![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Kerutan terbentuk di dahi pria itu seiring ringisan yang meluncur dari bibir. Cahaya temaram menerobos masuk ke penglihatan, membuatnya refleks menyipit. Sedetik kemudian samar-samar pria itu dapat melihat bayangan sepasang wajah manusia yang melihat ke arahnya dari atas. "Kau sudah sadar?" tanya salah satu manusia itu. Ah, ini suara Horyang.
Akraptor kembali meringis sambil memegangi belakang kepala yang terasa sakit seolah habis terantuk sesuatu, kemudian beranjak duduk. Netra keemasannya mengerjap tatkala merasakan sesuatu yang dingin dan kenyal pada tempat tangannya menumpu. Perlahan pria itu melirik ke bawah, pada "tanah" merah kenyal tempat mereka berada. "Ini... di mana?" Akraptor bertanya sambil menatap kedua telapak tangannya yang terasa amis dan lengket.
Horyang menggeleng. "Aku juga tidak tahu, tapi kurasa inilah tempat ujian dilaksanakan. "Ketiga pasang mata itu kembali menatap sekitar, kemudian ke atas, pada langit-langit merah yang sama dengan "tanah" tempat mereka berpijak. Tidak ada celah, yang berarti tidak ada kemungkinan sinar dari luar masuk. Satu-satunya sumber pencahayaan adalah nyala api milik gadis keturunan Yeon yang menguar di sekitar mereka.
"Bagaimana dengan Viole dan yang lainnya? Di mana mereka?" tanya Akraptor lagi.
"Kami tidak tahu, sepertinya kita terpisah saat tiba di sini," kali ini giliran Ehwa yang menjawab.
Akraptor menghela, kemudian berdiri, menatap kedua rekan yang tersisa bersamanya. "Kalau begitu tidak ada pilihan lain. Kita coba berjalan saja dulu, siapa tahu kita bisa bertemu dengan yang lainnya di tengah jalan."
Tanpa berpikir panjang Ehwa dan Horyang mengangguk. Ditemani nyala api milik keturunan langsung Keluarga Yeon dan cahaya putih dari ketiga pocket mereka, ketiganya berjalan menyusuri lorong demi lorong, persimpangan demi persimpangan, hingga perlahan kaki mereka mulai kehabisan tenaga. Namun jalan yang mereka tempuh seolah tak akan pernah ada habisnya.
Tap. Tepat ketika kesabaran gadis keturunan Keluarga Yeon itu telah melewati batas dan hendak mengungkap segala kekesalan yang sejak tadi berusaha ia tahan, langkah Akraptor tiba-tiba berhenti, membuatnya mau tak mau ikut berhenti dan mengurungkan niat. Begitu juga Horyang yang berjalan di sebelah gadis itu.
"Ada seseorang di depan," ucap Akraptor. Beberapa kata dari pria bertindik itu sukses mengembalikan keseriusan di wajah Ehwa. Gadis itu kemudian mengarahkan nyala apinya beberapa meter ke depan.
Benar saja. 5 meter di depan tampak sebuah ruangan bundar luas yang terhubung dengan lorong tempat ketiganya berdiri, dan di tengah sana, nyala api Keluarga Yeon itu menampakkan seorang pria kekar yang mengenakan topi berwarna putih. Tindik di kedua telinga. Otot-otot yang menghiasi lengan dan perut pria itu tampak kentara tatkala pria itu tidak mengenakan atasan, tepatnya atasan lengan panjangnya itu ia ikat mengelilingi pinggang. Manik merah yang membara, juga seringaian yang menambah kesan 'mematikan' pria itu.
Akraptor, Ehwa, dan Horyang spontan memasang sikap siaga, menatap lurus ke arah pria yang masih berdiri tegap itu. "Aku ingatkan, aku adalah salah satu makhluk terkuat di Menara," pria kekar itu berucap penuh percaya diri—dan tersirat kemalasan. "Kenapa kalian sangat keras kepala padahal sudah kehilangan begitu banyak ranker? Apa kalian kelebihan ranker di lantai ini?"
Apa? Horyang mengernyit. Ranker?
Namun belum sempat pria bertubuh besar itu bertanya, pria kekar di hadapannya lebih dulu menguarkan bola shinsu putih dari tinjunya, menimbulkan tekanan dahsyat di sekitar tempat itu.
***
"'Bunga zigena adalah bunga yang hanya tumbuh di dalam tubuh 'paus zigena' yang tinggal di Lantai 21. Permata biru yang tumbuh di bagian tengah bunga tersebut sangat cantik. Namun sayangnya sangat sulit didapat karena paus zigena diklasifikasikan sebagai hewan yang berbahaya dan hanya sedikit jinak di waktu tertentu setiap beberapa tahun. Jadi tidak ada data spesifik mengenai di mana dan bagaimana bunga itu tumbuh'," ucap Viole membacakan hasil yang didapat oleh lighthouse milik Aguero.
Mendengar itu, Prince mengeluh. "Kau ini katanya dijuluki Light Bearer... apalah itu kan? Kalau hanya itu sama saja dengan data yang kudapat dengan lighthouse-ku," ucapnya. "Masa data yang kau dapat sama saja dengan data yang didapat light bearer biasa sepertiku?"
"Prince...," sebagai seseorang yang tidak menginginkan adanya keributan dalam waktu dekat, Viole menegur pemuda berambut ungu gelap itu. Namun jangankan menyesal, pemuda itu malah memalingkan wajah dengan kesalnya.
"Aku tidak masalah, Viole," ucap Aguero sambil tertawa renyah. "Yah, terkadang ada beberapa orang yang mengekspresikan rasa tidak puas akan dirinya sendiri dengan membandingkan diri dengan orang lain, kan?" Senyum 'ramah' kembali terulas di wajah rupawan sang keturunan Khun itu.
Prince refleks menoleh. "Ha? Aku? Tidak puas pada diriku sendiri?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. "Apa kau tidak tahu kalau aku ini sangat hebat? Bahkan aku mendapat peringkat 2 saat ujian regular terkuat di ujian Lantai 20." Pemuda bermanik ungu gelap itu tersenyum bangga.
Prince tersentak, dalam sedetik kepercayaan diri yang baru saja membara menurun drastis hingga tak tersisa. "Viole...," jawabnya lesu. Sementara pemuda berambut cokelat yang dibicarakan hanya dapat tersenyum kikuk.
Yah tentu saja, mengingat betapa besar kehebohan yang Calon Pembunuh FUG itu ciptakan waktu itu.
Aguero mengangkat kedua sudut bibir, jawaban yang tentu sudah ia perkirakan. "Baiklah, kalau begitu..."
"Tapi!" tiba-tiba pemuda yang semula menunduk itu mendongak dengan kedua tangannya terkepal, tatapan yang kembali terarah pada keturunan langsung Keluarga Khun itu kembali membara. "Kalian jangan sombong dulu. Lihat saja, suatu hari nanti aku pasti bisa mengalahkan kalian berdua!" seru Prince percaya diri.
Aguero mengerjap. Manik birunya menatap dalam sepasang iris ungu gelap yang menatap lurus ke arahnya. Seolah tidak terlalu menganggap ucapan Prince, Aguero menghela dan mengangguk seadanya. "Ya, tentu saja."
Melihat sikap tidak mengenakan keturunan Khun itu membuat kekesalan memuncak dalam diri Prince. Saking kesalnya tubuh pemuda itu sampai gemetar mengepal tinju. Lihat saja nanti....
"Viole, kurasa lebih baik sekarang kita mulai mencari bunga zigena itu," ujar Aguero sambil berdiri. Tanpa perlu merasa menunggu jawaban, pemuda itu lebih dulu berbalik dan mulai melangkah sambil terus mengiring lighthouse dan pocket miliknya.
Viole mengangguk, meski tahu Aguero tidak akan melihatnya. "Ayo, Prince." Pemuda berambut cokelat itu lebih dulu berdiri dan menyusul Aguero, tanpa menyadari raut gelap dari pemuda yang masih duduk di belakang sana.
Mengandalkan sinar biru yang dipancarkan lighthouse dan sinar putih dari ketiga pocket, ketiganya terus berjalan menyusuri lorong panjang yang sejak tadi tidak mereka temukan ujungnya. Suara langkah yang berpijak pada "tanah" kenyal dan amis memenuhi pendengaran.
"Tuan Aguero," sekian lama berjalan dalam keheningan, pemuda bermanik keemasan itu tiba-tiba berucap dengan suara pelan. "Bukankah sampai sini sudah cukup?"
"Oh?" Sepasang iris biru itu melirik pemuda yang berjalan di sampingnya. "Kau sadar rupanya." Tanpa membuang banyak waktu lagi, tangan Aguero dengan segera menembus lighthouse miliknya, kemudian melempar tali tambang berwarna keemasan jauh ke belakang.
"Argh!" Terdengar suara erangan disertai sesuatu yang jatuh dalam kegelapan yang menyelimuti di belakang. Juga... suara antusias si relikui tatkala bisa kembali keluar dari kubus membosankan itu—yang hanya dapat didengar Aguero.
Prince terperanjat, menoleh sekilas ke asal suara. "Ada... orang lain selain tim kita di sini?"
Lagi-lagi pemuda berambut biru itu tersenyum, mengarahkan lighthouse birunya perlahan ke belakang. Awalnya hanya tampak sepasang kaki pucat layaknya milik anak berusia belasan tahun. Kemudian lighthouse itu bergerak semakin jauh, membuat sinarnya mengenai wajah anak itu. Anak berambut putih sebahu, dengan sepasang mata keperakan dan kemeja yang membungkus tubuh, berada dalam lilitan sang tali tambang 'kesayangan' Aguero.
***
Brak! Suara gebrakan meja memenuhi ruangan temaram itu, membuat orang-orang yang berada di sana tersentak. "Sebenarnya apa yang mereka lakukan?" seruan penuh amarah itu terdengar memekakan telinga. "Tidak bisakah mereka menjalankan satu perintah sederhanaku dengan benar? Kenapa mereka semua masuk ke dalam?"
Seru-seruan kemarahan terus dilontarkan bibir kering itu hingga bertambah kering, membuat orang-orang yang berdiri dalam ruangan yang sama dengan pria itu menutup mata. Tanpa menyadari ada seorang pria yang diam-diam mendengar perkataannya dari luar. Pria itu tersenyum, kemudian lanjut berjalan dengan kedua tangannya dimasukkan ke saku.