![THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-death-light-bearer--tower-of-god-.webp)
Kemarin, tepat setelah gadis dari Keluarga Yeon itu membawa Viole, seoang pria berambut hitam pendek datang. Tampangnya terlihat seperti orang yang hidup enggan, tapi mati lebih enggan lagi. Usianya terlihat sekitar kepala tiga atau empat.
“Wah, aku tidak menyangka Viole cukup pandai memilih rekan tim,” ucap pria itu datar begitu melihat Aguero.
Aguero kembali memasang senyum, berharap siapa pun pria itu hanya akan berlalu dan meninggalkannya. Namun alih-alih demikian, pria itu malah mengambil posisi duduk santai di sofa tepat di depannya.
“Perkenalkan, namaku Jinsung Ha. Aku dari FUG tapi bukan orang jahatnya,” ucapnya dengan senyum yang tak kunjung pudar.
Namun lain halnya Aguero yang langsung tersentak—dengan wajah yang terlihat hanya seperti melamun tentunya. FUG? Terlebih dia anggota Keluarga Ha?
Pria itu melambai santai di depan wajah pemuda berambut biru itu. “Apa Keluarga Agung sekarang tidak mengajari keturunannya sopan santun? Apa kau tidak tahu kau harus memperkenalkan diri jika sedang berkenalan?”
Aguero yang mendengarnya hanya dapat tersenyum lebar hingga bibirnya terasa hendak sobek. Rasanya ia sendiri sama sekali tidak mengajak pria itu berkenalan. “Aku Khun Aguero Agnes.”
Manik hitam pria yang bernama Jinsung itu membesar. “Kau si light bearer terkenal itu?” ucapnya seolah tak percaya.
Aguero mengangguk sopan. “Aku tidak sehebat yang mereka bilang.”
“Iya tentu saja. Maksudmu kau lebih hebat dari omongan mereka kan?” tebak Jinsung sambil tertawa.
Aguero hanya tertawa kecil sambil mengiyakan dalam hati.
“Kudengar kau menerima ‘permintaan’, apa aku bisa menjadi salah satu klienmu? Ah, tentu maksudku ketika aku perlu?” tanya Jinsung dengan nada basa-basi.
Perkataan pria itu barusan langsung membuat kewaspadaan Aguero naik ke level maksimum. “Tentu, tapi aku sudah tidak melakukannya sekarang.”
Jinsung tertawa sinis. “Benarkah?”
Aguero mengangguk. “Sudah lama tidak ada permintaan yang datang, makanya tidak kulakukan lagi. Lagi pun, aku sudah punya pekerjaan lain,” jawab Aguero hati-hati.
Alis kanan Jinsung terangkat. “Pekerjaan apa?”
“Sebuah pekerjaan umum bagi light bearer.”
Jinsung berpikir sejenak, tapi otak tuanya itu tidak sampai. “Memang apa? Jangan bermain-main denganku.”
Kini giliran Aguero yang tertawa sinis. “Kubilang ini pekerjaan umum, jadi bagi seseorang seperti FUG pasti akan langsung tahu begitu mendengarnya.”
Jinsung mengernyit, sedikit tersinggung, tapi kemudian melupakannya seolah tidak pernah terjadi. “Sudahlah, terserah. Aku hanya ingin bekerja sama denganmu, akan kuberi bayaran besar.”
Aguero terdiam sejenak, menatap lekat-lekat pria di depannya itu. “Kerja sama apa?”
“Ini kerja sama umum bagi seorang FUG dan light bearer, apa kau tidak tahu hanya dengan mendengarnya?” balas Jinsung meniru gaya bicara Aguero barusan. Namun tentu saja, seorang Khun Aguero Agnes tidak akan kalah hanya dengan serangan macam itu.
“Apa anda ingin aku memberi informasi tentang Viole pada FUG, atau informasi tentang rekan setimnya?” tebak Aguero tepat sasaran.
Sederhananya Aguero menebak berdasarkan kalimat pertama yang pria ini ucapkan begitu masuk ke ruangan, 'Wah, aku tidak menyangka Viole cukup pandai memilih rekan tim'.
Dari sana saja Aguero dapat menyimpulkan pria ini tidak mengenal siapa pun selain Viole dan itu berarti informasi mengenai Viole lebih mereka butuhkan sebagai bentuk pengawasan (mungkin percobaan atau lainnya). Atau kemungkinan lain adalah informasi rekan timnya. Namun bagi organisasi sekelas FUG yang menentang Jahad, hampir mustahil mereka tidak mencari tahu lebih dulu.
Jinsung yang tadinya sudah melipat tangan di belakang kepala tersentak, kemudian menghela napas. “Darah memang kental,” gumamnya. “Ya, keduanya benar. Apa kau menerima pekerjaan ini?”
Aguero berpikir sejenak, menimbang-nimbang apakah ini jebakan. “Sebelum memutuskan, aku harus tahu tujuan anda.”
Aguero mengerjap. Membunuh Jahad? Itu mustahil! Jahad tidak bisa dibunuh siapa pun yang berasal dari Menara…, kecuali...!
Jinsung yang puas melihat raut wajah Aguero tersenyum. “Sepertinya kau sudah mengerti, baiklah aku beri kau waktu berpikir. Sampai jumpa lain kali,” ucap Jinsung yang kemudian langsung angkat kaki, meninggalkan Aguero dengan pemikiran rumitnya.
***
“Ya, kita bertemu lagi ya, Tuan,” jawab Aguero dengan senyum.
Viole yang bingung menatap keduanya bergantian. “Apa... kalian saling kenal?”
“Bisa dibilang begitu. Kami bertemu ketika aku berkunjung ke rumahmu kemarin,” Jinsung yang menjawab.
“Guru… datang ke rumahku?” Viole bertanya tak percaya.
Jinsung tertawa renyah. “Jangan khawatir, aku tidak macam-macam. Ya kan, anak Keluarga Khun?”
Aguero lagi-lagi tersenyum dan mengangguk. “Benar, kemarin kami hanya mengobrol 'santai'.”
Viole yang mendengarnya sedikit lega.
“Baiklah kalau begitu ayo. Hwaryun sudah menunggu di dalam,” ucap pria yang baru Aguero ketahui adalah guru pemuda berambut coklat ini.
Dalam waktu singkat, ketiganya sudah berjalan beriringan di lorong temaram ini. Aguero diam-diam menatap dua punggung itu tajam. Guru dan murid ini bisa dibilang licik dengan cara yang berbeda.
Pria bernama Jinsung itu salah satu anggota Keluarga Agung juga, Keluarga Ha. Namun kenapa dia malah bergabung dengan FUG? Lalu ditambah dengan perkataannya tentang Viole dan informasi tentang Viole yang tidak dapat ia temukan semalam. Namun meski santai dan tidak sopan, raut wajah itu bukanlah orang yang suka berbohong.
Tapi jelas, dia bukan orang yang dapat dipercaya juga. Tatapannya itu menunjukkan ia tidak peduli apa pun, kecuali Viole. Tatapan yang langsung berubah ketika menatap muridnya itu.
Lalu pemuda bernama Viole ini. Dari luar ia terlihat lembut dan naif. Namun ia menyimpan banyak rahasia yang jelas harus ia cari tahu pelan-pelan. Atau salah-salah, bisa-bisa dirinya malah dijebak, entah oleh si Murid atau si Guru.
Aguero yang sibuk memikirkan berbagai hal rumit langsung tertegun begitu melihat seorang gadis yang duduk bertopang dagu di meja resepsionis. Rambut merah panjang itu tergerai hingga menyentuh meja. Gadis itu mengenakan sebuah penutup mata di mata kanannya. Ia tersenyum datar ketika melihat tiga pemuda itu datang.
Witch…, Aguero membatin.
Ia sudah banyak mendengar rumor tentang dirinya sendiri di Menara dan tentu saja rumor tentang witch dan dwarf adalah yang paling menarik perhatiannya, pasalnya kedua posisi itu sendiri tidak diketahui oleh sembarang orang. Kabarnya Witch adalah pemandu perempuan dengan mata serta rambut berwarna merah. Mereka dapat melihat masa depan yang lebih jauh daripada dwarf. Tentu saja, Aguero tidak dapat berhenti tertawa ketika mencari tahu tentang rumor itu hingga perutnya teramat sakit.
“Aku tidak tahu kau berteman dengan seorang Khun, Viole,” ucap gadis itu dengan keterkejutan yang teramat datar.
“Perkenalkan, namanya Tuan Khun Aguero Agnes. Tuan Aguero, ini Nona Hwaryun,” ucap Viole memperkenalkan keduanya.
Hwaryun hanya tersenyum datar sambil mengangkat telapak tangan, sedangkan Aguero mengangguk sopan.
“Baiklah, karena kita sudah berkumpul ayo kita pindah ke tempat yang ada makanan enaknya,” lagi-lagi guru si Calon Pembunuh FUG itu berucap datar seolah kalimatnya mengajak untuk mati dengan memakan racun.
Hwaryun yang memang suka makanan manis langsung saja keluar dari meja resepsionis. “Baiklah, ayo!” Witch itu langsung memandu keduanya menuju pintu lift di sisi kiri, Viole mengikuti dari belakang.
Aguero yang hendak melangkah lengannya ditahan oleh Jinsung, membuatnya refleks menoleh. “Ayo, kita lanjutkan yang kemarin,” ucapnya lagi, kemudian tanpa menunggu jawaban langsung melangkah masuk ke bagian dalam gedung.
Aguero melirik punggung Viole yang kini berbincang dengan Hwaryun, kemudian melangkah mengikuti pria berambut pendek itu. Kebetulan, dirinya punya banyak sekali pertanyaan pada guru Calon Pembunuh FUG satu ini.