![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Dalam bayang-bayang, terdengar langkah seekor makhluk kecil berkaki empat yang berlari menyusuri lorong panjang, makhluk yang sama dengan yang dikejar Miseng sebelum tertangkap oleh dua anak Keluarga Agung. Memanfaatkan kesempatan, makhluk itu berhasil kabur ketika Miseng tanpa sadar melepasnya.
Tiba-tiba selarik sinar berwarna putih jatuh mengenai punggungnya, diikuti bayangan sebuah tangan yang menariknya beberapa langkah dari tanah. "Setelah 2 hari di sini, akhirnya kami menemukanmu," ujar pemuda yang mengenakan topeng hitam itu lega.
"Ya, baguslah," salah seorang bertopeng lainnya melangkah dari kejauhan diikuti sebuah pocket yang bersinar. "Sekarang kita bisa keluar," ucapnya sambil meregangkan tangan ke atas. Mendengar itu, pemuda bertopeng yang memegang bayi zigena itu terdiam sejenak. "Untuk itu... kurasa ada sedikit masalah...."
"Hmm?" Tangan yang diangkat ke atas itu spontan diturunkan. "Apa maksudmu?"
Keringat dingin membanjiri pria bertopeng hitam itu. "KIta... cari yang lain saja dulu."
"Kalian sudah menemukannya?" Kedua orang itu refleks menoleh ke sumber suara, pada seorang bertopeng lainnya yang mendekat dengan sebuah pocket melayang. BUUMM!!! Terdengar ledakan dahsyat dari belakang orang bertopeng yang baru tiba itu. Meski kedengarannya jauh, dari suaranya si ledakan seolah berniat meluluhlantakkan tubuh makhluk tempat mereka berdiri saat ini.
"Suara apa itu?" tanya pemuda yang memegang bayi zigena.
"Abaikan saja, kudengar ada seorang ranker yang tinggal beberapa lama belakangan di sini. Akan gawat kalau kita terseret pertarungan dengan seorang ranker," ucap orang bertopeng yang baru tiba tadi.
"Ya, seperti katamu lebih baik kita mencari yang lainnya lebih dulu sekarang," ucap rekannya yang lain. Tanpa pikir panjang, kedua orang bertopeng itu berjalan beririgan ke arah berlawanan dari asal ledakan itu, meninggalkan si pemuda bertopeng yang memegang bayi zigena. Pemuda itu menoleh ke belakang sejenak. Meski sedikit ragu, pemuda itu akhirnya melangkah mengikuti kedua rekannya.
Walau pemuda itu tahu betul ada satu masalah, yakni dari kemarin pemuda itu kesulitan mencari jalan keluar dari tubuh makhluk ini.
***
Sepasang sepatu kulit itu bergesekan dengan tanah ke belakang untuk beberapa saat. Akraptor berusaha mengatur napas yang terengah-engah. Peluh membanjiri seluruh tubuh, membasahi pakaian. Pria bermanik keemasan itu kembali menodongkan senjata payung di tangan, melancarkan serangan shinsu berwarna biru langit, tepat membidik belakang kepala pria bertopi.
Namun sekali lagi, serangan yang telah diupayakan semaksimal mungkin oleh Akraptor, hanya berdampak seperti angin yang membelai kepala pria kekar itu. Mengenai kepala itu dan menghilang bak angin, tanpa sama sekali meninggalkan luka atau sekedar rasa sakit pada tubuhnya. "Apa ini? Aku bahkan tidak menggunakan 1% dari kekuatanku," pria bertopi itu mengangkat sudut kanan bibir. "Tapi kalian sudah kewalahan begini? Aku penasaran dari mana kepercayaan diri kalian berasal."
Akraptor mendecih ketika pria itu menatap ke arahnya. "Mazino", demikian tato yang tercetak tebal nan besar di punggung pria kekar itu, dengan sebuah lambang pohon pine yang diberi beberapa pasang sayap di bawah tulisannya. Dengan kata lain, pria yang tengah mereka hadapi saat ini tak lain tak bukan adalah Urek Mazino, ranker peringkat 4 yang berhasil menggantikan ranking Kepala Keluarga Arie, Arie Hon dan menurunkan sang kepala keluarga ke peringkat 5. Padahal rumornya, Arie Hon merupakan kepala Keluarga Agung terkuat dari kesepuluh kepala Keluarga Agung yang ada.
Dengan kata lain, Urek Mazino lebih kuat dariada kesepuluh Keluarga Agung, dan mengecualikan sang raja, Urek Mazino adalah ranker terkuat yang aktif saat ini.
Sialnya, Akraptor baru melihat tato itu di tengah pertarungan. Seandainya yang mereka lawan hanyalah ranker biasa, mungkin kesempatan mereka menang dan merebut bunga zigena darinya ada, meski kecil. Sebenarnya Akraptor, Horyang, dan Ehwa sudah—berpura-pura—menyerah dan pergi tadi. Namun karena tak kunjung menemukan rekan yang lain dan takut waktu habis, mereka kembali dengan menyiapkan strategi. Sayangnya di sinilah mereka, mati-matian bertahan akibat strategi yang gagal.
Yah, inilah yang terjadi jika bukan seorang light bearer yang membuat strategi, pikir Akraptor.
Berikutnya giliran Tangan Kanan sang Iblis, Kang Horyang yang menyerang. Sebuah sayap kanan putih besar nan panjang terbungkus larikan sinar biru melekat di punggungnya. Dengan sinar yang sama membungkus dan membuka perban yang selama ini tersembunyi di balik lengan kanan panjang mantelnya. Lengan kanan mantel pria itu tersobek, memperlihatkan segumpalan sinar berwarna biru menyerupai lengan dengan ujung tajam berwarna merah, dalam sanggahan alat hitam berbentuk seperti per.
Horyang melompat tinggi ke arah punggung ranker itu, melayangkan tinju dengan lengan raksasanya. Ujung sinar biru itu memanjang dan membesar sejauh kekuatan yang Horyang salurkan dalam tinjunya. Sebuah kepalan sinar raksasa berwarna biru terarah ke Urek. BLEDAM! Ledakan tercipta akibat serangan Horyang barusan, larik-larikan petir memercik di sepanjang lengan pria itu.
"Kekuatanmu menarik." Horyang membelalak tatkala sebuah suara terdengar di belakangnya begitu mendarat. Namun belum sempat pria itu berbalik, sebuah tinju berbungkus shinsu dengan tekanan luar biasa itu lebih dulu mendarat di punggungnya, membuat Horyang terdorong hingga menubruk dinding berjarak beberapa meter di depannya. Cairan merah pekat memercik di sepanjang tubuhnya, membasahi mantel hijau tua yang dikenakan pria itu. "Tapi masih belum cukup untuk mengalahkanku," lanjut Urek sinis.
Urek melirik Ehwa yang berdiri beberapa meter di belakangnya, diselimuti api miliknya sambil berusaha terlihat tangguh, meski tampak jelas ketakutan di wajah gadis itu. Urek menggeleng. "Aku tidak mengerti apa yang membuat kalian sebegitu gigih pada ujian kali ini, padahal kalian masih bisa mengulang lagi jika gagal."
Akraptor meremas bagian dada kanannya yang terasa nyeri, cairan merah pekat merembes dari sana. Meski sakit, tapi dari darah yang mengalir tampaknya lukanya tidak terlalu parah. Mungkin ranker satu ini masih menahan diri menghadapi mereka. Akraptor meluruskan lengan kanannya ke bawah, bersiap kembali melancarkan serangan dengan senjata di tangan.
Apa alasan mereka begitu gigih pada ujian kali ini?
Sudut kanan pria bertindik itu terangkat. Apa lagi, kalau bukan demi si Calon Pembunuh FUG yang sudah seperti keluarga mereka itu!
Akraptor kembali berlari ke arah Urek, mengangkat senjata hitamnya tinggi-tinggi, dengan bantuan shinsu menyerang pria kekar itu dengan tenaga tersisa. Tanpa perlu menoleh sedikit pun, senjata pria itu berhasil ditahan oleh Urek, hanya dengan satu jari telunjuk, menimbulkan embusan kencang yang mengandung kekuatan yang disalurkan Akraptor. "Kuberi satu kesempatan lagi, menyerahlah," ucap Urek.
"Kau..," sepasang manik merah itu melirik ke asal suara dengan sudut mata, "memiliki bunga zigena, bagaimana mungkin kami menyerah?" jawab Akraptor dengan senyum. Sudah sejauh ini, mana mungkin mereka menyerah? Menyerah pun, belum tentu pria itu bersedia membebaskan mereka begitu saja seperti perkataannya.
Jue Viole Grace menjadi Calon Pembunuh FUG bukan dengan sukarela, melainkan ia diancam. Setiap kali pemuda itu gagal melewati ujian, maka satu teman lamanya akan dibunuh oleh FUG. Itulah kelemahan Viole yang digenggam FUG sehinga pemuda itu mau tak mau menuruti kehendak mereka. Dengan mengetahui itu, tidak mungkin mereka yang menganggap Viole keluarga bersedia menyerah dalam ujian begitu saja. Bahkan jika Viole di sini, Akraptor yakin Viole pasti akan melakukan yang sama.
Ditambah, saat ini masih ada Ehwa Yeon. Meski kelihatan begitu, tapi kekuatan yang dimiliki gadis itu juga tidak dapat diremehkan. Bahkan saking kuatnya, gadis itu sendiri kesulitan mengendalikan apinya, api yang bahkan membuat ranker dari Keluarga Yeon cukup dalam masalah. Meski... itu jugalah salah satu kelemahannya.
Kini pandangan sepasang manik merah itu terarah pada gadis keturunan Yeon yang tampak sedikit gemetar. Namun Ehwa, gadis itu tidak ingin diam lagi. Melihat dua regular biasa yang bahkan tidak berasal dari Keluarga Agung bertarung mati-matian seperti itu, bagaimana mungkin dirinya diam saja?
Api keturunan Keluarga Yeon membungkus tubuh gadis itu, panas dan semakin tinggi. Ehwa menggerakan kedua tangannya ke depan, larikan api merah jambu raksasa menyembur ke arah Urek, menghalangi pemandangan. Ehwa menegup ludah, menatap pemilik sepasang iris merah yang tetap melangkah ke arahnya, tanpa sedikit pun luka maupun berhenti. Bukan, bukan api yang seperti ini. Lebih panas, lebih kuat lagi!
Api yang membungkus tubuh Ehwa semakin menggelegar, semakin tinggi dan panas, juga... semakin kuat dan di luar kendali si pengguna. Namun Ehwa tak peduli. Horyang berada jauh di dinding sisi kiri dan Akraptor di kanan, jika ia menyerang lurus ke depan maka seharusnya kedua pria itu akan baik-baik saja. Sepasang manik merah jambu milik Ehwa menatap lurus ke arah Urek yang masih berjalan santai. Tanpa memikirkan apa-apa, membiarkan apinya meledak lurus ke arah ranker peringkat 4 itu sekuat tenaga.
DUAARRR!!!
***
Kiseia mengerjap, menatap kepulan asap yang memenuhi ruangan bundar luas di bawah sana. "Bagaimana ini, Vicente?" Kiseia menoleh ke arah anak lelaki berambut putih yang tengah membaca di belakang. "Aku melempar bom ketika keturunan Yeon itu menggunakan kekuatannya."
Vicente melirik sekilas, kemudian membalik halaman buku yang tengah dibacanya. "Bom yang dapat melukai seorang ranker digabung dengan kekuatan api turun-temurun milik Keluarga Yeon, membuat ledakannya 3 kali lebih dahsyat. Kurasa mereka tidak akan selamat."
Kedua sudut bibir Kiseia terangkat senang. "Begitukah? Syukurlah...."
"Sepertinya kalian membicarakan hal yang seru, ya?" sebuah suara berat tiba-tiba terdengar tepat di belakang gadis berambut biru itu. Namun sebelum gadis itu sempat beraksi, sebuah tangan menariknya hingga jatuh ke kepulan asap itu. Vicente yang menyaksikan kejadian itu mengerjap, menghela, kemudian menutup bukunya dan berdiri. Anak keturunan Arie itu mau tak mau melangkah hingga tiba di ujung gua tempatnya sedari tadi duduk, ikut melompat ke dalam kepulan asap.
***
Ehwa meringis, dengan tubuh yang masih diselimuti api miliknya yang menjulang tinggi. Meski tidak parah, tapi kejadian sekejap mata itu membuat beberapa bagian tubuhnya terluka, termasuk lengan dan samping leher, juga benturan di kepala dan punggung ketika terempas salah satu lorong gelap yang terhubung dengan ruangan bundar itu. Darah segar mengalir dari pipi dan sudut bibir. Namun dengan api Keluarga Yeon, gadis itu cukup beruntung dapat bertahan.
Kepulan asap memenuhi ruangan luas beberapa langkah di depan. Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa apinya yang dibiarkan sedikit lepas yang menyebabkannya? Padahal gadis itu cukup yakin sudah menekan kekuatan api itu agar tidak terlalu berlebihan.
Ehwa berusaha membenarkan posisi duduknya yang bersandar pada dinding lorong, nyeri merambat di seluruh tubuh. "Nona Ehwa?" Dua kata dari suara itu bak penenang yang menyejekkuan hati. Bola mata Ehwa membesar, menoleh ke asal suara cepat. "Viole?"
Pemuda berambut cokelat itu segera berlari menghampiri Ehwa, berjongkok di sebelah gadis itu. "Anda terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Viole panik.
Seketika api yang membungkus tubuh Ehwa menghilang. Dengan gemetar telunjuk gadis keturunan Yeon itu terarah ke ruangan yang dipenuhi kepulan asap. "Ada ranker di sana," ucap Ehwa, "Urek Mazino."
"Apa?" refleks Aguero yang baru tiba di dekat mereka. "Kau yakin? Urek Mazino, ranker peringkat 4 itu?" Ehwa mengangguk, membuat keturunan Khun itu menegang.
"Di mana yang lainnya?" tanya Viole, tidak memedulikan sedikit pun nama yang disebutkan Ehwa. Begitulah Viole, teman-temannya selalu menjadi prioritas dalam keadaan apapun.
Ehwa menggeleng. "Aku tidak yakin," suara Ehwa gemetar memikirkan akibat terburuk jika peristiwa barusan memang karena ulahnya. "Tuan Akraptor dan Tuan Horyang, mereka di dalam sana... dan... terluka...."
Begitu mendengar ucapan Ehwa, tanpa membuang sedikit waktu pun Viole segera berdiri dan melangkah menuju ruangan itu. Namun Aguero menarik lengan pemuda bermanik keemasan itu, membuatnya menoleh. "Jika yang dikatakannya benar bahwa di sana ada ranker Urek Mazino, maka lebih baik kita menyerah dalam ujian ini," ucap Aguero.
Viole membelalak, berusaha mencerna kalimat yang baru didengarnya barusan. Beberapa saat kemudian pemuda itu menarik paksa lengannya dari Aguero. "Lalu bagaimana dengan Tuan Akraptor dan Tuan Horyang? Mereka terluka di sana."
"Viole, aku tahu kau kuat. Tapi bahkan dengan kekuatanmu, kau tidak mungkin mampu mengalahkan ranker yang bahkan bisa menggeser peringkat kepala Keluarga Agung terkuat di Menara," ucap Aguero meyakinkan. "Jika mereka ingin menaiki Menara, maka mereka harus bisa mengandalkan diri mereka sendiri di sana. Itulah hukum Menara, yang kuat yang bertahan."
Viole terdiam sejenak. Untuk pertama kalinya, sepasang manik keemasan itu menatap tajam ke arah pemuda berambut biru yang ia bawa ke tim ini. "Jadi maksudmu Tuan Aguero, kau menyuruhku membuang rekan-rekan timku?" tanya Viole penuh penekanan.
Aguero terdiam, tak habis pikir dengan kalimat yang dilontarkan Calon Pembunuh FUG itu.
"Dengarkan aku, Tuan Aguero," Viole kembali berucap. "Aku punya hal-hal yang lebih kutakutkan dari kematian. Aku memang adalah seorang FUG. Namun bintang, takhta, langit luas, aku tidak menginginkan semua itu.... Tapi, jika seseorang mencoba melukai mereka yang berharga bagiku, aku akan bertarung."