THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 33: Guru dan Murid (2)



"Lalu apa kau juga ingin mereka mati, Kiseia?"


Pertanyaan Calon Pembunuh FUG itu spontan membuat dahi Kiseia mengernyit. Kiseia tidak tahu dengan Jahad atau 9 Kepala Keluarga Agung lainnya. Namun Khun Eduan, ayah kandungnya, pria dingin dan tanpa belas kasih yang membuat seluruh cabang keluarganya hidup dalam penghinaan....


"Bagaimana keadaannya?" Langkah Kiseia refleks terhenti, pandangan yang semula menunduk mendongak. Pria tinggi berambut hitam itu masih berdiri di tempat yang sama dengan terakhir kali Kiseia bertemu dengannya.


Dengan segera Kiseia memperbaiki raut wajah, menyungging senyum sinis. "Kalau penasaran, kenapa anda tidak menemuinya sendiri? Sekarang dia sedang berlatih dengan boneka batu yang Hwaryun perbaiki."


Hampir saja puntung rokok di bibir pria itu terjatuh jika bukan karena refleks tangannya yang cepat. "'Perbaiki'? Kau tidak salah? Boneka itu hanya dapat dihancurkan dengan Wave Explosion," ucap Jinsung setelah memperbaiki letak rokoknya.


Dalam pertarungan, ada dua cara untuk menggunakan shinsu: memperkuat tubuh dengan shinsu, atau mengontrol aliran shinsu untuk menyerang. Wave Explosion adalah teknik terkuat dalam hal serangan. Teknik ini memungkinkan seseorang menghancurkan lawan dengan menggetarkan shinsu dalam diri musuh hingga meledak. Namun bersamaan dengan kekuatan ledakannya yang dahsyat, pertahanan akan sedikit menurun karena syarat penggunaan teknik ini adalah menyentuh tubuh lawan.


Kiseia mengangkat bahu. "Agar lebih meyakinkan, bagaimana kalau anda melihatnya dengan mata kepala anda yang sudah tua itu sendiri?"


Jinsung berdecak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Kiseia, yang dengan segera mengundang senyum lebar tercetak di bibir gadis di hadapannya. Bola mata hitam pria itu beralih menatap telapak tangan kanannya yang kasar. Telapak tangan yang sama yang ia gunakan untuk menyerang Viole dengan Wave Explosion—atas permintaan Viole sendiri agar ia bisa mempelajari teknik ini secepat mungkin.


Tanpa membuang waktu lagi, pria keturunan Ha itu segera melangkah cepat ke arah Kiseia datang. Gadis itu menatap punggung dengan kemeja hitam yang menjauh, tertawa renyah. Kiseia menerka, pria tua itu pasti salah menilai kemampuan Jue Viole Grace selama ini, menganggapnya hanya bocah lemah biasa—sama seperti dirinya sendiri saat di Lantai Ujian.


Kiseia menghela. Yah, setelah ini pria tua itu pasti akan lebih sungguh-sungguh melatih Viole untuk menjadi seorang "dewa".


"Khun Kiseia, setelah melihatmu secara langsung, ternyata kau lebih cantik dari bayanganku." Kiseia menoleh ke depan. Seorang wanita berambut hitam diikat satu dengan beberapa helai rambut dibiarkan tergerai di belakang telinga. Manik hitam wanita itu menyipit seiring senyum yang terukir di wajah.


Kiseia memperhatikan wanita itu dari bawah hingga atas. Dari jas putihnya, Kiseia menebak wanita itu salah satu ilmuwan Workshop—yang kabarnya bekerja sama dengan FUG dalam sebuah eksperimen.


Setelah puas memerhatikan, gadis berambut biru itu melangkah melewati wanita itu dari samping. Sifat khas keturunan Keluarga Khun, mengabaikan orang yang mereka anggap "tidak penting".


"Tunggu," satu kata yang meluncur dari bibir wanita itu tidak mempan untuk membuat gadis berambut biru itu berhenti, terus melangkah hingga berjarak 1 meter di belakang wanita itu. "Aku... memiliki sesuatu yang mungkin akan membuatmu tertarik, wahai adik dari Light Bearer Maut."


Kali ini Kiseia berhenti, melirik sekilas ke belakang. Wanita itu tersenyum, kemudian berbalik dan memperkenalkan dirinya sebagai Sophia Amae. Bibir wanita itu terus bergerak, kata demi kata meluncur bak air mengalir. Kata demi kata yang mampu 'memengaruhi' seorang keturunan Khun yang mengalami "penghapusan keluarga" dari kediamannya.


***


Jinsung tidak ingat sejak kapan itu terjadi. Sejak kapan seorang anak perempuan penurut, berubah menjadi gadis pembangkang. Tiba-tiba saja gadis berambut biru itu menentang segala ucapannya, berteriak, bahkan selalu bersilangan pendapat dengannya dalam segala hal—bahkan hal remeh sekali pun. Padahal pada awal kedatangannya ke FUG pun, gadis itu masih sama dengan anak perempuan di ingatan Jinsung. Anak perempuan pendiam, penurut, pintar, dan lincah. Suaranya yang kadang datar dan kadang penuh kesinisan pun masih sama.


Jinsung menghela begitu suara sepasang langkah terdengar, mengangkat pandangannya yang semula menunduk. Pemilik langkah itu berhenti tepat di hadapannya, menatap Jinsung kesal.


"Lama tidak bertemu, kau kelihatan lebih sehat dari perkiraanku," ucap Jinsung dengan kedua sudut bibir terangkat, "Kiseia."


Gadis yang kini tingginya mencapai leher Jinsung tidak membalas. Sepasang iris birunya masih menatap orang yang pernah ia panggil "guru" tajam, membuat pria itu tertawa kikuk. Jinsung menyodorkan sesuatu yang sejak tadi berada dalam genggamannya, "Ambillah. Orang itu sangat suka permata. Dia tidak akan begitu kesal jika kau memberinya ini."


Seketika Kiseia mematung. Bola mata birunya memantulkan bayangan seekor makhluk kecil yang sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Kulitnya berwarna merah muda dan berkaki empat, tak henti meronta-ronta dalam genggaman Jinsung. Namun yang paling menarik perhatian Kiseia adalah bunga yang mekar di punggung makhluk itu. Bunga dengan permata biru di tengahnya. Bayi zigena!


Ah. Kiseia menggigit bibir. Sekarang gadis itu paham. Semua yang terjadi di dalam tubuh paus zigena, termasuk alasan diberikannya misi menyusup ke ujian Lantai 21 kepada timnya, adalah rencana pria tua sialan ini dalam menempatkan kakak sepupunya di sisi murid kesayangannya.


Tawa sinis meluncur dari bibir gadis itu. Sepasang manik birunya melempar tatapan kian tajam, membuat Jinsung merinding. Sekali lagi mengingatkan pria itu bahwa gadis yang berdiri di hadapannya benar-benar adalah seorang keturunan Khun.


"Apa kau benar-benar berpikir 'pembunuh' yang mengkhianati kakak kandung dan keluarganya sendiri, akan berdiri di sisi muridmu apa pun yang terjadi?" tanya Kiseia sinis. "'Pembunuh' itu hanya peduli pada dirinya sendiri. Selama mendapat keuntungan, dia tidak akan ragu untuk..."


"Aku tahu," ucap Jinsung datar, menatap Kiseia yang tersentak, "dan aku tidak punya keraguan pada semua yang kau katakan."


"Kalau begitu..."


Ucapan terakhir Jinsung refleks membuat kedua tangan Kiseia mengepal. Seketika bekas luka yang sudah lama mengering di bahu kanannya seolah kembali memanas.


Tangan pria tua yang berniat menenangkan "muridnya" tanpa sadar terarah ke bahu kiri sang gadis, sebelum kemudian lebih dulu ditepis dengan kasarnya. Kiseia tidak mengatakan apa-apa, menatap Jinsung tajam dalam diam. Sorot matanya lebih dari cukup untuk menyampaikan 'jangan sentuh aku' pada pria tua itu.


Tangan yang tertepis itu masih diam di udara, mengepal menahan kecewa dari sang pemilik. Beberapa saat kemudian Jinsung merasakan kehadiran seseorang di bekakangnya. Sosok yang sama yang membuat Kiseia membelalak, mengambil bayi zigena dari tangannya dengan terburu-buru, dan segera melewati Jinsung begitu saja dari samping.


Pria keturunan Ha itu menghela, mengambil sepuntung rokok di sakunya. "Tidakkah menurutmu 'orang itu' membawa pengaruh buruk untuknya," Jinsung menoleh ke belakang, "Karaka?"


***


"Sepertinya kau sudah bekerja keras, peringkatmu pun telah banyak naik, kan?" Jinsung berucap sambil beranjak duduk di sebuah tong besi yang telah lama tak terpakai, menatap pemuda dalam balutan pelindung baja itu. "Selamat, ya."


"Ucapan itu masih terlalu awal untuk saya," balas Karaka cepat, menatap kedua telapak tangannya yang mengepal. "Posisi yang ingin saya raih masih jauh di atas," tambahnya.


Jinsung tersenyum, tidak menyangkal, "Yah... itu memang benar...."


Untuk beberapa saat, lorong gelap panjang bercat merah tempat kedua laki-laki itu berada diselimuti keheningan. Sepasang manik hitam itu masih memperhatikan manik keemasan yang setia menatap ke bawah. Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan kedua orang itu pada satu sama lain, banyak malah. Namun, salah satu dari mereka perlu memantapkan pikiran untuk menghadapi percakapan beberapa menit ke depan.


"Guru, saya merasa apa yang kita impikan akan segera terwujud," ucap Karaka tiba-tiba, menatap Jinsung penuh keyakinan. "Kita akhirnya memiliki senjata untuk membunuh Jahad.., tapi kenapa anda ragu? Kenapa anda tidak membunuh mereka yang sekarang bersama Viole dan membentuk tim yang bisa kita percaya untuk mengawasinya?"


"Karaka, aku sudah bilang untuk menyerahkan masalah anak itu kepadaku, kan? Atau jangan-jangan kau tidak percaya kepadaku?" balas Jinsung tanpa berkedip. Tentu Jinsung tahu apa yang kini muridnya itu khawatirkan. Bagi FUG, Viole bagaikan bom berledakan dahsyat yang harus sebisa mungkin dikekang untuk selalu menuruti perintah mereka. Membiarkan anak itu bebas sedikit saja sudah cukup untuk membuat para tetua FUG berteriak bak kerasukan.


Dan berkat itu, Jinsung yang selama ini melindungi Viole dan memberinya kebebasan pasti terkena imbasnya.


"Bukan begitu, Guru," jawab Karaka sedikit menunduk dan merendahkan volume suara. "Saya hanya... khawatir para tetua mulai meragukan anda. Mulai tersebar rumor bahwa akan mengacaukan semua rencana kita karena kasih anda kepada Calon Pembunuh itu."


Mendengar itu, Jinsung tertawa renyah. "Dasar tua bangka.... Beraninya mereka meragukanku?" ucap Jinsung penuh penenakan. Beberapa saat kemudian, helaan meluncur dari bibir kering pria keturunan Ha itu, menatap sang murid yang masih berdiri tegap di hadapannya. "Aku mengkhianati keluargaku demi FUG. Sejak hari itu, aku menghabiskan malam demi malam di tempat ini demi menunggu saat yang tepat. Untuk apa aku menghancurkan itu hanya demi perasaan remeh seperti 'kasih'?"


Sekali lagi Jinsung tertawa sinis. "Dengarkan aku, Karaka," pria dengan sepuntung rokok di salah satu tangannya itu mengepalkan tangan. "Banyaknya teman yang dimiliki Viole berarti... banyaknya tawanan yang dapat kita gunakan untuk mengancamnya di masa depan." Jinsung mendengus, menyesap rokok yang sejak tadi masih menyala. "Beri tahu itu pada para tetua dan Pembunuh."


Pemuda bermanik keemasan itu terdiam beberapa saat. Bohong kalau dibilang dirinya sendiri sama sekali tidak percaya pada rumor itu. Selama beberapa waktu belakangan, dengan mata dan telinganya sendiri, Karaka tahu bahwa sang guru sangat melindungi Jue Viole Grace dan seolah enggan memperlakukannya seperti alat. Namun...


Karaka menghela, kemudian menunduk memberi hormat. "Baik, saya mengerti, Guru."


...rasa hormat pemuda itu kepada Jinsung lebih besar daripada kecurigaannya. Di dunia ini, tidak ada yang lebih ia hormati lebih daripada sang guru. Jika Jinsung berkata demikian, maka untuk sekarang dirinya akan percaya dan menuruti perkataan pria itu.


***


"Kau suka hadiahnya, Karaka? Mungkin akan terasa sedikit berbeda, tapi lama-lama kau akan terbiasa," ucap pria dengan rokok di bibirnya.


Pemuda yang berlutut di hadapannya itu mengangguk, menunduk dalam-dalam. "Iya Guru. Terima kasih sudah memberi saya hadiah pelindung baja yang luar biasa. Saya akan memakai pelindung ini untuk mewujudkan ambisi kita."


Mendengar ucapan pemuda itu, raut wajah Jinsung melunak. "Aku tidak memberimu hadiah ini untuk balas dendam," tangan pria itu beralih memegang pipi dalam lapisan pelindung baja itu, membuat Karaka muda refleks mendongak, "tapi untuk bertahan hidup."


Sepasang bola mata keemasan itu membulat, dapat menangkap kehangatan yang dipancarkan sang guru kala itu. "Kau diangkat menjadi Pembunuh FUG di usia yang sangat muda, musuhmu pasti akan semakin banyak. Pelindung itu akan melindungi hidupmu."


Pria tua berambut hitam itu beralih mengusap kepala Karaka yang berada dalam lapisan pelindung baja, membuat pemuda itu mengerjap. "Karena itu, jangan kehilangan nyawamu karena ambisi atau balas dendam. Apa pun yang terjadi, kau harus bertahan hidup."


"Kau bisa bertahan hidup, itu adalah ambisiku, Karaka."