THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Episode 22: Ini Semua Salah Hatz yang Payah Itu!



"ASTAGA, HATZZZ!!! APA YANG KAU LAKUKAANNN???" layaknya sebuah auman yang meluncur dari mulut naga yang kepedasan membuat rambut Endorsi tersibak ke belakang begitu membuka pintu. Gadis berambut cokelat itu memejam, meremas segelas jus jeruk di tangannya. Namun begitu membuka mata, malah sebuah pemandangan tidak mengenakan yang menyambut.


Seorang pemuda mengenakan setelan olahraga berwarna ungu dengan segaris orange tengah mengamuk layaknya cacing kepanasan. Sedangkan pemuda keras kepala yang biasanya langsung mengarahkan pedang pada orang yang 'merendahkannya', kini hanya terdiam dan menunduk. Endorsi menghela. Sekarang apa lagi yang orang-orang bodoh ini lakukan?


Endorsi meneguk jus jeruknya sampai habis, kemudian melempar gelas kaca itu ke dalam ruangan. Sontak gelas yang melewati dan pecahan kaca yang tersebar tak jauh dari mereka membuat kedua pemuda itu mematung, patah-patah menoleh ke asal lemparan gelas berasal. "Jadi, apa yang terjadi?" tanya Endorsi sambil melipat kedua tangan di depan dada.


Shibisu langsung memperlunak raut wajah yang semula seperti cacing kepanasan, tidak lagi melompat ke sana kemari. Pemuda itu tersenyum kikuk ketika Endorsi berjalan ke arah mereka. Gadis bermanik keemasan itu menatap Hatz yang sejak tadi tidak bereaksi apa-apa dan hanya menunduk. "Nah, Pendekar Pedang, apa yang kali ini kau lakukan?" menyimpulkan dari tingkahnya, pasti pemuda berambut hitam yang itu yang membuat masalah.


Lagi-lagi pemuda yang membawa pedang panjang di pinggangnya itu hanya terdiam, kemudian tanpa mengatakan apapun melewati Endorsi dan angkat kaki dari ruangan. Kini pandangan Endorsi kembali beralih pada Shibisu selaku satu-satunya orang yang tersisa di ruangan. Jujur saja, Shibisu seolah dapat melihat kilatan api yang membara dari sepasang iris keemasan itu kala kesal karena ulah si 'bodoh' barusan.


"Tenang dulu, Tuan Putri" ucap Shibisu sambil menarik kursi terdekat, mempersilahkan Endorsi duduk. Meski kekesalan tampak kentara di paras cantik itu, bahkan bertambah, tapi akhirnya gadis itu menurut, duduk membelakangi Shibisu. Sebelum gadis itu lanjut mengungkit kejadian barusan, Shibisu segera menyodorkan selembar kertas ke depan gadis itu dari belakang kursi. Tanpa pikir panjang Endorsi menerimanya, membaca tinta hitam yang terukir di atas kertas itu.


"Kalian benar-benar melakukan perjanjian dengan 'Light Bearer Licik' itu?" komentar Endorsi sambil terus membaca dalam hati.


"Aku yakin yang benar adalah 'Light Bearer Maut', bukan 'Light Bearer Licik'," ucap Shibisu sedikit gemetar.


Untungnya, Endorsi hanya merespon dengan mengangkat bahu, "Aku tidak peduli." Kemudian menyenderkan punggung ke senderan kursi. Ekspresi gadis itu terlihat baik, malah mungkin sangat baik tatkala perjanjian yang tertera di sana biasa-biasa saja layaknya perjanjian normal hingga ia hampir percaya bahwa rumor yang selama ini beredar tidak benar. Sampai kemudian bola mata keemasan itu sampai kepada klausa terakhir.


"Shibisu," pemuda yang dipanggil spontan merinding, dapat merasakan aura gelap dari suara 'iblis' yang memanggilnya, "sebaiknya penjelasanmu tentang kita harus menjadi budak si Licik itu selama pernjanjian berlangsung ini masuk akal atau jangan harap..."


"Baik, baik, tenanglah...." Peluh dingin dengan segera membasahi punggung scout itu, matanya bahkan seolah dapat melihat helaian rambut cokelat sebahu gadis itu mengambang layaknya tentakel gurita yang bisa kapan saja dapat melilitnya.


Namun bukannya tenang, api yang berkobar di sepasang manik keemasan itu malah berubah menjadi biru dan helaian rambutnya seolah mengganas. "Sekarang... kau berani memotong ucapanku?" ucap Endorsi penuh penekanan.


Shibisu yang tidak bisa memikirkan kata-kata untuk menenangkan Putri Jahad itu hanya dapat menggeleng cepat. "Maksudku, ini semua salah Hatz yang payah itu!" serunya sambil menunjuk ke dinding seolah menunjuk Hatz yang entah ada di ruangan mana. "Padahal aku sudah memberi tahunya untuk hati-hati dalam menandatangani perjanjian, terutama dengan 'Light Bearer Licik' itu! Tapi dia..," Shibisu meremas kepalanya, mendramatisir, "memang tidak dapat diharapkan. Seandainya bukan karena hanya dia yang bersedia, aku tidak sudi mengirimnya!"


Di balik seruan lantang pemuda itu, ada hati yang terus meminta maaf atas kelancangan bibirnya pada pemuda berambut hitam itu. Namun lagi-lagi bukannya puas, Endorsi berucap, "Meski hampir semua ucapanmu benar, tapi jangan kejam seperti itu, dia sudah berusaha."


Dalam sedetik Shibisu langsung memasang posisi siap dan menghormat, "Baik!"


Endorsi menghela, menatap kertas di tangannya. "Boleh aku sobek saja?"


"Tidak, seperti yang kau baca, perjanjian itu ditulis dengan relikui Pena V dan di bagian akhir juga tertulis jika ingin membatalkan perjanjian atau merobek kertas itu, maka selamanya kita akan hidup sebagai budak orang licik yang tidak kau sukai itu," jelas Shibisu cepat tanpa sempat menarik napas.


Shibisu yang juga sudah tenang mengangguk membenarkan. "Itu benar, tapi tidak ada salahnya lebih siap. Meski kita sudah mengetahui hampir semua informasi tentang mereka, tapi siapa tahu ada informasi baru dari light bearer itu yang berguna dan jika itu benar terjadi, kita bisa meminta dia untuk mencari dua orang itu, kan?"


Kalimat terakhir Shibisu membuat Endorsi terdiam sejenak, menunduk. Seketika ia kembali teringat pada sepasang manusia yang menghilang saat mereka masih berada di Lantai Ujian, dua orang yang terus mereka cari sejak mulai menaiki Menara.


"Jaringan informasi dari 'Light Bearer Maut' sekaligus anggota Keluarga Khun yang terkenal akan kelicikan dan kejeniusannya, aku yakin dia pasti bisa mencari mereka," lanjut Shibisu lagi.


"Ya, 'anak yang dibuang dari Kelurga Khun'," ucap Endorsi sinis. Shibisu tertawa renyah, tidak merespon apa-apa. Baik bagaimana pun, reputasi baik dan buruk Light Bearer Maut itu berjalan beriringan dan membuat namanya semakin melambung di Menara ini. Bahkan orang yang tidak terlalu aktif menaiki Menara saja tahu mengenai light bearer itu karena rumor—alias gosip—yang beredar.


"Jadi, apa hal pertama yang orang itu mau kita lakukan?" tanya Endorsi kembali ke topik. Mendengar itu, tubuh Shibisu kembali menegang. Sepasang manik cokelatnya yang melihat ke arah lain membuat kerutan terbentuk di dahi Endorsi. "Apa yang dia minta?" ulang gadis itu.


Ragu-ragu pemuda yang mengenakan setelan olahraga itu merogoh kantongnya dan menarik selembar kertas yang dilipat dua. Kerutan bertambah di dahi Endorsi tatkala tangan yang menyerahkan kertas ke arahnya gemetar hebat seolah ada racun di sana. Endorsi mengambil kertas itu dan membaca isi dalam lipatannya.


..."Dalam kegelapan terdalam, harta berharga yang menjadi incaran keserakahan berada. Dalam kegelapan tak berdasar, pernak-pernik permata tumbuh dengan liarnya. Dalam seminggu, bawakan padaku harta langka milik salah satu Keluarga Agung."...


Eh? Endorsi mengerjap beberapa kali tanpa menyadari tubuh pemuda di sebelahnya masih gemetar. Sekali lagi manik emas itu menyusuri kata demi kata dari awal sampai akhir. Saking gemetarnya pemuda itu sampai menggigit bibir. Bukan takut, melainkan menahan tawa mengingat kalimat yang ditorehkan dalam kertas itu. Namun pikiran itu segera hangus oleh api yang membara dari sang Putri Jahad yang kini meremas kertas dalam genggamannya. "'Harta Keluarga Agung'? Dia ingin menjadikan kita pemberontak?"


"Bukan, bukan," Shibisu segera menggeleng, membuat manik keemasan yang membara itu menatap ke arahnya. "M-maksudku, apa kata 'seminggu' di sana tidak mengingatkanmu pada sesuatu?"


Endorsi mengernyit. Seminggu lagi?


Melihat raut bingung Endorsi membuat Shibisu diam-diam tersenyum bangga. Tentu saja, bisa apa tim ini tanpa dirinya? Bahkan teka-teki semudah ini saja tidak ada satu pun yang bisa memecahkannya, bahkan juga tidak dengan Putri Jahad satu ini.


"Aku tidak tahu kau sedang menyombongkan apa dengan muka jelek itu, tapi cepat beri tahu sebelum aku menghancurkannya," ujar Endorsi yang menyadari ekspresi menyebalkan di wajah pemuda itu. Spontan Shibisu tersenyum kikuk. "Kau benar-benar tidak ingat? Seminggu lagi adalah hari..."


***


Cklek! Seorang pria berambut hitam langsung bersandar pada pintu yang baru ditutupnya, menghela. "Langkah pertama, berhasil," ucapnya.


Suara cangkir yang diletakkan di atas meja kaca terdengar. Gadis yang telah lebih dulu berada di sana dan duduk di sofa menoleh ke arahnya, mengangguk. "Sekarang, kita hanya bisa menunggu mereka bergerak seperti yang kita inginkan."