THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 9: Mengorek Informasi



Dua orang pemuda berjalan di antara ramainya hiruk pikuk yang mondar-mandir di kawanan para pedagang. Namun sejak tadi keduanya setia membisu, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bahkan teriakan yang menjajakan dagangan tidak mereka hiraukan. Orang yang sengaja menyapa mereka untuk mempromosikan hanya dibalas anggukan ramah serta lambaian tanda menolak.


“Viole,” panggil si pemuda berambut biru tiba-tiba.


“Y-ya?” Viole yang sejak tadi sedang berpikir apakah tidak apa-apa mengajak Khun satu itu tersadar, dengan kikuk menoleh.


“Aku tahu mungkin ini terdengar aku sedang berpura-pura atau mengorek informasi, tapi aku harap kau dapat memahami posisiku di sini,” ucap Aguero dengan nada sendu—yang dibuat-buat. Pemuda berambut biru itu menatap Viole dalam.


Viole yang hatinya mulai terpengaruh mengangguk. “Baiklah, tapi ada apa, Tuan Khun?”


Aguero terdiam sejenak, menghela napas. “Aku minta maaf kalau kau tidak nyaman, tapi apa aku boleh tahu… mmm… bagaimana keadaan Kiseia selama ini?”


Viole yang tidak menduga mendengar pertanyaan itu  menunjukkan keheranannya. “Bukankah kalian bersepupu…” Jika diingat, kemarin gadis itu bilang kalau ia dan pemuda di sampingnya ini sudah lama tidak bertemu.


Lagi-lagi Aguero menghela napas. “Ya… dulu hubungan kami memang sangat akrab seperti saudara kandung. Kami tinggal bersama setelah ibu Kiseia meninggal. Tapi karena sesuatu, Kiseia benci padaku. Padahal itu hanyalah salah paham….”


“Salah paham?”


Aguero mengangguk. “Kiseia berpikir… aku membunuh kakakku sendiri. Padahal itu bukan aku, itu adalah jebakan yang dibuat untuk menyingkirkanku.”


Viole terdiam. Ia sudah mendengar ceritanya dari Ehwa kemarin. Namun katanya Aguero benar-benar membunuh kakaknya sendiri…. Kalau begitu, apakah itu hanya rumor belaka?


“Jadi… apa kau bisa memberi tahuku bagaimana keadaannya selama ini? Sebagai kakaknya, aku penasaran bagaimana dia tumbuh tanpaku selama bertahun-tahun.”


Viole menatap Aguero lamat-lamat. Pemuda itu kini menunduk, seolah pasrah saja jika Viole menjawab ‘tidak’. Hati Viole yang memang lembut itu pun luluh.


“Dia gadis yang cerdik,” Viole mulai bercerita. “Kami pertama bertemu di Lantai Ujian (Lantai 2). Setelah melewati ujian kami berpisah, tapi kembali bertemu beberapa bulan kemudian. Dia gadis yang pandai dan strateginya tidak pernah gagal. Kemampuannya dalam bertarung juga yang paling hebat di antara kami semua, baik ketika di ujian atau di tim yang sekarang. Jika bukan karena kebohongannya, mungkin dia masih akan menjadi orang yang paling kami andalkan dalam tim.”


“Jika aku boleh bertanya, memang apa yang Kiseia lakukan kemarin?” Akhirnya setelah ‘pembukaan’ yang sekian panjang, ada juga celah bagi Aguero untuk menanyakan yang sebenarnya paling ingin ia ketahui.


Viole terdiam sejenak. Ia menatap jalanan yang ramai di depan. Di kiri-kanan terdapat berbagai kios makanan dan minuman yang didirikan oleh regular yang ingin mendapat uang atau berhenti menaiki Menara.


“Aku mencari seseorang. Namanya Rachel. Kiseia bilang dia tahu di mana Rachel berada. Tapi rupanya itu jebakan. Dia ingin membunuhku dengan teman-teman lamanya,” jelas Viole sendu.


Langkah Aguero spontan terhenti. “T-teman-teman?” ulang Aguero tak percaya. Sejak kecil Kiseia tidak pernah keluar dari kediaman Keluarga Khun, juga tidak ada yang bisa dipercaya dari anggota keluarga lainnya. Mustahil gadis itu bisa bersekutu dengan anggota Keluarga Khun lainnya setelah apa yang telah ia lakukan demi mendukung kakak perempuannya dalam seleksi Putri Jahad.


Viole yang menyadari langkah Aguero ikut berhenti. Ia menatap sejenak raut keterkejutan Aguero—yang kali ini sungguhan. “Iya. Kalau tidak salah katanya mereka telah menunggu lama untuk menyingkirkanku. Ada 5 orang termasuk Kiseia, 3 laki-laki dan 2 perempuan.”


“Apa kau tahu siapa mereka?”


Viole menggeleng. “Tapi kurasa salah satu dari laki-laki itu juga Keluarga Khun. Dia memiliki mata dan rambut berwarna biru.”


Perkataan Viole barusan membuat seluruh tubuh Aguero berbubah kaku. Apa Kiseia dijebak, atau diancam?


Aguero kembali menatap Viole. Bayangan pemuda itu yang diselimuti darah kembali terlintas. Pemuda ini tidak kalah mencurigakan dari si Akraptor itu!


“Tuan Khun? Anda baik-baik saja?” panggil Viole tatkala pemuda di depannya tak kunjung berbicara.


Aguero buru-buru memasang senyum ‘ramah’ andalannya. “Iya, aku tidak apa-apa. Terima kasih karena sudah bersedia memberi tahuku,” ucapnya kemudian lanjut melangkah.


“Oh iya, apa kau mau membeli sesuatu untuk dimakan dulu?” tanya Aguero basa-basi, berusaha menghilangkan kecurigaan kalau-kalau pemuda ini berpikir dirinya berusaha mengorek informasi.


Viole yang sudah berhasil menyejajarkan langkah menggeleng. “Jika mau, kita bisa membeli di perjalanan pulang.”


Aguero mengangguk.


Kedua pemuda itu belok kanan ketika tiba di ujung lorong yang gelap.


“Ngomong-ngomong, aku pernah bertemu seorang gadis yang unik. Katanya tujuannya menaiki Menara adalah untuk melihat ‘bintang-bintang’ di puncak Menara sana.”


Ucapan Aguero barusan membuat Viole mematung. Kedua maniknya bergetar. Aguero yang sudah menduganya ikut berhenti, menanti respon pemuda itu.


“A-anda… mengenal Rachel?” tanya Viole penuh harap.


Begitulah seorang Jue Viole Grace. Tidak hanya pemaaf dan berhati lembut, ia terlalu mudah percaya hanya dengan 1 kalimat atau 1 perbuatan baik. Beruntung ia sudah memiliki kekuatan berkat dilatih gurunya di FUG.


Aguero memasang ekspresi bingung. “Aku… tidak mengerti. Aku hanya bercerita karena bosan.”


Viole yang seolah telah menemukan cahaya atas usahanya mencengkeram bahu Aguero. “Apa anda tahu di mana dia?” Kedua manik keemasan itu berjuang menahan cairan bening yang hendak jatuh.


Aguero menggeleng kikuk. “Kami hanya kebetulan bertemu saat istirahat menaiki Menara,” jawab Aguero seadanya.


Cengkeraman Viole segera melemas, raut kekecewaan tidak dapat ia sembunyikan. “Baiklah. Maaf telah bersikap kasar, Tuan Khun.”


Aguero menggeleng. “Tidak, justru aku yang meminta maaf karena tidak bisa membantumu. Padahal kau sudah membantuku dengan Kiseia. Dan… tolong panggil aku Aguero saja.”


Viole tersenyum sendu, mengangguk. “Baik, Tuan Aguero.”


Aguero yang mendengarnya hanya tertawa kikuk. Namun ia tidak mau terkesan terlalu memaksa pemuda di depannya, apalagi di tim payah itu hanya dia yang “tampak” berpihak padanya.


Yah, tapi baik bagaimana pun, sekarang Aguero sudah dapat memastikan kalau gadis berambut pirang yang ia serahkan ke Workshop kemarin benar adalah gadis yang dicari pemuda ini. Aguero menyeringai diam-diam. Sepertinya kini ia benar-benar harus memastikan Workhop berhasil membangkitkan gadis bodoh itu agar pemuda ini merasa berutang budi padanya.


Di saat kedua pemuda itu kembali sibuk dengan kesunyian masing-masing, sepasang sepatu kulit mendekati mereka. “Wah, wah kita bertemu lagi ya, Light Bearer Maut.”