THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 26: Kau dan Aku, Berada di Tingkatan yang Berbeda



Suara tiga pasang langkah kaki terdengar menghiasi lorong lengang itu. Mengandalkan sinar dari tiga lighthouse putih dan dua pocket, kedua anak itu berjalan menyusurinya. Sepasang bola mata keperakan si anak perempuan tak hentinya melirik ke samping, dan setiap kali melihat ekspresi bocah angkuh di sebelahnya pula kekesalan dalam dirinya semakin bertambah. "Kenapa wajahmu tidak enak begitu?" tanya anak itu akhirnya memecah keheningan di antara mereka. Namun jangankan menjawab, anak yang diajak bicara itu bahkan tidak menoleh. Gadis kecil berkulit pucat itu menghela kesal. "Kau mau bertarung, kan?"


Anak berambut biru itu lagi-lagi tidak menoleh, malah membuang muka, tapi tetap mengangguk. Tangan anak perempuan itu pun terkepal menahan kesal yang semakin memuncak. "Daripada bertarung di ruang sempit tadi, akan lebih baik bertarung di tempat yang lebih luas."


"Diamlah, kau menganggu."


Anak perempuan itu berhenti, begitu pun anak lelaki di sebelahnya. "Ya?" tanya anak itu berusaha menekan kekesalan, memastikan telinganya tidak salah dengar.


Sepasang manik biru itu melirik tajam ke arahnya. "Aku bilang, kau, menganggu!"


Tekanan shinsu berwarna merah muda dan biru spontan membungkus tubuh kedua anak yang saling menatap tajam itu.  "Kau pikir siapa dirimu?" tanya anak perempuan itu datar, menggerakkan tangan kanannya ke samping. Sebuah tembakan sihir raksasa pun meluncur dari telapak tangannya, membidik tepat ke arah bocah lelaki yang berjarak beberapa langkah.


Namun tanpa berkedip sedikit pun, apalagi menoleh, tembakan itu berhasil dihalau oleh tekanan shinsu biru di sekitar si keturunan langsung Keluarga Khun, Khun Ran. "Kau tahu," kali ini anak lelaki itu menoleh, "justru kaulah yang jangan sombong!" Dalam satu lompatan Ran tiba tepat di hadapan anak berambut perak, melayangkan tinju yang mengandung sebagian kecil dari kekuatan aslinya.


Anna mengerjap, refleks membuat perisai sihir di depannya. Sebuah ledakan terdengar dari tempat keduanya berdiri. Embusan kencang menerpa wajah, menyibak rambut keperakan sebahu milik gadis itu. Sebuah kepalan tinju berhenti di udara kosong, tanpa shinsu, tepat di sebelah wajah Anna yang datar. Perisai sihir berwarna merah muda itu hancur berkeping-keping dan hilang begitu pecahannya menyentuh tanah. Manik keperakan itu melirik singkat ke samping, kemudian ke depan, ke wajah yang tak kalah datar dari miliknya. "Jangan lupa apa alasanmu belajar sihir," ucap Ran tajam, kemudian kembali menarik tinjunya. "Meski sama-sama berasal dari Keluarga Agung, kau dan aku, berada di tingkatan yang berbeda."


"Hanya karena Kiseia mengajarimu cara menggunakan lighthouse, itu tidak membuat dirimu lebih baik dariku." Tanpa merasa perlu menunggu gadis itu, Ran kembali melangkah begitu menyelesaikan perkataannya. Sekilas, sepasang tangan anak perempuan itu mengepal kian erat, menunduk. "Kau terus berjalan begitu, memang kau tahu harus pergi ke mana?" tanya Anna tanpa menoleh.


Satu pertanyaan 'sederhana' itu sukses membuat langkah Ran terhenti, menoleh sekilas ke belakang. "Apa lagi yang kau tunggu? Cepatlah!" seru Ran jengkel, meski jaraknya dari Anna baru delapan langkah.


Anna menghela, menatap anak menyebalkan itu singkat, kemudian ke arah boneka kelinci raksasa miliknya yang tengah membawa seorang anak perempuan berambut cokelat yang tak sadarkan diri. Boneka kelinci raksasa berwarna merah muda itu melangkah seiring dengan langkah yang diambil majikannya. Keheningan kembali menyergap dalam lorong panjang yang dilalui kedua anak keturunan Keluarga Agung itu.


"Kenapa aku sekelompok dengannya?" tiba-tiba gumaman pelan itu meluncur dari bibir si keturunan Khun, gumaman yang dapat didengar jelas oleh siapa pun dalam lorong hening nan panjang ini. "Lebih baik aku sekelompok dengan David yang..."


"Itu pun jika David ingin sekelompok dengan orang angkuh sepertinya," potong Anna pelan, bergumam seolah menyindir anak yang berjalan di depannya secara tidak langsung. Menyadari itu, Ran melirik tajam ke belakang. "David itu kuat. Bahkan Kiseia memercayainya untuk bekerja sendiri."


"Oh.., berarti Kiseia tahu kalau 'adiknya' itu lemah sampai tidak percaya..."


"Kiseia tahu bahwa anak perempuan dari Keluarga Arie itu saaa~ngat lemah sampai-sampai menempatkanku untuk menjaganya meski tahu aku tidak akan sudi," gumam Ran, kali ini sangat tidak sepelan sebelumnya.


Pandangan Anna teralihkan ke permukaan senjata kubus berwarna putih yang melayang tepat di depannya, menghela. "Mereka datang," ujar Anna segera setelah menganalisis sinyal yang diterima lighthouse. Sebenarnya, koordinat yang dikirim Anna melalui pocket anak berambut cokelat itu bukan tempat spesial, hanya sebuah lorong dengan jarak kedua ujung yang tidak terlalu jauh, bahkan light bearer biasa pun dapat langsung memikirkan strategi mengepung mereka dari kedua ujung lorong itu dan menyerang bersamaan.


Lalu kenapa Anna memilih tempat itu untuk dijadikan 'arena' bertarung?


Ran berhenti segera setelah mendengar ucapan anak perempuan itu, fokus pada pendengaran di sekitar. Anna mengarahkan ketiga lighthouse miliknya ke atas, kemudian mengontrol shinsu di sekitar sehingga dirinya melayang ke langit-langit. "Apa yang kau lakukan?" tanya Ran yang menyadari tingkah aneh Anna. Anna tak menjawab, tangan anak itu kembali memancarkan sinar berwarna merah muda, membuat boneka kelinci raksasa yang menggendong seorang anak perempuan ikut melayang di sebelahnya.


Beberapa saat kemudian, langkah kaki cepat dari dua arah berlawanan terdengar menuju ke arah mereka. Ran mendecih, memasang kuda-kuda. Bahkan tanpa Anna pun, Ran merasa mampu untuk menghabisi kedua regular itu, dan Anna mengetahuinya. Oleh karena itu, Anna mempersiapkan 'arena' ini khusus untuk Ran.


"Flow Control." Ketika Anna merasa jarak suara kedua pasang langkah itu sudah cukup dekat—sebelum Ran menyerang lebih dulu—Anna kembali mengontrol ketiga lighthouse di udara. Sinar putih ketiga lighthouse itu saling terhubung hingga membentuk sebuah segitiga raksasa dengan sedikit percikan listrik. Sontak aliran shinsu dalam medan lighthouse itu memberat, membuat pergerakan para regular dalam jangkauannya terhenti—kecuali Ran. Anak berambut biru itu hanya diam, memperhatikan dengan tenang apa yang coba 'rekan'-nya lakukan. "Soul Marionette."


Aliran sihir berwarna merah muda terpancar dari sepanjang tubuh Anna, melesat membungkus tubuh dua regular yang berlari ke arah mereka. Sebuah bom yang berada dalam genggaman pemuda berambut keemasan yang sudah kaku itu terjatuh ke tanah. Mungkin rencana mereka adalah pemuda berambut keemasan itu melempar bom untuk menghalangi pandangan Anna dan Ran, sementara wanita light bearer itu menyerang dengan ligthouse dan menyelamatkan si anak perempuan yang menjadi tawanan.


Sayangnya, kedua regular itu pasti tidak menyangka Anna menguasai sihir, sebab sihir merupakan kekuatan yang jarang dipelajari di Menara. Namun pada tingkatan dan mantra tertentu, sihir dapat menjadi senjata mematikan yang bahkan dapat melelehkan jiwa seorang manusia.


"Kemarilah," satu kata yang meluncur dari bibir anak perempuan itu bak gema abadi yang akan terus menggaung dalam benak kedua regular yang telah dikuasainya. Pemuda dan wanita berkacamata itu kembali melangkah kaku ke arah yang hendak mereka tuju tadi. Namun kali ini, bukan untuk menyelamatkan Miseng, melainkan menuruti perintah sang 'majikan'.


Ran senantiasa diam, melirik sekilas gadis yang melayang di atas sana.


Tap. Kini Wangnan dan Goseng telah tiba di dekat mereka, tapi pikiran mereka tidak lagi dalam kendali mereka. Kosong. Sinar berwarna merah muda samar-samar terlihat membungkus tubuh keduanya. Anak berambut keperakan sebahu itu mengepalkan tangan yang terbuka. Sontak aliran sihir yang membungkus tubuh kedua regular yang baru tiba itu menimbulkan tekanan dahsyat hingga membuat rambut keduanya tersibak ke atas.


"Oh...." Ran yang sejak tadi hanya diam mulai tertarik. Dirinya sendiri baru tahu kalau anak perempuan itu bisa menggunakan sihir untuk mengendalikan orang. Meski tentu saja, sihir semacam itu pasti tidak akan mempan pada dirinya.


"Nah, Khun Ran," Anna menatap Ran yang berada di bawahnya, duduk di atas salah satu lighthouse terdekat, "kau suka bertarung kan? Bagaimana menurutmu 'boneka jiwa' yang kuciptakan ini?" Tekanan dahsyat itu berhenti, bergantikan Wangnan dan Goseng yang memasang ekspresi hampa. Kedua tangan mereka dipenuhi percikan listrik berwarna merah muda. "Aku bisa memperkuat 'boneka'-ku dengan memberi sebagian kekuatanku, atau dari aliran shinsu yang ada di sini."


Sepasang manik perak itu menyipit saking rendahnya jarak anak lelaki itu dari dirinya. "Bagaimana, Khun Ran?"


Ran terdiam beberapa saat. Sebuah seringaian terukir di wajah rupawan itu beberapa detik kemudian disertai shinsu listrik yang membungkus tubuhnya. "Meski aku tidak berharap banyak, tapi, kenapa tidak?" Sepasang manik perak dan biru itu bertemu, saling menatap datar yang menyiratkan permusuhan abadi.