperti ruangan layak huni. Catnya seolah lekang oleh waktu, terkelupas sepenuhnya.
Kecuali Viole dan Akraptor, sisa anggota lainnya tertegun. Bingung dan takut campur aduk dalam tatapan mereka. Miseng pun segera memeluk Goseng—kakak sepupunya—yang duduk di sebelahnya di sofa. Tergelitik dengan suasana yang diciptakan pria bertindik itu, Aguero pun tergoda untuk 'sedikit' bersandiwara.
"Wah, Akraptor. Apa yang kau lakukan pada ruangan ini?" Aguero berdecak kagum. Maniknya terbuka sempurna menatap sekitar bak peneliti yang menemukan penemuan besar.
Akraptor tertawa sinis. "Sudahlah, anak dari Keluarga Khun. Aktingmu itu sangat buruk hingga aku ingin muntah."
Aguero mengernyit, menatap pria bertindik itu tak mengerti, kemudian menatap Viole. Sadar ditatap, pemuda berambut cokelat itu refleks mengalihkan pandangan. "Sudahlah Tuan Akraptor, aku yakin ada kesalahpahaman di sini."
Hm? Aguero mengerjap. Apa ini? Apa terjadi sesuatu selama dirinya pergi?
"Kesalahpahaman?" Akraptor mengulang dengan nada kesal. "Coba pikirkanlah Viole, sejak kapan ruangan ini jadi masuk ke dalam lukisan?" Perkataan Akraptor barusan sukses membuat seluruh anggota tim, termasuk Horyang tertegun. Gerakan tangan Ehwa yang hendak menyentuh dinding kasar itu refleks terhenti.
Wangnan yang sejak tadi berusaha tenang tidak dapat menahan diri lagi, segera berjalan ke dekat Akraptor. "Lukisan? Apa maksudmu, Tuan Akraptor?" tanyanya.
Akraptor tertawa sinis, menggeleng. Pria bertindik itu menunjuk ke atas, membuat semua spontan menatap ke langit-langit. Tak perlu menunggu lama bagi pemuda keemasan itu untuk terlonjak dan berteriak, menunjuk ke atas gemetar. "M-mataaa???"
Dalam ruangan temaram yang dibatasi dinding dan langit-langit kasar nan gelap, terdapat pahatan tiga buah mata merah yang menghias langit-langit, saling berdekatan. Sepasang mata besar di bawah, dan satu lagi mengisi jarak di antara dua mata tersebut. Pahatan itu terlihat sangat detil hingga siapa pun yang melihat akan merasa seolah berhadapan dengan mata makhluk hidup.
"Itu... simbol Raja Jahad.., kan?" Prince berujar ragu, tak sedikit pun mengalihkan tatapannya dari pahatan itu. Horyang yang duduk di sebelah Prince mengangguk. "Ya, itu simbol Raja Jahad," pria bertubuh besar itu menatap Akraptor. "Tapi apa maksud semua ini?"
"Relikui Lukisan Van Jahad," perkataan itu spontan membuat semua orang menoleh, tapi bukan Akraptor, melainkan Goseng yang duduk di sofa sambil memeluk Miseng. "Aslinya relikui ini berbentuk lukisan. Relikui ini bisa menyimpan benda dalam jumlah tak terbatas, tapi entah bagaimana..," Goseng melirik pemuda berambut biru itu ragu, "ruangan ini berada di dalam relikui itu."
Pernyataan tak masuk akal Goseng barusan membuat semua membelalak. Ruangan di dalam lukisan? Itu tidak mungkin!
"Aku sudah curiga sejak anak ini datang ke sini," kali ini Akraptor yang berbicara, menatap Aguero dengan sudut mata. Pria bermata keemasan itu maju beberapa langkah, mengikis jaraknya dengan pemuda angkuh itu. "Maka dari itu, aku meminta bantuan Goseng untuk mencari tahu kira-kira apa rencana anak ini."
Akraptor membuka kedua tangannya. "Harus kuakui, kau memang cerdik, anak dari Keluarga Khun!" ucapnya dengan urat yang tampak menyembul di leher. "Kau berencana mengambil informasi tentang kami, mengawasi dan bersenang-senang, lalu membunuh kami semua. Iya kan?!"
Perkataan Akraptor barusan sejenak membuat ruangan temaram itu lengang. Bahkan seorang Wangnan pun dapat merasakan dingin yang menjalar di kulit. Bibirnya sedikit terbuka, tapi lidahnya seolah keluh tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
Sementara itu, manik keemasan sang Calon Pembunuh FUG, Viole menatap pemuda berambut biru itu dalam. Berbagai keraguan berkecamuk dalam dirinya. Di satu sisi pemuda berambut biru itu adalah orang yang harus ia jadikan sekutu. Namun jika apa yang dikatakan Akraptor benar, maka tekad yang baru Viole genggam itu harus ia buang jauh-jauh.
"Baiklah," satu kata yang meluncur dari bibir Aguero sukses membuat semua menoleh, termasuk Viole. Pemuda itu menggantung kalimatnya agak lama, sengaja ingin menikmati raut kekesalan yang terpatri di wajah pria bertindik itu. "Tapi aku sama sekali tidak mengerti maksudmu."
Akraptor mengerutkan dahi, menatap Aguero kian tajam hingga seolah matanya dapat mengeluarkan ribuan panah dari sana. Sekali lagi Akraptor menunjukkan telapak tangannya, kali sebuah batu berwarna merah menempel di sana. "Pada hari pertama kau tiba di sini, sekitar jam 3 pagi, aku terbangun karena mendengar suara. Ketika aku mengecek, aku melihatmu keluar," Akraptor membuka mata, memberi jeda dalam perkataannya. "Setelah aku ingat lagi, suara itu tidak terdengar seperti benda jatuh atau semacamnya, melainkan seperti tekanan, tepatnya aliran shinsu. Dan di hari itulah kau melakukannya, memasukkan seluruh tempat tinggal kami ke relikuimu itu."
Akraptor berhenti sejenak, mencengkeram batu dalam genggamannya. "Hari itu aku terbangun, itu semua adalah bagian dari rencanamu. Kau mau menantangku, iya kan, anak dari Keluarga Khun?" tanya Akraptor dengan nada tajam di akhir.
Lagi-lagi Aguero mengernyit, kemudian mengangkat bahu. Pemuda satu itu masih ingin 'bersandiwara' lebih lama. "Aku sama sekali tidak mengerti, 'Tuan' Akraptor," ucapnya.
Mendengar itu, Akraptor tertawa sinis. "Batu ini disebut 'the gem of Jahad', pengaktif mata yang ada di sana," Akraptor kembali menunjuk ke atas, membuat yang lain—kecuali Aguero dan Viole—refleks mendongak. "Mata itu berfungsi untuk mengambil informasi mengenai barang-barang yang disimpan di dalam relikui Lukisan Van Jahad, dengan kata lain tentang ruangan ini, dan kami."
"Selain itu, batu ini juga berfungsi menjaga kestabilan shinsu di dalam lukisan ini. Mungkin dari sanalah kau mendapat ide untuk mempertahankan bentuk tempat tinggal kami seperti sedia kala dengan shinsu," lanjut Akraptor. "Dengan kata lain, kau berencana mengambil informasi tentang kami untuk bersenang-senang dengan hobi 'gilamu'—aku tidak terlalu tahu karena hanya mendengar rumornya—dan jika menurutmu kami menganggu atau tidak berguna, kau akan membunuh kami seperti kau membunuh rekan-rekanmu dahulu. Iya kan?" pria bertindik itu berseru hingga suaranya serak di akhir.
Keheningan sekali lagi menyergap ruangan temaram itu. Bahkan sedikit pun tidak ada yang berani bergerak saking tegangnya. Kecuali Aguero dan Viole, masing-masing penghuni ruangan dapat merasakan jantung mereka berdegup cepat bersamaan dengan pelipis yang basah dengan peluh. Namun satu helaan dari Aguero beberapa detik kemudian membuyarkan semuanya.
"Baiklah," ucap pemuda berambut biru itu. "Aku... mengaku menang," lanjut keturunan Khun itu dengan senyum puas di akhir.
Akraptor yang sama sekali tak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Aguero tertegun, tak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. "Apa maksud..."
"Ya kan, Miseng?" Satu kalimat disertai senyum 'ramah' itu sontak membuat semua kepala mengarah pada anak perempuan berambut cokelat yang duduk di sofa, masih berada dalam pelukan kakak sepupunya. Anak perempuan itu tersentak tatkala tiba-tiba mendapat banyak perhatian, tapi kemudian mengangguk kikuk.
Miseng pun segera menjelaskan bahwa hari itu, beberapa menit sebelum Akraptor terbangun, dirinya lebih dulu bangun untuk mengambil minum. Namun ia bertemu Aguero di perjalanan. Aguero mengajaknya untuk bertaruh. Ia akan melakukan sesuatu pada tempat ini dan menyuruhnya menebak apakah kira-kira pria bertindik itu—Akraptor—bisa menebaknya, dengan hadiah jika Miseng menang maka Aguero akan memberinya beberapa video game untuknya dan Prince.
Meski sedikit terbuai dengan hadiahnya, tapi Miseng menolak—sebab ia sadar bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya saat itu bukan pemuda biasa, melainkan pemuda licik dari Keluarga Khun. Namun Aguero tidak menyerah. Pemuda itu terus membujuk Miseng dengan menambah jumlah dan ragam video game yang akan ia berikan hingga anak itu pun tak dapat berkata yang lain selain 'baiklah'—meski tetap ada keraguan yang mengganjal dalam dirinya.
"Jadi maksudmu, kau bertaruh bahwa Akraptor akan gagal?" tanya Ehwa sambil melipat tangan di depan dada. Tampak jelas senyum sinis yang terukir di wajah keturunan Keluarga Yeon itu.
Miseng menggeleng. Tentu itu tidak mungkin. Selain Viole, Akraptor adalah orang yang selalu melindunginya dari bahaya, terutama saat ujian kenaikan lantai tahun lalu. "Tidak, aku bertaruh kalau dia akan berhasil," segera setelah menjawab, Miseng langsung memeluk erat Goseng.
Jawaban dari anak perempuan berambut cokelat sebahu itu sontak membuat semuanya mematung, termasuk Akraptor. Perlahan, semua mata tertuju pada pemuda bermanik biru itu, masih dengan senyum 'ramah' terukir di wajah.