THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 6: 'Pekerjaan'



“Bagus. Seperti yang diharapkan dari seorang Light Bearer Maut ya,” wanita yang terlihat berusia sekitar 25 itu tertawa terbahak-bahak.


Aguero yang berdiri di depannya tidak merespon, menatap datar benda hitam bulat yang melayang—atau dikenal juga dengan pocket—yang menampilkan angka yang lebih besar dari sebelumnya, menandakan jumlah uang di dalamnya bertambah.


Wanita berambut cokelat dengan pakaian layaknya ilmuwan itu lagi-lagi tersenyum, menawarkan tangannya untuk berjabat tangan, yang tanpa pikir panjang diterima oleh Aguero. “Senang bekerja sama denganmu, Light Bearer Maut. Kalau ada ‘bahan’ atau pekerjaan membunuh dari yang lainnya, jangan ragu untuk memberikannya kepada kami lagi,” ucap wanita itu tanpa simpati.


Aguero mengangguk. “Karena kita sudah bekerja sama lumayan lama, boleh aku minta sesuatu? Ini mungkin akan menarik bagi Workshop juga,” ucapnya sambil menarik sudut kanan bibir di akhir.


Sophia yang sudah bersiap balik dan melintasi pintu besi otomatis itu berhenti, menatap Aguero. Alis kanannya terangkat. “Oh? Ini sangat tidak biasa. Memang apa itu?”


“Pertama-tama, ini mungkin terdengar klise. Tapi apa kalian bisa melakukan eksperimen tentang membangkitkan orang yang sudah mati? Ah dan kalian boleh memakai semua mayat itu, tapi kalau bisa tolong jaga wanita dengan rambut pirang itu tetap utuh,” ucap Aguero.


“Tidak biasanya. Apa dia pacarmu?” tanya Sophie mencoba menggoda Aguero.


Sophia oh Sophia. Jika saja dia melontarkan candaan itu pada manusia ‘biasa’, mungkin hanya akan dibalas elakan dengan nada malu-malu. Namun sayangnya wanita ini seolah lupa siapa pemuda yang berdiri di depannya itu.


Bahkan orang awam yang lewat pun dapat merasakan hawa siap membunuh yang dipancarkan pemuda itu. Netra birunya menyala, menatap Sophia tajam dan menusuk. ‘Jangan bercanda denganku’ demikian maksudnya—jika ditafsirkan secara halus.


Spontan bulu kuduk Sophia berdiri begitu menyadari perubahan drastik Aguero. Demi menyembunyikan kegugupannya, tangan Sophia spontan terayun merapikan rambut ke belakang telinga. “Aku hanya bercanda, kau sensitif sekali. Tapi tentu saja itu mudah untuk diatur, apalagi kau sudah memberi kami ‘bahan-bahan’ itu hanya dengan bayaran sepersepuluhnya, atau bahkan kadang tanpa imbalan,” ucap Sophia buru-buru mengubah topik.


Aguero yang mengerti maksud Sophia segera menenangkan diri. Helaan napas keluar dari bibir keringnya—wajar saja, begitu bangun ia langsung bersiap ke sini, bahkan sekarang bukanlah jam wajar orang beraktivitas. “Baiklah, senang bekerja sama denganmu, Sophia.”


“Seharusnya aku yang bilang begitu, Light Bearer Maut.”


Tatapan tajam salah satu anak dari Keluarga Khun kembali menyerang Sophia, tapi kali ini sedikit pun wanita itu tidak gemetar, sebab ini memang sudah biasa. Aguero tidak suka dengan julukannya, karena julukan itu dianggapnya terlalu berlebihan dan tanpa julukan pun kemampuannya memang sudah yang terbaik. Tapi di satu sisi ia juga suka karena itu membuktikan bahwa kemampuannya diakui. Tanpa menggubris lebih jauh lagi, Aguero memutuskan untuk melanjutkan langkah, menuju tempat tinggal ‘sementaranya’.


Beberapa dari kalian mungkin sudah dapat menebaknya. Ya, apa yang dimaksud dengan ‘bahan’ oleh wanita yang biasa dipanggil Sophia ini adalah mayat dari orang-orang yang dibunuh Aguero.


Aguero memang adalah orang yang hanya mementingkan dirinya, keuntungan yang dia dapat, keselamatan, dan semua tentang dirinya. Tim, teman, dan omong kosong semacam itu tidak akan pernah ia hiraukan. Jadi jika ada seseorang yang memintanya membunuh anggota timnya sendiri ia tidak akan segan melakukannya, asal mendapat bayaran yang besar. Tapi tentu saja, ia tetap mempertimbangkan apakah kliennya penipu atau bukan.


Ah, tapi tentu saja, semua orang waras dan masih ingin hidup tentu tidak akan berani macam-macam dengan ‘Light Bearer Maut’. Namun meski sedikit, orang gila macam itu tetap ada muncul beberapa tahun sekali. Alhasil, tak satu pun dari mereka ditemukan setelah terakhir dikabarkan berbincang dengan Aguero.


3 tahun lalu, Sophia yang adalah salah satu ilmuwan yang bekerja di Workshop, ‘tidak sengaja’ melihat Aguero yang sedang melakukan ‘pekerjaannya’. Tentu saja Aguero berniat ‘membereskan’ wanita itu, sebelum wanita itu yang terlebih dahulu menawarkan kesepakatan menarik.


“Kau pasti kesulitan membereskan mayat-mayat ini sendiri bukan? Bagaimana kalau kau berikan kepadaku? Aku Sophia Amae, salah satu asisten peneliti Workshop. Kebetulan kami memang membutuhkan mayat-mayat ini untuk melakukan percobaan,” ucap wanita itu, tidak gentar sedikit pun meski melihat cairan merah yang bersimbah memenuhi lantai, dinding, bahkan langit-langit. Kakinya yang beralaskan sepatu hitam pun tanpa ragu menapak di atas cairan tersebut.


Keberanian seorang wanita dengan tubuh kurus itulah yang membuat Aguero tertarik untuk mendengarkan perkataannya. Ia mengelap beberapa tetes darah yang terciprat ke wajahnya dengan tangan yang sama yang memegang sebuah pisau kecil. Kedua kakinya yang masih kuat meski bergerak gesit selama kurang lebih 2 jam, bergerak di atas cairan merah kental itu, membiarkannya menempel di alas sepatu.


Dalam 5 menit, keduanya telah berdiri berhadapan.


“Setahuku Workshop tidak ingin terlibat dengan orang luar?” balas Aguero. Menatap datar wanita di depannya.


“Memang apa sih yang tidak untuk Light Bearer Maut berbakat sepertimu,” ucap Sophia tanpa sedikit pun kegentaran dalam perkataannya.


Mendengar julukannya disebut di depan mata kepalanya sendiri, Aguero mengeratkan pegangan pada pisaunya. Netra birunya menyala menatap wanita itu tajam. “Jaga ucapanmu.”


Sophia tersenyum, hanya membalas peringatan Aguero dengan anggukan. “Baiklah.”


“Lalu apa yang akan kudapat?” selidik Aguero. Orang-orang dari Workshop dikenal dengan sikapnya yang tidak dapat dipercaya, jadi apa yang dilakukannya ini pastinya sudah ditebak oleh Sophia. Aguero ingin lihat, apa yang akan dilakukan wanita ini untuk membujuknya.


“Hei, bukankah kau sudah mendapat bayaran dari klienmu yang lain? Lalu kau masih meminta bayaran dari kami? Bukankah keuntungan bukan hanya tentang uang? Kami yang sudah menyingkirkan mayat yang berusaha kau singkirkan itu termasuk keuntungan bukan?” jelas Sophia santai.


Aguero tersenyum sinis. “Aku memang mendapat bayaran dari klien jika membunuh atas permintaan, tapi bagaimana dengan orang yang kubunuh untuk bertahan hidup? Aku harus memberinya padamu dengan gratis juga? Lalu kalian kan akan memanfaatkan mayat-mayat itu sebagai ‘bahan’ untuk percobaan kalian. Jika aku memberi semuanya secara cuma-cuma, bukannya kalian akan lebih untung dari aku?” balas Aguero panjang lebar.


Helaan napas wanita itu menggema hingga ke langit-langit, semakin menegaskan suasana mencekam lorong gelap itu. “Kau benar-benar tidak mau rugi ya, Khun Aguero Agnes, anak yang dibuang dari Keluarga Khun.”


Kalimat terakhir Sophia barusan bersifat seperti remot yang mengaktifkan nafsu membunuh Aguero kapan pun. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Tanpa pikir panjang tangan kanan Aguero langsung menyerang wanita itu.


Srettt.Pisau di tangan pemuda dari Keluarga Khun itu berhasil membuat luka gores di pipi Sophia. Sophia dapat merasakan betul bagaimana pemuda ini menyalurkan kekuatannya pada pisau. Tanpa melakukan gerakan yang tidak perlu Aguero meletakkan tangannya di leher wanita itu, mendorongnya hingga berbenturan dengan dinding bersimbah cairan merah pekat. Netra biru penuh nafsu membunuh itu seolah menyala.


Namun alih-alih gemetar dan memohon ampun, dengan santainya wanita itu menyentuh luka dengan tangan, melihat sekilas darah yang menempel di ujung jarinya. Kemudian perhatiaannya tertuju pada mata biru itu, mata yang penuh dengan kebencian dan sanggup melakukan apa pun demi dirinya sendiri.


“Rupanya kau sensitif dengan kalimat itu ya. Maaf, jangan terlalu diambil hati. Sekarang bagaimana kalau kau putuskan untuk bekerja sama dengan kami?”


“Aku sangat berterima kasih atas tawaran, dan jawabanku… tidak ada untungnya bekerja sama dengan kalian, jadi tidak,” ucap Aguero seraya mencoba mengayunkan pisaunya di akhir kalimat.


Dengan sigap, wanita itu berhasil menahan lengan Aguero di udara. “Kau tidak berpikir Workshop akan mengirim sembarang orang untuk menawar kerja sama denganmu kan?” ucap Sophia percaya diri.


Aguero tersenyum. “Tentu saja. Aku tidak sebodoh itu. Aku hanya penasaran kenapa daritadi kau berusaha menyembunyikan hal yang sudah jelas begitu."


Dengan cepat Aguero meraih pisau lain di tasnya dengan tangan kiri, menusuk bahu kiri Sophia. Spontan saja wanita itu melepas tangan kanan Aguero, melompat menjauh beberapa langkah sembari menahan darah dengan tangan.


“Meski bukan ‘sembarang orang’ tetap saja Workshop mengirim orang yang ‘lambat’ ya,” Aguero berkata, merendahkan. Membuat wanita itu merasa harga dirinya terinjak-injak.


“Kuberi waktu 3 detik, katakan keuntungan lainnya jika bekerja sama denganmu atau nyawamu akan habis di tanganku. Dan oh, jika kau berharap mayatmu akan kukirim ke Workshop sebagai ‘bahan’ akan kukabulkan dengan senang hati,” ucap Aguero sembari memainkan pisau di kedua tangan.


Wanita itu meringis, menatap Aguero tajam. Namun sedetik kemudian senyum menghiasi wajahnya yang berantakan. “Baiklah, bagaimana kalau kami memberi imbalan yang sangat besar setiap 100 ‘bahan’ yang kau berikan?” tawar Sophia dengan suaranya yang mulai parau.


“Rupanya Workshop sangat kejam ya sampai kau bisa mengucapkan tawaran seperti itu dengan mudahnya.”


“Sekejam-kejamnya kami, bukankah orang yang berdiri di depanku ini akan selalu menjadi yang lebih kejam?”


Aguero menghela napas. Tentu saja ia tidak mau menyangkal, karena itu merupakan suatu kebanggaan sendiri. “Seberapa besar?”


Sophia mengucapkan nilai yang terbilang lumayan. Namun tetap saja, bagi Aguero nilai segitu tidak akan terlalu sulit ia kumpulkan hanya dengan pekerjaan saat ini. Perlu diingat, di Menara ini banyak sekali iri hati, ketakuatan, kebencian, dan ‘kebosanan’ yang membuat pekerjaannya ini sangat laris manis. Ia bahkan harus menolak beberapa karena saking banyaknya.


Wanita ini bodoh atau bagaimana, pikir Aguero.


“Tentu saja, dengan ‘bunganya’,” lanjut Sophia.


Aguero mengerutkan dahi. “’Bunga’ apa?”


Sophia tersenyum. Kata demi kata mulai meluncur bak air mengalir di telinga Aguero. Kata demi kata yang tidak akan pernah bisa ditolak oleh Khun Aguero Agnes, si Light Bearer Maut, sekaligus anak yang dibuang dari Keluarga Khun.