THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 23: Ini.... Ini Menakjubkan!



15 menit telah berlalu di dalam ruangan luas itu, hanya berdiri, tanpa bergerak sedikit pun sejak tiba di sana. Peluh mulai bercucuran dari satu per satu penghuni, kecuali penghuni yang berdiri paling depan yang membawa kipas angin portable dan mengarahkannya tepat ke wajah bulatnya sendiri.


"Permisi...," seorang wanita yang berbicara dalam ruang hening selama 15 menit itu spontan menjadi pusat perhatian. "Apa yang terjadi? Di mana tim yang akan melawan kami?" Kepala-kepala yang semula menoleh ke arahnya, dalam sedetik berubah haluan ke depan, ke pria yang mengenakan pakaian khas Negeri Tiongkok.


Noma, pengurus ujian Lantai 21, tersenyum, melempar kipas yang berada di tangannya ke belakang begitu saja. "Mereka melarikan diri, sepertinya mereka kabur karena mendengar Tuan Viole juga akan mengikuti ujian ini," jawab pengurus ujian itu dengan kedua telapak tangan yang disatukan di depan dada.


Spontan saja jawaban itu membuat seluruh penghuni ruangan tersentak, bahkan manik Goseng dan Wangan membelalak seolah siap meninggalkan tempat kapan saja karena terkejut. Kegaduhan samar terdengar menyelimuti ruangan.


Satu-satunya pemilik sepasang manik biru di sana melirik ke arah Viole, yang lagi-lagi kali ini tidak memberi respon berarti. Hanya berdiri dan menatap ke depan, dengan ekspresi terkejutnya yang terbilang cukup datar.


"L-lalu... bagaimana dengan ujian kami?" tanya Goseng lagi. Seketika keheningan kembali menyergap, semua pasang mata serentak tertuju pada sang pengurus ujian. Bukannya langsung menjawab, pengawas ujian itu malah tersenyum, yang malah membuat sebagian besar penghuni lainnya menegang. "Kalian tidak perlu khawatir dengan ujiannya karena saya sudah mempersiapkan sesuatu yang menarik."


"'Menarik'?" Wangnan mengernyit. "Apa maksudmu?"


Gelak renyah yang meluncur dari bibir Noma membuat seluruh peserta ujian di ruangan itu mengerjap beberapa kali. "Ayo, ikut aku!" ucap pria berpakaian serba merah itu setelah puas tertawa.


***


Angin berembus kencang menerpa wajah. Ehwa merapikan rambut panjang indahnya yang terbawa embusan. Wangnan yang antusias segera mendekati bagian pinggir dari "sesuatu" yang mereka pijaki, menatap luasnya deburan ombak yang membentang di sekitar, ditambah beberapa makhluk laut yang muncul ke permukaan. Ikan-ikan panjang yang terbang, atau lumba-lumba yang melompat sejauh mata memandang. "Ini.... Ini menakjubkan!" serunya terpukau.


Goseng menutup mata, menikmati suara deburan ombak bak alunan indah di telinganya, juga cahaya mentari yang terasa hangat di kulit. Tanpa menyadari, dari belakang, ada seorang pria bertubuh besar yang tersenyum melihatnya dengan rona kemerahan samar di pipi.


Di sisi lain, Miseng mencoba melompat, penasaran ingin melihat lebih jelas laut yang mereka lewati. Namun hampir saja ia tergelincir jika bukan karena ditahan oleh sepasang tangan. "T-terima kasih," ucap anak itu pada pemuda berambut cokelat yang menolongnya. Viole menatap anak yang masih belum ia lepaskan pegangannya, kemudian ke depan, ke lautan yang seolah terbelah seiring melajunya "sesuatu" yang mereka naiki.


Tanpa mengatakan apapun, Calon Pembunuh FUG itu mengangkat Miseng, yang lantas membuat anak itu mengira ia akan dilempar ke lautan karena tingkahnya barusan. Manik cokelat anak itu memejam erat. Jika pun benar dilempar, semoga tidak ada binatang buas di bawah sana.


Tap.


Eh? Ragu-ragu anak itu mencoba membuka. Namun tanpa menunggu detik sepasang netra itu membelalak antusias. Embusan angin yang menerap wajahnya terasa lebih kencang, ditambah pemandangan ombak dan lautan yang lebih luas dibandingkan yang ia lihat sebelumnya. Ternyata pemuda itu tidak berniat melemparnya ke laut, hanya ingin menggedong dirinya di bahu agar dapat lebih mudah melihat. "Terima kasih, Viole!" seru Miseng senang. Rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajah anak perempuan itu.


Viole tersenyum, berjalan lebih dekat ke area pinggir, tepatnya di sebelah Wangnan dan Prince yang masih terlihat antusias. Sebenarnya Viole sendiri pun juga cukup menikmati pemandangan di sini. Selain isi Menara, satu-satunya hal yang pernah dilihat pemuda itu dalam hidupnya hanyalah kegelapan tiada akhir dalam gua yang menjadi tempat tinggalnya selama bertahun-tahun. Dalam kesendirian, sebelum "cahaya"-nya tiba.


Ah, Viole menunduk. Mendadak pemuda itu jadi semakin penasaran akan keberadaan gadis yang selama ini ia cari, alasan awal kedatangannya ke Menara ini. Rachel.


"Itulah yang membedakanmu dengan Viole," tiba-tiba sebuah suara muncul dari sebelah Aguero, membuat pemuda itu menoleh. "Meski dari luar terlihat begitu, tapi dalam hatinya dia sangat peduli pada rekan setimnya."


Aguero sedikit mengernyit dan tersenyum sinis, mengangkat bahu. "Entahlah, aku berani bertaruh dia peduli pada semua orang, bahkan orang yang berpotensi menjadi musuhnya sekalipun," ucap Aguero percaya diri, mengingat dirinya sendiri merupakan 'bukti' hidup peristiwa yang baru meluncur dari bibirnya.


Sejenak Akraptor terdiam, tidak bisa menyangkal. Pria berambut putih itu menatap ke depan dan berdeham singkat. "Tapi setidaknya dia tidak sepertimu, Anak dari Keluarga Khun, yang dengan mudahnya membunuh rekan jika dirasa tidak diperlukan lagi. Karena itu..," Akraptor menoleh ke arah pemuda di sampingnya. Namun... perkataannya harus terhenti tatkala pemuda itu tidak lagi di posisinya semula. Akraptor mengerjap, menatap ke seberang dan... benar saja! Pemuda keturunan keluarga tidak sopan itu sudah berada di sebelah Viole.


"Ha.... Ha...." Tawa penuh penekanan meluncur dari bibir pria berumur itu, berusaha menahan amarah. Namun melihat Aguero yang tengah berbincang dengan Viole membuat kejadian di ruang tamu kemarin melintas di benaknya. Akraptor menunduk, mengepalkan tangan. Sungguh, sebenarnya sampai kapan Viole mengizinkannya tinggal bersama mereka? Bahkan kini pemuda itu juga mengikuti ujian bersama mereka!


Sedangkan di belakang sana, Ehwa yang sibuk mengoles tabir surya—yang selalu gadis itu bawa—di lengan terhenti karena melihat seorang manusia yang jauh lebih pendek darinya lewat. Bukan, bukan karena tingginya yang membuat Ehwa berhenti, melainkan pakaian dan pelampung di tangan pria itu. "Apa kau datang ke sini untuk bermain?" gumamnya.


Namun dari jarak sedekat itu, tentu saja gumamannya terdengar oleh Noma, membuat pria yang digumamkan menoleh. Ehwa refleks mengalihkan pandangan, buru-buru kembali mengoles tabir surya di lengan.


"Semuanya, dengarkan!" tiba-tiba Noma berseru, membuat semua peserta ujian di sana menoleh. Pria yang mengenakan baju renang itu berjalan, hingga kemudian berdiri di satu titik. "Berkumpul," ucap Noma memberi instruksi.


Tanpa membuang banyak waktu, semua anggota Tim Asam Manis—nama tim Viole dan kawan-kawan—segera berkumpul di sekitar Noma. "Dalam beberapa menit, paus ini akan menyemburkan air dan kalian akan langsung tiba di tempat lain. Tugas kalian adalah mengambil bunga yang tumbuh di tempat itu, bunga zigena."


"Tunggu, 'paus'?" Wangnan memberi jeda dalam perkataannya. "Maksudmu... yang kami naiki sekarang ini adalah paus?!!!" tanya Wangnan tak percaya, spontan menatap "sesuatu" yang menjadi pijakan kakinya. Begitu pun anggota tim lainnya, kecuali Aguero yang sudah sadar sejak awal.


Noma tertawa. "Begitulah. Pokoknya, seperti itulah tugas kalian." Pria itu mundur beberapa langkah, mendekati bagian pinggir punggung paus tempat mereka berdiri. Hingga kemudian ketika laju paus itu sepenuhnya berhenti, Noma melompat ke belakang sambil memberi salam perpisahan dengan menempelkan jari telunjuk dan tengah ke pelipis. Kemudian menghilang di balik deburan ombak.


"Dia... tidak mati kan?" tanya Miseng yang baru turun dari bahu Viole, masih menatap tempat di mana pria berbaju renang itu terkahir kali berdiri.


Akraptor menggeleng patah-patah, "Seharusnya tidak."


BYUURRR! Tiba-tiba punggung paus yang menjadi pijakan mereka bergetar. Masing-masing anggota menoleh cepat ke asal bayangan panjang yang menimpa mereka, ke air yang menyembur dari lubang tepat di tengah mereka. Hingga akhirnya, seluruh pandangan mereka sepenuhnya tertutup oleh air yang menyembur itu.


***


Di tempat lain, dalam kegelapan yang sangat nyaman dijadikan tempat untuk tidur, sepasang mata merah yang semula tertutup terbuka dalam hitungan sepersekian detik. Pria kekar yang mengenakan topi berwarna putih itu menghela, beranjak berdiri dari posisi berbaringnya. "Apa ada yang datang?" gumamnya malas.