THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 12: Masih Sayang Nyawa



Viole adalah seorang irregular? batin Aguero masih tak percaya.


Peluh dingin meluncur dari pelipis pemuda berambut biru itu. Sedangkan pria berambut hitam di sampingnya santai menyesap rokok.


Para manusia yang berada di Menara pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu regular (orang yang lahir di dalam Menara) dan irregular (orang yang berasal dari luar dan masuk ke Menara dengan melintasi portal). Salah satu irregular adalah Jahad, sang Raja Menara sendiri. Kemudian ada juga ranker, yaitu manusia yang sudah mencapai puncak Menara.


Jahad bersama 10 Kepala Keluarga Agung adalah rekan sekawan yang bersama-sama menaiki Menara. Untuk menjadi raja, Jahad membuat kontrak dengan administrator Menara dan mendapat keabadian hingga tidak dapat dibunuh oleh orang yang berasal dari dalam Menara. 10 Kepala Keluarga Agung lainnya juga mendapat keabadian dan bersumpah setia pada Raja Menara.


Itulah cerita yang turun-temurun beredar.


Namun jika yang dikatakan pria ini benar, bahwa Viole adalah seorang irregular, maka ini adalah peluang emas yang tidak akan dilewatkan FUG, bagaimapun caranya! Juga pastinya jika ia menerima pekerjaan ini, Aguero sendiri akan menjadi salah satu pengkhianat Menara dan diburu.


“Jadi bagaimana? Kau menerima pekerjaan ini kan?” Sekali lagi Jinsung bertanya, mengabaikan lagu berjudul “Bidadari Penuh Berkat” yang masih diputar.


Aguero diam sejenak, otaknya masih berusaha mencerna semua informasi—gila—yang baru ia dengar. “Tapi pertama, apa keuntungan yang akan aku dapat? Tidak mungkin kan kalian ingin memberiku pekerjaan seberbahaya ini dengan imbalan yang sebatas poin?”


Sudut kanan bibir Jinsung terangkat. “Tentu saja. Kau ingin menjadi Kepala Keluarga Khun bukan?”


Iris biru pemuda itu seketika menyipit, menatap tajam. “Lalu?”


“Sederhana saja, jika Viole berhasil membunuh Jahad, nantinya FUG akan membantumu untuk menjadi Kepala Keluarga Khun. Setelah membunuh Jahad, kami juga akan membunuh rekan-rekannya, yaitu 10 Kepala Keluarga Agung yang sekarang. Sebagai ‘anak yang dibuang dari Keluarga Khun’, ini tawaran yang menarik kan?”


“Bagaimana denganmu? Bukannya kau sendiri tetaplah keturunan Keluarga Ha?” Meski sedikit kesal dengan kalimat terakhir pria tua itu, kali ini Aguero mencoba menahan diri.


Jinsung yang hendak kembali menyesap rokoknya berhenti. Diam sejenak, pria itu menghela panjang, “Secara teknis aku hanyalah keturunan keluarga cabang yang bahkan tidak dihitung sebagai anggota keluarga. Tidak sepertimu, tentunya.” Manik hitamnya melirik Aguero dengan sudut mata.


Kalimat terakhir pria itu bak granat yang dilempar ke tanah, sangat-sangat seolah sudah bosan hidup! Dalam hitungan detik hawa dingin khas Keluarga Khun menguar dari diri pemuda itu, bahkan tangannya sudah menyentuh gagang pisau yang disembunyikan di balik pakaian. Namun sekali lagi, Aguero memutuskan menghela napas, menenangkan diri.


“Jika pun aku bersedia menerima tawaran ini, apa yang membuatmu yakin aku, yang baik bagaimana pun adalah keturunan Keluarga Khun, akan tetap berpihak pada kalian hingga akhir?” akhirnya pertanyaan yang selama ini terus berputar di benaknya meluncur dari bibir pemuda itu.


Benar. Selain rambut dan mata biru yang sudah menjadi ciri khas Keluarga Khun, sikap mereka yang licik, cerdik, kejam, dingin, dan selalu memikirkan diri sendiri juga menjadi turun-temurun. Maka dari itu, muncullah pepatah ‘Memercayai Keluarga Khun sama dengan bunuh diri’.


Jinsung menanggapi dengan tersenyum sinis. “Aku tidak mengatakan kalau aku percaya kau akan berpihak pada kami hingga akhir. Tapi aku percaya bahwa kau punya potensi untuk menjadi lebih hebat dari sekarang.” Pria berambut hitam itu menekan sudut puntung rokoknya ke asbak di bawah meja.


Jawaban tak terduga salah satu anggota FUG itu membuat Aguero mengernyit.


“Memang kami membutuhkan orang yang dapat dipercaya, tapi selain itu kami juga butuh orang yang berguna. Untuk masalah kesetiaan, aku yakin muridku itu mampu membuatmu untuk tetap setia di sisinya. Sebagai informasi saja, muridku itu mempunyai kemampuan untuk memikat orang-orang di sekitarnya,” ucap Jinsung sambil mengempaskan punggungnya ke belakang. "Yah, meski aku yakin dia sendiri tidak sadar."


Jinsung tertawa renyah, menggeleng, “Dia hanya bodoh dan buta. Dia tidak tahu mana yang lebih berharga." Pria tua itu menghela berat. Sejenak sepasang netra hitam itu menerawang jauh ke masa lalu.


“Lalu Kiseia? Kau tidak bermaksud bilang dia ‘bodoh’ kan?”


Lagi-lagi pria itu tertawa dan menggeleng. “Tentu saja, mana mungkin orang sepertiku berani menyebut keturunan Keluarga Khun begitu. Dia hanya… terlalu ‘naif’.”


Aguero refleks menatap pria itu tajam. “Apa maksudmu?”


Sebagai anggota FUG, tidak, sebagai orang berada di dalam Menara, tidak mungkin ada yang dapat mengatakan anggota Keluarga Khun sebagai seorang yang ‘naif’. Kecuali dia memang tidak sudah waras.


Jinsung melirik pemuda yang siap menerkamnya kapan saja sekilas, kemudian melipat tangan di depan dada dan mengangkat satu kaki ke meja. “Bukannya kau saudaranya? Masa kau tidak tahu?”


Jinsung oh Jinsung. Meski tak ingin hidup pun, setidaknya janganlah kau mati di tangan salah satu keturunan 'kejam' itu hanya karena salah bicara.


Aguero refleks mendekat, menarik kerah pria memuakkan itu dan menempelkan tajamnya ujung pisau kecil yang sejak tadi ia pegang, tepat ke tengah leher Jinsung. “Katakan, apa yang kau tahu tentang Kiseia?” Hawa dingin pembunuh menguar seiring kata yang meluncur dari bibir keringnya. Manik biru khas Keluarga Khun itu menyala bak predator yang siap mencabik mangsa. Membuat guru Calon Pembunuh FUG itu bergidik. Bahkan rasanya pisau yang masih berada di lehernya itu sudah menggores bagian dada, membuatnya sesak.


Jinsung, sadarilah, inilah akibat dari menguji kesabaran seorang Khun Aguero Agnes, Light Bearer Maut.


Setetes peluh dingin meluncur di pelipis si anggota FUG. Meski masih muda, aura mendominasi khas Keluarga Khun itu sempurna melekat pada diri pemuda itu. Jinsung berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup cepat.


“P-pertama, singkirkan itu dulu…” Telunjuk pria yang tampaknya sudah tidak sayang nyawa tapi masih ingin hidup itu mengarah pada pisau di lehernya.


Manik menyeramkan Aguero mengikuti telunjuk pria itu.


Jinsung menegup ludah.


Aguero kembali menatap pria yang berusaha tetap tenang itu. Akhirnya setelah tiga puluh detik—menegangkan—berlalu, Aguero memutuskan mundur dan kembali duduk tenang. Namun tatapan membunuhnya itu tak juga ia lepaskan dari pria di sebelahnya.


Jinsung yang mencoba memastikan apakah nyawanya benar-benar masih ada merapikan kerah. Rasanya persediaan oksigen di paru-paru pria tua itu benar-benar sangat menipis.


“Katakan!” Satu nada rendah yang menyimpan ribuan kekesalan itu membuat sekitar terasa mencekam, bahkan ketika lagu lainnya masih berkumandang memenuhi ruangan.


Guru Calon Pembunuh FUG itu sukses dibuat merinding. Dalam hati Jinsung tertawa miris sambil merutuk mulutnya. Sekarang dirinya tidak boleh salah bicara lagi.


“Tidak banyak yang aku tahu. Tapi ada desas-desus yang bilang kalau saudarimu bergabung ke kelompok misterius. Bukan hal besar sebenarnya, ada banyak kelompok mencurigakan di seluruh Menara, tapi yang membuatnya ‘besar’ adalah katanya dua anggota kelompok itu merupakan keturunan Keluarga Agung, Keluarga Khun. Namun masih belum pasti siapa dua orang itu,” Jinsung terdiam sejenak, agak ragu untuk melanjutkan. “Rumornya kelompok itu merencanakan pemberontakan terhadap 10 Keluarga Agung.”