![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Rachel.
Satu nama yang lebih berharga dari apa pun. Bagi Viole, gadis berambut pirang itu adalah segalanya.
Dulu, entah untuk berapa tahun lamanya, dia pernah tinggal di sebuah gua bawah tanah. Pahatan alam yang tebal nan kokoh membuat secercah cahaya pun tak dapat masuk. Viole tidak tahu bagaimana ia dapat tiba di sana. Ia hanya tahu begitu matanya terbuka, ia ada di sana. Ia bahkan tidak tahu dari mana asal pakaian yang ia kenakan, sehelai pakaian putih yang membungkus tubuhnya itu ikut melar seiring dengan pertumbuhannya.
Dalam kegelapan itu, Viole hanya sendiri. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda makhluk dengan wujud yang sama seperti dirinya di sana. Hanya ada kegelapan dan kehampaan yang telah menjadi sahabat karibnya.
Di gua gelap itu, Viole selalu berbaring, menatap langit-langit keras. Ia sungguh penasaran apa yang ada di atas sana. Apakah sama saja dengan tempat tinggalnya, atau ada sesuatu yang lain di sana?
Setelah sekian lama, entah berapa hari, bulan, atau bahkan tahun yang ia habiskan dengan hanya menatap langit-langit keras itu, membayangkan kira-kira dunia seperti apa di atas sana, takdir seolah bersimpati kepadanya. Pernah satu kali, ketika berjalan menyusuri gua gelap itu, Viole mendapati tumpukan batu yang disusun tinggi, saking tingginya jika dipanjat mungkin dapat mencapai atas sana. Tanpa berpikir panjang, Viole pun tidak melewatkan kesempatan ini.
Satu batu.
Dua batu
Sepuluh batu.
Lima puluh batu.
Jemari kaki dan tangan Viole mulai sakit karena bergesekan dengan bebatuan itu, tapi Viole tidak menghiraukannya. Asal ia dapat tiba di atas, ia tidak peduli.
Srrkk. Anak dengan rambut panjang cokelat itu meringis. Baru setengah jalan, Viole tergelincir hingga seperempat dari tanah. Sakit. Kulitnya serasa terbakar. Namun tanpa mengeluh sedikit pun, kaki dan tangannya kembali bergerak.
Entah berapa jam berlalu, Viole berhasil menghapus jarak setengah dari langit-langit keras itu. Napasanya mulai terengah-engah. Laju kaki dan tangannya mulai melambat. Seluruh tenaga di tubuhnya terasa tersedot habis. Bagi anak laki-laki yang biasanya selalu berbaring atau berjalan menyusuri lorong, memanjat seperti ini terlalu menguras tenaga,
Srkk. Anak laki-laki itu kembali meringis. Setelah sekian lama, setelah berkali-kali tergelincir, bahkan ketika tangan dan kakinya sudah mati-matian menahan tajamnya bebetauan, dirinya kembali tergelincir hingga sepertiga dari tinggi tumpukan bebatuan ini. Air mata mulai mengalir di sudut mata Viole.
Namun takdir lagi-lagi seolah bersimpati kepadanya, seolah bersungguh-sungguh ingin menebus kesalahannya yang membiarkan Viole sendiri di gua gelap ini. Langit-langit keras, yang sebelumnya selalu seperti itu dan tidak pernah berubah, tiba-tiba runtuh, membentuk sebuah lubang besar. Seberkas cahaya terang masuk melaluinya, cahaya pertama yang dapat dilihat oleh Viole.
Silau. Viole sedikit menyipit, masih butuh waktu untuk memproses kejadian ini.
“Hei, apa ada orang?” terdengar suara lembut dari atas sana. Viole segera mendongak. Siluet makhluk lain yang tampak sama dengannya, manusia. “Ya ampun. Kau baik-baik saja? Tunggu, aku akan segera turun,” lanjutnya.
Bulir-bulir air mulai berjatuhan di pipinya. Viole memang tidak mengerti apa yang siluet itu katakan. Namun ia tahu, akhirnya, ia tidak sendiri.
Itulah pertemuan pertama Viole dengan Rachel, cahayanya.
Sejak saat itu, Rachel yang mengurus Viole, mengajarinya berbicara, menulis, membaca, bahkan memasak untuknya.
Bagi Viole, Rachel adalah dunianya. Ia tidak membutuhkan yang lain selain Rachel.
Namun bagi Rachel, tujuannya adalah melihat bintang ‘yang sesungguhnya’, yang hanya ada di puncak Menara. Dan untuk itu, ia siap melakukan dan mengorbankan apa pun.
Waktu yang mereka habiskan bersama terasa begitu menyenangkan seolah tiada pernah akan bertemu dengan yang namanya “akhir”, tapi mereka tidak sadar bahwa mimpi Rachellah yang menjadi ujung dari kebersamaan itu.
***
Pemuda itu ikut melipat tangannya pada balkon, melihat pemandangan malam yang sejak tadi ditatap Viole. Meski pemuda itu tahu Viole hanya melamun.
Bibir Viole keluh, hanya kepalanya yang bergerak naik dan turun. Ia masih sangat tidak percaya kalau Kiesia membohonginya. Padahal selama ini ia sangat baik dan cerdas. Baru beberapa hari lalu gadis itu mengatakan bahwa ia mengenal Rachel dan tahu tentang keberadaannya. Namun pada akhirnya itu hanyalah tipuan untuk menyerang mereka di saat lengah.
“Yah, tidak apa-apa. Kami akan selalu membantumu bertemu kembali dengan teman-teman lamamu,” ucap pemuda berambut keemasan itu menyemangati.
Viole berusaha mengukir sedikit senyum. “Terima kasih, Wangnan.”
Pemuda itu balas tersenyum. “Oh iya, kata Ehwa kau membawa Khun lainnya?” tanya Wangnan hati-hati.
Viole mengangguk lagi. “Dia hampir terluka karena aku, jadi aku membawanya untuk diobati.”
“Tapi kenapa dia juga menginap di sini?”
“Katanya dia diusir oleh timnya, dan dia juga terluka saat bertarung dengan mereka. Jadi aku membiarkannya tinggal sementara di sini,” jelas Viole polos.
Wangnan berusaha mengontrol ekspresinya di depan pemuda polos nan kuat ini. Semudah itukah dia percaya dengan pemuda dari keluarga Khun? Dia baru saja dibohongi oleh Kiseia, tapi masih memercayai orang dari keluarga Khun?
Selain tim (yang sebenarnya juga dapat berkhianat) tidak ada yang dapat dipercaya di Menara ini. “Yang kuat, cerdik, dan liciklah yang bertahan hidup. Jika lengah, maka kau akan dibunuh” setidaknya demikian
hukum tidak tertulis di Menara ini. Namun Viole dengan mudahnya mengizinkan anak dari Keluarga Khun yang terkenal akan kelicikannya tinggal di sini?
“Kau yakin dia tidak berbohong?”
Viole mengangkat bahu. “Entahlah, tapi yang jelas fakta dia hampir terluka karena aku tidak berubah, setidaknya aku harus meminta maaf dengan cara ini.”
Wangnan hanya dapat menghela napas pasrah. Meski polos, Viole adalah yang terkuat di antara mereka semua, dan tempat tinggal ini pun dibeli atas namanya jadi itu memang haknya menentukan siapa saja yang boleh tinggal di sini. Pemuda yang membangun tembok sekeras baja itu baru-baru ini bersikap hangat pada mereka, jadi ia tidak ingin membuatnya marah. Namun baik bagaimana pun, firasatnya tidak enak tentang pemuda dari keluarga Khun itu.
“Apa kau sebegitu percayanya pada Khun itu?” tanya Wangnan hati-hati.
Mata Viole sedikit membesar, tapi tubuhnya tetap diam bak patung, pandangannya masih setia pada pemandangan di depan. “Entahlah….”
“Makan malam sudah siap,” ucap Wangnan pasrah sambil membenarkan posisi berdirinya. Bertanya berapa kali pun pemuda ini jelas tidak akan memberi jawaban yang memuaskan.
Viole lagi-lagi mengangguk, tatapannya tidak beralih dari pemandangan di depan sana. Kini ia mendongak, menatap langit.
Mata Wangnan menyipit, entah kenapa susah sekali berbicara dengan pemuda itu. Yah, tapi mengingat insiden dengan Kiseia hari ini, mungkin Viole butuh waktu sendiri.
Akhirnya pemuda berambut keemasan itu pun memutuskan untuk melangkah lebih dulu.
“Khun Aguero Agnes.” Sosok pemuda berambut biru sebahu itu kembali muncul dalam pikiran Viole. Dilihat dari sikapnya yang tenang meski terluka, tentulah dia bukan orang biasa. Namun tetap saja, dirinya tidak dapat meninggalkan pemuda itu begitu saja.
Viole menghela napas, menegakkan punggung, berjalan masuk.
Ia hanya dapat berharap bahwa Khun yang itu berbeda dengan sepupunya.