![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Wolhaiksong, sebuah organisasi yang didirikan oleh ranker peringkat 4, Urek Mazino, bersama sahabatnya, Baek Ryun sang ranker peringkat 9. Markas organisasi ini terletak di Lantai 77, lantai yang didapat Urek sebagai hadiah mengalahkan Arie Hon. Kini lantai tersebut dipindahkan kepemilikannya kepada Baek Ryun selaku ketua organisasi.
Pohon pine bersayap yang adalah lambang Wolhaiksong menyimpan sebuah kisah di baliknya. Baek Ryun yang tidak memiliki siapa-siapa, hidup sendiri di dalam hutan. Secara alami, ia belajar cara mengendalikan shinsu dan dengan kemampuannya menjadi seorang ranker dapat ia lakukan dengan cepat. Urek yang mendengar rumor mengenai Baek Ryun datang ke hutan itu, dan tanpa disangka mereka berteman baik dalam waktu singkat.
Baek mengungkap keinginannya untuk melihat dunia luar kepada pria kekar itu pada suatu hari. Kala itu, Urek belum selesai menaiki Menara. Setelah menjadi ranker, ia pun kembali dan mengajak Baek untuk ikut keluar bersamanya. Namun pria itu menolak, dengan alasan ia tidak bisa meninggalkan hutan yang sudah seperti hidupnya sendiri.
Dengan kepala sekeras baja, Urek tidak menyerah. "Kalau begitu aku akan memberi hutan ini sepasang sayap agar kau dapat membawanya ke mana-mana!" seru Urek berapi-api. Baek yang mendengarnya mengira Urek hanya bercanda dan tertawa. Namun Urek serius. Ranker peringkat 4 itu berteriak seperti gemuruh dan menyerap semua yang ada di hutan, mengecilkan hutan itu hingga seukuran kepalan tangan. Kemudian memasukkan hutan tersebut ke sebuah kotak dengan sayap.
Sayangnya, kotak tersebut terlalu berat untuk dibawa oleh Baek. Jadi, ia pun memercayakan kotak tersebut kepada sahabatnya. Lalu Urek memindahkan hutan tersebut ke Lantai 77. Para regular yang mendengar tentang keberadaan kedua ranker tersebut pun mendatangi mereka dan membentuk organisasi, Wolhaiksong.
Kotak bersayap, lambang persahabatan Urek Mazino dan Baek Ryun, yang juga menjadi inspirasi dari lambang Wolhaiksong.
Meski sering disamakan sebagai pemberontak seperti FUG, tapi Wolhaiksong berbeda. Mereka tidak ingin melengserkan singgasana maupun membunuh Raja Jahad. Mereka ingin... mencari jalan keluar dari Menara. Tujuan yang sedikit bertentangan dengan Jahad dan 10 Keluarga Agung.
***
Aguero merapikan rambutnya yang berantakan akibat embusan—sangat—kencang yang diciptakan sang Ray Barracuda saat meninggalkan ruangan, dengan menggotong kedua pria dewasa yang terluka sekaligus. "Bukankah kau harusnya mengejarnya, Viole? Dia membawa teman-temanmu, dan kusarankan kau membawa si keturunan Yeon."
Pemuda berambut cokelat itu terdiam. Sepasang manik keemasan itu menatap Aguero dalam. "Tapi... Tuan Aguero juga adalah teman saya." Refleks Aguero tersentak, sekali lagi tidak pernah menyangka kalimat semacam itu terlontar dari bibir Calon Pembunuh FUG.
Meski naif dan peduli pada semua orang, apa masuk akal mengatakan pemuda yang baru ditemuinya beberapa hari, keluarga dan sepupu dari gadis yang mengincarnya, pemuda dari Keluarga Khun, Khun Aguero Agnes, si Light Bearer Maut sebagai 'teman'?
Aguero tertawa hambar. Apa ini salah satu triknya dalam menarik simpati Aguero?
Belum sempat Aguero membalas, sebuah suara lebih dulu menyita perhatian kedua pemuda itu. "V-Viole!"
Dari lorong gelap di seberang sana, di balik punggung kedua anak keturunan Arie dan seorang keturunan Khun, terdengar suara seorang anak perempuan. Suara yang terengah seolah dadanya sesak. Gemetar karena takut. Dekat, mungkin hanya beberapa meter dari mulut lorong itu.
"Miseng?" Wajah Viole langsung berubah, khawatir. Dengan segera melangkah menuju para anak keturunan Keluarga Agung. Namun sekali lagi, sebuah tangan mencegahnya melangkah lebih jauh. Sepasang iris biru dan keemasan kembali bertemu.
"Aku tidak menyuruhmu membuangnya," Aguero lebih dulu berucap. "Tapi jika kau ingin semua orang yang ada di sini mati, termasuk rekan-rekanmu yang terluka, maka aku tidak akan mencegahmu." Aguero melepas lengan Viole. "Kau yang bilang kan, kau punya sesuatu yang lebih kau takutkan dari kematian. Apa itu lebih besar dari kematian semua rekanmu?"
Setetes peluh jatuh dari pelipis Viole. Bibir pemuda itu terbuka, hendak menyangkal. Namun menyadari tak ada yang bisa dijadikan pembelaan, pemuda itu mengurungkan niat. Viole mengigit bibir, perlahan menggeleng. Netra keemasan itu terarah ke depan, pada lorong gelap di balik punggung tiga anak keturunan Keluarga Agung. Kemudian pada gadis berambut biru di atas sana.
"Aku berjanji, kita akan menyelamatkannya."
Manik keemasan itu membesar beberapa saat, kemudian mengangguk. "Saya... percaya pada Tuan Aguero." Iris biru dan keemasan itu kembali bertemu, memantulkan bayangan masing-masing. "Baiklah."
Begitu genap ucapan Aguero barusan, Calon Pembunuh FUG itu pun segera melangkah menuju lorong tempatnya memasuki ruangan, hendak menolong Ehwa.
Sekelebat bayangan manik keemasan itu terlintas dalam benak Aguero. Menyebalkan, dan penuh "keserakahan".
"Kakak," Aguero menoleh ke atas, pada bom yang berada dalam genggaman sang adik sepupu, "aku tidak tahu sekarang kau orang yang peduli pada nyawa orang lain?" ucap Kiseia dengan netra memincing ke bawah.
Aguero tersenyum. Dirinya pun juga tidak tahu. Alih-alih melakukan hal merepotkan ini, Aguero bisa saja menggunakan lighthouse birunya untuk berteleportasi dan mencari jalan keluar dari sini. Meski pengecut dan meninggalkan sedikit jejak 'buruk' dalam sejarah pendakiannya ke puncak Menara, tapi itu cara paling aman saat ini. Namun entah kenapa, Aguero tidak ingin membiarkan pemilik sepasang manik keemasan itu mati. Mungkin karena jika Viole mati, ia akan kehilangan 'tontonan' seru. Atau mungkin juga karena ia akan kehilangan alasan tinggal di rumah itu.
Entahlah, Aguero sendiri tidak terlalu yakin. Padahal jika dipikir, kehilangan satu atau seluruh penghuni untuk rumah itu tidak buruk.
Di sisi lain, Aguero juga bisa saja memprovokasi Urek untuk menyerang Kiseia atau merebut bom itu. Namun melihat sikapnya yang gampang tersulut dan meledak, sulit memastikan pria itu akan melakukannya sampai batas mana. Baik bagaimana pun, Kiseia tetaplah anak dari adik ibunya, adik sepupunya, teman masa kecilnya, dan keluarganya.
Jika entah bagaimana, bom itu benar-benar meledak, Aguero yakin semua yang ada di sini akan mati, kecuali Urek dan tim Kiseia. Jika Aguero selamat pun, luka yang ditinggalkan pasti sangat berat, atau mungkin ia kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Sedangkan Kiseia pasti sudah merencanakan semua dengan matang termasuk untuk kabur.
Maka cara terakhirnya, adalah menggunakan dirinya yang adalah 'musuh abadi' seorang Khun Kiseia, orang yang sangat ingin ia ambil nyawanya. Untuk itu, ia harus memastikan kedua pengendali shinsu, Viole dan yang lainnya pergi agar dirinya dapat lebih leluasa. Sebab shinshu adalah kunci utama dari bom itu.
"Entahlah, tapi yang kutahu, kau sangat menginginkan nyawaku kan? Bukannya ini saat yang tepat?" balas Aguero.
Kiseia melempar bom ke atas dengan satu tangan, kemudian menangkapnya lagi. "Mungkin yang kau katakan benar, tapi karena kau yang bilang aku jadi sedikit curiga."
"Walau curiga, kau tidak mungkin membuang kesempatan ini, kan?" Meski berkata dengan raut wajah sedemikian tenang, otak Aguero bekerja keras memikirkan cara keluar dari situasi ini. Manik biru itu menilik sekitar, hingga kemudian berhenti pada salah satu punggung anak Keluarga Agung yang sudah berbalik dan hendak melangkah menuju lorong.
Sudut kanan bibir Aguero terangkat. "Apa kau yakin, mau melepas kesempatan untuk membunuhku begitu saja, Kiseia?" tanya Aguero lagi seolah benar-benar ingin pergi dari dunia ini.
Sepasang iris biru itu mengarah ke atas, berpikir, kemudian kembali memincing ke bawah menatap sang kakak sepupu. "Ya, yang kau katakan benar juga." Gadis berambut biru itu melempar bom begitu genap ucapannya.
Aguero langsung mengatur cepat keempat lighthouse-nya mengelilingi bom yang meluncur dengan cepatnya berjarak semeter di bawah dari posisi bom sekarang. Sinar biru terhubung antar lighthouse, membentuk sebuah persegi. Ketika bom tersebut menyentuh medan lighthouse, shinsu yang berada di dalamnya berhenti dan membuat laju bom tersebut ikut berhenti. Quadruple Blockage.
Kiseia di atas sana tersenyum sinis. Lighthouse itu tidak akan bisa menghentikan bomnya lama. Namun Aguero tahu itu. Sang Light Bearer Maut mengepalkan tangan, "Khun Ran, manusia yang tunduk padaku. Sekarang, kuperintahkan kau untuk melindungi mastermu dengan segenap nyawa dan kekuatanmu."
Sontak tanda berbentuk rantai emas muncul pada kedua punggung tangan lelaki keturunan Khun. Tubuh Ran yang sudah berada di dalam lorong gelap tiba-tiba menguarkan sinar emas terang, hangat. Sinar itu memaksa kakinya untuk bergerak ke arah berlawanan dari yang ia inginkan.
"Kau kenapa?" tanya anak lelaki berambut putih yang terpaksa berhenti karena berjalan di belakangnya. Anna yang berjalan paling depan ikut berhenti dan berbalik. Sedangkan anak lelaki yang ditanya tidak menjawab. Bibirnya bergerak-gerak seolah ada sesuatu yang memaksanya terus menutup walau ia ingin bicara. Dalam satu lompatan, anak lelaki itu meluncur menuju sang master yang terikat dengannya melalui sihir sebuah relikui, meninggalkan embusan kencang yang mengenai kedua anak keturunan Arie.
Di saat bersamaan, kekuatan lighthouse Aguero mulai melemah, hingga akhirnya pecah dan bom itu kembali meluncur. Kiseia yang melihat adik seayahnya tiba-tiba berdiri di depan Aguero membelalak. "Ran...?"
Tatapan tajam nan hawa gelap yang siap membunuh siapa pun dalam satu serangan menguar jelas dari ekspresi anak yang dibungkus sinar keemasan itu, tapi Aguero tak peduli. Sinar keemasan yang membungkus tubuhnya memaksa tangan Ran mengambil sesuatu dari saku, meski sekuat tenaga berusaha dilawan. Tangan gemetar yang penuh perlawanan itu memaksa sebuah pil untuk masuk ke bibir dan menelannya.
Sebuah tanda berbentuk bintang hitam tiba-tiba muncul di pipi Ran bersamaan dengan shinsu listrik biru yang menggelegar dari kedua genggaman, hingga membuat helaian rambut birunya tersibak ke atas. Kekuatan dahsyat yang menyelimuti tubuh kecil itu membuatnya membara. Bom terus meluncur, tinggal beberapa detik sebelum sepenuhnya menyentuh tanah dan meledak. Sialan kau, A.A., batin Ran.