THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 27: Harga Diri



Sepasang mata keperakan itu tak bosan-bosannya menatap si pemuda berambut biru. Ketika pemuda itu berjalan ke kiri, mata itu mengikuti. Ketika pemuda itu berjalan ke kanan, mata yang sama mengikuti. Bahkan kini, ketika pemuda itu berjalan ke arahnya dan berjongkok tepat di depannya, mata itu senantiasa menatap ke arahnya. Sepasang iris biru itu bertemu dengan sepasang iris keperakan, saling menatap dalam diam, membuat kelengangan menyelimuti lorong. Bulu kuduk Prince yang berada tak jauh dari mereka meremang.


"Ternyata mirip, ya," akhirnya anak lelaki berambut keperakan itu bersuara setelah sekian lama membuat lorong tempatnya berada hening.  Aguero mengernyit, "Siapa?"


"Kau," anak lelaki itu memberi jeda dalam perkataannya, mengamati dengan cermat pemuda yang bayangannya memenuhi bola matanya, "dan Kiseia."


Bukannya Aguero, malah Viole yang tersentak mendengar nama yang meluncur dari bibir anak itu. Aguero merespon dengan tenang, tidak lagi mudah terbawa emosi seperti sebelum-sebelumnya. "Lalu?"


Anak lelaki itu menggeleng. "Tidak ada."


Keheningan sekali lagi menyergap. Sepasang bola mata biru dan keperakan itu kembali bertemu, saling menatap. Alis kanan pemuda berambut ungu gelap yang sejak tadi berdiri mulai berkedut. "Halo? Kau akan bermain tatap-tatapan dengannya atau apa?"


Mendengar itu, Aguero tertawa kecil, menggeleng. Namun beberapa saat kemudian pandangannya kembali tertuju pada anak lelaki berambut perak. "Siapa namamu?"


"Arie David," jawabnya tanpa ragu. Bahkan anak itu tidak terlihat bimbang atau khawatir karena ketahuan.


"Kau peserta ujian ini?"


"Bukan."


"Lalu kenapa kau ada di sini?"


"Untuk menjalankan misi."


"Misi?" Aguero mengerjap, melirik Viole yang juga menatapnya. "Apa ini berkaitan dengan FUG?" Wajar Aguero langsung berpikir demikian. Sebab menyelinap ke dalam ujian yang tengah berlangsung itu tak mudah, kecuali di belakangnya terdapat kedudukan kuat di Menara.


Kali ini, anak itu tampak berpikir sejenak. "Aku tidak tahu, tapi mungkin bisa dikatakan seperti itu."


"Baiklah...," Aguero beranjak duduk, pandangannya senantiasa menatap lurus ke dalam manik keperakan keturunan Arie. "Jadi misi macam apa yang ditugaskan padamu?"


David menunduk, terdiam lama, kemudian kembali menatap pemuda beriris biru. "Menggagalkan Jue Viole Grace dalam ujian." Jawaban dari anak berambut putih itu spontan membuat keheningan kembali menghampiri. "Seharusnya rencananya adalah sebagian dari kami masuk dan sebagian menunggu di luar, berjaga-jaga kalau kelompok yang bertugas menyerang di dalam tidak berhasil, setidaknya pasti kau akan terluka dan tak menyangka dari serangan kelompok yang di luar. Apalagi kabarnya ada ranker di sekitar sini. Jika pun kau kalah dan ranker itu yang keluar, maka tugas kami berganti menjadi merebut bunga zigena dari ranker itu."


Aguero mengerjap, melirik sekilas ekspresi suram dari pemuda bermata keemasan yang kini juga duduk bersila di sebelah Prince. "Kenapa kau ingin membuat Viole gagal? Bukankah dia irregular yang akan mewujudkan mimpi kalian membunuh Jahad? Dan apa yang membuatmu berpikir kalian bisa mengalahkan seorang ranker?"


Sepasang manik keperakan itu terarah pada sang Calon Pembunuh FUG yang sejak tadi membisu. "Untuk itu, kau bisa tanyakan langsung padanya."


Aguero mengangguk. "Kenapa kau memberi tahu semua ini padaku?"


David menghela, seolah menyiratkan 'tampaknya apa pun yang aku lakukan salah, ya'. "Pertama, orang yang dapat menangkapku adalah orang yang kuat dan aku selalu menghargai orang yang kuat. Kedua..." Perkataan David terpotong oleh suara sebuah ledakan yang terdengar tak jauh dari sana, menggema ke lorong-lorong. Aguero, Viole, dan Prince refleks berdiri dan menoleh ke asal suara. Sedangkan anak dari Keluarga Arie itu mengukir sebuah seringaian di wajah. "Kedua, meski kalian tahu rencana kami, tidak ada yang bisa kalian lakukan untuk mencegahnya."


***


Pemuda berambut keemasan itu melompat tinggi ke depan, tekanan shinsu berwarna merah muda berkumpul dalam telapak tangannya. Namun anak yang menjadi target pemuda itu melompat 3 detik sebelum genap serangan itu terealisasikan, dan dalam sedetik sudah berada di belakang pemuda itu.


Tinju berbungkus shinsu listrik mendarat di punggung Wangnan, membuat tubuhnya terempas beberapa meter ke depan, mendarat di tanah amis. Namun tak peduli seberapa banyak cairan merah yang mengalir dari tubuhnya, membasahi pakaiannya, atau bahkan kulitnya yang mulai terkikis, pemuda itu tetap berdiri dengan tatapan kosong terarah pada Ran.


Anna tak menjawab, sepasang tangan pucat itu fokus mengatur kedua 'boneka'-nya. Larikan shinsu merah muda kembali membungkus tubuh Wangnan dan Goseng yang berada dalam kendali anak perempuan dari Keluarga Arie, membuat rambut mereka tersibak ke atas. Shinsu yang terkumpul dalam genggaman mereka meledak-ledak hingga menimbulkan embusan kencang beberapa kali tercipta di lorong itu, mengenai kulit Ran dan Anna.


Anak berambut keperakan itu menggerakan kedua tangannya ke atas, lalu ke bawah, dan bersilangan. Dalam sedetik, Wangnan tak lagi berada di tempatnya, membuat Ran refleks menatap sekitar was-was. Sebelum anak berambut biru itu sadar, pemuda keemasan itu telah berada di belakangnya sambil melayangkan tendangan tumit berbungkus shinsu yang melayang tepat di perutnya. Ran membelalak ketika tumit itu mengenai perutnya tatkala kekuatan yang digunakan pemuda itu pada serangan kali ini jauh melebihi serangan-serangan sebelumnya.


Tubuh anak itu terempas ke belakang. Dalam sekedip mata, Goseng juga berada di belakang anak itu, sepasang telapak tangannya siap melancarkan shinsu yang terkumpul di telapak tangan. DUARR!!


Serangan yang dilancarkan wanita bermata berlian violet itu menimbulkan ledakan yang menggema di sepanjang lorong tempat keempat orang itu berada. Entah karena serangan barusan atau bukan, tubuh paus tempat mereka berada tiba-tiba bergerak, membuat pijakan Wangan dan Goseng sedikit oleng. Ran yang berhasil menahan serangan barusan dengan tubuhnya yang kokoh dan sedikit bantuan shinsu tidak membuang kesempatan. Dengan cepat anak itu segera melayangkan tinju ke pelipis Wangnan, kemudian dengan menggunakan tubuh pemuda itu sebelum terjatuh sebagai pijakan, melompat dan menendang dagu wanita berambut cokelat itu ke atas.


Cairan merah kembali mengalir dari bagian tubuh yang diserang Ran, sedangkan luka yang melekat pada tubuh anak keturunan Khun itu hanyalah sebuah luka gores di wajah karena terlalu meremehkan di awal, langsung diserang dengan ledakan shinsu di kedua sisi.


Sekali lagi, kedua 'boneka' itu langsung sigap berdiri, berbalik menatap Ran. Bahkan Wangnan sama sekali tak memedulikan darah yang mengalir deras di kepala. Sedangkan Goseng, wanita itu harus kehilangan gigi. Namun tanpa membuang detik, tiba-tiba berlian yang menjadi mata wanita berambut cokelat bersinar terang, membuat Ran refleks menoleh. Semakin lama sinar violet yang dipancarkan sepasang berlian itu kian terang hingga membuat anak berambut biru itu menyipit.


Tidak sampai semenit manik biru itu menyipit, sebuah siluet muncul dari larikan cahaya itu, mengarah ke arahnya dalam sepersekian detik. Sebuah tinju berbungkus shinsu merah muda pun mendarat di perut Ran, dilanjutkan sesuatu yang tajam dan panjang menembus tubuhnya dari belakang. Akhirnya, setelah sekian lama, muntahan darah pun meluncur dari bibir Khun Ran. Anna yang menyaksikan itu tersenyum puas.


Anna mengarahkan tangan kanannya ke samping, membuat Wangnan menghilangkan pedang yang terbuat dari shinsu merah muda dari genggaman. "Bagaimana rasanya terluka karena serangan regular biasa?" tanya anak perempuan itu sinis.


Ran melirik tajam ke atas, kemudian melompat tinggi, melempar tombak shinsu biru raksasa yang dibungkus aliran listrik yang muncul dalam genggaman ke arah Goseng, Maschenny Style: Lightning Spear Technique. Tombak yang dibungkus larikan shinsu menembus tubuh wanita itu dalam waktu sepersekian detik. Wanita itu memuntahkan cairan merah pekat sebelum akhirnya ambruk. Tombak shinsu itu menghilang beberapa detik sebelum punggung wanita itu mendarat di tanah.


Anna mendecih. "Kau tidak harus sampai merusak 'boneka'-ku, kan?" keluhnya. Namun Ran tidak peduli, detik berikutnya sudah fokus pada pertarungannya melawan Wangnan. Pemuda berambut keemasan itu benar-benar membuat Ran kesal, sebab tak peduli berapa kali dan sekuat apa pun serangan yang mengenainya, Wangnan tetap dapat bangkit, tidak peduli seberapa sekarat kondisinya saat ini. Bahkan wanita berambut cokelat itu saja tumbang ketika Ran menargetkan serangan yang mengincar sedikit dari jantungnya. Namun pemuda ini, dari kepala, leher, hingga jantung sudah diserangnya, tapi pemuda itu tetap dapat berdiri dan balik menyerang.


Anna yang sudah tidak peduli lagi menghela, membiarkan sang 'boneka' bertarung secara otomatis. Ledakan demi ledakan, embusan demi embusan angin kencang tercipta di lorong itu, bahkan larikan shinsu petir biru dan merah muda tak terhitung jumlahnya berkeliaran buas di sekitar sana. Namun pertarungan tetap belum selesai, Wangnan masih berdiri. Meski pijakannya tak lagi kokoh, atau jari-jarinya yang tak bisa terkepal sempurna, maupun beberapa anggota tubuh mulai tak berbentuk, pemuda itu tetap dapat bangkit.


"Hei," Ran berucap sambil melompat mundur menghindar santai serangan-serangan tak bertenaga dari pemuda penuh luka itu, "apa yang sebenarnya kau lakukan padanya? Kenapa dia tidak tumbang-tumbang?" Ran melompat tinggi, kemudian kembali melemparkan tombak shinsu. Tombak itu menembus dada Wangnan untuk kesekian kali, menambah darah yang terpercik di sepanjang lorong, tapi pemuda itu hanya berlutut sebentar, kemudian berdiri lagi.


Anna yang duduk di atas sana tertawa renyah. "Aku tidak melakukan apa-apa, itu adalah tekad dari orang bodoh itu untuk bertarung.... Yah, aku sendiri tidak menyangka ternyata orang lemah pun bisa menjadi lebih keras kepala darimu."


Ran berdecak, sekali lagi melancarkan tinju ke perut pemuda itu. Hanya dengan tinjuan biasa, tanpa shinsu, tubuh pemuda itu terempas beberapa meter ke belakang. Namun lagi-lagi, beberapa menit kemudian pemuda itu sudah kembali berlari ke arah Ran.


Anna tertawa kecil, menumpu dagu dengan tangan. Pertunjukkan seperti ini tidak buruk. Meski tidak sampai terluka berat, tapi seorang regular biasa yang bahkan tidak berasal dari Keluarga Agung sukses membuatnya kewalahan seperti ini pasti cukup untuk 'melukai' harga diri dari seorang Khun Ran.


"Kumohon... jangan...." Anna melirik anak perempuan berambut cokelat di sebelahnya, siuman dalam dekapan boneka kelinci raksasa miliknya. "Jangan... lukai... mereka...," sekali lagi Miseng berucap lemah, sepertinya efek serangan sihir Anna belum sepenuhnya pulih.


Anak berambut keperakan itu kembali menatap ke bawah, tidak menghiraukan ucapan anak itu. "Sejak dulu... aku ini lemah...." Manik keperakan itu melirik ke samping. "Jika ingin dijadikan pelampiasan amarah, biar aku saja. Aku ini lemah jadi tidak akan bisa melawan. Tapi kumohon, bebaskan mereka...." Setetes cairan bening lolos dari pelupuk, mengalir di pipi Miseng. "Dengan begitu, setidaknya... aku bisa jadi 'berguna'.., kan?"


Anna menatap Miseng untuk beberapa saat. Sebelum kemudian sebuah ledakan dengan segera menyita perhatiannya dan Ran. Ledakan dahsyat itu bergema dari lorong ke lorong, yang dari suaranya bahkan dapat meledakkan seluruh tubuh makhluk ini. "Kita harus pergi sekarang." Anna melayang di udara, kemudian mendarat di tanah diikuti seluruh lighthouse dan bonekanya.


Ran yang berjarak beberapa langkah dari tempat Anna berdiri menggeleng. "Biar aku selesaikan ini dulu."


Anna mengepal kesal. Dalam satu gerakan tangan ke bawah memutus sihirnya dari Wangnan. Tanpa sihir maupun bantuan shinsu dari Anna, tubuh Wangan kembali menjadi manusia biasa dan ambruk seketika. Cairan merah yang berasal dari pemuda itu dengan segera menciptakan genangan.


"Sekarang sudah selesai," ucap Anna. Ran melirik anak itu tajam. Namun karena tak banyak yang dapat dilakukannya, anak itu pun menurut, berjalan ke arahnya. "Bawa dia," ucap Ran sekilas, kemudian lanjut melangkah.


Anna mengernyit. "Untuk apa? Kita menahannya hanya sebagai umpan." Ran tak menoleh maupun menjawab, tetap lanjut melangkah seolah Anna tak ada di sana. Anna mendengus, menatap anak yang kembali tak sadarkan diri itu. Entah kenapa ada perasaan asing yang tiba-tiba menyelimuti dirinya.