![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
"Aduh...."
Di suatu tempat yang hanya dipenuhi kegelapan kekal, terdengar gema rintihan seorang anak perempuan. Dingin yang begitu menyengat kulit membuat anak perempuan yang baru membuka mata itu menggigil. Perlahan, meski seluruh tubuhnya terasa kaku, anak perempuan itu beranjak duduk.
Di mana ini? Miseng membatin, matanya berusaha keras menembus kegelapan di sekitar. Namun meski lima menit berlalu, kedua mata bundarnya tetap hanya menangkap kegelapan yang seolah di mana pun dirinya berada dipenuhi cat hitam pekat—jika benar maka itu menjelaskan mengapa tempat itu begitu dingin dan dadanya yang sedikit sesak.
Miseng menunduk. Meski tidak dapat melihat jelas, tapi kedua pergelangan tangannya seolah terantai oleh sesuatu yang menyengat dan hangat. Miseng mencoba menarik kedua tangannya menjauh dari satu sama lain, tapi percuma, seolah ada kawat baja yang menahan kedua tangannya sama sekali tidak menurut.
Dengusan meluncur dari bibir anak perempuan itu. Fakta bahwa dirinya tidak bisa apa-apa saat ini mengingatkan bahwa anak itu benar-benar sendirian sekarang. Ah... seandainya ada Goseng....
"Dia sudah sadar."
Suara datar yang tiba-tiba bergema membuat Miseng tersentak. Kepala anak itu menoleh ke sekitar cepat. Namun lagi, tidak mendapati apa pun selain kegelapan.
"Kalau begitu, kau pergilah sana."
Suara itu lagi! Namun kali ini seperti suara yang berbeda. Seperti suara dua orang yang sedang berbicara.
Miseng menegup ludah, tampaknya dapat menebak asal suara barusan. Kepala dengan bibir yang gemetar itu perlahan mendongak. Anak perempuan yang mengenakan kaos merah muda dan celana pendek itu dapat merasakan jantungnya yang berdegup cepat, refleks mengepalkan tangan. Beberapa detik kemudian, ketika sempurna kepalanya mengarah ke atas, Miseng membuka mata.
Jantung yang semula berdegup cepat, seketika seolah hendak berhenti. Anak itu dapat merasakan peluh dingin yang mengalir deras seiring bola matanya yang gemetar. Meski tempat ini begitu gelap hingga dirinya tidak dapat melihat apa pun, tapi entah kenapa, pahatan raksasa di langit-langit itu terlihat begitu jelas. Pahatan berbentuk sepasang mata merah dengan sebuah mata lagi di antara mereka. Tiga buah mata merah yang seolah hidup dan berniat menguliti dirinya dengan sekali pandang.
Simbol satu-satunya Raja Menara, simbol Jahad.
***
"Ha?" spontan anak lelaki itu sambil mengangkat sudut kanan bibir. "Aku tidak salah dengar? Kau? Menyuruhku pergi?" ucap anak itu dengan angkuhnya. "Kau memerintahku?"
"Kenapa tidak?" Anna membalas tidak kalah angkuh, menatap Ran tanpa gentar sedikit pun. Melihat tingkahnya, Ran tertawa sinis. "Haruskah aku memasukkanmu juga ke dalam sana?"
Kerutan terbentuk di dahi anak perempuan berambut keperakan, melirik lukisan berbingkai emas yang terpajang di meja kecil di sebelahnya dengan sudut mata. "Coba saja kalau kau berani."
"Kau pikir aku takut?"
"Tidak, tentu tidak," Anna menggeleng menanggapi Ran yang mulai terbawa emosi, "makanya aku bilang coba saja kan? Tapi kalau kau berani, tentunya," ujar gadis keturunan Arie itu sambil menyungging senyum. Meski berkata demikian, Anna-lah yang paling tahu Ran tidak akan melakukannya. Meski tidak dikatakan secara langsung, tapi terlihat jelas anak itu begitu menyukai Vicente sebagai teman—entah karena sifat kakaknya yang sedikit menyebalkan atau memang takdir. Jadi, kecuali Ran sudah kehilangan akal sehat dan membuat Vicente memusuhi dirinya, anak itu tidak akan berbuat macam-macam pada Anna yang adalah adik dari Vicente.
Sudut kanan bibir Anna terangkat. Lihatlah kepalan yang kini terbentuk di tangan kanannya—lebih dari cukup menunjukkan seberapa kesal anak keturunan Khun itu. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Ran berjalan melewati Anna dan melewati pintu kayu yang berada tak jauh dari sana.
Brak! Anna mengerjap seiring suara bantingan pintu terdengar, kemudian menghela dan merapikan helaian rambutnya ke belakang telinga. Pandangan sepasang manik keperakan itu kembali beralih pada lukisan berbingkai emas di sebelahnya. Lukisan yang sekilas menggambarkan pemandangan seorang pria berjubah merah yang berdiri di pinggir jurang di bawah langit malam dipenuhi bintang-bintang.
Anna melempar sebuah bungkusan snack yang sejak tadi ia bawa. Bungkusan snack berwarna hijau itu terus melayang, hingga kemudian menembus masuk ke dalam lukisan itu. Anna melempar lagi sebotol minuman mineral. Dengan cara yang sama, botol itu menembus masuk ke dalam lukisan. Sekali lagi anak itu menatap datar lukisan di hadapannya dalam diam.
"Ini adalah Menara, tempat kejam di mana yang kuatlah yang bertahan. 'Lemah' bukan alasan lawanmu akan bersimpati dan menuruti keinginanmu secara cuma-cuma," ucap Anna tiba-tiba, masih menatap lukisan itu. "Kalau kau sadar kau lemah, lebih baik kau kembali ke tempat asalmu daripada menjadi pengganggu untuk yang lain."
"Aku tahu kau bisa mendengarku," ucap Anna untuk terakhir kali, melirik lukisan itu sekilas, kemudian berjalan menjauh.
***
Campur tangan Urek Mazino dan penyusupan lima keturunan Keluarga Agung membawa kekacauan besar dalam ujian Lantai 21. Namun karena Urek bersedia memberikan bayi zigena lainnya yang ia temui dalam perjalanan 'penyelamatan dua orang regular' pada Tim Asam Manis, mereka pun dapat lulus ujian. Namun secara misterius pada hari yang sama, seluruh lighthouse di Menara mendapat informasi rahasia mengenai bayi zigena di Lantai 21, bahwa Keluarga Yeon yang adalah penguasa Lantai 21 memonopoli bayi zigena di sana agar permata zigena menjadi langka dan harganya tetap naik. Hal tersebut tentu berdampak besar pada reputasi Keluarga Yeon.
Langkah sepasang sepatu kulit hitam yang menaiki tangga terus terdengar. Pandangan pemuda keturunan Khun itu menerawang kembali ke beberapa jam yang lalu. Ketika si Pendekar Pedang Angkuh—kali ini ditemani rekannya—menyerahkan benda yang diminta Aguero.
Dalam kegelapan terdalam, harta berharga yang menjadi incaran keserakahan berada.
Dalam kegelapan tak berdasar, pernak-pernik permata tumbuh dengan liarnya.
Petunjuk yang diberikan Aguero benar-benar sangat mudah untuk diterjemahkan—tentu saja, pemuda itu tidak ingin budak-nya tersesat dan membawa benda yang salah.
"Kegelapan terdalam" dan "kegelapan tak berdasar" berarti tempat yang gelap.
"Harta berharga yang menjadi incaran keserakahan" dan "pernak-pernik permata" berarti permata berharga yang diincar banyak orang.
"Seminggu" merujuk pada hari dimana beberapa hewan buas di Menara menjadi sedikit jinak pada tahun ini, yang mana jika digabung dengan "tempat gelap" sebelumnya jadi dapat berarti di dalam gelapnya di dalam tubuh hewan buas.
Kemudian ada "harta milik salah satu Keluarga Agung".
Jika disatukan, petunjuk itu bermakna "bawakan padaku permata berharga yang tersimpan dalam tubuh seekor hewan buas, harta milik salah satu Keluarga Agung". Hewan buas yang menyimpan permata di Menara ini hanya satu, paus zigena, dan permatanya sudah pasti merujuk pada permata zigena, yang adalah harta Keluarga Yeon—penguasa Lantai 21.
Sebagai balasan dan sesuai janji untuk bayi zigena itu, Aguero memberi informasi yang mereka minta, yakni mengenai segala hal tentang Vicente yang bisa Aguero dapatkan dalam bentuk USB. Meski tentu saja, Aguero tidak menyangka mereka membukanya langsung dengan sebuah lighthouse ungu, tepat di depan mata Aguero, untuk memastikan kelengkapan informasi tersebut.
Aguero tertawa kecil. Dirinya masih ingat jelas wajah bodoh kedua orang itu—si Pendekar Pedang Angkuh dengan tahi lalat di bawah mata kirinya, dan pemuda cokelat aneh yang mengenakan setelah olahraga—ketika melihat betapa panjang informasi yang tertera di sana. Ya, terutama si scout itu.
"Siapa ya namanya?" Aguero bergumam. Shiliu? Sibusi? Ah, Aguero mendaratkan tinju di telapak tangannya, "Shibisu." Ya, Aguero ingat, Shibisu. Menurut pengamatan Aguero, pasti pemuda itu jugalah 'rekan' yang Aguero harap temui ketika pertama kali bertemu Hatz.
Namun sayangnya, pertemuan mereka tidak berakhir di sana. Tepat sebelum Aguero hendak berbalik dan pergi ke pertemuannya dengan si pria tua sialan, pemuda berambut cokelat pendek itu berseru, "Apa informasi terakhir yang kau berikan ini benar?"
Saat itu Aguero hanya merespon dengan mengangkat bahu dan pergi. Dirinya sama sekali tidak berniat memperjelas apa yang sudah jelas. Maksudnya, si scout itu pikir siapa itu Khun Aguero Agnes ini, yang sampai perlu ditanyakan kebenaran informasinya. Untuk apa mereka membayar kalau tidak percaya?
Langkah Aguero berbelok mengikuti alur anak tangga besi yang menuntunnya. Kali ini Aguero teringat akan pertemuan keduanya dengan si tua sialan itu di ruang karaoke, ketika pria itu memancingnya menggunakan nama Kiseia. Saat itu, dirinya benar-benar terbawa emosi. Pertemuan itu diakhiri dengan Jinsung yang membuat permintaan agar membawakannya bunga zigena dengan tenggat kemarin—tentu dengan imbalan. Namun Aguero tahu bahwa itu hanyalah alasan untuk memberi Aguero waktu membuat keputusan, makanya Aguero menerimanya.
Setelah transaksinya dengan Hatz dan Shibisu selesai, Aguero langsung berteleportasi ke tempat transaksinya dengan Jinsung dengan lighthouse. Namun tanpa disangka dan seolah dikejar-kear sesuatu, pria keturunan Ha itu langsung merebut bayi zigena dari tangan Aguero begitu ia tiba dan mentransfer sejumlah poin ke pocket-nya. Sambil berlari pria itu berseru agar Aguero menemuinya lagi di atap sehari setelah kejadian itu—yang berarti sekarang.
Aguero hanya dapat menggeleng, terus melangkah hingga tiba di anak tangga terakhir dan mendorong pintu besi di hadapannya. Terik mentari yang menyambut membuat netra Aguero menyipit. Beberapa detik kemudian setelah pandangannya kembali jernih, Aguero dapat menangkap kehadiran punggung tinggi tegap dalam balutan kemeja hitam yang berdiri di dekat pembatas sisi atap. Pria itu—dengan rokok yang seperti biasa di bibir—menoleh begitu jarak Aguero dan dirinya tersisa beberapa langkah.
Aguero berdiri beberapa langkah di sebelah pria itu, ikut menumpukan lengan pada pembatas, dan menatap pemandangan yang dari tadi dilihat pria tua sialan itu. Di bawah sana dalam radius beberapa meter, sama seperti minggu lalu, orang-orang tak hentinya mondar-mandir dan membuat tempat ini selalu ramai. Para pedagang yang berusaha mempromosikan dagangan mereka. Juga beberapa keributan kecil seperti pertengakaran sepele di beberapa titik.
Rupanya pemandangan yang membosankan, pikir Aguero.
"Nah Anak Keluarga Khun," Aguero tidak menoleh, tapi tetap mendengarkan tiap kata yang meluncur dari bibir pria keturunan Ha itu, "karena kau sudah di sini, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan mengenai 'bisnis' waktu itu?"
Aguero menghela. Sepasang iris birunya menatap Jinsung malas. "Kau sudah tahu apa yang mau kukatakan kan?"
Jinsung tersenyum, mengangkat bahu. "Akan lebih baik jika mendengarnya dari mulutmu sendiri, Anak dari Keluarga Khun."
Dengusan yang meluncur dari bibir Aguero bertambah berat karena kalimat pria sialan itu. Bagaimana tidak, pria ini sudah merancang sedemikian rupa agar Aguero setuju dengan permintaannya. Kehadiran Kiseia dalam ujian kemarin juga pastilah rencananya.
Kiseia adalah seorang FUG, dan dari gelagatnya pria ini pun adalah salah satu orang berpengaruh di FUG. Mudah baginya untuk mengatur agar Kiseia diberi misi menyusup ke ujian Lantai 21 dengan alasan apa pun yang masuk akal. Untuk tujuan, Aguero menerka ada beberapa. Salah satunya adalah membuktikan bahwa pria tua sialan itu tidak berbohong dengan ucapannya, bahwa Kiseia benar-benar bergabung dengan 'kelompok misterius dengan dua—yang faktanya seluruh anggotanya—keturunan Keluarga Agung yang merencanakan pemberontakan terhadap 10 Keluarga Agung'.
Aguero tertawa sinis mengingatnya. "Pemberontakan terhadap 10 Keluarga Agung", tentu saja karena mereka adalah bagian dari FUG. Meski mungkin variabel yang tidak pria itu duga adalah Aguero telah bertemu lagi dengan Kiseia—dan Ran—sebelum ujian itu.
Alasan berikutnya, tentu secara tidak langsung menarik Aguero agar setuju menerima tawarannya. Seperti kata pria tua sialan itu, si Calon Pembunuh FUG memang tidak biasa. Sepanjang Aguero menaiki Menara, belum pernah sebelumnya ia temui orang yang secara sukarela berjalan menuju maut dengan kedua kakinya sendiri demi orang lain—tak peduli sekuat apa pun ikatan tim itu.
Namun jika benar demikian, pada pertemuan pertama mereka pria tua sialan itu hanya berpura-pura berniat meminta informasi agar Aguero meladeninya. Tujuannya ber-'bisnis' dengan Aguero adalah sesuatu yang lain.
Namun terlepas dari semua alasan itu, hal yang paling menganggu Aguero adalah "janji" yang waktu itu ia ucapkan. Apa janji itu hanya spontan agar Viole cepat menuruti perkataannya? Entahlah, Aguero pun tidak yakin. Tapi biasanya ia bukanlah pribadi yang dengan gampangnya menjanjikan sesuatu, baik sungguh-sungguh maupun bualan semata. Apalagi ketika mengingat sepasang mata keemasan milik si Calon Pembunuh.
"Pertama, yang kau inginkan dariku bukanlah informasi, tapi agar aku tetap berada di sisi murid kesayanganmu itu kan?" ucap Aguero akhirnya.
Jinsung tergelak, mengapit rokok yang masih menyala dengan jari telunjuk dan tengah. "Benar, meski penasaran kau tahu dari mana, untuk sekarang aku tidak akan bertanya." Jinsung melirik sepasang iris biru yang mengarah padanya. "Jadi, jawabanmu?"