THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 3: Bagaimana Kalau Kau Ikut Denganku?



“Kau menipuku, Kiseia!” seru pemuda berambut cokelat itu. Iris keemasannya menatap tajam.


Kiseia tertawa renyah. “Oh, ayolah. Tidak bisakah kau membiarkanku bereuni dengan sepupuku dulu?” ucapnya tanpa rasa bersalah.


Aguero diam, berusaha menganalisa situasi.


Jika ledakan barusan itu merupakan shinsu—mirip sihir tapi bukan, aliran kekuatan yang hanya ada di Menara—dari pemuda berambut cokelat itu, maka itu berarti ledakan-ledakan sebelumnya itu juga ulahnya. Namun kalau benar begitu, bukankah setidaknya ada luka pada Kiseia kalau kekuatannya sebesar itu? Kenapa malah pemuda itu yang terluka parah?


“Dia, sepupumu?” Pertanyaan dengan nada mendalam itu menyadarkan Aguero. Iris keemasan pemuda itu terlihat datar, tapi Aguero tahu betul itu dipenuhi amarah.


“Ya, sayangnya begitu. Meski aku sama sekali tidak mau mengakui pembunuh satu ini,” jawab Kiseia santai. Aguero hanya dapat diam mendengarnya.


Tidak, sama sekali tidak terbesit perasaan sedih atau kecewa. Lagipula sejak kejadian beberapa tahun lalu itu, Aguero juga sudah dapat menduganya. Namun yang membuat Aguero lebih penasaran, siapa pemuda ini?


Sebelum ada yang sadar, pemuda itu telah mengumpulkan energi shinsu tepat di telapak tangan kanannya. Bola shinsu berwarna biru itu semakin lama semakin besar, bercahaya, tingginya hampir setiggi lorong ini. Aguero dibuat terpukau olehnya. Mungkin selama berada di Menara, ini adalah bola shinsu terbesar yang pernah ia lihat.


“Wah, wah, kelihatannya kau sangat marah ya,” tiba-tiba gadis itu kembali berucap, sama sekali tidak terbesit kegentaran dalam perkataannya. “Kalau begitu kuserahkan dia padamu ya, Kakak.” Kiseia tersenyum terakhir kali kepada kakak sepupunya itu, yang tentu saja yang hanya ditanggapi datar oleh Aguero.


Tanpa aba-aba, dalam satu lompatan Kiseia telah pergi, meninggalkan embusan kencang beserta debu di belakangnya.


Aguero menatap satu-satunya orang hidup yang bersamanya tajam, memasang posisi siaga. Entah orang macam apa yang ‘ditinggalkan’ adik sepupunya itu. Dengan kekuatan dan tatapan itu, mungkin ini akan jadi pertarungan yang menarik.


“M-maaf…” Seketika tatapan tajam pemuda itu berubah menjadi canggung. Raut wajahnya yang sejak tadi mengeras, memamerkan senyuman kikuk. Bola shinsu yang hampir setinggi lorong ini pun menghilang.


Kelakuan pemuda yang berubah seratus delapan puluh derajat itu membuat Aguero mengerjap, membuyarkan posisi siaganya. Namun kewaspadaan Aguero masih pada level maksimum. Tatapannya tidak beralih sedetik pun dari pemuda di hadapannya.


“Kau… baik-baik saja?” tanya pemuda itu ragu, telunjuknya mengarah pada luka di bahu Aguero.


Aguero mengikuti telunjuk pemuda itu—biarpun dirinya tahu betul maksud pemuda itu. Jika dirinya tidak salah ingat, bukankah pemuda ini tadi sangat membenci Kiseia? Lalu kenapa pemuda ini… Ah, apa dia mau berpura-pura baik lalu menyerang dari belakang?


Aguero menatap mata pemuda itu sekali lagi. Kemarahan dan kebencian yang sangat kentara sebelumnya sepenuhnya sirna sekarang. Aguero tidak dapat menemukan tanda-tanda pemuda ini berpura-pura, bahkan tatapannya seolah mencerminkan pemuda ini adalah pemuda yang naif dan baik pada siapa pun, berbeda jauh dengan dirinya versi beberapa detik lalu. Namun tetap saja, ada kemungkinan pemuda ini berpura-pura.


Samar-samar sudut kanan bibir Aguero terangkat. Dengan kekuatan sebesar itu, mungkin dia akan menjadi lawan yang menarik. Baiklah, jika pemuda ini benar berpura-pura, mari ikuti permainannya.


Dengan cepat Aguero segera memasang senyum ‘ramah’, pura-pura memegangi bahunya sambil meringis. “Aku baik-baik saja. Sedikit sakit sih, tapi setelah diobati juga pasti sembuh. Kau sendiri bagaimana? Tampaknya lukamu lebih parah dariku,” ucapnya. Meski berkata demikian, siapa pun yang melihat mimik Aguero dapat menyimpulkan kalau pemuda berambut biru itu sangat kesakitan—yang tentu saja tidak terlalu karena Aguero telah lebih dari seribu kali menerima luka semacam ini.


Pemuda berambut cokelat itu tampak kebingungan, tidak enak hati kalau meninggalkan pemuda di depannya. “Aku tidak apa-apa, cuma sedikit kelelahan. Ah,” pemuda itu melirik pakaiannya, “ini bukan darahku. Ini darah… mmm….”


Pemuda itu tampak ragu melanjutkannya, yang tentu saja dapat ditangkap oleh Aguero. Meski penasaran, tapi Aguero memutuskan untuk tidak terlalu menekannya. “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya,” ucap Aguero sambil mencetak senyum.


“Tunggu!” seru pemuda itu ketika Aguero baru hendak berbalik.


Kena kau, batin Aguero senang.


Aguero yang sengaja sejak tadi memperlambat langkah berhenti, menoleh.


“Di mana tempat tinggalmu? Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kau ikut denganku? Lagipula kau hampir terluka karena aku,” ucap pemuda dengan iris keemasan itu.


Rupanya kau sadar juga.


“Namaku Jue Viole Grace.” Pemuda itu mengulurkan tangan, yang tentu saja langsung disambut Aguero. “Khun Aguero Agnes.”


Yah, sebenarnya tanpa memberi tahu nama pun, semua orang juga pasti dapat menduga dari warna rambut dan mata biru yang sama, sebab itulah ciri-ciri dari anak Keluarga Khun.


***


Pintu berwarna hitam itu terbuka, menampakkan ruang tamu yang tertata rapi. Dua buah sofa panjang putih yang ditata saling berhadapan dengan sebuah meja persegi di tengahnya. TV di pojok ruangan. Beberapa jendela. Yah, dan perabotan lain yang cukup umum untuk ruang tamu.


“Silahkan duduk, Tuan Khun,” ucap Viole sambil tersenyum ramah. Aguero mengangguk tanpa perlu merasa tersenyum lagi—yang lama-lama membuat bibirnya lelah.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang berlari di balik salah satu pintu di sana.


“Viole! Bagaimana…” seorang gadis berambut hitam muncul dari balik salah satu pintu di sana. Raut wajahnya yang semula tegang dengan segera berubah pucat pasi seolah baru melihat monster.


Aguero yang entah sadar entah tidak tesenyum. Senyuman dingin layaknya predator bertemu mangsa di mata gadis itu.


“V-viole… bisa bantu aku sebentar di sini?” tanya gadis itu.


Viole mengernyit, tapi juga tidak membantah. “Kalau begitu saya permisi sebentar, Tuan Khun.”


Aguero yang sedari tadi sudah duduk manis di sofa kembali mengangguk, membiarkan dua orang itu menghilang di balik pintu yang digebrak tadi. Aguero menghela napas. Ia sama sekali tidak cemas apa yang mereka bicarakan, karena dia tahu betul dan apa pun itu, baik pemuda itu berpura-pura maupun tidak, hasilnya hanyalah satu.


Cklek.


Sudut mata Aguero refleks tertuju pada pintu di belakangnya yang dibuka. Sepasang sepatu kulit hitam menjadi hal pertama yang ditangkap oleh netranya.


***


Brukk! Kedua kelopak Viole refleks mengerjap begitu tangan itu ditinjukan ke dinding tepat di sebelah wajahnya, tangan yang tak lain merupakan milik gadis berambut hitam di depannya, Ehwa Yeon. Dengan kekuatan fisik luar biasa Ehwa sebagai salah satu “keturunan langsung” dari salah satu Keluarga Agung (Keluarga Yeon), jangan tanyakan bagaimana kondisi dinding yang ditinjunya itu.


Namun lupakan dulu soal itu.


Lihatlah, tatapan gadis itu bak pisau yang menusuk Viole dalam, membuat pemuda itu meneguk ludah. Memang kesalahan apa yang dirinya perbuat sampai gadis ini marah?


“E-ehwa…?” ragu-ragu Viole memanggil nama gadis itu. Namun tatapan gadis itu masih saja tajam. Bahkan jarak wajah keduanya semakin mendekat.


“Kau! Kemarin kau membawa si ‘Khun wanita’ itu, sekarang kau malah membawa ‘Khun laki-laki’! Kenapa kau tidak bisa membawa orang yang normal-normal saja hah?! Apa kau tahu siapa yang kau bawa itu?” tanya Ehwa blak-blakan, membuat pemuda di depannya sekali lagi meneguk ludah.


“K-khun… Aguero… Agnes…?” Bukannya tenang, tenaga pada kepalan tinju Ehwa bertambah, menambah retakan pada dinding yang telah jebol itu. Sepertinya sang dinding akan menangis seandainya ia bisa bicara.


“Kau tahu dia siapa, tapi kenapa kau masih membawanya?”


Eh? “M-memang kenapa…?”


Manik merah Ehwa membelalak. “Kau tidak tahu si ‘Light Bearer Maut?”


Viole menggeleng patah-patah.


Ehwa mengembuskan napas kasar. Kepalanya menoleh memastikan pintu di belakangnya tertutup rapat, dengan suara serendah mungkin Ehwa menjelaskan tentang siapa itu Khun Aguero Agnes yang sebenarnya, si ‘Light Bearer Maut, rumor-rumor yang mengelilinginya, serta si ‘anak buangan Keluarga Khun’.