![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Tok. Tok. Tok.
Viole menegup ludah. Sepasang manik keemasan itu menatap ragu pintu yang baru diketuknya. Ini memang masih pagi, tapi seharusnya penghuni berambut biru di dalam sana sudah bangun kan? Horyang bilang dirinya baru melihat pemuda itu dari kamar mandi.
Tok. Tok. Tok.
Keheningan yang menyahut dari kamar itu membuat bulu kuduk Viole kian meremang, seolah penghuninya adalah monster yang siap menerkamnya tak peduli pintu terbuka atau tidak. Pemuda berambut cokelat itu menghela, sekali lagi tangan kanannya berniat mengetuk pintu.
"Ada apa, Viole?" suara 'ramah' itu terdengar bahkan sebelum pintu terbuka sempurna, membuat tangan pemuda itu terhenti di udara. "Bisa... kita bicara sebentar?" tanya Viole dengan nada keraguan yang kentara di telinga pemuda di hadapannya.
Tanpa pikir panjang Aguero mengangguk, membuka pintu lebih lebar agar pemuda itu dapat masuk.
"Terima kasih," ucap Viole berusaha mengembang senyum. Aguero membalasnya dengan seringaian yang diam-diam tercetak di wajahnya seiring langkah pemuda bermanik emas itu melewatinya dari samping. Aguero menutup pintu, kemudian memilih duduk di bibir ranjang, berjarak beberapa langkah dari Viole yang memilih duduk di kursi kayu dekat meja. "Jadi ada apa kau menemuiku pagi-pagi begini?" tanya Aguero, meletekkan salah satu kaki di atas kaki satunya.
"Begini," Viole memulai percakapan, kini manik keemasannya menatap lurus ke arah Aguero, "kuharap, Tuan Aguero bersedia bergabung ke tim kami." Keheningan menyergap segera setelah satu kalimat itu dilontarkan dari bibir Viole.
Aguero setia diam, menunggu kelanjutan dari kalimat itu. Namun melihat raut pemuda di hadapannya yang mengeras, Aguero menghela. "Lalu? Apa keuntungannya untukku?"
"Apa?" refleks Viole. Aguero mengerutkan dahi, menatap Viole dari ujung kaki hingga kepala. "Kau... tidak berencana mengajakku bergabung secara gratis kan?" Perkataan Aguero barusan itu membuat Viole terdiam—mematung, lebih tepatnya.
Oh, tentu saja... iya. Pemuda yang bahkan tak akan dapat menyangka kalimat itu akan dilontarkan dari bibir Aguero itu tentu tidak berpikiran sampai sana. Meski telah menjadi Calon Pembunuh FUG dan dilatih langsung oleh salah satu anggota FUG sekaligus anggota Keluarga Ha, Jinsung Ha, tapi kepribadian Viole tetaplah sebagaimana dirinya saat pertama kali menginjakkan kaki di dalam Menara, naif dan berpikiran pendek.
Namun itulah salah satu kekurangan sekaligus kelebihan dari seorang Jue Viole Grace. Kelebihan yang meluluhkan banyak 'kekuatan' yang kini bersedia berdiri di pihaknya. Juga kekurangan yang membuatnya ditipu hingga terpaksa bergabung dengan FUG.
Viole menggigit bibir. Dirinya tidak dapat berpikir jernih. Biasanya dalam situasi ini, ada Kiseia atau temannya yang lain dari Lantai Ujian yang berbicara untuknya. Namun sekarang, hanya ada dirinya. Apa... seharusnya tadi ia mengajak Akraptor atau Wangnan?
"Kau tahu kan siapa aku?" pertanyaan barusan membuat Viole mendongak, menatap pemuda berambut biru yang juga menatapnya sinis. Melihat wajah itu, Viole mengembuskan napas.
Tidak, keputusannya sudah tepat untuk datang kemari sendiri. Jika seandainya itu Akraptor, pasti sudah terjadi pertengkaran, apalagi setelah kejadian kemarin di ruang tamu. Jika ada Wangnan, Horyang, atau lainnya, maka pemuda ini pasti tak segan memulai pertengkaran hebat.
Terlebih, keputusan untuk mengajak pemuda ini masuk ke dalam timnya adalah keputusan sepihak Viole yang bahkan sama sekali belum dibicarakan dengan anggota lainnya. Dan Viole sendiri pun tak berniat bertanya, karena apa yang kini dilakukannya adalah demi mereka, meski Viole sendiri tahu apa jawaban mereka atas keputusan ini.
Sepasang manik keemasan itu terbuka, menerawang jauh ke masa lalu. Ditambah, ia sudah bertekad untuk melindungi teman-temannya yang sekarang dan teman-temannya di masa lalu. Jika sekarang ia melarikan diri, maka dirinya sama sekali tidak pantas untuk menghadapi mereka semua.
Namun jika seandainya Kiseia yang kini berada di posisinya, kira-kira... apa yang akan gadis itu katakan, ya?
Aguero menghela. Melihat pemuda berambut cokelat itu yang masih diam dan menunduk dalam, sepertinya tidak ada yang bisa diharapkan. "Viole, bukannya aku..."
"Tuan Aguero," ucap Viole tiba-tiba, memotong perkataan Aguero, "bukannya saya ingin bersikap lancang, tapi mengenai Kiseia, apa anda ingin berdamai dengannya?"
Aguero tersentak. Iris biru yang sejak tadi tenang, bahkan menatap sinis, membelalak. Berdamai... dengan Kiseia...?
Sebuah kerutan terbentuk di dahi Aguero. Pemuda keturunan Khun itu menatap tajam Calon Pembunuh FUG yang kini menatap lurus ke arahnya, tanpa sedikit pun kegentaran yang terpancar dari sepasang bola mata keemasannya. "Apa maksudmu?"
Viole menegup ludah tatkala dapat merasakan hawa membunuh yang dipancarkan pemuda di hadapannya, bahkan hanya berjarak beberapa langkah. Namun beberapa saat kemudian ia menghela, menegapkan punggung yang semula sedikit membungkuk. Bola mata keemasan Calon Pembunuh FUG itu kini menatap lurus ke dalam bola mata biru milik Aguero, menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang. Bahkan sepasang iris keemasan itu terlihat menatap dingin seolah menyala.
Tepatnya, seperti itulah yang ekspresi yang biasa dipancarkan adik sepupu Aguero dalam ingatan Viole ketika 'bernegosiasi'. Menyinggung poin paling sensitif dari lawan bicara dan membuatnya menjadi senjata untuk menarik—mengancam halus—hingga lawan setuju. Meski tentu saja, kemampuan bicara seorang Khun Kiseia jauh melebihi Jue Viole Grace. Namun tidak ada salahnya mencoba kan?
"Jangan berpura-pura tidak tahu apa yang saya bicarakan, Tuan Aguero," jawab Viole penuh penegasan dan percaya diri—balasan yang tidak disangka meluncur dari bibir pemuda naif itu. "Saya rasa untuk setingkat Tuan Aguero, kalimat saya barusan tidak sesulit itu sampai harus saya jelaskan berulang kali. Cukup jawab saja: ya atau tidak?"
Aguero mengerjap beberapa kali. Sudut kanan bibir pemuda itu semakin terangkat, dapat merasakan sesuatu membara dalam dirinya. Jue Viole Grace, semakin lama bersamanya semakin banyak hal yang menarik. Selain fakta tentang dia adalah seorang FUG dan irregular yang bertugas membunuh Raja Jahad, kepribadiannya yang beragam dan saling bertolak juga menarik. Namun...
Sudut kanan bibir Viole terangkat, gelak sinis terdengar jelas sampai ke telinga pemuda keturunan Khun itu. "Mana mungkin saya berani berpikir seperti itu mengenai Tuan Aguero, sang 'Light Bearer Maut' yang 'dikagumi' banyak orang," Viole menggeleng. "Lagipula saya tidak akan repot-repot meminta anda bergabung ke tim saya jika saya benar berpikir demikian, kan?" balas Viole dengan lancar nan baik. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.
Kali ini giliran Aguero yang tertawa sinis. Manik biru itu kembali menatap Viole, menyelidik pemuda itu dari atas hingga bawah. "Kembali ke topik, apa hubungannya perdamaianku dengan Kiseia dan tawaranmu?"
Bibir yang hendak menjawab itu terdiam sejenak, ragu. "Karena menurut saya, itu yang Tuan Aguero inginkan, meski saya tidak yakin apakah Kiseia menginginkan hal yang sama. Jika seandainya Tuan Aguero setuju bergabung dengan tim, maka sebagai sesama anggota tim saya akan berusaha membantu Tuan Aguero."
"Dan kenapa kau seyakin itu? Apa kau tidak tahu kalau kami Keluarga Khun tidak peduli pada yang namanya 'keluarga'?"
"Tapi... bukankah Tuan Aguero sempat bertanya tentang Kiseia kemarin karena cemas?"
"'Cemas'?" Aguero mengangkat bahu. "Kau tidak berpikir itu hanya karena penasaran?"
Kali ini pernyataan yang tak terduga dari Aguero bagi Viole sukses membuatnya bungkam. Tidak, bahkan sedari awal pun pemuda itu sama sekali tidak berpikir ini akan berhasil karena bersikap "angkuh" bukan kebiasaannya.
"Aku penasaran, apa yang membuatmu yakin kalau kau benar-benar bisa membuatku dan Kiseia berdamai, sedangkan Kiseia sendiri saja mengincar nyawamu?"
Peluh dingin bercucuran dari pelipis Viole. Pemuda itu benar-benar tak dapat berkutik. Namun tunggu, nyawanya? Tunggu sebentar..... Saking kerasnya otak Calon Pembunuh FUG itu berpikir, kerutan demi kerutan tampak kentara di dahinya.
"Kiseia memang mengincar nyawa saya," setelah diam beberapa saat, akhirnya pemuda berambut cokelat itu lanjut berbicara, "tapi yang dia incar sesungguhnya adalah kepemimpinan FUG."
Telunjuk Aguero yang semula bergerak naik dan turun di ranjang terhenti. Entah kenapa ingatannya kembali pada ucapan Jinsung di ruang karaoke hari itu, "Dia hanya… terlalu ‘naif’.”
"Dengan membunuh saya yang adalah Calon Pembunuh FUG sekaligus irregular yang paling memungkinkan membunuh Jahad, dia ingin membuat suasana dalam FUG kacau," lanjut Viole.
“Tidak banyak yang aku tahu. Tapi ada desas-desus yang bilang kalau saudarimu bergabung ke kelompok misterius."
"Kiseia berencana untuk mencari celah dalam FUG dan mengambil alih kepemimpinannya."
"Bukan hal besar sebenarnya, ada banyak kelompok mencurigakan di seluruh Menara, tapi yang membuatnya ‘besar’ adalah katanya dua anggota kelompok itu merupakan keturunan Keluarga Agung, Keluarga Khun."
"Pada hari Kiseia menyerang saya, dia sempat bilang bahwa semua yang dia lakukan demi pemberontakan terhadap Raja Jahad dan 10 Keluarga Agung."
“Tapi rumornya kelompok itu merencanakan pemberontakan terhadap 10 Keluarga Agung.”
"Karena itu, mungkin saya bisa..."
Buk. Dalam hitungan detik, tubuh Viole sukses dibuat melayang dan mendarat di ranjang, dengan kerah yang masih dicengkeram pemuda berambut biru yang kini meletakkan ujung belati tepat di tengah lehernya. "Apa hubunganmu dan Kiseia sebenarnya?"
Viole menegup ludah tatkala dapat merasakan ujung belati di lehernya sedikit ditekan.
"Sampai kapan pun, Khun Kiseia tidak mungkin membeberkan semua rencananya pada orang yang hanya sekedar ditemuinya di Lantai Ujian, apalagi pada orang yang menjadi targetnya."
Dan terutama si tua sialan itu, dia tampak sangat mengenal Kiseia seolah mereka pernah bertemu langsung, lanjut Aguero dalam hati.
Peluh bercucuran di sepanjang tubuh Viole seolah suhu dalam ruangan tersebut sangat tinggi. Pemuda itu dapat mendengar degup jantungnya sendiri, napasnya sedikit tercekat.
"Apa Kiseia... pernah bergabung dengan FUG?"