THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 5: Pertimbangan



Dalam kegelapan malam, sinar biru yang terpancar dari alat di depannya memantul dengan jelas di netra biru pemuda itu. Kini sekitar pukul 23.00 WM (Waktu Menara). Namun sedikit pun netra sang pemuda tidak terlihat lelah, tanpa henti menatap tulisan-tulisan dari hologram yang muncul dari alat berbentuk kubus itu. Jemarinya dengan lincah menulis satu per satu informasi yang ingin ia ketahui.


Aguero menghela napas, mengempaskan tubuh ke belakang. Dalam beberapa saat, dinginnya lantai langsung merambat ke seluruh tubuh.


“Jue Viole Grace…,” nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.


Sedari tadi, informasi mengenai Yeon Ehwa yang merupakan ‘keturunan langsung’ Keluarga Yeon adalah yang paling mudah didapatkan. Meski demikian, informasi mengenai anggota lainnya juga tidak begitu sulit. Namun mengapa minim sekali informasi mengenai orang itu?


Misalnya, informasi mengenai Jue Viole Grace hanyalah dia adalah ‘Calon Pembunuh FUG (organisasi yang menentang Jahad, Raja Menara), serta baru bergabung dengan FUG 6 tahun lalu. Ia merupakan yang paling mencolok dalam ujian tahun lalu, bahkan menang dalam melawan pengawas ujian sehingga bisa langsung lulus.


Namun ada yang mencurigakan. Informasi tentang siapa dirinya sebelum bergabung dengan FUG sama sekali tidak dapat ditemukan. Seolah ada yang sengaja menyembunyikan masa lalu Jue Viole Grace.


“Sebenarnya siapa kau?” gumamnya lagi. Bayangan mengenai kejadian tadi kembali muncul dalam benaknya. Ketika seorang pemuda biasa dan kurus, tanpa senjata, melawan Kiseia tanpa terluka dan masih dapat berdiri tegap. Jika bukan karena melihatnya sendiri, Aguero tidak akan pernah percaya ada yang selamat tanpa luka sedikit pun setelah melawan adik sepupunya itu.


Tentu saja, bisa saja kemampuan Kiseia menurun setelah beberapa tahun terlewati. Namun tidak mungkin sampai sejauh itu. Dia yang dulu dapat membunuh semua saingan kakaknya dalam Pemilihan Putri Jahad tanpa belas kasih, tidak mungkin membiarkan pemuda lemah seperti itu begitu saja.


Ah, tunggu. Jika diingat tubuh pemuda itu dipenuhi darah. Namun pemuda itu bilang itu bukan darahnya, lantas darah siapa?


Aguero mengacak-acak rambutnya dengan sebelah tangan kesal. Sekali lagi embusan kasar keluar dari mulutnya. Bayangan sang adik sepupu yang sudah tidak ia lihat kembali terngiang. Adik sepupu yang sebenarnya juga merupakan saudara tiri karena memiliki ayah yang sama, hanya saja ibu mereka bersaudara. Adik sepupu yang sudah terasa seperti saudara kandung karena tinggal seatap selama bertahun-tahun setelah menginggalnya ibu Kiseia.


‘Pembunuh!’ Aguero memejam. Cacian itu masih terdengar jelas meski sudah bertahun-tahun berlalu.


Memang, Kiseia pastilah belum memaafkannya, atau bahkan tidak akan pernah. Dalam pertemuan tadi siang juga dirinya terang-terangan memperlihatkan dendam serta kebencian yang semakin bertumpuk setelah bertahun-tahun.


Aguero menggeleng. Sejak awal ia juga tidak berencana memohon pengampuan Kiseia. Bukan karena tidak merasa bersalah, tapi dirinya tahu betul Kiseia tidak akan pernah mengampuninya. Atau mungkin akan, tapi hanya jika Aguero memberi nyawanya yang jelas tidak akan pernah dilakukan seorang Khun Aguero Agnes.


Aguero berdiri, mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Bisa dibilang tidur di tempat yang layak seperti ini setelah keluar dari tim adalah hal langka. Biasanya dirinya harus mencari tempat tinggal baru atau tidur di luar untuk sementara. Terlebih-lebih dirinya mendapat kamar sendiri.


Sudut kanan bibir pemuda itu terangkat. Aguero dapat membayangkan ekspresi orang-orang itu yang kukuh tidak mau tidur di ruangan yang sama dengan keturunan Khun itu. Atau mungkin saja… ada yang sampai menaikkan suara saking tidak rela pemuda berambut biru itu tidur di tempat tinggal mereka.


Kini helaan panjang yang meluncur dari bibirnya. Bayangan makan malam beberapa jam lalu kembali terngiang. Makan malam yang ramai, memperebutkan sisa lauk terakhir, tawa, dan kekesalan semua merangsek masuk ke dalam pikirannya. Meski demikian, dirinya tahu betul kalau tim ini menghindarinya. Bahkan dari awal hingga akhirnya hanya Viole yang menawarkan makanan.


Tentu saja, Aguero tidak kesal atau tersinggung, dirinya tahu betul alasan mereka melakukan itu. Malah aneh—dan menyebalkan—kalau mereka semua sok akrab dengannya.


Setelah dipikir-pikir, apa dirinya bergabung saja dengan tim ini? Setidaknya untuk urusan makanan dan tempat tinggal akan terjamin. Yah, meski pastinya akan sangat menyusahkan karena menurut informasi yang didapatnya tim ini sangat sangat sangat sangat sangat lemah. Bahkan ‘si Keturunan Langsung’, Yeon Ehwa tidak dapat mengendalikan kekuatannya dengan benar.


Tapi… setim dengan pemuda berambut cokelat itu mungkin akan menarik. Mengingat dia yang berhasil selamat tanpa terluka sedikit pun setelah melawan Kiseia, ledakan yang tadi ia ciptakan sampai meremukkan dinding, juga masa lalunya yang begitu misterius. Jika benar ada yang sengaja menyembunyikan masa lalunya, siapa pun itu pastilah pihak yang sangat kuat hingga mampu menghalau informasi dalam Menara.


Meski ini bertentangan dengan prinsipnya yang selalu menghindari masalah, tapi dengan kekuatan pemuda itu, kemungkinan ada kejadian menarik yang menantinya. Yah, sebenarnya tidak buruk juga.


Sepasang iris biru itu terbuka, menatap langit-langit gelap. Kegelapan yang sudah ribuan kali sepasang iris itu lihat, tapi entah kenapa kegelapan yang kali ini, membawa pikirannya terlempar ke bertahun-tahun lalu. Tahun-tahun yang ia habiskan ketika masih berada di kediaman.


Anak perempuan berambut biru yang kembali di tengah malam dengan lumuran darah di sekujur tubuh. Petir menyambar di luar jendela di belakangnya, membuat Aguero kala itu mengerjap beberapa kali. Netranya dengan segera terarah ke pisau di tangan anak itu. Ekspresi anak perempuan yang belum genap 9 tahun itu terlihat datar, sangat datar hingga Aguero merasa sedang menatap kakak kandungnya.


“Kiseia?” Aguero memanggil. Langkahnya yang hendak mengambil minum mau tak mau berhenti. Namun yang dipanggil tak kunjung menyahut, menatap Aguero layaknya patung.


Buk. Netra Aguero membola. Dengan cepat sepasang kaki telanjang itu melompati meja kayu bundar, menghampiri adik sepupunya yang tiba-tiba ambruk. “Kisei…” Bibir Aguero keluh, menatap bagian belakang pakaian anak perempuan itu yang sepenuhnya sobek, menampakkan punggung yang dilapisi lumuran darah yang membuatnya mual.


Guyuran hujan terdengar beberapa saat kemudian, membasahi tanah humus di halaman. Entah karena hujan atau apa, Aguero dapat merasakan dingin yang merambat di seluruh tubuh hingga tubuhnya seolah membeku. Pikirannya sudah berlari ke mana-mana memikirkan cara untuk menyelamatkan Kiseia, tapi kakinya tak mau menurut. Seolah ada es yang menahannya dengan lantai kayu itu.


Itulah kali pertama Aguero melihat Kiseia terluka parah, tapi ketika ditanya seminggu kemudian saat sadar, anak itu tidak mau menjawab siapa pelaku yang membuatnya seperti itu. Dan sampai akhir pun, Kiseia menutup mulut rapat-rapat mengenai kejadian malam itu.


Aguero memiringkan tubuh, menatap tirai yang menutupi jendela sebelum kemudian memejam. Baiklah mengenai bergabung tidaknya ke tim ini, dirinya akan memutuskan setelah ‘pekerjaannya’ selesai besok.