THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 17: Kenapa Kau Terus Saja Membunuh Orang-Orang di Sekitarku?



Tali Tambang Arlene. Di samping namanya yang membingungkan bagi sebagian orang, relikui ini termasuk ke dalam relikui rank E. Konon katanya, relikui ini lahir setelah orang-orang mulai memercayai mitologi dibalik keberadaan Pena V. Orang-orang mulai mengutuk Arlene Grace sebagai wanita yang menyebabkan persahabatan 2 lelaki hancur dan menganggapnya sebagai wanita tamak yang menginginkan 2 lelaki sekaligus.


Tali tambang sebagai wujud usaha Arlene merayu 2 lelaki itu, dan warna keemasan yang adalah warna rambut Raja Jahad dan warna mata dirinya. Kemudian kemampuan yang membuat pengendali shinsu dalam jangkauan tali itu terluka tergantung seberapa besar kekuatan yang digunakan, adalah posisi V yang dikabarkan sebagai wave controller.


Tali itu bisa digunakan oleh siapa saja. Sungguh. Bahkan asal sedikit pintar dan kuat, orang yang baru menginjakkan kaki di Menara pun bisa membuat relikui itu tunduk mengingat rank-nya yang memang serendah itu.


Kalau benar demikian, kenapa seorang Light Bearer Maut, Khun Aguero Agnes yang 'itu' mau repot-repot membawanya?


Jawabannya... sederhana....


***


Untuk kesekian kalinya percikan listrik biru yang hendak meledak itu teredam, membuat cairan merah pekat kembali mengalir di antara sela-sela lilitan tali keemasan itu. Anak berambut biru itu meringis, menahan pedih di sekujur tubuh. Namun kata "menyerah" tidak akan pernah ada di kamusnya. Tali ini boleh saja dapat meredam kekuatannya sekarang. Tapi yang namanya senjata pasti memiliki batas, dan anak itu cukup menggunakan kekuatannya sampai tali itu hancur karena mencapai batas.


Itu niatnya. Namun anak itu sendiri tidak tahu apa tubuhnya dapat menanggungnya. Ran baru menggunakan teknik yang dikembangkan Khun Machenny Jahad sebanyak 2 kali, dan itu cukup menguras energinya.


"Kumohon hentikanlah, darahmu itu bau!" suara mirip anak kecil yang mengambek itu kembali terdengar, membuat pemuda berambut biru yang duduk bersender di dinding satunya tertawa renyah. "Tali itu bilang darahmu bau Ran, jadi berhentilah," ucapnya.


Jika bukan karena mulutnya yang juga dililit tali, mungkin anak yang tampak berusia 10 tahun itu akan mendecih sambil menatap kakak seayahnya tajam, kemudian berkata, 'Kalau begitu suruh tali sialan ini melepaskanku!'.


Menyadari itu sudut kanan bibir Aguero terangkat. Pemuda itu menjentikkan jari, membuat lilitan tali di dekat bibir anak itu turun. "Aku tanya sekali lagi, kenapa kau mencoba membunuhku? Seingatku terakhir kali hubungan kita tidak seburuk itu."


Ran menggigit bibir, menatap Aguero tajam. "Aku tidak butuh alasan untuk membunuhmu!" jawab Ran dengan kedua sudut bibir terangkat. "Lagipula ayolah, apa salahnya seorang Khun yang ingin membunuh Khun lainnya?"


Aguero mengernyit, dapat merasakan hawa dingin khas keturunan Khun yang menguar dari anak itu. Setiap kata yang meluncur dari bibir Ran benar adanya. Namun tetap saja, dari kekuatan dan tatapannya selama pertarungan, itu jelas bukan sekedar seorang Khun yang mengincar Khun lainnya. Melainkan lebih kepada... ada sesuatu dalam diri Aguero yang membuat anak itu sebegitu ingin membunuhnya.


Singkatnya, Ran bukan mau membunuhnya karena Aguero adalah Khun, melainkan karena Aguero adalah Aguero.


Sekali lagi pemuda berambut biru itu menghela. "Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini Ran," Aguero berucap datar, menatap dalam netra biru yang sama dengan miliknya itu, "tapi kau tidak memberiku pilihan."


Lakukan, batin Aguero, tapi sebenarnya pemuda itu tengah berkomunikasi dengan relikui miliknya. Mendengar perintah dari sang tuan yang sudah lama membiarkannya berdebu dalam senjata kubus itu, Tali Tambang Arlene dapat merasakan api di sepanjang tubuhnya membara. "*Siap Master*!"


Seketika lorong sempit itu dipenuhi oleh seruan tertahan dari bibir yang kembali dililit tali. Ran dapat merasakan seluruh seolah kulitnya terbakar. Netra anak itu membulat, berusaha menahan panas yang mengalir bersamaan dengan aliran darahnya ke seluruh tubuh.


Tali keemasan yang melilit tubuh keturunan muda berbakat Khun itu bercahaya, mengeratkan lilitannya pada anak itu. Semakin erat dan erat, hingga anak itu sendiri dapat merasakan paru-parunya seolah rusak.


Inilah jawabannya, kenapa seorang Light Bearer Maut yang dirumorkan, Khun Aguero Agnes bersedia repot-repot membawa relikui rank D ke mana-mana. Menurut mitologinya, Arlene ialah seorang wanita tamak yang mau tunduk pada siapa saja, karena itu relikui ini digolongkan sebagai rank D. Namun di balik wanita tamak itu, tersembunyi sosok kejam dan pendendam, juga bersedia melakukan apa saja pada orang yang benar-benar diakuinya. Demikianlah setelah bertahan selama 5 detik penuh 'siksaan', relikui itu bersedia menerima Aguero sebagai pemilik.


Pertanyaan berikutnya muncul: kenapa seorang Khun Aguero Agnes mau bersusah payah menaklukan relikui rank D?


Kali ini jawabannya benar-benar sederhana, yakni digunakan sebagai 'alat penyiksaan' pada pengguna shinsu mana pun, setidaknya selama orang itu belum mencapai tahap ranker. Menjadikannya mudah untuk memberi harapan palsu untuk hidup pada 'orang-orang tertentu'.


Anak berambut biru itu mengerjap erat, tubuhnya meronta menahan sakit. Cairan merah mengalir semakin deras di antara sela-sela tali itu. Seruan tertahan anak itu semakin keras hingga tenggorokannya terasa kering dan tercekat. Namun tatapan manik biru menyala itu tetap tajam, terarah pada pemuda yang adalah penyebab rasa sakit ini.


Semesta seolah kasihan pada anak dari Keluarga Khun itu, atau mungkin berusaha menebus utang beberapa menit lalu pada Aguero ketika menggunakan barrier-nya. Dalam lorong sepi nan sempit, jauh dari keramaian, kedua keturunan Khun itu dapat merasakan seseorang mendekat.


Sring! Aguero refleks melompat dari duduknya, menahan serangan pisau kecil yang terarah padanya dengan pisau yang sejak tadi berada dalam genggaman. Netra Aguero membola. Tenaga dan kesigapannya barusan seolah sirna untuk sesaat. "Kiseia?"


Brak. Gadis itu mendorong Aguero ke dinding, mencengkeram leher sambil mendekatkan belati di tangannya ke wajah pemuda itu. Dari jarak sedekat ini, Aguero dapat melihat jelas kebencian yang semakin mendalam seiring waktu berlalu pada wajah adik sepupunya. Bola mata gadis itu membola dan sudut bibirnya tertarik. Raut wajah yang sama yang sama gadis itu tunjukkan beberapa tahun lalu ketika pemakaman 'kecil' kakak kandung Aguero.


Kiseia mendecih, kemudian menatap adik seayahnya yang terlihat menderita dalam lilitan tali tambang keemasan di belakang sana. Sepasang manik biru itu menatap lemah ke arah mereka, menahan sengatan panas dari tali bercahaya itu.


"Apa tidak cukup hanya dengan kakak?" gumam gadis keturunan Khun itu tiba-tiba, gumaman yang dapat ditangkap jelas oleh telinga Aguero. Kiseia kembali menatap kakak sepupunya, semakin mengikis jarak antara belati di tangannya ke dada Aguero hingga tak tersisa. Gadis itu mengeratkan cengkeraman pada leher pemuda itu. "Kenapa kau terus saja membunuh orang-orang di sekitarku?" seru gadis itu, menyalurkan amarahnya dalam serangan yang tepat membidik jantung pemuda itu.