THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 18: Iri? Pada Seseorang yang Membunuh Kakaknya Sendiri?



Larikan shinsu petir yang membungkus kepalan tangan itu menggelegar, menyinari lorong temaram dalam cahaya purnama. Helaian rambut panjang perempuan di depannya menari dalam alunan angin, menutupi pemandangan rembulan di belakang. "Pilihlah, jantung atau kepala, 'tikus' lemah?" ucap anak perempuan yang tak lain merupakan salah satu keturunan Keluarga Khun.


Anak lelaki itu berusaha menahan laju darah di bahu dengan tangan kiri, meremasnya tatkala merasa kesal. Sepasang manik biru menyala di balik helaian poni. Rahangnya mengeras seiring sikap kuda-kuda yang ia pasang kokoh. Dalam satu lompatan, tinju berbungkus shinsu petir biru itu mengenai dada anak perempuan berambut biru itu. DUARR!!!


Kepulan debu membungkus sekitar. Anak lelaki itu terengah. Peluh berjatuhan melewati pelipis, mendarat di tanah. Namun takdir seolah enggan berpihak pada anak yang belum genap 5 tahun itu. Angin meniup mega, cahaya purnama yang bebas menampakkan seorang anak perempuan berambut biru berdiri dalam radius beberapa meter berdiri. Dalam kondisi sempurna. Tanpa luka sedikit pun. "Kesal?" tanya perempuan itu sambil merapikan rambut yang tertiup angin.


Anak lelaki itu mendecih. Namun dalam satu kedipan, anak itu tertegun tatkala dapat merasakan seseorang berada di belakangnya. Tepat ketika anak berambut biru itu berbalik, sebuah tombak es panjang sudah menancap di dada, menembus punggung mungilnya. Hoek. Muntahan darah mengalir dari bibir anak yang kini tersungkur ke tanah.


Anak lelaki itu mengerjap, berusaha menjernihkan pandangan yang memburam. Samar-samar anak itu dapat menangkap sepasang langkah yang mendekat, perlahan. Kemudian telinganya juga dapat mendengar suara langkah lain, cepat dan tak beraturan, berasal dari arah berbeda.


Sekali lagi anak lelaki itu mencoba mengerjap erat. Kali ini manik birunya dapat menangkap bayangan seseorang berdiri di depannya, menahan serangan wanita itu dengan sebuah senjata.


"Kau tidak malu mencoba membunuh anak kecil?" demikian kalimat terakhir yang didengar anak itu, sebelum kemudian kelopak matanya menyerah untuk bertahan.


Tentu akan indah jika kejadian malam itu berakhir dengan si anak lelaki siuman dan berterima kasih kepada orang yang menyelamatkannya, layaknya dongeng indah anak-anak. Sayangnya, kejadian malam itu tidaklah sesederhana dongeng 'seseorang yang kebetulan lewat menyelamatkan anak kecil tak berdaya' yang sering kita dengar.


***


"Tamat." Sepasang manik biru itu menatap datar langit-langit dengan pahatan keemasan, menerawang jauh ke masa lalu. Anak lelaki itu memejam. Bayangan samar sebuah punggung berlumuran darah terlintas dalam benaknya.


"Jadi," setelah sekian lama setia diam mendengarkan, akhirnya pemuda di seberangnya angkat suara, "kau mau memberi tahuku bahwa seseorang yang berniat membunuh saingan peserta Pemilihan Putri Jahad saat itu demi Cabang Keluarga Agnes, bersedia terluka demi menyelamatkan adik dari peserta Pemilihan Putri Jahad lainnya secara cuma-cuma?" tanya pemuda berambut biru itu penuh penekanan.


Ran mengangkat sudut kanan bibir, tertawa sinis. Netranya menatap Aguero yang duduk bersila sambil setia menggengam belati di paha. Anak lelaki keturunan Khun yang masih terlilit tali keemasan itu menghela. "Aku tidak mengerti. Daritadi kau memaksaku menjawab. Tapi setelah kujawab, kau malah tidak percaya."


Aguero menatap datar. Alih-alih "menyelamatkan", pemuda keturunan Khun itu akan lebih percaya jika adik seayahnya itu mengatakan adik sepupunya memanfaatkan kesempatan dan membunuh Ran yang adalah adik dari peserta Pemilihan Putri Jahad lainnya. Dalam situasi seperti itu dan oleh Kiseia  yang Aguero kenal di masa lalu, harusnya pilihan seperti itulah yang Khun Kiseia ambil.


Atau jika tidak, harusnya Kiseia pergi dan membiarkan kedua keturunan muda Khun itu bertarung—tepatnya membiarkan Ran mati di tangan anak perempuan itu.


Bagi anggota Keluarga Khun, tidak ada yang namanya kasih persaudaraan atau kekeluargaan, bahkan hati nurani terhadap sesama manusia sekalipun. Selain orang-orang tertentu yang benar-benar dianggap 'keluarga', sisanya hanyalah musuh yang dapat menyerang kapan saja. "Bunuh atau dibunuh", pepatah yang lebih dari sempurna menggambarkan situasi kediaman Khun tiap hari dan detik.


Namun apa kata anak itu barusan? Kiseia menyelamatkan dirinya, kemudian membawanya kabur? Terlebih Khun Ran, adik dari Khun Maschenny Jahad? Aguero menggeleng. Sama sekali tidak ada alasan bagi Kiseia yang Aguero kenal di masa lalu melakukan itu.


"Kenapa? Bukannya wajar Kiseia lebih percaya padaku daripada seorang 'pengecut' yang diam-diam memakai pelindung di balik pakaiannya?" ujar Ran tiba-tiba. Manik birunya terarah pada perisai besi yang tampak dari bagian kemeja pemuda itu yang sobek di bagian dada.


Armor Inventory. Sebuah baju zirah besi yang mampu menahan serangan sampai batas tertentu, setidaknya termasuk sebagian besar serangan regular rank E. Beruntung belati yang hendak menancap di jantungnya berhasil tertahan oleh perisai itu, membuat Aguero mempunyai cukup waktu untuk menyerang dan adik sepupunya membuatnya tak sadarkan diri.


Manik pemuda itu terarah ke bagian dalam lorong, ke tubuh seorang gadis yang terlelap dalam bayang-bayang samar. Sebenarnya Aguero tidak selalu mengenakannya, hanya saat 'bekerja' untuk berjaga-jaga jikalau terjadi situasi seperti barusan—atau bahkan lebih buruk. Namun rasanya ia tidak perlu memberi tahu anak lelaki yang kini menatapnya bagai singa kelaparan.


"Iri? Pada seseorang yang membunuh kakaknya sendiri?" Perkataan Ran barusan membuat Aguero refleks menoleh. Untuk sesaat, pemuda itu dapat merasakan dingin menyengat seluruh tubuh. Bayangan samar punggung seorang gadis berambut biru yang lebih tua darinya terlintas dalam benaknya.


Light Bearer Maut itu menghela, berusaha menjaga ekspresi. "Apa itu yang Kiseia katakan?"


Ran tertawa sinis. "Kau mau mengatakan Kiseia salah paham atau sejenisnya? Tidak perlu bersusah payah, semua orang di Menara bahkan tahu kau pelakunya."  Ran menggeleng. "Kau bahkan tidak tahu seberapa sering Kiseia mengutukmu."


"Kau benar, aku tidak tahu." Manik biru yang semula tertutup itu refleks terbuka, menatap pemuda yang kini memamerkan senyum 'ramah'. Sekali lagi, Aguero memandang adik sepupunya yang didudukkan bersender pada dinding. "Tapi kurasa aku bisa membayangkan kutukan seperti apa yang dia berikan padaku," ucapnya disertai senyum pahit.


Ran mengerjap beberapa kali, cukup terkejut dengan reaksi Khun Aguero Agnes yang di luar dugaan. "Wah, apa ini? Sekarang kau mau berlagak seperti seorang 'korban'? Setelah semua yang kau lakukan?" seru Ran hingga suaranya serak.


Aguero menggeleng, berdiri. "Tentu aku tidak bermaksud seperti itu," ucapnya.


Bola mata biru itu memantulkan bayangan seorang pemuda yang mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi. "Tapi kuharap, kau mau menjaga Kiseia lebih dari anak dari Keluarga Arie itu dan 'teman-teman' kalian lainnya." Aguero menoleh ke gadis berambut biru itu untuk terakhir kalinya. "Karena aku tahu, dia menganggapmu sangat 'berharga'."


Ctak.


Ran membelalak hingga ke titik seluruh urat di tubuhnya menyembul. Anak lelaki keturunan Khun itu dapat merasakan panas yang menyebar seiring dengan aliran darahnya begitu pemuda berambut biru itu menjentikkan jari. Panas dari lilitan tali tambang keemasan yang seolah hendak melahap tubuhnya tanpa sisa.


"Jangan khawatir, kau tidak akan mati," samar-samar Ran dapat mendengar suara dingin itu berucap, di tengah rasa sakit dan panas yang berusaha ia tahan. "Hanya saja, sekarang kau harus tunduk padaku."


Satu lagi kemampuan Tali Tambang Arlene yang perlu diketahui, yakni membuat pengendali shinsu yang sesuai standar sang relikui takluk kepada masternya—standar secara fisik, menyebalkannya. Semakin sesuai penampilan sang pengendali shinsu dengan standar si relikui, semakin lama jangka waktu yang ditetapkan. Dan untuk kasus seorang Khun Ran, mungkin bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun mengingat betapa tampan keturunan salah satu Keluarga Agung itu.


Untuk sesaat, Ran sukses dibuat membatu hingga membuat shinsu listrik di kedua tangannya meledak-ledak. Darah kembali merembes di sela lilitan tali. Tidak lagi terbesit rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh. "Kau bilang... tidak masalah selama aku tidak menggunakan shinsu!" seru anak lelaki itu penuh amarah. Bahkan Aguero dapat menangkap jelas ekspresi gelap khas keturunan Khun yang terukir di wajahnya.


Aguero tertawa sinis. Manik birunya menikmati pemandangan betapa dahsyatnya tekanan dari kekuatan shinsu listrik biru keturunan muda berbakat Keluarga Khun. "Kau... percaya padaku?" tanya Aguero sambil menyunggung senyum.