THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 32: Pembunuh FUG



Beberapa tahun yang lalu....


Dalam ruangan bundar temaram, langkah sepasang sepatu kulit cokelat bergema hingga langit-langit. Pria berambut kuning panjang diikat satu itu berbalik, menatap satu per satu regular yang berdiri di hadapannya. "Sepertinya, kalian semua sudah siap untuk menaiki Menara," ucapnya. "Terima kasih kalian telah berusaha keras dalam mengikuti semua ujian di Lantai 2 selama beberapa bulan ini. Kunyatakan kalian layak untuk naik ke lantai berikutnya, wahai para Regular," ucapnya dengan kedua sudut bibir terangkat.


Lantai 2, atau dikenal juga dengan Lantai Ujian, adalah lantai yang paling menentukan apakah regular yang terpilih dapat memulai perjalanan menaiki Menara. Pemilihan para regular dilakukan oleh Headon, sang pengurus Menara yang tinggal di Lantai 1, kemudian para regular yang terpilih dikumpulkan di Lantai 2 untuk kemudian disaring lagi melalui ujian.


Dalam pelaksanaannya, beberapa regular akan dapat dengan mudah melewati ujian, tereliminasi, atau bahkan kehilangan nyawa. Jika tereliminasi, peserta harus kembali ke Bagian Luar Menara—area tempat tinggal atau hunian para regular, perjalanan menaiki Menara serta ujian dilakukan di Bagian Dalam dan Tengah Menara. Bahkan, lantai ini memiliki sebuah tanah khusus yang dijadikan makam bagi para regular yang meregang nyawa saat ujian berlangsung, termasuk tiga peserta dalam ujian kali ini.


"Huh." Tawa sinis yang bergema dari arah barat membuat semua kepala refleks menoleh ke arahnya. "Kau pikir kami akan terharu melihat kau mengatakannya? Ingatlah, saat aku menjadi ranker, kau akan menjadi orang pertama yang kubunuh," ucap gadis itu sambil menunjuk Hansung. Samar-samar terdengar tepuk tangan kikuk dari para regular yang mendengar pernyataan gadis itu, menyiratkan 'berani sekali kau'. Pria berambut kuning itu tersenyum, "Kalau begitu, kutunggu kedatanganmu."


Ya, pria penggemar berat kopi itu sama sekali tidak tersinggung, tahu betul sang gadis memiliki banyak sekali dendam padanya selama ujian berlangsung.


"Oh ya," Hansung bertepuk tangan, teringat sesuatu, "hampir saja aku lupa mau memberi ini." Pria itu mengeluarkan beberapa kotak kecil dari saku, mengontrol shinsu di sekitar sehingga membuat kotak-kotak tersebut melayang dan sampai di tangan masing-masing regular. Berbagai macam reaksi memenuhi ruangan begitu kotak-kotak tersebut terbuka, sebuah cincin. "Itu untuk merayakan kelulusan kalian. Kupikir aku benar-benar harus merayakan momen ini."


"Sepertinya ini mahal," ucap seorang dari arah utara dengan mata berbinar.


Gadis yang tadi menantang sang ranker memincingkan netra. "Memang ini acara pernikahan?"


Lagi-lagi Hansung hanya tersenyum. "Karena aku sudah memberi cincinnya, sekarang ini benar-benar saatnya kita berpisah." Bola-bola sinar putih muncul dari langit-langit, bergerak turun mengelilingi para regular yang dinyatakan lulus dari Lantai Ujian. "Kuharap kalian semua diberkati dalam perjalanan menaiki Menara," ucap Hansung lagi. Sepasang netra kuning itu terus menatap para regular yang berada dalam pengawasannya selama beberapa waktu belakangan, yang perlahan mulai memudar dari pandangan. "Selamat tinggal, para Regular."


Tepat ketika semua regular hampir sepenuhnya lenyap terbawa ke lantai berikutnya, gadis yang tadi menantang sang ranker melompat keluar dari kepulan bola sinar putih. Kini semua regular yang lulus telah diteleportasi ke Lantai 3, kecuali seorang gadis berambut biru sebahu yang tadi.


"Atau... setidaknya itu yang mau kukatakan," ujar Hansung, melirik satu-satunya gadis yang tersisa bersamanya di ruangan itu, seorang gadis keturunan langsung dari Keluarga Khun.


***


"Kemampuanku sudah lebih baik, kan." Kiseia terengah, sekali lagi menyerang pemuda dalam balutan pelindung baja dari ujung kepala hingga kaki. Pemuda itu tak bergeming, menatap datar gadis berambut biru yang berlari ke arahnya. Pisau kecil yang menjadi senjata andalan gadis itu kembali terarah padanya. Namun dalam waktu sepersekian detik, kaki gadis itu mengubah arah. Bukan lurus ke arah pemuda itu, melainkan berbelok dan kaki kanannya mendarat tepat di balik punggung pemuda itu.


Dengan refleksnya yang cepat, pemuda itu menghentikan serangan Kiseia dengan satu tangan, menahan pergelangan tangan yang berniat menusuknya. "Entahlah, bagiku kau sama lemahnya dengan saat kau pertama kali tiba di sini."


Sudut kanan bibir Kiseia terangkat. Tiba-tiba pergelangan tangan dalam genggaman pemuda itu memudar, bersamaan dengan tubuh Kiseia yang perlahan berubah menjadi butiran debu dan menghilang.


Dalam sekejap, tubuh pemuda itu menghilang tatkala sebuah bayangan samar terlihat dari atas. Tap. Sepasang manik biru itu membelalak, merasakan sebuah tangan yang dilapisi pelindung baja mencengkeram leher. Manik kuning di balik topeng baja itu melirik ke atas, pada sebuah observer berbentuk bintang yang melayang. "Sudah kuduga ada yang aneh, kau menggunakan baby growler untuk menciptakan hologram dirimu."


Kiseia tertawa hambar, berbaring di rerumputan begitu cengkeraman di leher terlepas. Helaan panjang meluncur dari bibir gadis itu. "Memang sulit sekali ya, mengalahkan 'Dewa FUG' Karaka," ucap Kiseia sambil menatap pria dalam balutan pelindung baja yang masih berdiri, menatapnya datar.


"Pembunuh FUG", gelar agung yang bahkan dianggap dewa oleh FUG. Gelar ini dipercayakan kepada mereka yang dianggap mampu membunuh Jahad beserta 10 Kepala Keluarga Agung. Total ada 11 kursi untuk posisi ini, dan sudah 7 kursi yang terisi. Masing-masing anggota FUG yang menempati posisi ini memiliki satu target di antara total kesebelas target FUG, dan Karaka menempati kursi yang menungaskannya untuk membunuh sang Raja Menara, Jahad.


Namun belum diketahui secara pasti apa rencana yang dipersiapkan FUG dibalik pengangkatan "Pembunuh FUG" ini. Sebab telah menjadi rahasia umum bahwa Jahad dan 10 Kepala Keluarga tidak dapat mati maupun dibunuh oleh orang yang lahir di dalam Menara karena adanya perjanjian dengan administrator Lantai 2 hingga Lantai 134.


Pembunuh FUG itu ikut menghela, "Tapi itu cukup baik, kalau kau lebih cepat sedetik, aku mungkin tidak akan repot-repot menangkisnya." Pemuda itu beranjak duduk di sebelah Kiseia. "Baik bagaimana pun kau jauh lebih baik dari si Calon Pembunuh."


Kiseia tertawa renyah. Bagaimana tidak, kabarnya Calon Pembunuh yang baru itu berkemungkinan besar menggantikan Karaka sebagai Pembunuh FUG yang akan membunuh Jahad, posisi yang sudah lama dipegang olehnya. Itu jugalah alasan Karaka tidak terlalu memperlakukan Kiseia dengan baik di awal kedatangannya, sebab kedatangan gadis itu ke FUG berdekatan dengan masuknya si Calon Pembunuh.


Manik biru itu menyipit. Tapi justru aku sangat ingin bertemu dengan si Calon Pembunuh, batinnya.


"Ngomong-ngomong," Kiseia kembali berucap, beranjak duduk, "kau tidak penasaran lagi tentang kenapa anggota Keluarga Agung sepertiku bergabung dengan FUG?"


Karaka melirik Kiseia dengan sudut mata. "Memang kau pernah menjawab setiap aku bertanya?"


"Aku akan memberi tahumu jika kau juga menjawab pertanyaanku...." Manik biru Kiseia mengarah ke bawah, pada cincin di jari berbalut pelindung baja. Cincin merah dengan simbol Jahad yang terukir di sana.


Karaka menarik tangannya dari pandangan Kiseia, membuat gadis itu mendengus. Padahal alasan gadis berambut biru itu berusaha mendekati Karaka sejak kedatangannya pertama kali ke tempat ini, adalah karena cincin berlambang Jahad itu.


"Aku pergi dulu," ucap pemuda bermanik kuning, berdiri, kemudian mulai melangkah. "Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh saat kita bertemu lagi!" seru Kiseia sambil melambai dari jauh—yang tentu saja diabaikan oleh pemuda yang diteriaki.


Sekali lagi Kiseia menghela, kemudian berdiri dan berjalan masuk ke gedung kayu di dekat tanah lapang itu.


FUG, organisasi yang bertujuan membunuh Raja Menara dan 10 Kepala Keluarga Agung, yang berarti salah satu target organisasi ini adalah ayahnya, Khun Eduan. Sudut kanan bibir Kiseia terangkat. Keluarganya pasti akan membunuhnya jika tahu ia berada di salah satu markas FUG, sebab semua Keluarga Agung melarang anggota keluarganya berhubungan dengan FUG dan berkewajiban membunuh setiap anggota mereka.


Namun siapa yang peduli pada 'keluarga' yang membuangnya. Mungkin jika pria itu terbunuh tidak buruk juga, pikir Kiseia.


"Apa yang kau lakukan, Guru? Kupikir aku sedang berada dalam masa liburan," ucap Kiseia sambil tertawa renyah. Namun tawa itu dengan segera bungkam begitu tangan yang sama dengan yang ditangkisnya beralih mengacak-acak rambut sebahunya. "Memang, aku hanya sedikit 'menyapa' muridku saja," jawab Jinsung tanpa dosa.


Kiseia berdecak, "Jangan sentuh kepalaku," kemudian menepis tangan pria tua itu. Jinsung mengerjap, menekuk bibir. "Padahal waktu kecil, kau sangat suka ketika aku mengusap kepalamu."


Sepasang manik hitam itu menatap Kiseia dalam, menatap bayangan seorang anak perempuan yang ditemuinya di masa lalu. Anak perempuan dengan jubah hitam yang menutupi tubuhnya dari kepala hingga kaki. Anak perempuan yang ditemukannya secara tidak sengaja kala berkelana, setelah membunuh semua orang di kediamannya dulu, yakni keluarga cabang dari Keluarga Ha. Ketika dendam dan kebencian pria itu pada seluruh Keluarga Agung, termasuk darah yang mengalir dalam tubuhnya sendiri, sedang berada di puncak-puncaknya.


Seorang anak sebatang kara yang dikhianati kakak sepupunya, dan seorang pria yang dikhianati keluarganya. Jinsung pun menawarkan agar anak itu ikut dengannya, dan anak itu mengiyakan.


Saat itu, Jinsung tidak mengetahui bahwa anak perempuan yang ditemuinya adalah salah satu keturunan Keluarga Agung yang sangat dibencinya. Kiseia, demikian nama yang anak itu beri tahu padanya pada pertemuan pertama. Tanpa nama tengah maupun belakang. Anak itu tidak pernah mau melepas jubah hitamnya, dan Jinsung juga tidak pernah mempermasalahkannya.


Sampai ketika keduanya berpisah karena Jinsung ingin pergi ke suatu "tempat berbahaya"—FUG—sendiri, pria itu masih tidak mengetahui indentitas anak perempuan yang sudah seperti keluarganya. Jinsung baru mengetahuinya beberapa bulan lalu, ketika gadis ini datang sendiri dengan kedua kakinya ke tempat ini, berkat bantuan dari seorang pria menjengkelkan yang susah ditebak maksudnya—Hansung Yu.


Sebenarnya Jinsung tidak percaya saat pertama kali mendengarnya, jika bukan karena sebuah anting biru yang pernah pria itu berikan sebelum meninggalkan si anak perempuan di sebuah desa yang mereka lalui.


"Kau mau ke mana?" tanya Jinsung setelah puas mengenang masa lalu. Pria itu menoleh ke arah gadis itu berjalan, yang hanya mengarah ke satu tempat. "Kau mau menemuinya?"


Kiseia mengangguk. Tanpa banyak bicara melanjutkan perjalanan, meninggalkan sang pria keturunan Ha itu sendirian. Jinsung menghela, menyesap rokok hingga asapnya keluar dari hidung. "Dia sama 'pendiamnya' dengan waktu kecil."


***


Suara langkah yang merambat di tanah membuat pemuda berambut cokelat yang meringkuk itu menoleh lemah.


"Lama tidak bertemu, kau merindukanku?"


Sepasang manik keemasan itu membelalak, dengan segera beranjak duduk, mendongak. Kedua maniknya membulat sempurna seolah tak percaya dengan kehadiran sosok yang berdiri di hadapannya. "K-Kiseia?"


"Hei!" Kiseia mengangkat telapak tangan, kemudian duduk di sebelah pemuda itu.


"Kenapa... kau ada di sini?" tanya pemuda itu sambil mengerjap-ngerjap.


"Ceritanya... 'agak' rumit...," jawab Kiseia misterius. "Bagaimaan keadaanmu? Kudengar pria tua itu melatihmu beberapa bulan ini. Aku sampai tidak bertemu dengannya selama itu."


Sekali lagi, pemuda itu mengerjap. "Kau... mengenal Tuan Jinsung?"


Kiseia mengangkat bahu. "Begitulah." Sepasang iris biru itu melirik bongkahan batu raksasa yang berserakan, hancur seolah habis diserang sesuatu. Yah, meski bertahun-tahun berlalu, pria tua itu tidak kehilangan kemampuan dan semangatnya untuk mengajar, pikir Kiseia.


"Apa kau juga anggota FUG?" Pertanyaan itu spontan membuat Kiseia menoleh, kemudian menunduk. "Entahlah.... Tapi bisa kujamin aku tidak terlibat dalam rencana penculikanmu di ujian Lantai 2 waktu itu," ucap Kiseia tersenyum. "Asal kau tahu, aku cukup shok saat mendengar kematianmu, Rachel, dan Ho."


Eh?


Seketika dada pemuda itu terasa ditusuk oleh ribuan panah, matanya memanas, menatap gadis yang duduk di sebelahnya. "Rachel... meninggal?"


"Ah," buru-buru Kiseia menggeleng, "kurasa tidak. Hari itu cuma ditemukan jasad Ho, sedangkan kau dan Rachel tidak. Melihatmu di sini, pasti Rachel masih berada di suatu tempat."


Pemuda itu menghela napas panjang, lega. Fakta Rachel masih hidup, tidak ada lagi yang dapat membuat pemuda itu lebih bahagia. "Kau... pernah bertemu dengan Rachel?"


"Aku bahkan baru sekarang bertemu denganmu," jawab Kiseia sambil memincingkan netra, "bagaimana bisa bertemu gadis itu juga, Viole."


Viole tertawa kikuk. "Begitu, ya...."


Kiseia mendengus, pemuda satu ini tidak pernah berubah jika menyangkut semua hal tentang gadis bernama Rachel. "Kenapa kau sangat terobsesi padanya? Padahal kudengar, dialah penyebab kau terjebak di sini."


"Baik bagaimana pun, Rachel adalah 'cahaya' yang menyelamatkanku dari kegelapan. Orang yang paling berharga untukku." Manik keemasan itu melirik dengan sudut mata. "Kiseia, apa kau tahu kenapa FUG ingin Jahad mati?"


Kiseia mengerjap, sepasang maniknya menerawang menatap langit-langit, mengingat berbagai informasi yang dirinya dapat selama beberapa bulan di tempat ini. "Kurasa..., alasannya berbagai macam. Ada yang memendam perasaan pribadi, keirian, atau kebencian kepada Jahad dan 10 Keluarga Agung. Ada juga yang ingin mengubah Menara karena menganggap Jahad raja yang buruk."


Gadis itu terdiam sejenak, menatap dalam iris keemasan yang memantulkan bayangannya. "Seorang 'Pembunuh FUG' adalah orang yang akan mewujudkan mimpi mereka, dan kau, Viole, harusnya menjadi orang yang kelak membunuh orang yang tidak bisa dibunuh orang lain." Kedua sudut bibirnya terangkat. "Bukankah itu keren?"


Netra pemuda itu menyipit, menunduk. "Lalu, apa kau juga ingin mereka mati, Kiseia?"