![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Suara langkah cepat tak beraturan yang menapak pada "tanah" kenyal merah menggema hingga langit-langit. Peluh membasahi pakaian ketiga manusia itu, terutama pemuda berambut keemasan yang berlari paling depan. Meski terengah-engah, sedikit pun Wangnan tidak menurunkan kecepatan. Sepasang iris keemasannya tetap terfokus pada makhluk berwarna merah muda yang berlari di depannya. Makhluk kecil berkaki empat dengan sebuah bunga merah yang mekar di punggung, dan yang paling penting, di tengah bunga itu terdapat permata biru yang berkilauan.
"Makhluk itu cepat sekali!" keluh Wangnan sambil terengah, tapi tetap berlari. Sementara Miseng dan Goseng tertinggal jauh beberapa meter di belakangnya. Keadaan kedua perempuan itu bisa dikatakan lebih buruk dibanding Wangnan, terutama Goseng yang sudah hampir kehilangan seluruh tenaganya.
Hup.
Sepasang mata keemasan itu membelalak, refleks menghentikan langkahnya yang berlari dalam kecepatan penuh. Satu langkah terlambat maka entah bagaimana nasibnya. Miseng dan Goseng yang tiba di sebelah Wangnan beberapa menit kemudian ikut berhenti, mengatur napas yang terengah-engah.
"Ada ap..." Pertanyaan yang hendak dilontarkan wanita berkacamata itu lebih dulu dijawab oleh pemandangan yang ada tepat di depan mata. Sebuah jurang lebar dengan jarak ratusan meter dari ujung tebing di seberang sana. Cincin-cincin raksasa berwarna-warni yang melayang di atas jurang itu. Jurang yang entah berakhir di tempat seperti apa dasarnya.
Miseng menegup ludah. Namun keraguan yang sempat terbesit dalam benak anak perempuan itu langsung terhapus oleh embusan angin yang tiba-tiba melewati sampingnya. Entah sejak kapan, Wangnan mundur beberapa langkah. Kemudian berlari dan mengambil lompatan besar, mendarat di salah satu cincin raksasa itu. "Ayo, kita tidak bisa kehilangannya!" seru pemuda itu sambil menoleh ke belakang, kemudian dengan segera melompat dari satu cincin raksasa ke cincin lainnya.
Goseng dan Miseng yang melongo pun tersadar. "I-iya...."
Berbeda dari Goseng, Miseng tiba-tiba mendapat sebuah ide. "Observer!" serunya sambil mengarahkan sebuah benda bulat kecil mendekati si makhluk kecil. Goseng yang menangkap maksud Miseng pun tersadar, dengan segera mengarahkan kedua lighthouse miliknya mengelilingi makhluk yang terlihat bingung itu. "In Field!" Lighthouse merah muda itu pun samar-samar mengeluarkan percikan listrik, yang membuat makhluk kecil itu refleks berhenti karena bingung.
"Flow Control!" Dibantu dengan observer milik Miseng, kedua lighthouse itu mengontrol aliran shinsu di medan sekeliling makhluk itu untuk menghentikan pergerakannya.
Wangnan yang melihat ulah kedua perempuan itu pun segera mempercepat langkah. "Bagus!" serunya. "Nah, tunggu aku baik-baik di sana." Namun tepat ketika langkah pemuda itu mendarat di cincin yang sama tempat makhluk itu berada, sekilas permata pada bunga memancarkan sinar biru redup. Medan yang diciptakan Goseng pun hancur dan makhluk itu kembali melompat ke cincin raksasa lainnya.
"Maaf!" seru Goseng dari jauh, sedikit merasa bersalah. Namun pemuda berambut keemasan itu malah tersenyum sambil tetap melompat. "Tidak apa-apa! Kalian juga cepatlah!"
Goseng dan Miseng pun segera menarik kembali masing-masing alat mereka. Kemudian Goseng menyuruh Miseng untuk berdiri di atas salah satu lighthouse merah muda miliknya. Sambil mengatur laju kedua lighthouse-nya, wanita berkacamata itu berusaha berlari dan melompat di atas cincin-cincin raksasa itu secepat mungkin.
Seolah semesta sedang berbaik hati—atau senang mempermainkan orang—sekali lagi Wangnan berhasil mendarat di cincin tempat makhluk kecil itu berada. Senyum kemenangan pun segera terukir di wajah, berusaha menangkap makhluk itu. "Kena kau!" Namun sayangnya makhluk kecil itu lebih gesit, dengan segera melompat ke cincin biru di sebelahnya. Sedangkan pemuda berambut keemasan itu harus berpegangan pada cincin merah tempatnya sedetik lalu berdiri, jika tidak ingin berakhir dalam kegelapan di bawah sana.
Tap. Namun tidak butuh waktu lama, Wangnan dengan segera kembali berdiri di atas cincin raksasa, kembali melompat mengejar makhluk kecil yang lincah itu dengan semangat yang seolah tak dapat dipadamkan oleh apapun.
Dalam waktu 5 menit, makhluk kecil itu tiba di seberang, berlari menyusuri lorong tempatnya mendarat. Wangnan tiba 3 detik setelahnya, tanpa sempat beristirahat sedikit pun langsung mengejar dengan bantuan sinar dari pocket meski kakinya sudah hampir patah. Miseng dan Goseng tiba 25 detik kemudian. Kedua perempuan itu mau tak mau langsung berlari mengikuti punggung Wangnan yang menjauh, meski tarikan napas yang diambil semakin bertambah tiap detik.
"Ah!" refleks Wangnan tatkala makhluk merah muda itu tiba-tiba berbelok dan masuk ke sebuah lorong kecil di dinding. Wangnan berhenti, menyeka peluh yang membanjiri pelipis sambil mengatur napas yang terengah. Begitu juga Goseng dan Miseng yang tiba beberapa detik setelahnya. "Itu... masuk ke dalam...."
"Apa??" refleks Goseng yang mengikuti arah telunjuk Wangnan. Wangnan berjalan ke arah mulut lorong itu, berjongkok, mengukur kira-kira seberapa besar lorong itu. Sempit sekali, batinnya. Namun pandangannya yang semula ragu langsung berubah begitu melihat Miseng. "Kurasa... Miseng bisa masuk."
Mendengar ucapan Wangnan, kedua perempuan itu pun tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. "T-tapi... bukankah berbahaya membiarkannya sendirian di dalam sana?" tanya Goseng ragu.
"Tapi kita tidak bisa membiarkan makhluk itu kabur, kan?" balas Wangnan. Sepasang manik keemasan itu kembali menatap anak perempuan yang tampak ragu itu. "Aku.... Aku...."
"Kau bisa kan, Miseng?" tanya Wangnan berusaha membangkitkan kepercayaan diri anak itu. "Hanya kau yang bisa melakukannya." Satu kalimat dari pemuda berambut keemasan itu berhasil membuat sesuatu dalam diri Miseng membara. Akhirnya dengan semangat anak itu pun mengangguk, "Aku bisa!"
Goseng yang melihat semangat di mata Miseng pun tak dapat berkata apa-apa lagi. Wanita itu hanya dapat berpesan untuk berhati-hati dan selalu berhubungan melalui pocket. Miseng hanya tersenyum dan mengiyakan. Mengandalkan cahaya yang dipancarkan oleh pocket dan observer, Miseng pun merangkak langsung ke dalam lorong sempit itu. Sendirian.
Goseng yang kelewat khawatir langsung duduk di sebelah mulut lorong itu sambil memeluk lutut setelah anak itu sepenuhnya merangkak masuk. "Apa dia akan baik-baik saja sendirian di sana...?"
"Tidak apa-apa, aku yakin dia pasti bisa dan kembali dengan selamat," ucap Wangnan penuh keyakinan.
"Kalau terjadi sesuatu dia pasti akan langsung menghubungi kita. Ditambah, belakangan ini dia terlihat murung karena merasa tidak berguna. Terlebih, setelah apa yang terjadi di antara keturunan Khun itu dengan Tuan Akraptor minggu lalu," ucap Wangnan lagi.
Goseng menunduk. "Ya.., mungkin saja kau benar...."
"Aku akan melihat-lihat sekitar, bantu aku dengan lighthouse-mu," ujar Wangnan sebelum kemudian berbalik diikuti pocket-nya. Goseng mengangguk, "Baik, pergilah." Kemudian mengarahkan salah satu lightouse mengikuti Wangnan, menerangi jalan pemuda itu.
Namun tidak sampai 10 langkah pemuda itu berjalan, terdengar suara dari pocket yang melayang di dekat Goseng. "Aku... sudah mendapatkannya." Wangnan pun refleks segera berlari kembali ke arah Goseng, yang kini sudah berdiri.
"Benarkah? Itu bagus!" puji Wangnan. "Kalau begitu, cepatlah kembali," lanjut Goseng yang masih juga khawatir. Keduanya menatap antusias bola hitam yang melayang itu. Hening.
"Miseng?" panggil Goseng yang kekhawatirannya mulai memuncak.
"Ada... orang di sini." Satu kalimat dari anak perempuan itu sukses membuat Goseng dan Wangnan membelalak. "Siapa itu, Miseng?" tanya Wangnan yang juga mulai khawatir. Namun lagi-lagi hanya keheningan yang berasal dari bola hitam itu.
"Mi..." Sambungan komunikasi lebih dulu diputus sepihak sebelum Goseng sempat kembali memanggil. Bersamaan dengan itu, sebuah pesan teks masuk. "Sebuah koordinat?" Goseng menatap Wangnan, yang juga menatapnya. "Apa mungkin ini koordinat tempat Miseng berada?"
Wangnan mengangkat bahu, cemas. "Yang pasti hanya ini satu-satunya petunjuk kita untuk menemukan Miseng." Mendengar ucapan Wangnan, tangan wanita berkacamata itu langsung berkutat dengan lighthouse miliknya. "Akan aku scan koordinatnya sekarang!"
***
"Regular?" setelah dua ledakan shinsu dahsyat yang diciptakan tinjunya, dan membuat ketiga orang itu berlari menghindar hingga berakhir di ruangan bundar luas itu, akhirnya pria kekar itu membiarkan Horyang berkata sampai selesai. Horyang mengangguk, "Benar, kami bukan ranker, melainkan regular yang datang karena ujian kami kali ini adalah membawa bunga zigena."
Pria kekar itu terdiam, tapi tekanan dari shinsu yang berasal dari tinjunya sedikit pun tak memudar. Ehwa, Akraptor, dan Horyang menegup ludah, menanti apa lagi yang akan dilakukan pria itu. Namun jauh dari perkiraan, malah sebuah gelak yang meluncur dari bibir pria kekar itu. Tawa yang menggema hingga ke lorong-lorong yang terhubung dengan tempat itu. "Kasihan sekali...."
Manik merah itu kembali menatap ketiganya serius. "Aku ke sini juga untuk mencari bunga zigena. Tapi karena belum waktunya aku pergi, aku menghabiskan waktu dengan membunuh para ranker. Dengan kata lain, ujian kalian ini hanya alasan. Mereka mengirim kalian ke sini karena semua ranker yang masuk sudah mati," gelak sekali lagi meluncur dari bibir pria itu. "Kasihan, apa kalian melakukan kesalahan pada supervisor ujian kalian?"
Satu pertanyaan itu spontan membuat Akraptor dan Horyang tersentak. Satu nama muncul dalam benak kedua pria itu. Viole, sang Calon Pembunuh FUG, organisasi yang menentang Raja Menara. Apa mungkin ini semua karena pemuda itu? Rencana sekelompok orang untuk "menyingkirkan" atau menggagalkan Viole dalam menaiki Menara?
"Yah, begitulah para Keluarga Agung membereskan masalah," pria kekar itu kembali berucap, melangkah keluar dari bayang-bayang, kembali menginjakkan kaki di ruang bundar itu. "Pilihlah, kalian menyerah atau tetap melanjutkan ujian. Aku berjanji akan membiarkan kalian hidup asal kalian pergi dan menyerah pada ujian kali ini."
Ketegangan menyelimuti ruangan bundar itu. Horyang, Akraptor, Ehwa, ketiganya terdiam dan menunduk. Menyerah dalam ujian kali ini?
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba Akraptor mengarahkan tangannya ke udara kosong di samping. Sinar berwarna putih muncul dalam genggamannya, memanjang, membentuk sebuah senjata berbentuk payung. "Bukankah sudah jelas?" jawab pria itu disertai seringaian. Horyang dan Ehwa yang berdiri di kiri-kanannya pun turut menjawab dengan memasang kuda-kuda.
Tanpa mereka sadari, di mulut salah satu lorong di dinding atas ruangan itu, terdapat seorang gadis yang dari tadi duduk sambil menikmati pertunjukkan. "Bukankah ini menarik?" tanyanya pada anak lelaki yang duduk di belakang.
Anak lelaki itu melirik sebentar ke bawah. "Kurasa pertarungan sepihak seperti ini memang menarik untukmu. Mengecualikan peringkat 1 dan 2 yang statusnya tidak aktif, serta Raja Jahad, orang yang mereka lawan itu benar-benar orang terkuat di Menara," ucapnya, kemudian melahap cemilan dari bungkusan di samping.
"Aku boleh minta?" tanya gadis itu sambil menyodorkan tangan. Anak lelaki itu memincingkan netra, mengisyaratkan 'bukankah kau bisa ambil sendiri tadi sebelum datang ke sini'. Gadis itu pun tertawa pelan. "Aku bercanda. Tapi itu mengingatkanku," gadis itu kembali menatap ke bawah, "aku harus mengambil stok yogurt khusus milik kita dari toko itu. Ya kan?"
"Tentu saja."