![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Redan. Sebuah teknik yang berfungsi ketika seseorang memakan "pil peringan", yakni bang shinsu yang dipadatkan dalam bentuk pil dan bersifat peringan. Ketika seseorang memakan pil ini, terutama anggota Keluarga Agung yang bukan hanya dapat memanipulasi shinsu tapi juga menghasilkan shinsu dari tubuhnya, dapat dihasilkan kekuatan yang sangat hebat sebagai reaksi shinsu tersebut dengan pil peringan.
Namun bagi mereka yang tubuhnya tidak cocok dengan pil ini, mereka akan mati karena tersetrum saat menelannya. Oleh karena itu, hanya orang-orang "pilihan" yang dapat menggunakan teknik ini. Salah satunya adalah Khun Ran yang mewarisi shinsu listrik keluarganya.
Karena mengenalnya sejak masih berada di kediaman, Aguero mengetahui hal ini. Ran yang masih memanggil Aguero dengan panggilan "A.A."—Aguero Agnes—adalah salah satu buktinya.
Di saat-saat terakhir, ketika Aguero melihat punggung anak berambut biru pendek itu, otak Light Bearer Maut itu terpikirkan sebuah cara untuk keluar dari situasi genting ini. Jika semua orang bisa mati jika bom yang dilempar Kiseia meledak di dalam tubuh paus zigena, maka satu-satunya cara adalah baik bagaimana pun, bom itu harus dikeluarkan dari sana.
Dengan kekuatan orang biasa, itu memang tidak mungkin. Sebab tambahan ledakan shinsu hanya akan memperparah ledakan yang ditimbulkan, dan jika bom tersebut meledak sebelum mencapai luar, maka hasilnya hanya akan menjadi lebih buruk. Namun itu jika bom tersebut meledak sebelum mencapai luar.
Khun Ran adalah top 5 regular kelas E, salah satu keturunan langsung Keluarga Khun paling berbakat, anak yang bahkan dapat menguasai serangan yang hanya bisa dikuasai oleh Putri Khun Mascheny Jahad, ditambah dengan bakatnya yang terbukti dengan menguasai teknik langka redan. Dengan beberapa fakta ini, rencana apa pun yang ada dalam benak Aguero saat itu dapat direalisasikan dengan bantuan Ran.
Namun apa Ran yang ada di pihak Kiseia bersedia membantu Aguero? Tentu saja... ya. Semua dengan bantuan semesta yang mengikat takdir anak itu dan Aguero melalui sebuah relikui rank D, Tali Tambang Arlene. Menjadikan Khun Ran dengan harga dirinya yang melebihi angkasa sebagai budak untuk sang master, Khun Aguero Agnes, sesuai masa waktu yang ditetapkan sang relikui.
"Sialan kau, A.A." Menanggapi umpatan sang adik seayah, Aguero hanya dapat tersenyum miris.
Segera setelah Ran mengaktifkan teknik redan karena aktifnya rantai yang mengikatnya dengan Aguero, sebuah tombak shinsu listrik raksasa meluncur dari jarinya. Ukuran tombak itu kian lama kian bertambah dengan larik-larik listrik biru yang mengitarinya, membidik tepat ke arah bom yang hendak jatuh itu dengan secepat kilat. Begitu ujung tombak mengenai bom, bom tersebut langsung terdorong ke belakang. Bahkan saking dahsyatnya kekuatan yang terkandung dalam lemparan tombak shinsu itu, dinding merah raksasa yang menahan bom itu sepenuhnya terkoyak dan membiarkan bom beserta tombak itu menuju langit biru di luar sana.
DUAARR!!!
Bom itu meledak begitu menembus dinding yang tak lain adalah tubuh dari seekor paus zigena. Namun tidak cukup jauh untuk dampak dari ledakan itu sama sekali tidak mengenai orang-orang yang berada di sana. Bahkan Aguero sendiri, meski telah melindungi diri dengan barrier ligthouse-nya, tubuhnya tetap terpental jauh ke dalam lorong gelap di belakang.
Hal terakhir yang Aguero tahu tentang kejadian itu hanyalah paus zigena yang bahkan tidak sempat meronta kesakitan karena secepat itu jugalah nyawanya melayang, serta si Calon Pembunuh yang tiba beberapa saat kemudian. Sedangkan untuk Kiseia dan anak Keluarga Agung lainnya, Aguero tidak tahu.
***
Kerutan terbentuk di dahi pria tua itu tatkala tiga batang permen lolipop dalam bungkusan warna-warni terarah padanya. "Apa aku bisa menganggap ini sebagai jawaban positif darimu, Anak dari Keluarga Khun?"
Bukannya menjawab, Aguero hanya mengangkat bahu kemudian semakin mendekatkan lolipop itu ke arah Jinsung. "Seperti katamu sebelumnya, sekarang para Keluarga Agung tidak mengajarkan keturunan mereka sopan santun. Jadi kuharap kau dapat mengartikannya sendiri. Tapi kalau kau mengartikan ini sebagai ungkapan kekesalanku karena rokokmu, aku tidak keberatan," ucap Aguero dengan kedua sudut bibir terangkat—senyum yang membuat pelipis Jinsung berkedut kesal.
"Baiklah, senang berbisnis denganmu," jawab Jinsung sambil menerima kasar tiga batang lolipop yang disodorkan, kemudian lanjut berbalik dan melangkah menuju satu-satunya pintu besi berjarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
"Oh, aku hampir lupa," ucap Aguero seolah benar-benar baru teringat sesuatu, membuat Jinsung melirik ke belakang sekilas. "Sebaiknya kau turun lewat jalan lain karena..."
"Apa otakmu bekerja terlalu keras sampai rusak sekarang? Kau pikir di atap seperti ini aku bisa turun lewat jalan mana lagi kalau bukan pintu ini?" potong Jinsung jengkel, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.
Kriet....
Satu-satunya akses yang menghubungkan atap dan bagian dalam gedung itu terbuka, tapi pelaku yang membukanyalah yang membuat Jinsung terkejut hingga menjatuhkan rokok yang kembali berada di bibirnya beberapa detik lalu.
Seketika peluh bercucuran membasahi rambut hitam pria keturunan Ha itu tatkala ia sangat sadar bahwa muridnya tidak akan suka jika tahu rencananya yang melibatkan beberapa keturunan Keluarga Agung itu. Ya, Viole adalah satu dari sedikit orang di dunia yang dapat membuat Jinsung bertingkah demikian.
"Guru, saya sedang bertanya kepada anda," ucap Viole lagi, kali ini lebih tegas, membuat sang guru bertambah gugup. Sepasang bola mata Jinsung menatap sekitar panik, hingga kemudian pria tua itu teringat akan tiga benda yang masih berada dalam genggamannya. "Permen!" tiba-tiba pria itu berseru sambil menunjukkan tiga batang lolipop yang diberi Aguero tadi. "Kau tahu, aku ingin memperbaiki kebiasaan burukku dengan rokok, jadi aku meminta solusi pada anak itu karena kudengar dia pintar. Benar kan, Anak Keluarga Khun?"
Kedua pasang mata dengan segera tertuju pada Aguero yang dengan santai menonton 'drama' guru dan murid itu. Aguero terkekeh, menertawakan tingkah bodoh Jinsung tepatnya. Tanpa mengatakan apa pun mengangguk.
"Nah karena aku masih ada urusan, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, Viole," ucap Jinsung sambil menepuk-nepuk pundak Viole, kemudian dengan segera melangkahkan kaki menuruni anak tangga di balik pintu itu. Viole yang kehilangan pemilihan waktu yang tepat untuk berbicara hanya dapat mengernyit menatap punggung yang menjauh.
"Apa kau akan berdiri di sana selamanya?" perkataan Aguero barusan menyadarkan Viole, yang dengan segera membuat pemuda berambut cokelat itu menutup pintu dan mengambil tempat berdiri di sebelah Aguero.
"Maaf, tapi apa Tuan Aguero keberatan untuk..."
"Ya aku keberatan, maka dari itu tanyakan saja langsung pada gurumu di lain waktu," potong Aguero santai tanpa menoleh, membuat Viole hanya dapat tersenyum simpul. "Jadi apa yang mau kau katakan?" tanya Viole sambil melirik was-was.
"Temui aku di atap". Viole kembali teringat pesan teks singkat yang diterima pocket-nya beberapa menit yang lalu. Kemudian teringat lagi akan pertemuan terakhirnya dengan Light Bearer Maut sebelum mereka mengikuti ujian—yang jelas tidak berakhir terlalu baik, menurut Viole.
Sejenak, Aguero terdiam dan hanya menatap datar ke bawah.
"Tawaran untuk bergabung dengan timmu, apa tawaran itu masih berlaku?" Satu kalimat yang meluncur dari bibir Aguero itu sukses membuat sesuatu dalam diri Viole bergejolak senang. Namun sebisa mungkin pemuda itu menyembunyikannya, mengatur ekspresi setenang mungkin. "Jika ya, apa kau menerimanya?"
"Aku rasa untuk setingkat Calon Pembunuh FUG, kalimatku barusan tidak sesulit itu sampai harus aku jelaskan berulang kali. Cukup jawab saja: ya atau tidak," ucap Aguero meniru persis kalimat yang dikatakan Viole saat pertama kali memberinya tawaran untuk secara resmi bergabung ke tim, membuat pemuda itu tersentak tatkala merasa deja vu. Sepasang iris keemasan dan biru itu saling bertatapan dalam diam, hingga kemudian gelak meluncur dari bibir keduanya yang memutus tatapan itu.
"Rupanya kau cukup pendendam ya, Tuan Aguero," ujar Viole di sela tawanya.
Aguero terkikik, melirik Viole dengan sudut mata. "Begitulah. Jadi, jawabanmu?"
Berbeda dengan sebelumnya, reaksi Viole kemudian menjadi lebih tenang. Bola mata pemuda itu menyipit, kemudian melempar pandangan ke langit sana. "Tergantung apakah kau masih mengingat janjimu."
"Ah," Aguero bergumam, "tentu saja. Untuk masalah itu, kau tidak perlu khawatir." Begitu genap ucapannya, Aguero mengotak-atik lighthouse miliknya, kemudian menunjukkan tulisan yang tertera pada permukaan kubus biru itu pada Viole. "Aku mendapat pesan ini kemarin, sebelum keluar dari paus zigena," jelas Aguero.
Sementara itu, Viole hanya diam, mencerna satu kalimat yang tertulis di sana lamat-lamat. "Jadi maksudmu...." Aguero mengangguk, tahu apa yang hendak diucapkan pemuda itu.
Awalnya Aguero tidak yakin, tapi sekarang mungkin Aguero mulai dapat menyimpulkannya, bahwa semua yang ia lakukan dan kenapa ia begitu ingin Calon Pembunuh FUG ini hidup. Viole kuat—tidak perlu diragukan lagi—dan ada FUG di belakangnya. Pria tua sialan itu terlihat sangat memedulikan Viole, dan selama Aguero mengambil langkah yang tepat, ia dapat memanfaatkannya dalam meraih tujuan yang selama ini ia pegang, menjadi Kepala Keluarga Khun. Viole bagaikan kartu yang begitu sayang kalau dilepas begitu saja—dan lebih disayangkan lagi jika nyawa pemuda ini harus melayang di tangan Kiseia, adik sepupunya sendiri.
Selain itu... dengan kenaifan dan tingkah lakunya yang selalu berubah-ubah, dia pasti akan menjadi rekan seperjuangan yang 'menyenangkan'. Yah, setidaknya begitulah pikir Khun Aguero Agnes, untuk saat ini....