![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Hatz menoleh ke belakang, celingukan seperti hendak mencari sesuatu. Aguero mengernyit, tapi tetap sabar menanti. “Kau lihat anak berambut putih di sebelah sana?”
Aguero mengikuti telunjuk pemuda itu, ikut menoleh ke belakang. Beberapa meter dari mereka, tampak seorang anak berambut putih yang berdiri di tengah kerumunan, asyik menikmati jajanan. Jika dilihat sekilas, anak itu tampak seperti anak yang dibuang ibunya dengan bermodalkan diberi makanan dan disuru menunggu hingga sang ibu kembali, padahal ibunya pergi entah ke mana. Usianya mungkin kira-kira baru 10 tahunan.
“Ya, aku melihatnya. Jadi apa yang harus kulakukan? Kau ingin aku membunuhnya?” terka Aguero, nada dingin mencekamnya membuat Hatz merinding. Kini ia mulai memercayai rumor yang mengatakan Keluarga Khun adalah keluarga yang dingin nan kejam.
“Tidak, ah, tepatnya belum. Aku ingin informasi tentangnya. Latar belakangnya, kehidupannya selama ini, atau sekutunya sekarang, atau apa pun. Pokoknya selengkap yang bisa kau dapatkan.”
Oh? Alis kanan Aguero refleks naik. “Kau tahu kan siapa aku? Pekerjaanku itu membunuh,” ucap Aguero tanpa dosa, seolah pekerjaannya itu sebaik mengambil beban dari orang-orang yang menderita dan banyak beban hidup.
Hatz menghela napas, mengangguk. “Aku tahu. Tapi baik bagaimana pun kau adalah seorang light bearer, jadi harusnya kau juga menerima pekerjaan semacam ini kan?”
Aguero berpikir sejenak, tidak menyangka pekerjaan bohongan yang ia katakan pada si tua sialan itu malah jadi kenyataan, bahkan hanya berjarak sehari setelahnya. Padahal Aguero mengatakan itu untuk menghindari hal merepotkan yang mungkin terjadi.
“Tapi kalau hanya light bearer, aku yakin kau dapat menemukannya berserakan di seluruh Menara. Bahkan mungkin salah satunya kenalanmu. Jadi apa alasanmu memintanya padaku?” selidik Aguero.
Pemuda bernama Hatz itu tampak menggigit bibir, seolah kehilangan kata-kata. “Aku tidak mungkin memercayai mereka semua kan? Bisa saja mereka berbohong dan hanya mengambil imbalannya.”
“Lalu apa bedanya denganku. Kurasa aku juga bukan orang yang pantas mendapat yang namanya ‘kepercayaan’. Kita pun juga saling tidak mengenal,” ucap Aguero mengintimidasi.
Seolah ada hal lainnya, pemuda dengan tangan kekar itu berkeringat dingin.
Benar-benar kelihatan sekali pemuda itu tidak terbiasa berbohong, pikir Aguero.
Tatapan Aguero tetap melekat pada Hatz, membuatnya merasa semakin terintimidasi. “Kau… menurut rumor kau hanya bekerja sesuai bayaran. Jadi kau akan bekerja dengan efisien dan professional sesuai dengan imbalan yang diberikan kepadamu, termasuk…”
“Termasuk?” ulang Aguero tatkala pemuda itu tampak ragu melanjutkan.
“…kerahasiaan.” Hatz melanjutkan seolah Aguero akan menerkamnya jika mengatakan hal tersebut, masih menunduk sambil sesekali melirik Aguero. Namun tampak ketegangan yang menyelimuti tubuhnya bak listrik yang akan menyengat jika disentuh sedikit saja.
Aguero tertawa renyah, menyenderkan punggungnya ke sandaran. “Begitu,” ujarnya singkat.
Aguero melirik anak berambut putih itu sekali lagi, tersenyum. Rambut putihnya itu sebenarnya menarik. “Baiklah. Namun kalau aku boleh bertanya, apa kau sendiri tahu siapa yang kau minta aku selidiki ini?”
Kepala yang semula tertunduk itu terangkat “Apa… maksudmu?” ucapnya terbata-bata, lebih tegang dari sebelumnya.
Aguero tersenyum, menggeleng. Pemuda ini bahkan tidak bisa sedikit saja berpura-pura. Semua jawaban tertulis jelas di wajahnya. “Bukan apa-apa. Kau punya informasi awal yang bisa membantuku?”
Hatz menggeleng. “Tidak. Kalau punya, aku tidak akan meminta bantuanmu.”
Hatz merogoh sakunya, mengeluarkan selembar kertas kecil yang dilipat empat. “Aku tidak terlalu mengerti. Tapi rekanku telah menulis rinciannya di sana,” ucapnya sambil menyodorkan kertas itu di meja.
Aguero mengambil kertas itu, membuka lipatannya. Sudut kanan bibir Aguero tertarik. Siapa pun rekan pemuda ini, pastilah dia orang yang sangat teliti dan pandai berbisnis. Ah, kalau begini kan Aguero jadi berharap si ‘rekan’ ini yang datang, bukan pemuda kaku dan membosankan ini.
Sebenarnya tiap angka dalam rincian itu termasuk lumayan dan sama sekali tidak membuat Aguero rugi. Namun bukan Aguero namanya kalau tidak mengeruk keuntungan. Aguero memunculkan lighthouse miliknya. Tangan kasar dan tampak ramping itu menembus benda berbentuk kubus biru. Beberapa detik kemudian tangan itu keluar dengan selembar kertas dan pena.
Aguero meyodorkan kertas dan pena itu sambil tersenyum. Hatz menarik benda yang disodorkan, hendak membaca kertas dengan judul “KONTRAK” itu.
“Silahkan dibaca, katakan saja kalau ada yang mau ditambahkan,” ucap Aguero masih dengan tersenyum.
Hatz, pemuda yang entah mengerti entah tidak, tampak serius membaca hingga keningnya berkerut. Terhitung 3 menit kemudian baru ia menandatanginya.
“Baiklah, kalau begitu ada beberapa hal yang mau kutambahkan.” Aguero menarik kertas dan pena dari tangan pemuda berambut hitam itu, kemudian menulis di bawah pasal terakhir. Pada dasarnya pena yang digunakan Aguero bukanlah pena biasa, melainkan relikui, yakni senjata yang muncul dari mitologi Menara.
Konon pena itu disebut "Pena V". Dipercaya merupakan milik salah satu teman seperjuangan Raja Jahad saat menaklukan Menara, V. Sampai kini tidak ada yang tahu pasti nama asli dari ‘V’, sebab Raja dan teman seperjuangan lainnya pun menutup mulut rapat-rapat tentangnya.
Namun dipercaya V memiliki sebuah hobi yang terbilang aneh, yakni menulis. Bagi petualang yang seharusnya lebih suka bertarung, V justru lebih kalem dan senang menulis. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ditulis V, sebab sampai hari ini tidak ada yang pernah menemukan pasangan dari relikui ini. Sama seperti sang pemilik yang hilang bak tertiup angin, bahkan tidak ada yang tahu pria itu masih hidup atau tidak.
Rumornya, V menulis segala kebencian dan dendamnya pada Jahad karena menurutnya Jahad lebih unggul darinya dalam hal bertarung, juga kepemimpinan. Terutama tentang wanita yang membuat hubungan keduanya memburuk karena sukses menciptakan 'perang cinta' di antara mereka, Arlene Grace. Hingga kini dikatakan pena tersebut menyimpan dendam dari pemilik pertamanya, sampai dendam tersebut pun dapat mewujudkan apa pun yang ditulis oleh pena itu.
Namun tentu saja, tidak sembarang orang dapat menggunakan relikui satu ini. Hanya orang yang pernah merasakan dendam dan kemarahan yang memuncak, hingga seolah hidupnya dapat bertahan karena dendam itulah yang bisa menggunakannya. Bagi orang biasa pena tersebut hanya berfungsi layaknya pena pada umumnya. Namun kepada orang yang sama sekali tidak ia sukai, ia akan bertingkah layaknya pena macet atau kehabisan tinta.
“Apa yang kau lakukan?” nada pemuda itu terdengar marah. Wajar saja, orang normal mana yang baru menambahkan klausa setelah salah satu pihak menandatangani kontrak.
Namun Aguero menanggapi dengan tenang, meletakkan pena itu di meja setelah membubuhkan tanda tangannya di pojok bawah kanan kertas. “Aku hanya menyuruhmu untuk membaca dan bilang kalau ada yang mau ditambahkan. Aku kan tidak pernah menyuruhmu untuk tanda tangan. Lagipula dari awal aku memang berencana menambahkan sesuatu karena ini merupakan kasus 'unik' yang tidak biasa kuterima.” Aguero santai mengangkat bahu.
Wajah Hatz merah padam. “Lalu untuk apa kau memberiku pena itu?”
“Ya aku mau saja. Aku kan tidak pernah bilang ‘Tanda tangan setelah membacanya’. Aku bilang, ‘Silahkan dibaca, katakan saja kalau ada yang mau ditambahkan’,” ucap Aguero dengan senyum terlebarnya.
Hatz menggertakan gigi. Bisa-bisanya dirinya tertipu trik murahan ini!
“Jadi bagaimana, kontraknya sudah ditanda tangani lho….” Aguero memutar kertas dengan ibu jari dan telunjuk, kemudian mendorongnya ke dekat pemuda itu. Seringaian kecil tercetak jelas di wajah pemuda keturunan Khun itu.
Netra Hatz membelalak tatkala melihat klausa terakhir yang baru saja ditulis pemuda itu. Bahkan siapa pun yang melintas dapat melihat jelas urat yang menyembul di leher dan tangannya.