THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 11: 'Bisnis' Antara FUG dan Light Bearer Maut



 “Kau mau bernyanyi lebih dulu, anak dari Keluarga Khun?” Jinsung menyesap sepuntung rokok dari sakunya. Merokok di dalam ruangan sempit seperti ini tentu menyebalkan, terutama bagi Aguero.


Bukannya mengajak ke ruang terbuka jika ingin merokok, pria ini malah mengajak ke salah satu ruang karaoke yang hanya sebesar 3x4 meter. Lampu disko warna-warni temaram yang menerangi ruangan pun membuat Aguero sedikit pusing. Kedua laki-laki itu duduk di sofa panjang dengan sebuah meja kecil di depannya. Terdapat dua mikrofon yang berjejer rapi di atas meja itu. Layar TV yang biasa digunakan untuk karaoke itu menampilkan lirik lagu, diiringi musik yang lumayan keras dari speaker.


Suasananya dibuat seolah kedua pria itu memang berniat untuk bernyanyi.


Aguero tersenyum—kesal. “Sebenarnya aku sangat ingin bernyanyi, tapi aku lebih penasaran dengan suara Tuan. Dengan wajah dan asal keluarga Tuan, aku yakin suara Tuan pasti lebih bagus dariku.” Aguero berusaha menutupi rasa jijik dan ingin muntahnya dalam hati dengan senyuman dan sikap ramahnya yang menyodorkan salah satu mikrofon untuk Jinsung.


Jinsung yang melihat tingkah anak kurang ajar dari Keluarga Khun itu tertawa sinis. “Benarkah? Kau terlalu memujiku, anak dari Keluarga Khun. Suara pria tua ini tidak sebagus yang kau kira. Tapi baiklah kalau kau sebegitu ingin mendengarnya,” Jinsung menjawab sambil menggaruk bagian belakang kepala. Pria berambut pendek urakan itu pun menekan sudut rokok pada asbak di bagian bawah meja.


Jinsung menerima mikrofon yang disodorkan Aguero. Guru dari Calon Pembunuh FUG itu berdeham, kemudian bibir keringnya mulai mengeluarkan nada-nada ‘indah’ sesuai kata yang tertera di layar, “Seratus tahun kujajah tanah luas ini.., tak pernah... berjumpah denganmu. Seratus tahun kumemohon, kau lebih… memilih… untuk bersamanya daripadaku…! Wahai Bidadari.., telah kuberi segalanya untukmu. Tapi… mengapa kau memperlakukan aku begini...?”


Nyanyian ‘indah’ bak piano bernada rendah dimainkan oleh bayi berusia 5 bulan itu membuat Aguero membeku di tempat dengan senyum dan gendang telinga yang hampir pecah. Dalam hati Aguero hanya berharap orang yang mereka targetkan cepat bergerak atau bisa-bisa dirinya mati keracunan suara pria tua ini!


Tak perlu menunggu lama, tampak sebuah siluet yang berlari melewati pintu kaca. Begitu siluet itu telah sepenuhnya melintas, guru dari Calon Pembunuh FUG itu berhenti bernyanyi. Aguero menghela napas lega.


“Bagaimana? Bagus kan?” ucap Jinsung dengan senyum menyebalkannya.


“Ya, cukup bagus untuk mengusir ‘lalat’,” balas Aguero tajam sambil mengukir senyum.


Jinsung mendecih. “Apa kau tahu siapa dia? Kalau tidak salah dia rekan tim Viole.”


Aguero mengempas punggung ke belakang. Meski tidak melihat wajahnya, tapi dari warna rambut, postur tubuh, dan pakaian, Aguero dapat menebak siapa yang dari tadi mengikuti mereka. “Dia ‘keturunan langsung’ Keluarga Yeon, Ehwa Yeon,” jawabnya malas—tentu saja, pria ini dari FUG, untuk apa bertanya lagi.


Jinsung ber-hmm paham. “Sepertinya sekarang para Keluarga Agung mengajarkan keturunan mereka berlaku tidak sopan, atau mungkin aku saja yang sial bertemu 2 anak Keluarga Agung yang kurang ajar,” gumamnya. “Ditambah sama-sama ‘keturunan langsung’.”


Aguero yang tentu saja mendengar gumaman itu hanya tertawa sinis. “Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga keturunan Keluarga Ha? Jinsung Ha?”


Pria bermanik hitam itu berdecak, kembali mengambil puntung rokok dan pemantik dari sakunya. “Jaga bicaramu, aku ini lebih tua darimu tahu!” ucapnya kesal, kemudian menyalakan rokoknya.


Dalam sekejap, bau asap rokok segera memenuhi ruangan 3x4 meter itu.


“Sebagai anak dari Keluarga Khun, apa kau tidak tahu kalau semua orang dari Keluarga Ha memang tidak sopan?” balas Jinsung santai sambil menyesap rokoknya.


Musik karaoke masih berkumandang, membuat siapa pun tidak dapat mendengar pembicaraan mereka dari luar.


“Kenapa dari kemarin kau selalu memanggilku ‘anak dari Keluarga Khun’?” tanya Aguero akhirnya. Bukannya tidak suka, ia malah senang jika dipanggil dengan nama keluarganya. Namun tentu ia tidak bisa membiarkannya untuk Viole, karena itu akan membuat jarak di antara mereka.


Sedangkan pria ini… cukup menyebalkan.


Jinsung tersenyum miring. “Kenapa? Bukannya orang-orang congkak sepertimu senang dipanggil begitu kan?”


Aguero hanya diam menatap pria tua itu.


Jinsung tertawa renyah. “Rupanya kau tidak mengelak ya.”


Orang dari Keluarga Ha itu lagi-lagi mengangkat sudut kanan bibir. “Baiklah, tapi bukankah semua bergantung padamu? Kalau kau setuju, berarti kita sepakat. Kalau tidak, berarti kita selesai.”


“Selesai dalam artian kau membunuhku bukan?” tebak pemuda berambut biru itu santai, netranya yang bosan menatap lirik lagu di layar yang kini semakin ingin membuatnya muntah.


Dengan santainya Jinsung mengangguk dan bertepuk tangan ringan. “Seperti yang diharapkan dari keturunan Keluarga Khun! Kau memang pintar. Karena kau sudah mengerti, jadi bagaimana jawabanmu?”


“Pertama, apa kau yakin dapat membunuhku?” tanya Aguero sinis. Kedua manik birunya menyala tatkala merasa diremehkan.


Jinsung yang merasa terpancing ikut menjawab sinis, “Kenapa tidak? Begini-begini aku adalah guru Calon Pembunuh FUG. Membereskan satu yang sepertimu bukan masalah besar.”


Beberapa saat kedua pria itu saling menatap sinis, hingga akhirnya diakhiri dengan decakan Aguero. Tentu bukan karena ia mengaku kalah, melainkan kesal melihat wajah keriput dan rambut berantakan pria itu.


“Baiklah, aku akan memberi tahu yang sejak tadi ingin kau ketahui,” ucap Jinsung mengalah. Meski kesal dan enggan berurusan dengan keturunan dari Keluarga Agung, tapi untuk sekarang ia tidak boleh membuat anak dari Keluarga Khun ini marah atau tersinggung. Baik bagaimana pun, saat ini hanya pemuda ini yang dapat ia andalkan untuk berada di sisi Viole.


***


Beberapa tahun lalu, di sebuah tempat yang dipenuhi kegelapan di Menara, terdengar langkah seorang pria berambut kuning panjang yang diikat satu. Langkahnya berhenti tepat di depan seorang pemuda keras kepala yang duduk sambil memeluk kedua lutut. Meski hampir sekarat dan perut yang tidak diisi 3 hari, pemuda itu tidak juga memberi jawaban yang ia inginkan.


Mata kuningnya sedikit menyipit. Sungguh pemandangan yang mengenaskan.


“Kalau kau tetap seperti ini, aku tidak punya cara lain,” pria bernama Hansung Yu itu berucap dingin, melemparkan selembar kertas lusuh berisi daftar nama orang paling berharga bagi pemuda berambut cokelat itu.


Hansung mengambil jarak beberapa langkah dari pemuda itu. “Sebelum teman-temanmu meninggalkan lantai ini, aku memberi mereka cincin. Aku bilang itu sebagai kenang-kenangan, tapi sebenarnya itu alat pelacak. Aku bisa mengikuti mereka ke mana pun mereka pergi. Jadi kalau kau menolak menjadi ‘Pembunuh FUG’, aku akan membunuh mereka semua,” pria itu memberi jeda dalam ucapannya. “Haruskah kumulai dengan Rachel?”


Mendengar nama gadis yang paling berharga baginya disebut, pemuda berambut cokelat itu langsung berdiri. “Jangan!”


Hansung menatap datar pemuda yang kini napasnya tak beraturan. “Aku tak mengerti. Padahal kau sudah ditipu oleh gadis itu, tapi kau masih berusaha menyelamatkannya.”


“Kau… kaulah yang melakukan semua ini!” seru pemuda itu tak percaya.


Bukan, lebih tepatnya dirinya sendiri yang menolak pada kenyataan yang ada di depan mata.


Kerutan terbentuk di dahi pria itu. “Bukan. Gadis itu sendiri yang memutuskannya. Hanya ada satu alasan kenapa kau ada di sini dan kenapa teman-temanmu yang lainnya dalam bahaya, yaitu karena ini semua termasuk dalam rencananya untuk menaiki Menara,” jelas Hansung datar.


Mendengarnya, mata keemasan pemuda itu bergetar. “Rachel… kenapa…?”


“Bukankah sudah jelas? Dibanding dirimu, menaiki Menara lebih penting baginya.” Satu lagi kalimat yang menusuk hati pemuda itu bak pisau meluncur dengan santainya dari bibir Hansung. “Sudahlah, pokoknya mulai sekarang kami akan melatihmu menjadi Pembunuh FUG. Kalau kau menolak, kami akan membunuh semua teman-temanmu. Mari kita lihat, berapa dari mereka yang nantinya dapat bertahan, wahai ‘Tuan Jue Viole Grace’?”


Sesudah berucap demikian, pria berambut kuning panjang itu pergi, digantikan oleh seorang pria lainnya dengan keriput di wajah dan berambut hitam pendek, Jinsung Ha.


Sejak itu, Jinsung yang melatih Viole untuk menjadi Pembunuh FUG. Awalnya hanya itu niat pria tua yang memutuskan mengabdi pada FUG. Namun seiring waktu berlalu, ikatan guru-murid ini, sedikit demi sedikit, tumbuh di antara dua manusia yang menjalani hidup di bawah naungan organisasi yang diwaspadai Raja Menara.


Jinsung yang selalu melihat Viole bersedih dan tertekan, berharap kalau suatu hari anak didiknya itu dapat bahagia begitu keluar dari tempat menyeramkan ini. Meski nantinya ia menjadi pembunuh sekalipun, pria yang telah lama memutus hubungan dengan seluruh anggota Keluarga Ha itu tulus berharap akan kebahagian Jue Viole Grace.