![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Kedua pemuda berambut hitam dan biru itu berjabat tangan. Berbeda dengan pemuda berambut hitam yang merengut, pemuda berambut biru itu justru tersenyum puas.
“Baiklah, sampai jumpa seminggu lagi,” Aguero berucap begitu jabatan mereka terputus.
Hatz yang sudah malas berbicara hanya mengangguk, kemudian berbalik dan berbaur dalam keramaian yang tak kunjung berkurang, biarpun waktu telah sangat lama berlalu sejak Aguero tiba.
Aguero kembali mengempaskan tubuh ke kursi, berencana berisirahat sejenak sebelum kembali ke tempat Viole.
“Kau memang kejam, Master. Tapi aku suka,” sebuah suara tiba-tiba menghampiri telinga Aguero.
Aguero tertawa renyah. Bukan orang, apalagi wahyu dewa yang didengar Aguero, melainkan suara relikui di tangannya. Suara relikui sendiri hanya dapat didengar oleh orang yang diakui relikui tersebut sebagai pemiliknya, dan Aguero termasuk ke dalam salah sato orang ‘diakui’ itu.
“Terima kasih, sekarang silahkan kembali ke tempatmu.” Aguero melempar relikui rank SS itu begitu saja ke dalam lighthouse di sampingnya.
“Master…. Aku masih ingin bermain lebih lama lagi…,” protes sang relikui sembari pasrah melayang, kembali masuk ke senjata kubus milik tuannya.
Sama sekali tidak menghiraukan protesannya, Aguero memasukkan surat kontrak antara dirinya dan pemuda tadi ke dalam lighthouse, kemudian memerintahkan senjata kubus itu masuk ke mode ‘tak terlihat’.
Sepasang manik biru itu melirik ke tempat anak berambut putih tadi berdiri, yang kini telah kosong. Netra Aguero menyisir kerumunan untuk yang terakhir kali, sebelum kemudian perhatiannya tersita oleh seorang anak lainnya yang kira-kira tampak berusia 10 tahun. Anak berambut biru yang tampak berjalan ke arahnya di tengah kerumunan.
Anak itu duduk tepat di kursi seberang Aguero sambil menyeruput susu yogurt kotak rasa stroberi. Netra biru datarnya menatap Aguero datar. “Lama tidak bertemu, A.A,” ucapnya datar nan datar.
Aguero tersenyum. “Ya, lama tak bertemu, Ran.”
***
Sepasang netra biru itu menatap dua buah dinding yang menjadi pembatas lorong sempit tempat dia dan anak di depannya melangkah, sesekali menatap ke langit-langit asal debu-debu halus berjatuhan. “Sebenarnya kau mengajakku ke mana, Ran?” tanya pemuda itu setelah sekian lama berjalan.
Anak yang dipanggil Ran itu berhenti, membuat kakak seayah di belakangnya juga berhenti. Sudut kanan bibir anak itu terangkat. “Bukan ke mana-mana,” ucap anak berambut biru pendek ikal itu sambil menoleh ke belakang. Aguero yang dapat merasakan getaran bahaya refleks memasang posisi siaga.
BUUMM!!! Sebuah ledakan shinsu tercipta di dalam lorong sempit itu. Debu tebal dari langit-langit berjatuhan. Ketika Aguero terbatuk sambil menutup mulut dengan lengan, di saat itulah sebuah siluet muncul. Anak bermanik biru menyala itu melompat dari balik kepulan debu, mengangkat tinggi-tinggi bola shinsu yang dikelilingi percikan listrik berwarna biru seukuran tangan.
Aguero spontan memunculkan lighthouse dan membelahnya menjadi empat, membentuk Quadruple *Barrier untuk menahan serangan anak itu. Barrier* yang bahkan lebih dari cukup untuk menahan serangan regular kelas B.
Entah kenapa tiba-tiba Aguero tersentak, mengerjap. Tunggu…
Namun semesta seolah memaksa Aguero fokus pada pertarungan di depan mata. Barrier itu dapat menahan serangan anak itu, sebentar, kemudian hancur berkeping-keping setelah menerima serangan cepat beruntun penuh ledakan. Aguero refleks melompat tinggi, menghindar dari serangan shinsu listrik itu. Tapi anak itu seolah sudah memperkirakan, melompat sedetik lebih cepat dari Aguero.
Aguero membelalak. Netranya memantulkan bayangan tombak shinsu biru raksasa yang dibungkus aliran listrik. BUMM! Bak larikan petir di tengah badai, tombak itu meluncur cepat ke arah Aguero, meledak, membuat percik-percikan listrik berkeliaran dengan buas.
Ran menghela, mendarat sambil melirik reruntuhan yang ditutupi debu hasil ‘karyanya’. Kedua sudut bibirnya terangkat puas, “Akhirnya….” Namun baru sedetik, senyum itu langsung luntur tatkala punggungnya merasakan sesuatu yang bergerak di belakang sana.
Tangan yang memegang belati kecil itu refleks ditahan oleh anak itu, membuat pemuda di depannya tersenyum. “Kabar yang mengatakan kau masuk dalam jajaran top 5 regular rank E sepertinya benar, ya,” ucap Aguero disertai senyum.
Anak di hadapannya ikut tersenyum, sinis, “Tentu saja.” Aguero dapat melihat jelas larikan petir biru di balik telapak tangan satunya, juga manik biru menyala di balik helaian poni. Tak lupa raut datar nan gelap keturunan Khun yang terptari jelas di wajah anak itu.
Kerutan terbentuk di dahi pemuda itu. Raut wajah itu jelas bukan sekedar saudara sesama Khun yang lama tak berjumpa dan hanya ingin bertarung hidup-mati sebagai tanda ‘reuni’. Raut wajah itu… jelas menyimpan hasrat kuat untuk benar-benar membunuhnya.
Detik berikutnya kedua keturunan muda Keluarga Khun itu bertarung sengit. Aguero dengan segera melompat ke balik punggung Ran. Namun Ran tidak kalah cepat, segera berbalik dan melayangkan tinju yang dibungkus shinsu ke Aguero. Pemuda berambut biru itu refleks menghindar ke samping, kemudian melompat mundur sambil menghindar cepat ke kiri dan ke kanan, menghindar dari tinju beruntun yang dibungkus shinsu biru.
Menyadari punggungnya hampir mengenai dinding di belakang, kali ini Aguero mengambil lompatan yang agak jauh ke arah lain. Tanpa membuang lebih banyak waktu lagi, Aguero mengaktifkan serangan Lighthouse Shinsu Manipulation Skill Weapon Boost - Emerald Sword dengan ketiga lighthouse di sekitarnya, membuat senjata di tangannya terbungkus oleh larikan sinar biru dari lighthouse. Slashh! Aguero menebas udara kosong dengan pisau di tangan. Dengan senjata yang telah ditingkatkan kekuatannya dengan lighthouse, serangan itu menciptakan sebuah sayatan di udara yang mengarah cepat ke arah Ran, membuatnya dengan segera melompat menghindar. Sayatan itu pun mengenai dinding yang sedetik lalu berada di belakang Ran, mengubah bata yang menjadi penyusun tembok itu menjadi serpihan.
Ran melirik sekilas ke belakang, menyaksikan seberapa kuat serangan Aguero barusan. Di saat bersamaan, dalam satu lompatan, Aguero dengan ketiga lighthouse mengikutinya dari jauh, tiba tepat selangkah di hadapan anak itu. Secepat kilat pemuda itu menyerang Ran dengan belati di tangannya, cepat, dan lebih cepat lagi hingga pergerakannya hampir tak terlihat seiring tebasan belati di tangannya. Sedangkan Ran melindungi dirinya dengan shinsu, manik birunya berusaha mengikuti pergerakan Aguero. Hingga kemudian, ketika dirasa cukup, Aguero mengakhiri serangannya dengan memberi kekuatan penuhnya pada tebasan terakhir di udara kosong. Sayatan-sayatan itu mengarah cepat ke arah Ran, tanpa sempat memberi ruang pada anak itu untuk menghindar.
Dan, ya, anak itu tidak menghindar.
Sudut kanan bibir Ran terangkat. Shinsu listrik biru yang membungkus tubuhnya menghasilkan tekanan dahsyat di sekitar, menghancurkan sayatan-sayatan itu hingga tak bersisa tepat ketika bertabrakan dengan larikan shinsu biru itu. Belum habis suara ledakan akibat bertemunya serangan dipenuhi kekuatan oleh Aguero dan shinsu miliknya, anak itu melompat tinggi. Ujung jari Ran bergerak cepat disertai larikan petir biru. Sebuah tombak listrik raksasa kembali muncul dalam genggamannya. Ran memincingkan manik birunya, dengan seluruh kekuatan dalam tangannya, melemparkan tombak shinsu listrik itu ke arah Aguero.
BUUUMM!!!! Sebuah ledakan kembali terdengar. Larikan petir biru berkeliaran dengan ganas. Namun ketika sudut bibir Ran kembali ingin terangkat, di balik kepulan debu pekat, netranya dapat menangkap salah satu kaki Aguero yang beralaskan sepatu kulit hitam menapak di dinding. Tangan Aguero bergerak cepat mengincar leher anak itu dengan pisau kecil di tangan. Namun Khun tetaplah Khun, semuda apapun itu.
Ran yang seolah sudah memperkiran gerakan Aguero melangkahkan salah satu kaki ke samping di udara, membiarkan pisau itu melewati pipi. Dua pasang netra biru itu bertemu, sama-sama tersenyum sinis.
Ya, sama-sama tersenyum sinis.
Khun Ran memang adalah keturunan Keluarga Khun yang sama dengan Aguero. Dijuluki sebagai anak berbakat yang gaya bertarungnya sangat mirip dengan Kepala Keluarga Khun. Memiliki kemampuan menganalisa baik hingga dapat merencanakan gaya bertarungnya sesuai kemampuan lawan. Namun baik bagaimana pun, tak ada yang dapat mengalahkan Light Bearer Maut dalam hal 'meramal'.
Tiba-tiba sesuatu dari dinding itu bak sulur merambat ke kaki Ran, membuat netra birunya dengan cepat terarah ke bawah. Pada sebuah tali tambang berwarna keemasan yang seolah hidup, melilit kaki hingga tepat di bawah dagu.
“A-apa-apaan…” Mulut mungil yang hendak mengeluh dengan segera ikut terlilit oleh tali hingga hampir saja masuk ke dalamnya. Kecuali hidung dan mata, seluruh tubuh Ran terbungkus oleh lilitan tali keemasan bak mumi. Bedanya mumi dibungkus dengan perban, sedangkan Ran….
Netra biru Ran mendadak membola, merasakan panas di bahu, hampir ke dekat dada. Perlahan anak itu menunduk, menatap cairan merah yang mengalir keluar di antara lilitan tali itu.
Buk. Tanpa membuang waktu, kaki Aguero segera menendang anak itu hingga terpental ke belakang. Ran menggigit bibir tatkala kepalanya terantuk dinding. Tubuhnya terkapar di tanah. Terdengar ringisan samar dari bibirnya—, ralat, mungkin akan lebih tepat dikatakan sinisan mengingat harga diri anak itu sangat tinggi.
Pemuda berambut biru itu berjongkok, menumpu tangan pada salah satu lutut, membiarkan bayangannya menimpa adik kandung dari salah satu Putri Jahad dari Keluarga Khun, Khun Maschenny Jahad. Sudut kanan pemuda itu terangkat tatkala netranya samar-samar menangkap percikan listrik biru yang terputus-putus di antara sela lilitan tali itu.
“Jangan terlalu memaksakan diri,” ucap pemuda itu sambil sedikit memiringkan kepala, senyum sadis khas Keluarga Khun kini tercetak di wajahnya. “Sebagai keluarga aku hanya mengingatkan, semakin banyak shinsu yang berusaha kau gunakan, semakin banyak darah yang keluar dari tubuhmu."