THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 2: Kakak?



Bertahun-tahun telah berlalu, tapi kejadian hari itu masih segar di kepala Aguero, seolah baru terjadi kemarin.


“Kak Aguero!”


Anak berambut biru yang sedang berjalan itu berhenti, berbalik, menatap adik sepupunya yang sudah seperti saudara kandung setelah hidup serumah selama bertahun-tahun. “Ada apa, Kiseia?”


Iris biru anak perempuan itu masih menatapnya serius, seolah ada ribuan kata yang hendak ia ucapkan. Aguero masih diam, setia menunggu.


“Izinkan aku ikut membantu kakak menjadi Putri Jahad!” ucap Kiseia setengah berteriak.  Aguero diam, menatap adik sepupunya yang masih menatap dirinya lekat.


Kakak perempuan Aguero adalah satu-satunya orang yang mendekati kualifikasi untuk mengikuti Pemilihan Putri Jahad dari cabang Keluarga Agnes, jadi wajar saja jika ia dikagumi banyak orang, termasuk Kiseia.


Aguero menghela napas, mengusap kepala adik sepupunya lembut. “Ya, tentu saja,” ucapnya.


Yah, lagipula harusnya ini tidak berbahaya baginya, mengingat meski masih muda tapi kemampuan pedangnya sangat luar biasa.


Tanpa merasa perlu melihat senyum kebahagiaan di wajah Kiseia, Aguero berbalik dan lanjut melangkah.


Bagi Aguero ucapannya hanya ‘izin’ kecil yang ia berikan pada adik sepupunya, tapi bagi Kiseia itu sudah seperti tujuan hidupnya. Kedua saudara sepupu itu sekarang memiliki tujuan yang sama, tanpa tahu apa yang akan mereka hadapi nantinya.


***


Jantung Aguero masih berdegup cepat, seolah kapan saja siap keluar dari tempatnya. Iris birunya yang sejak tadi terlihat tenang, bahkan ketika menatap tubuh-tubuh tak bernyawa bersimbah darah itu, kini bergetar ketika menangkap kehadiran perempuan berambut biru itu.


“Kiseia….” Lidah Aguero terasa keluh. Selama ini ia bahkan berusaha untuk melupakan nama itu, nama yang menjadi mimpi buruk baginya. Namun kini malah sang pemilik nama yang muncul tepat di mata kepalanya sendiri.


Tangan Aguero mengeratkan genggaman pada dada, berusaha memberi tahu jantungnya untuk tenang. Sekarang bukan saatnya seperti ini. Ia harus menganalisis situasi. Sebisa mungkin ia tidak ingin bertemu dengan adik sepupunya itu, setidaknya tidak sekarang.


Aguero menghela napas. Baiklah. Aguero sedikit mencondongkan kepalanya di balik dinding di belokan itu, menatap adik sepupunya yang masih berargumen dengan seorang pemuda berambut cokelat.


Siapa dia? batin Aguero.


Aguero dapat melihat jelas nafsu membunuh di mata Kiseia saat ini. Tatapannya yang begitu dingin dan kejam itu, entah kapan terakhir Aguero melihatnya. Ujung runcing pisau di tangan Kiseia tepat berada di leher pemuda yang terpojok hingga ke dinding itu.


Sebaliknya, pemuda berambut cokelat itu terlihat lemah. Napasnya memburu cepat. Dari darah yang menempel pada pakaiannya dapat dipastikan luka yang ada pada tubuhnya tidak ringan. Mungkin sebentar lagi nyawa pemuda itu akan melayang.


Aguero telah memutuskan, ia akan tetap diam di tempat sampai pemuda itu kehilangan nyawa—karena tidak mungkin Kiseia yang kalah—dan Kiseia pergi. Namun ia harus memikirkan rencana jika seandainya gadis itu menuju ke arahnya.


“K-kau.. menipuku…,” parau pemuda itu. Suaranya bahkan nyaris tidak terdengar oleh Aguero kalau bukan karena gema di lorong kosong ini.


Kiseia menyeringai. “Ya, dan itu bukan salahku. Kau yang terlalu bodoh dan begitu terobsesi mencari gadis bernama… siapa… oh, Rachel.”


Rachel? Aguero menatap mayat perempuan berambut pirang yang nyaris tak terlihat karena kegelapan di belakang sana. Jika Aguero tidak salah ingat nama perempuan itu adalah Rachel.


Belum selesai Aguero mencari, belum satu pun hasil pencarian ditemukan, tiba-tiba ledakan kembali terdengar. Kali ini lebih keras dibandingkan sebelumnya, hingga membuat Aguero buru-buru melompat, menghindar dari dinding yang hendak runtuh.


“Kakak?”


Aguero mengerjap. Sial.


“Halo, Kiseia. Bagaimana kabarmu?” tanya Aguero sambil berusaha menghias wajahnya dengan senyum. Tenang, tenang.


Seringaian kembali tercetak di wajah gadis berambut biru itu. “Baik. Kau tahu Kak? Aku sudah lama mencarimu untuk meminta tolong…”


Melihat tatapan tajam Kiseia dan posisi tubuh yang berada dalam posisi siap, Aguero tidak lagi berusaha mempertahankan senyumannya. Namun tak dapat dipungkiri, tubuhnya sedikit gemetar.


“Aku ingin meminta tolong agar Kakak mau menyerahkan nyawa Kakak. Dasar pembunuh!” Dengan satu lompatan, Kiseia berhasil menghapus jaraknya dengan Aguero. Tidak tinggal diam, Aguero segera menangkis serangan Kiseia dengan pisau di tangannya.


Siing! Dari jarak sedekat ini, Aguero dapat melihat dengan jelas ekspresi Kiseia ketika membunuh, tersenyum dengan mata yang dingin itu.


Kiseia menambah tenaga pada pisau yang arahkan, membuat pisau Aguero terpelanting hingga mengenai tembok di belakangnya. Aguero mendecih, segera berusaha menambah jarak mereka. Namun sia-sia, kecepatan Kiseia bahkan sudah berkembang pesat dari terakhir mereka bertemu.


Aguero mengendalikan lighthouse-nya membentuk Barrier—menduplikat lighthouse-nya menjadi tiga dan membentuk lapisan pelindung segitiga—untuk menahan serangan Kiseia. Namun 1 yang Aguero lupa, growler milik Kiseia itu mampu menetralkan lighthouse miliknya, yakni senjata besi yang berbentuk bintang yang melayang di sebelahnya.


Dengan satu serangan Kiseia menghancurkan perisai kakak sepupunya itu menjadi berkeping-keping, dengan cepat pisau di tangannya diarahkan ke dada Aguero. Namun beruntung Aguero menghindar di saat yang tepat sehingga serangan Kiseia meleset dan menancap di bahu.


Aguero langsung melompat 3 langkah ke belakang begitu Kiseia mencabut pisaunya dari sana.


Aguero refleks memegangi bahunya yang mengeluarkan cairan berwarna merah. Namun tatapannya tetap tertuju pada gadis yang penuh nafsu membunuh. Aguero berusaha berpikir cepat. Ia tidak ingin lanjut bertarung dengan Kiseia, apalagi setelah kesalahan yang ia perbuat.


Langkah pelan Kiseia terdengar hingga ke langit-langit. Namun pada langkah berikutnya jaraknya dan Aguero kembali terhapus. Kali ini Aguero refleks menangkisnya dengan tas persegi itu.


“Kakak, aku kan sudah minta tolong baik-baik, serahkan nyawamu ya. Aku sangat ingin membunuhmu,” ucap gadis itu sambil berusaha mengalahkan kekuatan Aguero.


Aguero menggeleng, tapi tidak tersenyum. “Aku tidak akan mati sebelum menaklukan Menara dan menjadi Kepala Keluarga Khun.”


Kiseia yang mendengarnya tersenyum meremehkan. Pisau di tangannya pun lagi-lagi berhasil melukai lengan kiri Aguero. “Kau ingin menjadi kepala keluarga ketika tahu orang seperti apa ayahmu itu?” ucapnya.


Aguero tidak menghiraukan perkataan Kiseia, mengambil kesempatan ketika Kiseia berbicara untuk menggapai pisaunya yang terpelanting tadi.


Tatapan kedua sepupu itu saling bertemu, kehangatan yang sebelumnya selalu terpancar tak lagi tampak pada keduanya, dan mungkin takkan pernah lagi.


Sebelum salah satu memulai serangan, sebuah ledakan kembali terdengar, membuat kedua sepupu itu menoleh. Di belakang Kiseia, pemuda berambut cokelat itu tampak berdiri sempoyongan dengan luka di sekujur tubuh. Tampak api yang membara pada iris keemasannya. Tangan kanannya membentuk sudut 90 derajat ke arah dinding berlapis baja yang jebol di sebelahnya.


Dia yang membuat ledakan itu?